Imam Syafi I Termasuk Ulama

Abū ʿAbdullāh Muhammad kacang Idrīs al-Shafiʿī
Lahir 767
Gaza, Palestina
Meninggal 820
Fustat, Mesir
Era Seratus tahun keemasan Selam
Agama Islam
Tradisi Sunni Syafi’i
Minat utama Fiqh
Gagasan terdepan Evolusi Fiqh
Bismillahir Rahmanir Rahim

Halaman ini yaitu fragmen dari


Islam Sunni

Cap Cermin

Ahl as-Sunnah wa’l-Jamā’ah
أهل السنة والجماعة‎


Damai Iman

Tauhid • Al-Qur’an • Malaikat
Kitab • Nabi dan Rasul
Hari akhir • Qada dan Qadar


Akur Islam

Persaksian • Salat
Zakat • Puasa • Haji


Khulafaur Rasyidin

Abuk Bakr • Umar bin al-Khattab
Utsman bin Affan • Ali bin Abi Talib


Fiqh (Syariat)

Hanafi • Syafi’i
Maliki • Hanbali
Ahlul Hadits


Aqidah

Maturidi • Asy’istal • Atsari


Sikap yang dibuat Modern

Barelwi • Salafi • Deobandi


Hadits

Lumrah Bukhari • Sahih Orang islam
Al-Sunan al-Sughra
Sunan Debu Dawud
Yamtuan al-Tirmidzi
Aji Ibni Majah • Al-Muwatta
Aji al-Darimi

Abū ʿAbdullāh Muhammad kacang Idrīs al-Shafiʿī
atau
Muhammad bin Idris asy-Syafi`i
(bahasa Arab:
محمد بن إدريس الشافعي) yang dekat dipanggil
Padri Syafi’i
(Ashkelon, Gaza, Palestina, 150 H / 767 – Fusthat, Mesir 204H / 819M) yakni seorang mufti indah Sunni Islam dan pun pendiri mazhab Syafi’i. Imam Syafi’i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, beliau terjadwal dalam Bani Muththalib, yaitu anak cucu dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.

Masa sukma 20 tahun, Imam Syafi’i pergi ke Madinah sebagai berguru kepada ulama luhur masa itu, Imam Malik. Dua tahun pengunci, anda pun pergi ke Irak, sebagai berguru pada murid-murid Rohaniwan Hanafi di sana.

Imam Syafi`i hadir dua dasar farik perumpamaan Mazhab Syafi’i. Yang mula-mula namanya Qaulun Qadim dan Qaulun Jadid.

Daftar pokok

  • 1
    Kelahiran dan kehidupan anak bini

    • 1.1
      Kelahiran
    • 1.2
      Zuriat
  • 2
    Masa berusaha bisa

    • 2.1
      Berusaha bisa di Makkah
    • 2.2
      Berusaha dapat di Madinah
    • 2.3
      Di Yaman
    • 2.4
      Di Baghdad, Irak
    • 2.5
      Di Mesir
  • 3
    Karya tulis

    • 3.1
      Ar-Risalah
    • 3.2
      Mazhab Syafi’i
    • 3.3
      Al-Hujjah
    • 3.4
      Al-Umm
  • 4
    Referensi
  • 5
    Tautan luar

Kelahiran dan hidup keluarga

Kelahiran

Lazimnya berpembawaan sejarah berpendapat bahwa Rohaniwan Syafi’i lahir di Gaza, Palestina, sahaja di selang gagasan ini terdapat lagi yang menyatakan bahwa engkau lahir di Asqalan; sebuah kota nan berjarak sekitar tiga farsakh dari Gaza. Menurut para berpembawaan ki kenangan pula, Imam Syafi’i lahir lega perian 150 H, yang mana sreg tahun ini wafat pula seorang ulama luhur Sunni yang bernama Padri Serdak Hanifah.

Rohaniwan Ahmad bin Hambal bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus hari hadir seseorang nan akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat plong seratus tahun nan permulaan Allah mentakdirkan Umar kacang Abdul Aziz dan puas seratus periode berikutnya Sang pencipta menakdirkan Rohaniwan Asy-Syafi`i”.

Nasab

Imam Syafi’i ialah keturunan dari al-Muththalib, jadi beliau termasuk ke dalam Ibnu Muththalib. Anak cucu Dia yaitu Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ polong As-Sa’ib kedelai Ubaid bin Pelayan Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdulmanaf bin Qushay polong Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib polong Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah polong Mudrikah kedelai Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Nasabnya berdapat Rasulullah di Abdul-Manaf.

Pecah nasab tersebut, Al-Mutthalib kedelai Pelayan Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, yaitu saudara kandung Hasyim bin Pelayan Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .

Akhir pula saudara kandung Abdul Mutthalib kacang Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , bernama Syifa’, dinikahi oleh Ubaid polong Pelayan Yazid, sehingga melahirkan momongan bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada Syafi’ bin As-Sa’ib radliyallahu `anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad polong Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim ini dulu tidak jauh dengan Utusan tuhan Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .

Terlebih karena Hasyim bin Pelayan Manaf, yang akhir melahirkan Bani Hasyim, yaitu saudara kandung dengan Mutthalib bin Pelayan manaf, yang melahirkan Anak lelaki Mutthalib, maka Rasulullah mengomong:

Hanyalah kami (yakni Anak lelaki Hasyim) dengan mereka (ialah Anak lelaki Mutthalib) berasal dari suatu nasab. Sedarun engkau menyilang-nyilangkan ujung tangan jemari kedua tangan sira.

—HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyah nya juz 9 hal. 65 – 66

Masa berusaha boleh

Setelah ayah Imam Syafi’i meninggal dan dua hari kelahirannya, si ibu membawanya ke Mekah, persil cairan leluhur. Beliau tumbuh mulia di sana internal kondisi yatim. Sejak katai Syafi’i cepat menghafal syair, mahir bahasa Arab dan sastra sampai-setakat Al Ashma’i berkata,”Saya mentashih tembang-syair anak laki-laki Hudzail berusul koteng pemuda semenjak Quraisy nan disebut Muhammad bin Idris,” Imam Syafi’i yaitu imam bahasa Arab.

Berusaha bisa di Makkah

Di Makkah, Pater Syafi’i berguru fiqh kepada mufti di sana, Muslim kedelai Khalid Az Zanji sehingga beliau mengizinkannya memberi fatwah ketika masih berumur 15 tahun. Demi kamu merasakan manisnya hobatan, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, beliau mulai gemar mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Cukup umur yatim ini berusaha bisa fiqih dari para Jamhur’ fiqih yang hadir di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang masa itu berkedudukan sbg mufti Makkah.

Penghabisan dia juga berusaha dapat berbunga Dawud kedelai Abdurrahman Al-Atthar, kembali berusaha bisa dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali kacang Syafi’, dan juga menimba guna-guna berasal Sufyan bin Uyainah.

Guru lainnyanya dalam fiqih yaitu Abdurrahman kedelai Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail polong Al-Ayyadl dan masih banyak kembali lainnyanya. Sira pun semakin menonjol intern parasan fiqih hanya kerumahtanggaan bilang periode doang duduk di berbagai halaqah ilmu para Cerdik pandai’ fiqih sama dengan tersebut di atas.

Berusaha bisa di Madinah

Akhir engkau menjauhi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Pendeta Malik bin Anas. Anda mengaji kitab Muwattha’ kepada Rohaniwan Malik dan menghafalnya dalam 9 lilin lebah. Pastor Syafi’i meriwayatkan hadis dari Sufyan polong Uyainah, Fudlail bin Iyadl dan pamannya, Muhamad kacang Syafi’ dan enggak-lain.

Di majelis beliau ini, sang anak yatim tersebut menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’ . Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sedangkan As-Syafi`ie sendiri sangat terpincut dan sangat mengagumi Pendeta Malik di Al-Madinah dan Pendeta Sufyan bin Uyainah di Makkah.

Dia menyatakan kekagumannya sehabis menjadi Rohaniwan dengan pernyataannya nan terkenal berbunyi: “Sekiranya-jikalau bolos Malik kedelai Anas dan Sufyan polong Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Kembali beliau menyatakan seterusnya kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Dia lagi sangat terpesona dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga dia menyatakan: “Absen kitab yang lebih signifikan sehabis Al-Qur’an, lebih berusul kitab Al-Muwattha’ .” Dia sekali lagi menyatakan: “Diri koteng tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti lebih pemahamanku.”

Terbit bermacam ragam pernyataan anda di atas dapatlah diketahui bahwa guru nan paling kecil dia kagumi merupakan Imam Malik kedelai Anas, pengunci Padri Sufyan bin Uyainah. Di samping itu, pemuda ini juga duduk mengingat dan memahami ilmu dari para Cerdik pandai’ yang hadir di Al-Madinah, seperti Ibrahim polong Sa’ad, Isma’il kedelai Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Beliau banyak pula menghafal hobatan di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Doang sayang, guru anda yang diistilahkan keladak ini yaitu pendusta dalam meriwayatkan hadits, hadir pandangan yang sebagaimana madzhab Qadariyah yang menunda umpama beriman kepada taqdir dan berbagai macam kelemahan fatal lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal dengan gelar sbg Pendeta Syafi`ie, khususnya di kesudahan hayat dia, dia bukan kepingin pun menamai nama Ibrahim bin Abi Yahya ini privat beraneka rupa periwayatan ilmu.

Di Yaman

Pastor Syafi’i penghabisan pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh kamu ini sebagai halnya: Mutharrif kacang Mazin, Hisyam kedelai Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi lainnyanya. Dari Yaman, dia melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini dia banyak mengambil ilmu terbit Muhammad polong Al-Hasan, seorang berbakat fiqih di kawasan Iraq. Juga dia mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi lainnyanya.

Di Baghdad, Irak

Akhir pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana anda menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan. Sira hadir ganti pikiran yang menjadikan Khalifah Ar Rasyid.

Di Mesir

Imam Syafi’i berlaga dengan Ahmad bin Hanbal di Mekah musim 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Berasal Imam Ahmad polong Hanbal, Padri Syafi’i menimba ilmu fiqhnya, ushul madzhabnya, penjelasan nasikh dan mansukhnya. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (madzhab qodim). Pengunci beliu pindah ke Mesir periode 200 H dan menuliskan madzhab plonco (madzhab jadid). Di sana dia wafat sbg syuhadaul ilm di kesudahan rembulan Rajab 204 H.

Karya tulis

Ar-Risalah

Salah satu karangannya yaitu “Ar risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” nan hadir isinya madzhab fiqhnya yang baru. Rohaniwan Syafi’i yaitu seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Anda berbenda memadukan fiqh berpembawaan Irak dan fiqh berbakat Hijaz. Rohaniwan Ahmad berucap mengenai Pastor Syafi’i,”Dia merupakan orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah,” “Tidak seorang sekali lagi yang kawin menyambut pena dan comek (hobatan) melainkan Yang mahakuasa memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”. Thasy Kubri menyebut di Miftahus sa’adah,”Cerdik pandai berbakat fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i hadir sifat amanah (dipercaya), ‘adalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, karim, tingkah lakunya nan baik, derajatnya nan tingkatan. Sosok yang banyak menyebutkan pelawatan hidupnya doang masih adv minim model,”

Mazhab Syafi’i

Asal madzhabnya: Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Dia juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu ki kesulitan) sbg dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, afal penduduk Madinah. Pastor Syafi’i mengatakan,”Barangsiapa yang mengerjakan istihsan maka kamu sudah menciptakan syariat,”. Penduduk Baghdad mengatakan,”Pater Syafi’i yaitu nashirussunnah (pembela sunnah),”

Muhammad polong Daud berucap, “Pada tahun Imam Asy-Syafi`i, lain gayutan terdengar sedikitpun kamu berkata tentang master, lain juga dinisbatkan kepadanya dan tidakdikenal darinya, bahkan sira benci kepada Ahlil Kalam dan Ahlil Bid’ah.” Dia berkata tentang Ahlil Bid’ah, seorang pemrakarsa Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sepatutnya ada Ibrahim kedelai ‘Ulayyah sesat.” Rohaniwan Asy-Syafi`i sekali lagi menyapa, “Menurutku, ikab ahlil ceceh dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta sangat diarak keliling kampung seraya diteriaki, “Ini balasan sosok yang memencilkan kitab dan sunnah, dan berpindah kepada ilmu kalam.”

Imam Asy-Syafi`i termasuk Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dia jauh dari pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang menyimpang intern aqidah, khususnya dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan Asma dan Shifat Yang mahakuasa subahanahu wa Ta’ala. Dia bukan meyerupakan segel dan sifat Allah dengan nama dan resan makhluk, pun tidak menyepadankan, tidak menghilangkannya dan sekali lagi tidak mentakwilnya. Tapi dia menjuluki dalam penyakit ini, bahwa Allah hadir stempel dan aturan sebagaimana yang tercatat dalam Al-Qur’an dan sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya. Tidak boleh bagi koteng pula sebagai menolaknya, karena Al-Qur’an mutakadim roboh dengannya (segel dan resan Halikuljabbar) dan pun telah hadir riwayat nan shahih tentang hal itu. Jika hadir yang menyelisihi demikian setelah tegaknya hujjah padanya maka ia kufur. Adapun kalau belum tegak hujjah, maka dia dimaafkan dengan bodohnya. Karena aji-aji tentang Asma dan Sifat Halikuljabbar tidak dapat digapai dengan urut-urutan mengamalkan sesuatu, teori dan pikiran. “Kami mematok sifat-aturan Allah dan kami meniadakan penyerupaan darinya seperti mana Yang mahakuasa meniadakan dari diri-Nya. Allah berfirman,

Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya seperti yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang berharga. Ilmu sira banyak diriwayatkan makanya para pesuluh- muridnya dan tersimpan rapi privat berjenis-jenis disiplin mantra. Bahkan dia gembong privat menulis di parasan hobatan Ushul Fiqih, dengan karyanya nan monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, ia menggambar kitab Al-Umm yang dikenal oleh seluruh orang, awamnya dan alimnya. Juga dia menulis kitab Jima’ul Ilmi.

Dia hadir banyak pelajar, yang umumnya menjadi tokoh dan penasihat ulama dan Imam umat selam, yang paling menonjol adalah: 1. Ahmad kacang Hanbal, Berbakat Hadits dan berbarengan juga Berbakat Fiqih dan Pastor Ahlus Sunnah dengan kerukunan kaum muslimin. 2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani 3. Ishaq bin Rahawaih, 4. Harmalah bin Yahya 5. Sulaiman kacang Dawud Al Hasyimi 6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dll dulu banyak.

Al-Hujjah

Kitab “Al Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat rohaniwan Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i.

Internal problem Al-Qur’an, ia Pendeta Asy-Syafi`i menamai, “Al-Qur’an merupakan Qalamullah, barangsiapa menyapa bahwa Al-Qur’an yaitu makhluk maka dia telah kafir.”

Al-Umm

Darurat kitab “Al Umm” sbg madzhab yang bau kencur Pendeta Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i menyebut tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakangan tembok,”

“Keistimewaan hadir pada lima keadaan: mal arwah, menahan dari menyakiti turunan tak, mencari rizki baku, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia merupakan tujuan yang lain mungkin dicapai, mangkir jalan sebagai selamat berpangkal (gamit-gamitan) manusia, harus bagimu sebagai konsisten dengan hal-peristiwa yang berguna bagimu”.

“Ikutilah Berbakat Hadits oleh kalian, karena mereka basyar yang paling banyak jadinya.”

Dia berucap, “Seluruh perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”

Dia berbicara, “Seluruh hadits nan shahih dari Nabi shalallahu a’laihi wassalam makanya yaitu gagasanku supaya kalian tidak mendengarnya dariku.”

Ia menyebut, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”

Referensi

  1. ^
    The Origins of Islamic Law: The Qurʼan, the Muwaṭṭaʼ and Madinan ʻAmal, by Yasin Dutton, pg. 16

Tautan luar

  • Biografi lengkap Imam Shafi’i
  • Biografi pendek Pater Shafi’i
  • Concise Summary Imam Shafi’i



edunitas.com

Source: http://p2k.unkris.ac.id/id1/3065-2962/Imam-Syafi-I_30819_p2k-unkris.html

Posted by: gamadelic.com