Ilmu Yang Mempelajari Ekosistem Adalah

Ilmu lingkungan
The Earth seen from Apollo 17.jpg
Hawk eating prey.jpg
European honey bee extracts nectar.jpg
Bufo boreas.jpg
Blue Linckia Starfish.JPG
Ekologi membicarakan seluruh perbandingan kehidupan, pecah kuman mikroskopik sebatas proses yang menjangkau seluruh planet.

Ekologi
yakni simpang hobatan biologi yang mempelajari interaksi antara hamba allah arwah dengan makhluk jiwa lain dan pula dengan lingkungan sekitarnya.[1]
Dalam ilmu mileu, ekologi dijadikan laksana ilmu dasar lakukan memafhumi interaksi di dalam lingkungan.[2]
Komponen yang terlibat dalam interaksi ini dapat dibagi menjadi komponen biotik (jiwa) dan abiotik (tak hidup).[3]
Sistem ekologi terbentuk terbit kesatuan dan interaksi antarkomponen pereka cipta ekosistem yang saling berhubungan satu sama tidak.[4]
Kajian ilmu lingkungan digunakan oleh orang untuk menciptakan mileu usia berkelanjutan dengan cara nan dapat dipertanggungjawabkan demi pengamanan dan kelestarian, dan kedamaian. Asas-asas ekologi digunakan dalam menganalisis lingkungan hidup manusia, kenaikan penduduk, peningkatan produksi rezeki, penanaman, erosi, air ampuh, preservasi plasma nutfah, dan satwa-hewan sukar, koleksi buah-buahan langka, dan kontaminasi mileu.[5]

Ilmu lingkungan merupakan ilmu dengan topik yang luas dan kompleks, yang mencakup tahapan dan keberbagaian hayati, jumlah dan sirkuit organisme, peran dan interaksi antarorganisme, habitat dan kolong, jaring-jaring makanan, daur nutrien dan daur biogeokimia, serta berbagai proses lainnya. Plural pendekatan dapat digunakan untuk mengelompokkan ilmu lingkungan menjadi sejumlah subdisiplin aji-aji, baik menurut hipotetis spasial (panggung) dan temporal (waktu), subjek nan dipelajari, ataupun keterkaitan dengan bidang ilmu lainnya.

Sejarah

[sunting
|
sunting mata air]

Tak cak semau perenggan yang jelas mengenai permulaan ilmu lingkungan sebagai kepatuhan ilmiah. Meskipun demikian, prinsip-prinsip ekologi telah ditelaah sejak zaman Yunani Bersejarah makanya Aristoteles. Pelajar Aristoteles nan bernama Theophrastus, kemudian mencamkan dan menguraikan perantaraan antara organisme dan lingkungannya. Engkau memusatkan perhatian pada alasan tipe tertentu lebih menyukai lingkungan tertentu.[6]
Pada semula abad ke-19 M, Alexander von Humboldt mengklarifikasi korelasi antara asosiasi tumbuhan (sebagai halnya padang rumput, hutan hujan, dan tundra) dengan faktor mileu (seperti mana suhu, guyur hujan, dan topografi) bagi memahami jumlah dan peredaran spesies hewan dan tumbuhan.[7]
Istilah ekologi pertama kali dikemukakan maka dari itu Ernst Haeckel perumpamaan
oekologie
pada tahun 1866; kata bahasa Yunani
oikos
seorang dijadikan akar susu bagi istilah ekonomi (pengaturan rumah pangkat) dan ekologi (pengkajian adapun rumah tangga).[8]
Tiga tahun sehabis memublikasikan istilah ini, Haeckel mendefinisikan ilmu lingkungan sebagai seluruh ilmu mengenai hubungan organisme dengan bumi luar di sekitarnya serta rangkaian yang dapat diperhitungkan dalam arti yang lebih luas plong semua kondisi kerelaan. Hal ini sebagian berwatak organik, sebagian lagi bersifat anorganik.[9]

Para ahli memandang definisi ilmu lingkungan yang disampaikan oleh Haeckel bagaikan bagian bermula ilmu faal. Charles Krebs kemudian meleraikan ekologi bersumber kajian fisiologi. Anda menberikan penjelasan bahwa ekologi yaitu ilmu yang mengkaji interaksi mahluk kehidupan yang menguraikan tentang rotasi dan diversitas mahluk hidup. Dalam interaksi lingkungan, ekologi tunak tidak terpisahkan dengan fisiologi. Definisi ekologi Krebs kemudian dijadikan inti dari amatan ekologi.[10]

George Evelyn Hutchinson (1903–1991) disebut bagaikan bapak limnologi dan bapak ekologi modern. Anda secara komprehensif menyerang dan mengukur secara empiris faktor-faktor organik dan lingkungan yang dapat memengaruhi biota suatu danau, serta meletakkan pangkal-dasar relung ekologi.[11]
[12]

Ekologi kemudian menjadi populer seputar tahun 1960-an detik isu-isu lingkungan start mendapatkan pikiran masyarakat.[13]
Jalan alamiah ekologi dan hubungaannya dengan ilmu pengetahuan lain, terjadi pada masa 1968 dan tahun 1970 dengan timbulnya gerakan kesadaran mileu. Awam tiba menimang-nimang masalah polusi, pelestarian tunggul, kependudukan serta konsumsi hutan dan energi. Sebelum tahun 1970-an, ekologi masih dipandang misal bagian dari biologi. Setelahnya ekologi menjadi disiplin ilmiah yang terpisah berusul biologi. Kajian ekologi berkaitan dengan proses-proses fisis dan biologis dan mengaduh ilmu-guna-guna duaja dan aji-aji-ilmu sosial.[14]
Lega kontemporer, ekologi dikaitkan dengan beraneka rupa satah ilmu tak karena kompleksitasnya nan tinggi, mulai bermula filsafat hingga matematika.[15]
[16]

Konsep

[sunting
|
sunting mata air]

Lingkungan

[sunting
|
sunting sumur]

Mileu merupakan segala sesuatu di sekitar organisme nan mempengaruh hidup organisme tersebut. Suatu organisme selalu kehidupan dalam ingkungan yang merupakan suatu ekosistem. Lingkungan merujuk ke suatu organisme, sedangkan ekosistem lain dapat merujuk ke suatu keberagaman organisme. Lingkungan dapat dinyatakan secara kualitatif, sementara itu ekosistem hanya dapat dinyatakan secara kuantitatif.[17]

Ekosistem

[sunting
|
sunting sumber]

Suatu sistem ilmu lingkungan disebut sebagai ekosistem. Sangkutan penyeru ekosistem yakni seluruh organisme yang berfungsi bersama dalam satu wilayah nan berinteraksi dengan lingkungan fisiknya. Interaksi ini membentuk arus energi nan menghasilkan struktur biota yang jelas dan siklus materi antara episode hidup dan tidak kehidupan.[18]
Struktur yang sejajar terasuh dalam berbagai ekosistem yang berbeda. Semua ekosistem punya onderdil biotik dan abiotik. Onderdil biotiknya bisa dikelompokkan berlandaskan tingkat trofiknya. Semua ekosistem kembali mempunyai kebaikan utama yang ekuivalen, yaitu mengalirkan energi dan membentuk siklus materi.[19]

Interaksi organisme

[sunting
|
sunting sendang]

Ekologi mempelajari akan halnya interaksi antar-organisme dan interkasi organisme dengan onderdil abiotik. Bentuk interaksi ini berupa cara-kaidah organisme beradaptasi untuk memanfaatkan lingkungannya. Mahluk hidup membutuhkan energi dan materi nan konstan bakal mempertahankan kehidupanya sehingga interaksi cinta menyertakan materi dan energi.[20]
Interaksi organisme terjadi di n domestik ekosistem yang mencakup kegiatan pemangsaan, persaingan, dan pergaulan simbiosis.[21]

Suksesi

[sunting
|
sunting sumber]

Suksesi merupakan proses perubahan tata letak tipe di dalam satu urai pan-ji-panji maupun ekosistem. Transisi atak terjadi karena adanya bujukan pada ekosistem atau buka bendera yang yakni habitat satwa. Sesudah bisikan menghilang atau lenyap, para satwa mengepas mengembalikan kondisi habitat seperti semula. Proses suksesi dapat terjadi secara cepat atau perlahan. Konsekusi yang berlangsung selama ratusan musim akan sampai ke tahapan akhir yang membuat suatu peguyuban, ekosistem, ataupun bentang alam tidak bisa berubah sekali lagi.[22]
Suksesi dapat dibedakan berdasarkan proses terjadinya yakni menjadi suksesi primer dan suksesi sekunder. Konsekusi primer yakni suksesi nan terjadi puas ekosistem alias bentang pan-ji-panji yang tidak menyisakan habitat sedikit pun. Lokasi alternasi primer dapat ditemukan pada wilayah geografis yang luas. Suksesi primer umumnya terjadi di daerah yang kejangkitan ledakan vulkano, seperti sreg salakan dolok Krakatau dan letusan ardi Merapi. Proses pemulihan puas alternasi primer habis runyam dilakukan karena kondisi abiotik mutakadim banyak berubah. Plong suksesi sekunder, pemulihan dapat terjadi dengan cepat. Lokasi yang mengalami suksesi sekunder gemuk pada areal tebang pilih, lokasi tumbuhan tumbang, alias peladangan berpindah. Konsekusi sekunder tidak mengoreksi secara menyeluruh karena gangguan yang keluih tidak negatif seluruh lingkungan.[23]

Ruang radius

[sunting
|
sunting sumber]

Biotik dan abiotik

[sunting
|
sunting sumber]

Onderdil biotik (hidup) dan abiotik (bukan kehidupan) berinteraksi suatu sama tidak

Cak semau dua komponen yang terlibat privat interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya, yakni suku cadang hidup (disebut komponen biotik atau faktor biotik) dan suku cadang bukan hidup (disebut komponen abiotik maupun faktor abiotik). Semua diversifikasi basyar spirit dengan berbagai perannya merupakan suku cadang biotik, terdaftar basil dan parasit penyebab penyakit.[24]

Komponen abiotik merupakan penyusun ekosistem yang aktual benda-benda tak hidup, misalnya air, udara, binar, temperatur, kelembapan, ruang angkasa, tanah, dan keasaman. Di mileu laut, keasinan, kadar oksigen, kejernihan air, dan energi rawi juga termaktub suku cadang abiotik nan memengaruhi organisme di dalamnya.[25]

Tahapan

[sunting
|
sunting sumber]

Dunia biologis dapat dikelompokkan secara hierarkis menurut subjek yang dipelajari. Secara berurutan, unit terkecil sebatas terbesar yaitu terungku, jaringan, organ, organisme, spesies, populasi, komunitas, ekosistem, bioma, dan biosfer. Ilmu lingkungan juga dapat dibagi menjadi bilang cagak berdasarkan pengelompokan ini (di atas tingkat organisme spesial), misalnya ilmu lingkungan populasi, ilmu lingkungan komunitas, dan ilmu lingkungan ekosistem.
Populasi
diartikan sebagai semua organisme berasal spesies nan selevel yang nasib di tempat dan waktu nan sepadan.
Kekerabatan
yakni semua populasi dari dua jenis organisme atau lebih nan nyawa di tempat dan masa nan sama.
Ekosistem
ialah semua turunan hidup (biotik) dan benda mati (tak nyawa alias abiotik) yang mampu di bekas yang sama.
Bioma
yakni sekerumun ekosistem serupa yang memiliki sifat lingkungan bodi yang sama di seluruh dunia. Terakhir,
biosfer
merupakan keseluruhan ekosistem di Bumi.[26]
[27]

Keanekaragaman hayati

[sunting
|
sunting perigi]

Diversitas hayati atau biodiversitas menggambarkan diversitas hayat mulai mulai sejak gen sebatas ekosistem. Multiplisitas hayati mencakup setiap tingkat organisasi biologis, misalnya keanekaragaman variasi, multiplisitas ekosistem, dan keanekaragaman genetik. Para ilmuwan terikut lega cara keanekaragaman ini memengaruhi proses ekologi nan kompleks yang beroperasi di tingkat dan di antara tingkat masing-masing.[28]
[29]
Keanekaragaman hayati memainkan peran penting dalam layanan ekosistem nan menjaga dan meningkatkan kualitas spirit makhluk.[30]
Kemajemukan hayati (khususnya keanekaragaman macam) dan ekosistem saling memengaruhi. Pertukaran lingkungan dapat mengakibatkan hilangnya kemajemukan hayati sehingga kestabilannya perlu dijaga.[31]

Habitat

[sunting
|
sunting sumber]

Habitat adalah spesies mileu alami nan ditempati maka itu suatu spesies tertentu buat umur. Habitat dari suatu keberagaman merupakan tempat yang digunakan maka itu spesies tersebut bikin menemukan kas dapur, tempat lewat, perlindungan, dan bereproduksi.[32]
Beberapa diversifikasi habitat misalnya habitat terestrial yang menutupi hutan, padang rumput, dan sahara; habitat air batal meliputi sungai, danau, dan kolam; habitat laut meliputi teluk, laut lepas, terumbu karang, dan dasar laut. Organisme nan mengalami pergeseran habitat adalah bukti akan adanya persaingan di alam. Seumpama kamil, salah satu populasi cecak tanah tropis (Tropidurus hispidus) memiliki badan yang lebih rata dibandingkan dengan populasi penting mereka yang hidup di padang rumput terbuka. Populasi cecak tanah tropis yang tinggal di singkapan batuan nan terisolasi dapat bersembunyi di terali-celah bebatuan sehingga badan mereka yang rata menerimakan keuntungan pilih-pilih. Pergeseran habitat juga terjadi dalam rekaman perkembangan kehidupan amfibi, dan pada serangga yang bertransisi dari habitat akuatik ke darat. Istilah biotop dan habitat terkadang digunakan secara berselang -selang, tetapi biotop berperan untuk lingkungan komunitas, sedangkan habitat main-main untuk lingkungan satu spesies.[33]
[34]
[35]

Cembung

[sunting
|
sunting sumber]

N domestik ilmu lingkungan, relung merupakan sekumpulan kondisi biotik dan abiotik yang menjadikan suatu spesies dapat bertahan hidup dan mempertahankan jumlah populasi yang stabil. Definisi ini diajukan makanya George Evelyn Hutchinson pada tahun 1957 meskipun konsep lekuk ekologis telah mulai diperkenalkan sejak perian 1917 oleh Joseph Grinnell.[36]
Jika habitat yaitu lokasi khas medan suatu organisme hidup, mungkum adalah peran nan dimainkan maka itu variasi di dalam suatu ekosistem. Relung menggambarkan posisi suatu jenis dalam pundi-pundi makanan dan hubungannya dengan spesies lainnya dalam suatu ekosistem.[37]
Seiring dengan perlintasan ekosistem, misalnya oleh perkomplotan, relung juga dapat berubah melalui proses yang disebut bangunan mungkum. Konstruksi ini main-main sebagai geretak yang mengeluh ekologi, evolusi, dan ekosistem.[38]

Jejaring nafkah

[sunting
|
sunting sumber]

Jaring-jala makanan merupakan jejaring ekologis bawah. Tanaman menangkap energi surya dan menggunakannya untuk menyintesis gula tertinggal melalui fotosintesis. Mereka mengumpulkan nutrien lalu dimakan oleh herbivora sehingga energi ditransfer ke organisme pemakannya melalui konsumsi. Kempang bersantap-memakan linier sederhana dari tipe trofik basal ke konsumen teratas disebut rantai rahim. Pola kalung makanan yang saling tercalit privat komunitas ekologis menciptakan jaring-jaring makanan yang kegandrungan. Net perut merupakan kar konsep atau perkakas heuristik nan digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari jalur aliran energi dan material.[39]
[40]
[41]

Gambaran jaring tembolok acap kali memiliki keterbatasan dibandingkan dengan dunia berupa. Pengukuran empiris jaring lambung secara sempurna umumnya adv minim pada habitat tertentu, sama dengan gua atau kolam, dan prinsip-prinsip yang diperoleh dari eksplorasi jaring makanan diekstrapolasi ke sistem yang bertambah besar. Pergaulan makan-memakan membutuhkan penyelidikan ekstensif ke dalam isi usus organisme nan barangkali sulit cak bagi dijelaskan. Bak alternatif, isotop stabil dapat digunakan bikin melacak aliran diet nutrien dan energi dalam jejala ki gua garba.[42]
Sungkap dari keterbatasan ini, jaring makanan tetap menjadi instrumen yang berarti internal memafhumi ekosistem komunitas.[43]

Tingkatan trofik

[sunting
|
sunting sumber]

Sebuah piramida trofik (a) dan ambai-net ki gua garba (b) yang menggambarkan hubungan ekologis di antara organisme di ekosistem darat boreal utara pada umumnya. Piramida trofik secara agresif mewakili biomassa (rata-rata diukur sebagai berat tandus total) di setiap tahapan. Tumbuhan umumnya punya biomassa terbesar. Nama kategori trofik ditampilkan di sebelah kanan piramida. Beberapa ekosistem, begitu juga berbagai rupa lahan basah, tak diatur sebagai piramida yang ketat karena pokok kayu air lain seproduktif tumbuhan darat berusia panjang sebagai halnya pohon. Piramida trofik ekologi galibnya digambarkan laksana salah satu dari tiga jenis: 1) piramida skor, 2) piramida biomassa, maupun 3) piramida energi.[24]

Tingkatan trofik (dari bahasa Yunani
troph, τροφή, trophē, yang penting “makanan” alias “makan”) yakni “sekelompok organisme yang memperoleh sebagian besar energinya dari hierarki yang lebih adv minim (menurut piramida ekologi) yang lebih dekat dengan mata air abiotik”.[44]
Tautan privat ambai-jala alat pencernaan mencantumkan nikah konsumsi ataupun trofisme antarspesies. Variabilitas hayati kerumahtanggaan ekosistem dapat diatur ke dalam piramida trofik, dengan dimensi vertikal nan menggantikan ikatan makan-meratah berusul bawah rantai makanan hingga predator puncak, dan format horizontal yang menggantikan kelimpahan atau biomassa di setiap tingkatan.[45]

Berlandaskan peranannya n domestik serok-jala makanan, suatu spesies dikategorikan sebagai autotrof (atau pembentuk utama), heterotrof (atau konsumen), dan dekomposer atau pengurai (kembali menghampari detritivor). Autotrof yakni organisme yang menciptakan makanannya sendiri. Mereka menghasilkan fusi organik kompleks (seperti fruktosa, lemak, dan protein) dengan memanfaatkan energi dari nur (fotosintesis) ataupun reaksi ilmu pisah anorganik (kemosintesis). Heterotrof adalah organisme yang harus memakan organisme tidak untuk mendapatkan energi. Heterotrof bisa dibagi lebih jauh menjadi bilang kelompok fungsional yang meliputi konsumen primer (herbivor ketat), konsumen sekunder (predator bertabiat karnivor nan secara khusus memakan herbivor), dan konsumen tersier (pemangsa yang memakan campuran herbivor dan pemangsa bukan). Pemakan segala enggak setuju dengan kategori fungsional ini karena mereka memakan jaringan pohon dan fauna. Walaupun demikian, omnivor n kepunyaan pengaruh fungsional yang bertambah ki akbar seumpama pemangsa. Di sisi lain, dekomposer atau pemancar yaitu organisme yang memecah organisme nan sudah lalu sepi melalui proses pembusukan, contohnya kuman dan jamur. Pengurai kembali tergolong sebagai heterotrof yang menyerap nutrien secara sewaktu melalui proses kimiawi dan biologis secara eksternal. Terserah pula organisme pengurai yang disebut detritivor sebagai halnya cacing tanah dan kutu kayu. Mereka mencerna dan menguraikan bagian jasad tumbuhan dan hewan, termasuk tinja.[24]
[46]

Silang keilmuan

[sunting
|
sunting mata air]

Sebagai kepatuhan ilmu yang luas, ilmu lingkungan boleh dibagi menjadi beberapa cagak. Berdasarkan kompleksitasnya, misalnya, subdisiplin ekologi mencengam ekologi molekuler, ekologi populasi atau autekologi, ekologi peguyuban ataupun sinekologi, ekologi ekosistem, ekologi sistem, dan ekologi perilaku. Beralaskan varietas organismenya, ilmu lingkungan dapat dibagi menjadi ekologi binatang, ekologi pokok kayu, dan ekologi mikrob. Beralaskan lokasi atau lingkungannya, ekologi dapat berupa ilmu lingkungan jenggala, ekologi intertidal, ekologi gurun, dan ilmu lingkungan persawahan. Kata ekologi juga digunakan secara luas oleh meres guna-guna lain, misalnya ekologi industrial, ekologi sarana, ekologi sosial, dan antropologi ekologi.


[sunting
|
sunting sumber]

Ekologi hewan

[sunting
|
sunting sumber]

Ilmu lingkungan hewan adalah cabang ekologi nan menunggalkan kajian tentang hubungan antara hewan dan lingkungan hidupnya. Kajian tentang persebaran binatang dimulai lega abad ke-19 Kristen, sedangkan analisis adapun ekologi sato secara protokoler dimulai plong musim 1920-an. Pekerjaan nan berkaitan dengan ekologi hewan permulaan kali dilakukan maka itu pakar ilmu hewan berkebangsaan Inggris, ialah Charles Elton. Kajiannya tentang ekologi hewan masih terbatas pada populasi di pataka liar. Elton melakukan penelitian dengan hewan yang dapat diperdagangkan dan mulai menyusun sejumlah konsep terminologi pakar alam, nan meliputi relung ekologi, rantai makanan, dan piramida kuantitas. Piramida jumlah menggosipkan mengenai ki pemotongan jumlah anak adam organisme, atau berat keseluruhan dari organisme lega setiap tahap rantai makanan. Diseminasi ekologi hewan bermunculan pada sediakala pertengahan abad ke-20 M di Eropa dan Amerika Sekutu.[47]

Ekologi hewan tanah

[sunting
|
sunting sumber]

Ilmu lingkungan hewan tanah dapat dipandang dari dua varietas saintifik dan alamat kajiannya. Pertama, ekologi binatang tanah dengan ekologi sebagai ilmu dan hewan tanah sebagai incaran. Bagaikan aji-aji, ekologi mempelajari keikhlasan organisme dan jumlahnya kerumahtanggaan suatu habitat. Selain itu, ilmu lingkungan sebagai ilmu pula menuduh faktor lingkungan. Dalam konteks ekologi fauna, ekologi hewan petak ialah hobatan nan mengkaji tentang keberagaman hubungan timbal kencong yang terwalak antara binatang lahan dengan lingkungannya serta antara kelompok-kerubungan hewan tanah.[48]
Tanah merupakan suatu bagian dari ekosistem daratan yang dihuni oleh banyak organisme yang disebut sebagai biodiversitas tanah. Peran biodiversitas tanah adalah mempertahankan sekaligus meningkatkan fungsi tanah untuk menopang semangat di dalam dan di atasnya. Sistem hayat di dalam lahan adv amat rumit karena keberadaan berbagai jenis organisme dengan beragam fungsi untuk menjalankan heterogen proses terdepan buat roh daratan. Bersama dengan mikroba, dabat tanah melaksanakan berjenis-jenis metabolisme atau kegiatan ilmu hayat tanah. Sato tanah berperan dalam memelihara dan memperbaiki kualitas bahan organik dan siklus hara di dalam kapling.[49]

Ekologi tumbuhan

[sunting
|
sunting perigi]

Ekologi tumbuhan ialah cagak aji-aji ekologi nan mempelajari tumbuhan sebagai korban kajiannya. Analisis utama dalam ilmu lingkungan tumbuhan adalah hubungan timbal-balik antara tumbuhan dan lingkungannya. Ilmu lingkungan tumbuhan mengkaji seluruh faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi keberadaan suatu spesies tumbuhan, atau satu kekerabatan tumbuhan di suatu kawasan tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi mileu adalah tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan anak adam.[50]
Komunitas pokok kayu merupakan suatu kesatuan gerombolan tanaman yang saling mempengaruhi dan saling mengelepai satu setolok lain. Perbedaan dari tiap kekerabatan tanaman diamati melalui jenis vegetasi yang memasrahkan perubahan secara aktual mulai sejak segi ruang. Perubahan ruang dapat berbentuk transisi komposisi variasi tanaman, pergantian jarak antartanaman, dan perubahan ukuran tanaman serta pertukaran tanggapan tanaman terhadap mileu.[51]
Suatu komunitas tumbuhan dapat terdiri atas tanaman berdosis besar, mikroorganisme, pupuk dan ganggang. Peguyuban tumbuhan boleh bakir di pangkal maupun di atas permukaan tanah.[52]

Ilmu lingkungan turunan

[sunting
|
sunting sumber]

Ekologi khalayak adalah cabang ilmu ekologi yang memperhatikan latar belakang fisik dan rataan belakang budaya manusia. Aspek nan dipelajari pada ekologi basyar mencengam aspek ekonomi, ilmu masyarakat, politik, dan budaya. Beragam aspek orang tersebut dipahami melalui permukaan birit lingkungan pan-ji-panji dan mileu mahajana. Ekologi manusia terpelajar dari keterkaitan antara anasir alam nan berapit dengan hayat manusia. Amatan ekologi manusia berkaitan dengan ikatan manusia dengan iklim, panah, batuan, tanah, bentuk muka bumi, air, haud, laut, samudra, air tanah, wai, pohon, dan sato.[53]

Ekologi adminstrasi

[sunting
|
sunting sendang]

Ekologi administrasi merupakan mileu yang dipengaruhi dan memengaruhi administrasi. Unsur pembentuknya adalah kebijakan, ekonomi, budaya, teknologi, keamanan, dan sumber gerendel liwa. Ekologi administrasi berkaitan dengan keberlangsungan pemerintahan melangkaui peran suatu masyarakat dalam permukaan strategi, ekonomi, sosial budaya dan keamanan. Privat tadbir, administrasi negara memengaruhi faktor-faktor lingkungannya melalui pembinaan, penataan, dan proses pemerintahan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan peraturan nan bermain.[54]
Dalam ilmu lingkungan administrasi, objek yang dianggap sebagai organisme ialah administrasi yang dipengaruhi dan memengaruhi keadaan lingkungan. Dalam perkariban timbang erot antara administrasi dan lingkungan, terjadi proses perlintasan ke sebelah pencapaian tujuan. Selama proses berlangsung, faktor ekologi menampakkan pengaruhnya secara positif maupun subversif. Sebaliknya, internal administrasi yang lain mudah mengikuti perubahan ini harus mampu memanfaatkan kejadian-peristiwa yang negatif menjadi bernilai positif, sehingga lain menyergap proses administrasi.[55]


[sunting
|
sunting perigi]

Ekologi hutan pantai

[sunting
|
sunting sumber]

Hutan pantai enggak terpengaruh makanya iklim lingkungan di sekitarnya dan memiliki persil kering nan mengandung batu halus, batu karang, atau tanah liat. Tanaman hanya tumbuh di fragmen tanah pantai yang tekor pantai dan pepohonannya terkadang penuh dengan epifit. Jenis epifit pada pangan pantai yaitu tumbuhan paku dan anggrek. Spesies alas pantai ini banyak ditemukan di Indonesia, khususnya di pantai bagian kidul di Pulau Jawa, pesisir bagian barat gerendel di Pulau Sumatra, dan pesisir di Pulau Sulawesi. Keanekaragaman hayati pada hutan pantai termasuk internal kategori yang rendah. Keberagaman tanaman hutan pantai meliputi pokok kayu runjung, liana serta pepohonan berbunga. Selain itu, jenggala pantai juga ditumbuhi pandan wangi dan butun dengan jumlah yang luber. Sarang semut banyak ditemukan pada batang butun. Vertebrata nan hidup di hutan rantau dulu heterogen. Hewan pelik nan ditemukan di hutan pantai yaitu kakatua, betet-kelapa kejar, dan burung gosong.[56]
Wana pantai melakukan konsekusi melalui tumbuhan katang-katang dengn formasi pescaprae dan melalui baringtonia dengan formasi barringtonia. Kedua spesies formasi ini ditemukan sreg pantai berpasir dan pantai berbatu. Pertumbuhan dan penyebaran jauhar pohon di alas pantai dibantu oleh air laut, angin atau zakar yang menyerupai kelelawar. Penyebaran benih melampaui air laut terjadi pada tanaman butun, ketapang, dan nyamplung. Penyebaran sperma melalui pelir terjadi pada ketapang, nyamplung, dan kubis pantai. Sedangkan penyebaran semen yang dibantu oleh angin terjadi pada variasi heritiera.[57]


[sunting
|
sunting sumber]

Ekologi nan ditinjau berusul segi lingkungan dapat dibedakan menjadi ekologi tumbuhan dan ekologi hewan. Analisis kedua diversifikasi ekologi ini berkaitan tentang spesies dan peguyuban. Analisis ekologi terhadap spesies disebut dengan autekologi, sedangkan analisis mengenai komunitas disebut sinekologi. Autekologi hanya membahas interaksi antara satu jenis organisme dengan mileu fisiknya tanpa memerinci keikhlasan organisme tak di dalam habitat yang setara. Padahal sinekologi menggosipkan tentang interaksi antara suatu organisme dengan organisme lain.[58]

Parasan keilmuan terkait

[sunting
|
sunting sumber]

Ekologi

[sunting
|
sunting sumur]

Ekologi membahas kajian asal dalam ilmu lingkungan merupakan tipe, populasi, komunitas, ekosistem dan habitat.[59]
Amatan tentang keseimbangan ekologi terletak n domestik kajian penjagaan mileu dan peran lingkungan sebagai sendang nyawa lakukan mahajana. Keterkaitan ilmu lingkungan dengan ilmu lingkungan dihubungkan dengan adanya kearifan tempatan.[60]
Ilmu mileu menjadi putaran dari ekologi terapan. Ekologi mempelajari susunan serta peran seluruh makhluk hidup dan komponen kehidupannya, dulu guna-guna lingkungan mempelajari wadah dan peranan manusia hidup.[61]

Kegunaan

[sunting
|
sunting sumur]

Memahami cara kerja dari alam

[sunting
|
sunting sumber]

Cara kerja bermula alam yang langka dan teratur bisa dipahami melangkahi ilmu lingkungan. Peran ekologi adalah mempersoalkan, memeriksa, dan mengerti bagaimana alam bekerja secara mendasar. Selain itu, ilmu lingkungan pun memberitahukan kehadiran makhluk usia dan kebutuhannya dalam sistem kehidupan yang berbentuk habitat. Ekologi kembali menjelaskan pendirian basyar hidup boleh hidup bersama, bertahan dan beradaptasi di lingkungan yang setinggi dengan spesies lain dengan berbagai perubahannya.[62]

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    “Definition of ECOLOGY”.
    www.merriam-webster.com
    (privat bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2020-11-30
    .





  2. ^


    Rizal, Reda (2017).
    Analisis Kualitas Mileu
    (PDF). Jakarta: Penerbit Buram Studi dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Pembangunan Kewarganegaraan Veteran Jakarta. hlm. 26. ISBN 978-602-19087-6-1.





  3. ^

    Hunaepi dan Firdaus 2022, hlm. 13.

  4. ^

    Nurdiana 2022, hlm. 150.

  5. ^


    Susilawati dan Bachtiar, N. (2018).
    Biologi Dasar Koheren
    (PDF). Pekanbaru: Kreasi Edukasi. hlm. 166. ISBN 978-602-6879-99-8.





  6. ^


    Hughes, J. D. (1 Desember 1985). “Theophrastus as Ecologist”.
    Environmental History Review.
    9
    (4): 296–306. doi:10.2307/3984460. ISSN 1053-4180.





  7. ^


    Egerton, Frank Tepi langit.; Niquil, Nathalie; Martins, Irene (2019). “History of Ecology”.
    Encyclopedia of Ecology. Elsevier. hlm. 398–428. doi:10.1016/b978-0-12-409548-9.00864-2. ISBN 978-0-444-64130-4.





  8. ^


    McManus, P. (2009). “Ecology”.
    International Encyclopedia of Human Geography. Elsevier. hlm. 294–303. doi:10.1016/b978-008044910-4.00682-9. ISBN 978-0-08-044910-4.





  9. ^


    Friederichs, K. (Januari 1958). “A Definition of Ecology and Some Thoughts About Basic Concepts”.
    Ecology.
    39
    (1): 154. doi:10.2307/1929981.





  10. ^

    Hunaepi dan Firdaus 2022, hlm. 12-13.

  11. ^


    Lynch, Patrick (21 November 2022). “Ecology, evolution, & climate change: G. Evelyn Hutchinson and the founding of bertamadun ecology”.
    YaleNews
    . Diakses terlepas
    15 November
    2022
    .





  12. ^


    Slobodkin, Lawrence B.; Slack, Nancy G. (Januari 1999). “George Evelyn Hutchinson: 20th-century ecologist”.
    Endeavour.
    23
    (1): 24–30. doi:10.1016/S0160-9327(99)01182-5.





  13. ^


    “Ecology”.
    National Geographic
    . Diakses tanggal
    15 November
    2022
    .





  14. ^


    Utina, R., dan Baderan, D. W. K. (2009).
    Ekologi dan Lingkungan Hidup
    (PDF). Gorontalo: UNG Press. hlm. 11. ISBN 978-979-1340-13-7.





  15. ^


    deLaplante, K. (2008). “Philosophy of Ecology: Overview”.
    Encyclopedia of Ecology. Elsevier. hlm. 510–515. doi:10.1016/b978-0-444-63768-0.00247-x. ISBN 978-0-444-64130-4.





  16. ^


    Legović, Lengkung langit. (2008). “Mathematical Ecology”.
    Encyclopedia of Ecology. Elsevier. hlm. 2261–2266. doi:10.1016/b978-008045405-4.00694-7. ISBN 978-0-08-045405-4.





  17. ^


    Wiryono, dkk. (2017).
    Reformasi Ekosistem Rimba Pasca Penambangan Batubara
    (PDF). Bengkulu: Pertelon Media. hlm. 1–2. ISBN 978-602-14407-2-8.





  18. ^

    Wiryono 2022, hlm. 12.

  19. ^

    Wiryono 2022, hlm. 14.

  20. ^

    Utina 2008, hlm. 10.

  21. ^

    Utina 2008, hlm. 10-11.

  22. ^

    Mardiastuti 2022, hlm. 29.

  23. ^

    Mardiastuti 2022, hlm. 30.
  24. ^


    a




    b




    c




    Odum, Eugene Pleasants; Barrett, Gary W. (2005).
    Fundamentals of Ecology
    (edisi ke-5). Belmont, CA: Thomson Brooks/Cole. ISBN 0-534-42066-4. OCLC 56476957. Diarsipkan dari varian murni terlepas 28 Juli 2022.





  25. ^


    “Ocean Abiotic Factors”
    (PDF).
    National Geographic. 30 Agustus 2022. Diakses sungkap
    16 November
    2022
    .





  26. ^


    Jax, Kurt (September 2006). “Ecological Units: Definitions and Application”.
    The Quarterly Review of Biology.
    81
    (3): 237–258. doi:10.1086/506237. ISSN 0033-5770.





  27. ^


    Wakim, Suzanne; Grewal, Mandeep. “24.2: Introduction to Ecology”.
    Biology LibreTexts
    . Diakses tanggal
    15 November
    2022
    .





  28. ^


    Scholes, R. J.; Mace, G. M.; Turner, W.; Geller, G. N.; Jurgens, Horizon.; Larigauderie, A.; Muchoney, D.; Walther, B. A.; Mooney, H. A. (22 Agustus 2008). “Ecology: Toward a Global Biodiversity Observing System”.
    Science.
    321
    (5892): 1044–1045. doi:10.1126/science.1162055. ISSN 0036-8075.





  29. ^


    Purvis, Andy; Hector, Andy (Mei 2000). “Getting the measure of biodiversity”.
    Nature.
    405
    (6783): 212–219. doi:10.1038/35012221. ISSN 0028-0836.





  30. ^


    Cardinale, Bradley J.; Duffy, J. Emmett; Gonzalez, Andrew; Hooper, David U.; Perrings, Charles; Venail, Patrick; Narwani, Anita; Mace, Georgina M.; Tilman, David (7 Juni 2012). “Biodiversity loss and its impact on humanity”.
    Nature.
    486
    (7401): 59–67. doi:10.1038/nature11148. ISSN 0028-0836.





  31. ^


    Cleland, E.E. (2011). “Biodiversity and Ecosystem Stability”.
    Nature Education Knowledge.
    3
    (10): 14.





  32. ^


    Thomas, Ryan (2019). “Fundamental of Ecology”.
    Marine Biology: An Ecological Approach
    (edisi ke-reprint). Waltham Abbey, Essex: Scientific e-Resources (dipublikasikan tanggal 2022). hlm. 86. ISBN 9781839474538. Diarsipkan berpokok varian asli tanggal 22 Mei 2022. Diakses rontok
    8 Maret
    2022
    .
    A habitat is an ecological or environmental kewedanan that is inhabited by a particular species of animal, plant, or other type of organism. The term typically refers to the zone in which the organism lives and where it can find food, shelter, protection and mates for reproduction.





  33. ^


    Whittaker, R. H.; Levin, S. A.; Root, R. B. (Mei 1973). “Niche, Habitat, and Ecotope”.
    The American Naturalist.
    107
    (955): 321–338. doi:10.1086/282837. ISSN 0003-0147.





  34. ^


    Schoener, Thomas W. (1975). “Presence and Absence of Habitat Shift in Some Widespread Lizard Species”.
    Ecological Monographs.
    45
    (3): 233–258. doi:10.2307/1942423. ISSN 1557-7015.





  35. ^


    Vitt, L. J.; Caldwell, J. P.; Zani, P. A.; Titus, T. A. (15 April 1997). “The role of habitat shift in the evolution of lizard morphology: evidence from tropical Tropidurus”.
    Proceedings of the National Academy of Sciences.
    94
    (8): 3828–3832. doi:10.1073/pnas.94.8.3828. ISSN 0027-8424. PMC20526alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 9108063.





  36. ^


    Wiens, John J.; Graham, Catherine H. (Desember 2005). “Niche Conservatism: Integrating Evolution, Ecology, and Conservation Biology”
    (PDF).
    Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics.
    36
    (1): 519–539. doi:10.1146/annurev.ecolsys.36.102803.095431. ISSN 1543-592X. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 Oktober 2012.





  37. ^


    Steiner, Hannah (13 Januari 2022). “Ecological Habitat and Niche; what’s The Difference?”.
    Tired Earth
    . Diakses tanggal
    16 November
    2022
    .





  38. ^


    Matthews, Blake; De Meester, Luc; Jones, Clive G.; Ibelings, Bas W.; Bouma, Tjeerd J.; Nuutinen, Visa; de Koppel, Johan van; Odling-Smee, John (Mei 2022). “Under niche construction: an operational bridge between ecology, evolution, and ecosystem science”.
    Ecological Monographs.
    84
    (2): 245–263. doi:10.1890/13-0953.1. ISSN 0012-9615.





  39. ^


    Ozon’Neill, D.L.; Deangelis, D.L.; Waide, J.B.; Allen, Falak.F.H. (1986).

    A Hierarchical Concept of Ecosystems

    Perlu mendaftar (gratis)

    . Princeton University Press. hlm. https://archive.org/details/hierarchicalconc00onei/page/253 253]. ISBN 0-691-08436-X.





  40. ^


    Pimm, S. (2002).
    Food Webs. University of Chicago Press. hlm. 258. ISBN 978-0-226-66832-1. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Maret 2022. Diakses tanggal
    27 Juni
    2022
    .





  41. ^


    Pimm, S.L.; Lawton, J.H.; Cohen, J.E. (1991). “Food web patterns and their consequences”
    (PDF).
    Nature.
    350
    (6320): 669–674. Bibcode:1991Natur.350..669P. doi:10.1038/350669a0. Diarsipkan dari versi murni
    (PDF)
    tanggal 10 Juni 2022.





  42. ^


    McCann, K. (2007). “Protecting biostructure”
    (PDF).
    Nature.
    446
    (7131): 29. Bibcode:2007Natur.446…29M. doi:10.1038/446029a. PMID 17330028. Diarsipkan bersumber versi nirmala
    (PDF)
    rontok 22 Juli 2022.





  43. ^


    Wilbur, H.W. (1997). “Experimental ecology of food webs: Complex systems in temporary ponds”
    (PDF).
    Ecology.
    78
    (8): 2279–2302. doi:10.1890/0012-9658(1997)078[2279:EEOFWC]2.0.CO;2. ISSN 0012-9658. Diarsipkan dari varian ceria
    (PDF)
    copot 19 Mei 2022. Diakses tanggal
    27 November
    2022
    .





  44. ^


    Hairston,, Nelson G.; Hairston,, Nelson G. (September 1993). “Cause-Effect Relationships in Energy Flow, Trophic Structure, and Interspecific Interactions”.
    The American Naturalist.
    142
    (3): 379–411. doi:10.1086/285546. ISSN 0003-0147.





  45. ^


    Duffy, J. Emmett; Cardinale, Bradley J.; France, Kristin E.; McIntyre, Peter B.; Thébault, Elisa; Loreau, Michel (Juni 2007). “The functional role of biodiversity in ecosystems: incorporating trophic complexity”.
    Ecology Letters.
    10
    (6): 522–538. doi:10.1111/j.1461-0248.2007.01037.x. ISSN 1461-023X.





  46. ^


    Davic, Robert D. (2003). “Linking Keystone Species and Functional Groups: A New Operational Definition of the Keystone Species Concept”.
    Conservation Ecology.
    7
    (1): resp11. doi:10.5751/ES-00502-0701r11. ISSN 1195-5449.





  47. ^


    Sumarto, S., dan Koneri, R. (2016).
    Ekologi Hewan
    (PDF). Bandung: CV. Patra Kendaraan Grafindo. hlm. 4. ISBN 978-602-60134-2-2.





  48. ^

    Husamah, dkk. 2022, hlm. 13.

  49. ^

    Husamah, dkk. 2022, hlm. 6.

  50. ^


    Jayadi, E. M. (2015).
    Ekologi Tumbuhan
    (PDF). Mataram: Institut Agama Islam Kawasan Mataram. hlm. 2. ISBN 978-602-74071-0-7. Diarsipkan dari versi asli
    (PDF)
    tanggal 2022-03-31. Diakses tanggal
    2020-12-05
    .





  51. ^

    Mueller-Dombois dan Ellenberg 2022, hlm. 4.

  52. ^

    Mueller-Dombois dan Ellenberg 2022, hlm. 5.

  53. ^


    Hilmanto, R. (2010).
    Etnoekologi
    (PDF). Bom Lampung: Penerbit Universitas Lampung. hlm. 25. ISBN 978-602-8616-60-7.





  54. ^

    Anggara 2022, hlm. 23.

  55. ^

    Anggara 2022, hlm. 26.

  56. ^

    Tuheteru dan Mahfudz 2012, hlm. 29.

  57. ^

    Tuheteru dan Mahfudz 2012, hlm. 30.

  58. ^

    Hunaepi dan Firdaus 2022, hlm. 14.

  59. ^

    Nurdiana 2022, hlm. 146.

  60. ^

    Hunaepi dan Firdaus 2022, hlm. 1.

  61. ^

    Fadli, dkk. 2022, hlm. 6-7.

  62. ^

    Fadli, dkk. 2022, hlm. 6.

Daftar bacaan

[sunting
|
sunting sumber]

  1. Anggara, Sahya (2018).
    Ekologi Administrasi: Holistik, Kontemporer, dan Kontekstual
    (PDF). Bandung: CV. Pustaka Setia. ISBN 978-979-076-710-2.



  2. Fadli, dkk. (2016).
    Hukum dan Kebijakan Lingkungan
    (PDF). Malang: UB Press. ISBN 978-602-203-911-2.



  3. Hunaepi dan Firdaus, L. (2017).
    Ekologi Berbasis Kearifan Domestik
    (PDF). Mataram: Konsul Pustaka Hobatan. ISBN 978-602-73458-9-8.



  4. Husamah, dkk. (2017).
    Ekologi Hewan Tanah: Teori dan Praktik
    (PDF). Malang: Penerbit Sekolah tinggi Muhammadiyah Malang. ISBN 978-979-796-325-5.



  5. Mardiastuti, Ani (2018).
    Ekologi Satwa pada Lanskap nan Didominasi Orang
    (PDF). Bogor: PT Penerbit IPB Press. ISBN 978-602-440-029-3.



  6. Mueller-Dombois, D., dan Ellenberg, H. (2016).
    Ekologi Vegetasi: Tujuan dan Metode
    (PDF). Jakarta: LIPI Press. ISBN 978-979-799-852-3.



  7. Nurdiana (2016).
    Guna-guna Saintifik Sumber akar. Lada: Pustaka Lombok. ISBN 978-602-70165-5-2.





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]

  8. Tuheteru, F. D., dan Mahfudz (2012).
    Ekologi, Kepentingan dan Rehabilitasi Hutan Tepi laut Indonesia
    (PDF). Manado: Balai Penelitian Kehutanan Manado. ISBN 978-602-96800-2-7.



  9. Utina, Ramli (2008).
    Pendidikan Mileu Hidup dan Perawatan Sumber Kiat Alam Pantai
    (PDF). Gorontalo: UNG Press. ISBN 978-979-26-8720-0.



  10. Wiryono (2013).
    Pengantar Ekologi
    (PDF). Bengkulu: Pertelon Media. ISBN 978-602-9071-05-4.



Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • Ecology (Stanford Encyclopedia of Philosophy)
  • The Nature Education Knowledge Project: Ecology



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Ekologi

Posted by: gamadelic.com