Ijtihad Sebagai Sumber Hukum Islam

Sumur hukum Islam adalah suatu undang-undang, peraturan alias keputusan, dan bilangan yang dijadikan dasar acuan alias pedoman untuk mengatak usia manusia, baik secara individu maupun sosial. Artikel Pandai kali ini akan membicarakan salah satu mata air hukum Islam yakni “IJTIHAD”

A. Signifikansi Ijtihad

Ijtihad yaitu mati-matian sekuat kehidupan dan jasad kerjakan mengejar syariat dari suatu permasalahan/persoalan nan tak diterangkan maka itu Al-Alquran dan Hadist.
Dengan introduksi lain, ijtihad ialah berusaha dengan betapa-sungguh bakal  memecahkan suatu penyakit yang enggak ada ketetapannya, baik dalam Al-Alquran maupun titah dengan menggunakan akal busuk pikir yang segar dan jernih , serta berpatokan lega pendirian -cara menetapkan hukum yang telah ditentukan. Orang nan berijtihad disebut mujtahid. Ijtihad semata-mata diperbolehkan intern perkara-perkara yang nasnya (hukumnya) tidak ada di dalam Alquran dan hadis. Apabila perkara-perkara itu telah jelas terserah dalilnya secara sahih dan qat’i (jelas dan tegas) tidak diperkenankan untuk dilakukan ijtihad. Muatan kita hanya melaksanakan hukum itu dengan sungguh-sungguh dan asli karena Allah SWT semata.

B. Syarat-Syarat yang Harus Dimiliki Seseorang bikin berbuat Ijtihad

  1. Paham terhadap Alquran berikut asbabun nuzulnya.
  2. Paham terhadap hadis berikut derajat dan asbabul wurudnya.
  3. Paham terhadap ilmu usul fikih.
  4. Perseptif etis terhadap bahasa Arab berikut simpang-cabangnya.
  5. Memahami nasikh dan mansukh sehingga koteng mujtahid lain mengeluarkan hukum berdasarkan dalil yang sudah dimansukh (dibatalkan).
  6. Paham terhadap ulama salaf (terdahulu).
  7. Memiliki kegesitan cara mengurai dan mengijmalkan satu persoalan.
  8. N kepunyaan keterampilan dalam mengambil dan menetapkan hukum.
  9. Mukalaf (Selam, dewasa, dan fit akal) dan berintelegensi cukup baik.
  10. Memahami aji-aji usul fikih (cara mengambil syariat syariat yang bertolak bersumber Alquran dan hadis) dengan baik.

Ijtihad dijadikan mata air hukum Islam yang ketiga sehabis Alquran dan perbuatan nabi nabi muhammad. Istilah ijtihad mula-mula bisa jadi muncul detik rasulullah saw berdialog dengan Muaz bin Jabal. waktu itu Rasulullah saw bertanya “Bagaimana jika dihadapkan kepadamu satu permasalahan dengan yang memerlukan keabadian hukum?” Muaz menjawab, “Saya akan menetapkan hukum dengan Quran.”.” Rasul bertanya lagi, “Kalau seandainya tidak ditemukan ketetapannya dengan Quran?” Muaz menjawab, “Saya akan tetapkan dengan hadis.” Utusan tuhan bertanya lagi, “Kalau takdirnya tidak ditemukan kelestarian intern Alquran dan sabda?” Muaz menjawab, “Saya akan berijtihad dengan pendapat saya sendiri.” Setelah itu Rasululloh saw keplak-nepuk bahu Muaz bin Jabal label cocok. Pengumuman tersebut menjadi dalil bahwa mematok hukum berdasarka ijtihad itu dibolehkan. Islam tetap menghargai dan menjungjung janjang hasil ijtihad walaupun hasilnya merupakan pelecok satu terjadi perbedaan, sejauh ijtihad tersebut dilakukan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.
Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut.
إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران، وإذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر

Artinya:
Apabila seorang hakim memutuskan perkara, kemudian beliau melakukan ijtihad dan ternyata hasil ijtihadnya benar, maka dia memperoleh dua pahala. Dan apabila seorang hakim membelakangkan perkara, silam melakukan ijtihad dan ternyata hasil ijtihadnya salah, maka ia memperoleh satu pahala.
(H.R. Muttafaq ‘alaih)

C. Lembaga-Kerangka Ijtihad

buram-buram ijtihad adalah umpama berikut.

  1. Ijmak, yaitu lega dada  para cerdik pandai mujtahid berpokok kabilah muslimin di masa lau setelah Rasulullah saw wafat internal menetapkan hukum suatu permasalahan yang muncul pada waktu itu.
  2. Kias, yaitu menyamakan hukum terhadap suatu persoalan yang tak ada nas maupun dalilnya dengan permasalahan lain yang ada harga diri hukumnya karena suka-suka kemiripan ilat (alasannya).
  3. Maslahah mursalah, yaitu memutuskan martabat hukum atas suatu perkara berdasarkan pertimbangan kemaslahatan bersama (kebaikan bersama) atau bakal menghindari suatu kerugian nan lebih besar.

Dilihat pecah segi pelakunya, ijtihad dibagi menjadi dua adalah sebagai berikut.

  1. Ijtihad jama’i, yaitu ijtihad yang dilakukan secara berkawanan, misalnya pakar dari berbagai kepatuhan ilmu duduk bersama berijtihad untuk memecahkan suatu ki aib atau permasalahan.
  2. Ijtihad  fardi, yaitu ijtihad nan dilakukan secara perseorangan. Ki ijtihad hingga saat ini masih terbuka bersamaan dengan zaman yang semakin maju dan permasalahan hidup yang semakin kompleks yang menuntut penyelesaian secara cepat dan tepat. Perbedaan ijtihad masa sekarang dengan zaman dulu terletak pada kejelian dan tinjauan berpokok berbagi aspek secara hemat.

D. Kedudukan Ijtihad sebagai Sumber Hukum Islam Ketiga

Ijtihad memiliki kedudukan seumpama sumur syariat islam setelah Alquran dan perkataan nabi. Ijtihad dilakukan jika satu persoalan tidak ditemukan hukumnya kerumahtanggaan Alquran dan perbuatan nabi nabi muhammad. Hanya, hukum yang dihasilkan dari ijtihad tidak boleh bertentengan dengan Quran dan titah. Keadaan ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw sebagai berikut.

Rasulullah saw pun mengatakan bahwa seorang yang berijtihad sesuai dengan kemampuan dan ilmunya, kemudian ijtihadnya bermoral, maka ia mendapatkan dua pahala, dan kalau kemudian ijtihadnya itu riuk, ia mendapatkan satu pahala.

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَهُ سَمِعَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يَقُوْلُ : إِذَا حَكَمَ الحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِِ وَإِذَا

حَكَمَ فَاجْتَحَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

Artinya :
” Dan berbunga Amr polong Ash bahwa ia jalinan mendengar Rasulullah shallahu alaihi wa sallam merenjeng lidah: “Apabila seorang hakim berijtihad dalam mengemudiankan suatu persoalan , ternyata ijtihadnya benar, maka sira mendapatkan dua pahala,  dan apabila kamu berijtihad , kemudian ijtihadnya salah, maka ia mendapat satu pahala.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ijtihad di kalangan cerdik pandai Islam merupakan salahsatu metode istimbat atau penggalian sumber hukum syarak melalui mobilisasi seluruh kemampuan dan kekuatan nalar dalam memahami nas-nas syar’i atas sesuatu peristiwa yang dihadapi dan belum tercantum ataupun belum ditentukan hukumnya.
Adapun hukum melakukan ijtihad adalah sebagai berikut.

  1. Orang tersebut dihukumi fardu ain lakukan berijtihad apabila cak semau persoalan yang menghinggapi dirinya.
  2. Juga dihukumi fardu ain jika ditanyakan tentang suatu permasalahan nan belum terserah hukumnya.
  3. Dihukumi fardu kifayah sekiranya permasalahan yang diajukan kepadanya tidak dikhawatirkan akan habis waktunya.
  4. Dihukumi sunah apabila berijtihad terhadap persoalan nan baru, baik ditanya maupun tidak.
  5. Dihukum terlarang, apabila berijtihad terhadap permasalahan yang sudah ditetapkan secara qat’i sehingga hasil ijtihad itu bertentangan dengan dalil syarak.

Source: http://www.artikelpandai.com/2017/07/ijtihad-sumber-hukum-islam-pengertian.html

Posted by: gamadelic.com