Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Islam

Hukum Ucapan Baarakallah Fii Umrik Saat Ulang Tahun

Ust, skrg klo tiba hari ulang tahun, tmn2 pada doain baarakallah fii Umrik (mg Tuhan berkahi umurmu). Sebagai tukar happy birthday to you, sepatutnya islami katanya. Sbnrnya hukum nya boleh kah Ust?

Jawaban:

Bismillah wal hamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala rasulillaah, wa ba’du.

Kita sedikit mengulas tentang hukum dies natalis. Walaupun alhamdulillah, banyak gubahan dan ceramah para ustadz, yang mengklarifikasi mengenai hukum ulang tahun. Tapi enggak mengapa kita singgung sekali lagi, andai pengantar menemukan jawaban pertanyaan di atas.

Syariat (merayakan) ulang waktu internal Islam adalah
bawah tangan. Karena dalam (perayaan) ulang hari, mengandung anasir menyerupai (tasyabbuh) dengan orang kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan dengan keras,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Siapa nan menyerupai suatu suku bangsa, maka anda termaktub bagian berpokok mereka.” (HR. Abu Dawud, shahih)

Kini kita coba mengaras inti semenjak jawaban cak bertanya di atas:

Jika dies natalis yang dirayakan sebagai perayaan absah (diniati mubah) belaka, artinya tidak ada niat ibadah, hukumnya haram, terlebih jika hari lahir diniatkan bagaikan ibadah, kian parah keharamannya. Karena hari jadi seperti ini telah:

Purwa,
menodai ibadah dengan perbuatan tasyabbuh dengan orang kafir.
Dan jelas, bahwa dosa yang dikerjakan dalam saat-detik ibadah, lebih samudra dosanya ketimbang di luar momentum ibadah.

Kedua,
terduduk plong kelakuan bid’ah.
Karena saat ulang waktu diniatkan misal ibadah, maka kegiatan ibadah nan bukan ada tuntunannya berpangkal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, bernilai bid’ah. Merayakan hari lahir apakah suka-suka tuntunannya dari Nabi? Dari Abu Bakr As-Shidiq? Umar bin Khattab? ‘Utsman bin Affan? Ali polong Abi Thalib dan sahabat Nabi lainnya?

63 tahun Utusan tuhan shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia ini. Namun, tidak pernah ada riwayat nan menjelaskan engkau merayakan ulang masa.

Adapun soal puasa sunah senin, Nabi lakukan tak karena Nabi memestakan ulang tahunnya. Tapi privat tulang beragangan ibadah, memahfuzkan mulianya waktu itu. Hari nan dipilih Allah sebagai hari engkau menerima wahyu dan diangkatnya amal.

Beliau berbicara,

فيه ولدت وفيه أنزل علي

“Di hari Senin itu aku dilahirkan dan aku mendapatkan wahi.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda,

تعرض الأعمال يوم الإثنين والخميس، فأحب أن يعرض عملي وأنا صائم

“Dedikasi ibadah dilaporkan kepada Allah saban hari Senin dan Kamis. Aku doyan takdirnya saat amalku sedang dilaporkan, aku sedang kondisi puasa.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Sehingga hasilnya, terkena ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan kebajikan (ibadah) yang bukan berpangkal dari (ajaran) kami, maka darmabakti tersebut tertolak.” (HR. Orang islam)

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Mungkin yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak cak semau yang boleh menyesatkannya. Dan barang kali yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang dapat menjatah tanzil kepadanya. Sepantasnya sebenar-bermartabat tuturan adalah Kitabullah dan selawa-baik petunjuk adalah tanzil Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek urusan adalah (urusan agama) yang diada-adakan, setiap (urusan agama) yang diada-adakan itu yaitu bid’ah, setiap bid’ah yaitu kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An-Nasa’i, shahih)

Saat hari lahir diungkapkan/dirayakan dengan doa
baarakallah fii umrik
(semoga Tuhan memberkahi umurmu), itu lebih kental nilai mubahnya atau ibadahnya? Tentu angka ibadahnya. Karena nuansa islami dan semua muslim paham, bahwa tahmid adalah ibadah. Sehingga lengkaplah keburukan pada ulang tahun yang diyakini lebih ‘islami’ ini, keburukan tasyabbuh yang dikemas dengan ibadah. Ibarat kata adagium, sudah jatuh ketularan tangga pula. Tasyabbuh kena, bid’ah juga kena.

Maka, contong itu tidak merubah hakikat. Seperti pangku yang disebut bunga. Alias suap yang dibahaskan sedekah. Zina yang disebut demen sebanding suka. Hukumnya tetap setinggi, bawah tangan.

Sama pula seperti ulang periode yang dibahasakan “baarakallah fii Umrik”.
Fenomena ini pernah disinggung Utusan tuhan shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ليشرَبنَّ ناسٌ من أمَّتي الخمرَ يُسمُّونَها بغيرِ اسمِه

“Di antara umatku sungguh-sungguh akan cak semau turunan yang meneguk khamr (arak), kemudian beliau namai khamr dengan nama selain khamr.” (HR. Abuk Dawud dan Ibnu Majah, shahih)

Benar segala yang dikatakan oleh sebuah pendirian,

الأسماء لا تغيِّر الحقائق

“Etiket/sebutan tidak merubah hakikat.”

Walhamdulillahi rabbil’aalamiin.

***

Dijawab maka dari itu: Ustadz Ahmad Anshori, Lc.
(Penyuluh di PP Hamalatul Quran DIY & Pengasuh TheHumairo.com)

Anda boleh membaca artikel ini melewati permintaan Soal Ustadz untuk Android. Download Saat ini !!

Dukung Yufid dengan menjadi Sponsor dan DONATUR.

  • REKENING DONASI: BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

🔍 Talqin Merupakan, Hadits Tentang Kencing Unta, Pahala Puasa Rajab, Mendengarkan Al Quran Online, Benarkah Almanak Hijriah Lain Sampai 1500, Serawal Bolong, Memperlainkan Jauhar Wanita

Flashdisk Video Cara Shalat dan Bacaan Shalat

KLIK Rangka Bagi MEMBELI FLASHDISK VIDEO Prinsip SHOLAT, Alias HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Source: https://konsultasisyariah.com/36665-hukum-ucapan-baarakallah-fii-umrik-saat-ulang-tahun.html