Hukum Menggunting Kuku Saat Haid

Mengkaji fikih dalam Islam lain asosiasi membosankan. Selain karena mencantol persoalan yang ditemui sehari-tahun, kita pun diajari untuk berbeda pendapat dengan luhur. Perbedaan pendapat para ulama intern menghukumi sesuatu tidak lantas membentuk persatuan umat terpecah.

Maka, enggak heran, saat amatan fikih bineka macam cak bertanya diluncurkan. Kendati sebuah bahasan pernah dijelaskan panjang lebar. Begitu juga tanya, apakah boleh koteng wanita nan sedang haid memotong cakar dan rambutnya?

Masalah ini seolah menjadi pertanyaan klasik yang pelahap ditanyakan ulang dalam berbagai amatan fikih. Hal ini tak magfirah semenjak pendapat masyhur Imam Ghazali yang banyak menjadi referensi umat Islam di Indonesia. Padri Ghazali memiliki pendapat nan berbeda tentang peristiwa ini di bandingkan jumhur cerdik pandai.

Foto:wikihow

Dalam
Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali berpendapat, “Dan lain seyogyanya buat seseorang untuk mencukur rambut, memotong kakas, memotong rambut alat kelamin, mengeluarkan pembawaan (semisal, dengan prinsip berbekam) ataupun menyela sebagian anggota tubuhnya kapan dirinya sedang n domestik keadaan junub. Dikarenakan, tubin di akhirat seluruh anggota tubuhnya akan dikembalikan sekali lagi maka kondisinya pun dalam keadaan junub. Sembari dikatakan, selayaknya setiap helai rambut menuntut dirinya akan martabat junubnya.”

Pandangan Imam Ghazali ini diambil berbunga perbuatan nabi nabi muhammad Rasulullah SAW berpunca Ali polong Abi Thalib ra. “Janganlah seseorang memotong kukunya dan menggunting bulu kecuali ketika ia suci.” Semata-mata, pendapat Pater Ghazali ini dimentahkan jumhur ulama. Pater Ibnu Rajab privat
Syarah Shahih Bukhari

menyebut, hadis di atas rengsa mulai sejak jihat sanad. Sejumlah ulama hadis menggolongkan hadis tersebut dalam hadis
maudhu
(gelap). Sehingga, sama sekali lain bisa digunakan untuk hujjah.

Pendeta Ahmad ketika ditanya hukum khalayak yang junub lantas berbekam, mencukur rambut, memotong kuku, dan mewarnai rambutnya, ia menjawab, “Tidak cak kenapa.”

Bani Taimiyah menegaskan, tidak ada satupun dalil yang memakruhkan basyar yang junub menyela rambut dan kukunya. Malah, internal beberapa riwayat, Utusan tuhan SAW menyuruh orang nan baru ikut Islam untuk memotong rambut dan berkhitan tanpa mandi.

“Buanglah darimu rambut nan tumbuh (sejauh dia ateis), kemudian berkhitanlah.” (HR Imam Ahmad dan Abu Daud). Dalam titah ini, Rasulullah SAW hanya menyuruh orang yang plonco memeluk Islam bikin berkhitan dan memotong rambutnya. Lain ada penjelasan Nabi meminta orang itu bersiram sebelum alias sesudah mencelah surai dan berkhitan. Hal ini menunjukkan memo tong rambut dan berkhitan tidak terkait lang sung dengan bersiram buat keperawanan.

Intern kitab
al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, az- Zuhaili menggambar, “Tak makruh dalam pandangan mazhab Hambali bagi seseorang yang junub ataupun dalam peristiwa haid alias nifas menggunting rambutnya, kukunya sebelum mandi.”

Dalam
Fikih Ala al-Mazahib al-Arba’ah
disebutkan, secara umum, buat wanita yang dalam ke adaan junub yang dilarang cak bagi diolah yaitu amalan yang membutuhkan wudhu sebagai prakondisi. Seperti, shalat wajib dan shalat sunah. Saat menyusup kuku dan surai, ia tidak diharuskan berwudhu sampai-sampai dahulu. Sehingga, diperbolehkan melakukannya kerjakan manusia yang junub.

Pengertian jika seorang junub maka seluruh tubuhnya adalah najis juga dikritisi para ulama. Lain ada anjuran untuk segera mandi jinabah bagi mereka yang junub. Yang cak semau adalah anjuran kerjakan mandi jinabah seandainya hendak mengerjakan shalat atau membaca Alquran.

Dalam sebuah riwayat bersumber Abu Hurairah bah wa sanya Rasul SAW pernah berdiri bagi mengarak shalat jamaah. Tiba-tiba, beliau SAW pek siuman bahwa beliau junub dan belum mandi. Kemudian, segera pergi bersiram dan melaksanakan shalat. (HR Heksa- Perawi Titah Utama kecuali Rohaniwan Tirmidzi).
ed:Hafidz Muftisany

Source: https://www.republika.co.id/berita/nd7pwb/hukum-potong-kuku-dan-rambut-saat-junub

Posted by: gamadelic.com