Salat berjemaah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Shalat berjemaah
(bahasa Arab:
صلاة الجماعة‎) merujuk plong aktivitas shalat yang dilakukan secara serampak. Salat ini dilakukan makanya minimal dua orang dengan salah sendiri menjadi imam (pemimpin) dan yang lainnya menjadi makmum.

Lingkaran hukum

[sunting
|
sunting sendang]



Fardhu ‘ain



[sunting
|
sunting mata air]


Salat berjemaah merupakan ibadah wajib buat muslim bila merujuk kepada Surah An-Nisa’ ayat 102. Dalam ayat ini, perintah salat berkumpulan oleh Allah diadakan dalam situasi perang. Ayat ini mandraguna takdir-ketentuan posisi salat ketika n domestik keadaan perang. Puas ayat ini, jemaah salat dibagi menjadi dua kelompok. Ayat ini juga mengklarifikasi tentang tak wajibnya beberapa kejadian yang wajib di dalam salat ketika perang.[1]
Menerobos ayat ini, diketahui bahwa salat berkumpulan kian terdepan diadakan dalam kondisi yang lega dada. Provisional itu, hukum salat berjemaah ini menjadi fardu ain karena salat berjemaah harus dilakukan oleh semua muslim yang sedang berperang.[2]

Fardhu `alat penglihatan
merupakan wajib, privat salat berjemaah, yang memiliki pendapat
fardhu `netra
ini ialah Atha` bin Abi Rabah, Al Auza`i, Tepung Tsaur, Anak lelaki Khuzaymah, Bani Hibban, umumnya cerdik pandai Al Hanafiyah dan mazhab Hanabilah. Atha` berkata bahwa kewajiban yang harus dilakukan dan lain halal selain itu, adalah ketika seseorang mendengar azan, haruslah engkau mendatanginya lakukan salat.[3]

Ada hadits yang mengatakan bahwa jika seorang mendengar seruan salat, kemudian tidak salat berjemaah maka orang itu lain menginginkan kebaikan maka kebaikan itu sendiri lain menginginkannya pula.[4]
Dengan demikian bila seorang mukminat meninggalkan salat jamaah tanpa uzur, dia sembahyang namun salatnya tetap syah. Kemudian terserah hadits nan menjelaskan seandainya terserah orang nan enggak salat berjemaah, maka nabi akan membakar kondominium-rumah orang yang bukan menghadiri salat berjemaah.[5]


Fardhu kifayah


[sunting
|
sunting sumur]

Nan mengatakan
fardhu kifayah
adalah Al Pendeta Asy Syafi`i dan Abuk Hanifah sebagaimana disebutkan maka dari itu Anak lelaki Habirah dalam kitab
Al Ifshah
jilid 1 pelataran 142. Demikian lagi dengan
jumhur
(mayoritas) jamhur baik yang lampau (mutaqaddimin) atau nan berikutnya (mutaakhkhirin). Termaktub pun pendapat lazimnya cerdik pandai dari pematang mazhab Al Hanafiyah dan Al Malikiyah.

Dikatakan sebagai
fardhu kifayah
maksudnya adalah bila sudah ada yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain bikin melakukannya. Sebaliknya, bila tak cak semau satu pun yang menjalankan salat jamaah, maka berdosalah semua orang yang cak semau di situ. Situasi itu karena salat jamaah itu adalah episode mulai sejak syiar agama Islam.

Di dalam kitab
Raudhatut Thalibin
karya Rohaniwan An Nawawi disebutkan bahwa: “Salat jamaah itu itu hukumnya
fardhu `alat penglihatan
untuk salat Jumat. Sedangkan lakukan salat fardhu lainnya, ada beberapa pendapat. Yang minimum shahih hukumnya adalah
fardhu kifayah, tetapi juga ada yang mengatakan hukumnya sunnah dan yang tak lagi mengatakan hukumnya
fardhu `netra.”

Mereka saling memegang dengan memakai dalil yang mengatakan bahwa, jika cak semau makhluk yang enggak melaksanakan salat berjemaah maka setan sudah lalu menguasai mereka, dalam hadits tersebut, Muhammad menganalogikan orang yang meninggalkan salat jamaah dengan seekor domba yang terpisah dari kelompoknya makanakan diterkam makanya serigala.[6]

Hadits dari Malik bin Huwairits menjelaskan ia mendengar suka-suka hadits yang menguraikan pentingnya mengajarkan salat kepada tanggungan bila waktu salat telah tiba, maka lantunkanlah seruan sembahyang dan yang tertua maka menjadi imam salat.[7]
Kemudian suka-suka penjelasan bahwa salat berjemaah lebih utama sebanyak 27 derajat dibandingkan salat cak seorang diri.[8]


Sunnah muakkadah


[sunting
|
sunting sumber]

Sunnah muakkadah
merupakan sunnah yang lampau ditekankan untuk dilaksanakan, dan sangat dianjurkan sepatutnya tidak ditinggalkan. Pendapat ini didukung oleh mazhab Al Hanafiyah dan Al Malikiyah sebagai halnya disebutkan oleh Imam As-Syaukani n domestik kitabnya
Nailul Authar
jilid 3 halaman 146. Sira berkata bahwa pendapat yang paling tengah dalam masalah hukum salat berjemaah adalah
sunnah muakkadah. Sedangkan pendapat nan mengatakan bahwa hukumnya
fardhu `ain,
fardhu kifayah
atau syarat syahnya salat, tentu lain bisa masin lidah.

Al Karkhi dari ulama Al Hanafiyah bercakap bahwa salat berjemaah itu hukumnya
sunnah, cuma tak disunnahkan cak bagi tidak mengikutinya kecuali karena uzur. Dalam hal ini konotasi kalangan mazhab Al Hanafiyah tentang sunnah muakkadah sebagai halnya wajib bagi orang enggak. Artinya,
sunnah muakkadah
itu setimbang dengan wajib.[9]

Khalil, koteng cerdik pandai dari galengan mazhab Al Malikiyah dalam kitabnya
Al Mukhtashar
mengatakan bahwa salat fardhu berjamaah selain salat Jumat hukumnya
sunnah muakkadah.[10]

Ibnul Juzzi berkata bahwa salat fardhu yang dilakukan secara berjamaah itu hukumnya fardhu
sunnah muakkadah.[11]
[12]

Dalil yang mereka gunakan lakukan pendapat mereka antara lain ialah dalil bahwa salat berjemaah n kepunyaan keutamaan derajat lebih banyak jumlah 27 derajat,[8]
Kemudian pendapat tak menjelaskan lagi bahwa salat jamaah berjamaah tidak wajib.[13]

Selain itu mereka lagi menggunakan hadits yang mengatakan bahwa anak adam nan salat berjemaah hanya mendapatkan ganjaran (pahala) terbesar adalah orang yang menunggu salat berjemaah bersama imam, ketimbang salat sendirian.[14]

Keutamaan

[sunting
|
sunting sendang]

Salat berjemaah diadakan di masjid. Kegiatan salat berjemaah merupakan suatu kewajiban di dalam Islam dan sesuai dengan ramalan berpokok Nabi Muhammad.[15]
Dalam salah suatu perkataan nabi yang diriwayatkan dari Serdak Hurairah, salat berjemaah mendapatkan ganjaran pahala sebanyak 25 mungkin lipat. Namun, pahala ini hanya didapatkan jikalau memenuhi tiga syarat. Permulaan, melakukan wudu sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasul Muhammad. Kedua, punya karsa yang tulus untuk menjauhi ke masjid hanya cak bagi salat berjemaah. Ketiga, bersegera untuk menunaikan salat berjemaah di masjid.[16]
Adapun keutamaan salat berjama’ah dapat diuraikan laksana berikut:

  • Salat berjemaah kian utama tinimbang salat sendirian, dengan pahala 27 derajat[8]
  • Setiap langkahnya diangkat kedudukannya 1 derajat dan dihapuskan baginya satu dosa[17]
  • Dido’akan maka itu para malaikat[17]
    [18]
    [19]
  • Terbebas dari pengaruh (pencaplokan) setan[6]
  • Menyorotkan cahaya yang sempurna pada tahun kiamat[20]
  • Mendapatkan balasan yang berlipat ganda[21]
  • Ki alat pemberkasan hati dan fisik, saling mengenal dan saling kondusif satu setimbang tak[22]
  • Sparing kehidupan yang teratur dan disiplin. Aklimatisasi ini dilatih dengan mematuhi tata tertib afiliasi antara imam dan ma’mum, misalnya tak boleh menyamai apalagi memimpin manuver imam dan menjaga kesempurnaan shaf-shaf salat[23]
    [24]
  • Merupakan pantulan kelebihan dan ketaqwaan[25]

Kriteria penyortiran pastor

[sunting
|
sunting perigi]

Kriteria pemilihan Imam salat tergambar privat hadits Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Abuk Mas’ud Al-Badri:

“Yang boleh mengimami kaum itu adalah hamba allah yang paling pandai di antara mereka intern memahami kitab Allah (Al Qur’an) dan yang paling banyak bacaannya di antara mereka. Jika pemahaman mereka terhadap Al-Qur’an proporsional, maka yang paling suntuk di antara mereka hijrahnya ( yang paling kecil lewat taatnya kepada agama). Jika hijrah (kesetiaan) mereka sama, maka yang minimal tua umurnya di antara mereka”.[26]

Posisi

[sunting
|
sunting sumber]

Posisi bahu, sikut, dan kaki yang ganti merapat, dan diusahakan tidak ada ruji-ruji.[27]

Dalam shalat jamaah Muslim diharuskan mengikuti barang apa nan sudah lalu Nabi Muhammad ajarkan, ialah dengan merapatkan barisan, antara pundak, dengkul dan tungkak saling bertemu,[27]
[28]
[29]
[30]
[31]
dilarang ganti renggang (berjauhan) antara yang enggak.

Berikut merupakan pengetahuan bagaimana shalat berjemaah, sesuai sejumlah dalil hadits-hadits yang shahih, beserta infografik yang terdapat pada sisi kanan:

  1. Dua manusia lanang, posisi pendeta sepadan dengan makmum[32]
  2. Tiga orang lanang atau lebih, imam paling depan dan makmum berjajar di belakang pastor[33]
  3. Satu orang pria dan satu wanita, imam paling depan, makmum wanita persis di belakangnya[34]
  4. Dua orang pria dan satu wanita atau bertambah, padri sejajar dengan makmum maskulin, sedangkan makmum wanita di birit paruh antara imam dan makmum lelaki[32]
    [34]
  5. Dua khalayak wanita, posisi pastor wanita sejajar dengan makmum[32]
  6. Tiga turunan wanita atau bertambah, imam wanita ditengah shaf setimpal dengan makmum wanita[35]
  7. Beberapa pria dan wanita, imam paling kecil depan, shaf kedua makmum pria dan shaf ketiga makmum wanita[36]
  8. Bila cak semau momongan-anak asuh, maka mereka ditempatkan ditengah antara shaf makmum pria dan shaf makmum wanita[37]

Jamaah wanita di kerumahtanggaan masjid

[sunting
|
sunting sumber]

Wanita diperbolehkan hadir berjama’ah di langgar dengan syarat harus menjauhi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya syahwat ataupun caci. Baik karena perhiasan atau harum-haruman nan dipakainya.

  • Kaum wanita dilarang memperalat minyak wangi atau wewangian[38]
    [39]
  • Shalat dirumah makin utama bagi suku bangsa wanita[40]
  • Para lanang dilarang untuk melarang para wanita yang ingin shalat di langgar[41]

Pengecualian

[sunting
|
sunting sumur]

Salat berjemaah di masjid dapat tidak dilakukan ketika suka-suka galangan tertentu.[42]


[sunting
|
sunting sendang]

Salat berjemaah ternilai detik seseorang salat minimal sebanyak satu rakaat munjung bersama dengan imam. Temporer itu, makmum yang tidak salat satu rakaat mumbung bersama dengan pendeta dianggap tidak melaksanakan salat berjemaah. Pendapat ini didasarkan kepada sabda nan diriwayatkan maka itu Abu Hurairah. Utusan tuhan Muhammad menamakan bahwa salat berjamaah hanya diperoleh makanya seseorang yang mendapatkan suatu rakaat salat.[43]
Suatu rakaat salat hanya boleh diperoleh ketika makmum rukuk bersama dengan imam. Hitungan rakaatnya konstan satu meskipun tak membaca Surah Al-Fatihah bersama dengan imam.[44]

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]

Karangan kaki

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Adil 2022, hlm. 86-87.

  2. ^

    Objektif 2022, hlm. 87.

  3. ^

    Tatap Mukhtashar Al Fatawa Al Mashriyah halaman 50.

  4. ^

    Bermula Aisyah berfirman, “Siapa yang mendengar azan namun tak menjawabnya (dengan salat), maka dia tidak menginginkan kebaikan dan kebaikan lain menginginkannya.” (Al Muqni` 1/193)

  5. ^

    Dari Abu Hurairah bahwa rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh aku memiliki kerinduan untuk memerintahkan salat dan didirikan, dulu aku mensyariatkan suatu orang bikin jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seronce tiang bakar membidik ke suatu kaum yang enggak ikut menghadiri salat dan aku bakar kondominium flat mereka dengan jago merah.” (Hadits riwayat Bukhari 644, 657, 2420, 7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).
  6. ^


    a




    b



    Mulai sejak Abu Darda` bahwa rasulullah ﷺ berfirman, “Tidaklah 3 orang yang suntuk di satu kampung ataupun pelosok hanya tidak mengerjakan salat jamaah, kecuali syetan telah menuntaskan mereka. Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang magfirah dari kawanannya.” (Hadits riwayat Serdak Daud 547 dan Nasai 2/106 dengan sanad yang hasan).

  7. ^

    Bersumber Malik kacang Al Huwairits bahwa rasulullah ﷺ, “Kembalilah kalian kepada anak bini kalian dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka salat dan perintahkan mereka melakukannya. Bila musim salat tiba, maka hendaklah salah seorang kalian melantunkan azan dan yang paling tua menjadi rohaniwan.” (Hadits riwayat Muslim nomor 292 dan 674).
  8. ^


    a




    b




    c



    Bersumber Ibnu Umar bahwa rasulullah ﷺ berujar, “Salat berjemaah itu lebih utama dari salat sorangan dengan 27 derajat.” (Hadits riwayat Bukhari dan Mukminat no. 650 dan no. 249). Al Khatthabi kerumahtanggaan kitab
    Ma`alimus Sunan
    jilid 1 jerambah 160 bercakap bahwa kebanyakan ulama As Syafi`i mengatakan bahwa salat berjemaah itu hukumnya
    fardhu kifayah
    bukan
    fardhu `ain
    dengan berdasarkan hadits ini.

  9. ^

    Silahkan periksan kitab Bada`ius Shanai` karya Al Kisani jilid 1 halaman 76.

  10. ^

    Tatap Jawahirul Iklil jilid 1 pelataran 76.

  11. ^

    Lihat Qawanin Al Ahkam As Syar`iyah halaman 83.

  12. ^

    Ad Dardir n domestik kitab
    Asy Syarhu As Shaghir
    jilid 1 halaman 244 berkata bahwa salat fardhu dengan berjamaah dengan pater dan selain Jumat, hukumnya
    sunnah muakkadah.

  13. ^

    Ash Shan`ani intern kitabnya
    Subulus Salam
    jilid 2 pekarangan 40 menyebutkan pasca- menyebutkan hadits di atas bahwa hadits ini merupakan dalil bahwa salat fardhu berombongan itu hukumnya tidak wajib.

  14. ^

    Berusul Abi Musa berfirman bahwa rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya anak adam yang mendapatkan ganjaran paling lautan adalah orang yang paling jauh berjalannya. Orang nan menunggu salat jamaah bersama padri lebih besar pahalanya dari orang yang salat sendirian kemudian tidur.” (lihat Fathul Bari jilid 2 pekarangan 278)

  15. ^

    Adil 2022, hlm. 76.

  16. ^

    Adil 2022, hlm. 90-91.
  17. ^


    a




    b



    Berpangkal Abu Hurayrah, katanya: Rasulallah bersabda, “Salatnya seorang pria dengan berjamaah itu melebihi salatnya di pasar atau rumahnya (secara sendirian atau munfarid) dengan dua puluh lebih (tiga sampai sembilan tingkat derajatnya). Nan sedemikian itu yaitu karena apabila sendiri itu berwudhu dan memperbaguskan cara wudhunya, kemudian mendatangi masjid, tidak menghendaki ke zawiat itu melainkan hendak bersalat, bukan sekali lagi ada nan memotori kepergiannya ke masjid itu kecuali hendak salat, maka tidaklah ia melangkahkan kakinya selangkah kecuali anda dinaikkan tingkatnya setimbang dan karena itu pula dileburlah satu kesalahan daripadanya (merupakan tiap langkah tadi) sehingga ia masuk masjid. Apabila ia telah masuk ke internal masjid, maka ia memperoleh pahala seperti dalam kejadian salat, selama memang salat itu yang menyebabkan ia bertahan di internal bandarsah tadi, juga para malaikat mendoakan buat mendapatkan kerahmatan Tuhan pada seorang dari engkau semua, selama masih berada di tempat yang ia bersalat disitu. Para malaikat itu berfirman: “Ya Halikuljabbar, kasihanilah orang ini, duhai Allah, ampunilah ia, ya Allah, terimalah taubatnya.” Peristiwa sedemikian ini sepanjang basyar tersebut lain berbuat buruk (merenjeng lidah-prolog soal keduniaan, mengumpat sosok tidak, memukul dan lain-enggak) dan pula selama engkau enggak berhadats (bukan batal wudhunya).” (Muttafaq’alaih, Riyadush Shalihin Gerbang 1. Keberadaan dan Menghadirkan Kehendak dalam Segala apa Perbuatan, Perkataan dan Keadaan nan Substansial dan nan Samar – Hadits No.10)

  18. ^

    Rasul bersabda: “Sesungguhnya malaikat mendoakan anak adam yang kaya di tempat duduknya (lakukan menunggu datangnya salat berjemaah) selama belum berhadats (sia-sia wudhunya) dan malaikat berdoa: “Ya Allah, ampunilah apa dosanya ya Yang mahakuasa, sayangilah dia”.” (Hadits riwayat Muslim no. 469)

  19. ^

    Rasul bersabda: “Senyatanya Allah bersama malaikat mendoakan kepada orang-orang nan salat di shaf (laskar) permulaan.” (Hadits riwayat Serdak Dawud)

  20. ^

    Rasulullah ﷺ bertutur: “Berikanlah khabar gembira hamba allah-manusia yang cangap berjalan ke zawiat dengan cahaya nan abstrak pada musim kiamat.” (Hadits riwayat Abu Daud, Turmudzi dan Hakim)

  21. ^

    Rasulullah ﷺ berfirman: “Barangsiapa yang salat Isya dengan berjama’ah maka seakan-akan engkau mengerjakan salat sekacip malam, dan barangsiapa yang mengerjakan salat shubuh berjama’ah maka seolah-olah ia mengerjakan salat semalam penuh. (Hadits riwayat Muslim dan Turmudzi dari Utsman)

  22. ^

    Rasulullah ﷺ terbiasa berkiblat ke ma’mum sejenis itu radu salat dan mempersunting mereka-mereka yang tidak hadir dalam salat berjama’ah, para sahabat juga terbiasa bakal tetapi berbicara setelah radu salat sebelum pulang kerumah. Berbunga Jabir bin Sumrah berucap: “Rasulullah ﷺ baru berdiri menghindari tempat salatnya diwaktu shubuh ketika matahari sudah lalu terbit. Apabila matahari sudah bersumber, barulah dia berdiri bikin pulang. Padahal di dalam masjid orang-orang ceratai peristiwa-peristiwa yang mereka kerjakan plong masa jahiliyah. Kadang kala mereka tertawa bersama dan rasul ﷺ pun timbrung tersenyum.” (Hadits riwayat Muslim)

  23. ^

    Rasulullah ﷺ bersabda: “Imam itu diadakan agar diikuti, maka jangan kadang-kadang kamu menyalahinya! Jikalau ia takbir maka takbirlah kalian, jikalau ia ruku’ maka ruku’lah kalian, jika ia mengucapkan ‘sami’allaahu liman hamidah’ katakanlah ‘Allahumma rabbana lakal Hamdu’, Jika ia sujud maka sujud pulalah kalian. Bahkan apabila ia salat langsung duduk, salatlah kalian sambil duduk juga!” (Hadits riwayat Bukhori dan Mukminat, shahih)

  24. ^

    Bersumber Barra’ polong Azib berkata: “Kami salat bersama nabi ﷺ. Maka diwaktu dia mendaras ‘sami’alLaahu liman hamidah’ tidak sendiri pun dari kami yang nyali membungkukkan punggungnya sebelum nabi ﷺ menurunkan dahinya ke tegel. (Jama’ah)

  25. ^

    Allah berfiman: “Namun yang memakmurkan masjid-surau Sang pencipta merupakan orang-cucu adam yang beriman kepada Allah dan waktu intiha, serta kukuh mendirikan salat.” (At-Tawbah 9:18)

  26. ^

    Berbunga Malik kacang Al Huwairits bahwa rasulullah ﷺ, “Kembalilah kalian kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka salat dan perintahkan mereka melakukannya. Bila waktu salat berangkat, maka hendaklah keseleo seorang kalian melantunkan azan dan yang paling tua menjadi pendeta.” (Hadits riwayat Muslim nomor 292 dan 674)
  27. ^


    a




    b



    Dari Abuk Qosim Al-Jadali berbicara, “Saya mendengar Nu’man bin Basyir berujar, ‘Rasulallah ﷺ menghadapkan wajahnya kepada anak adam dan berujar, ‘Luruskan shaf-shaf kalian! Luruskan shaf-shaf kalian! Luruskan shaf-shaf kalian! Demi Halikuljabbar benar-benar kalian meluruskan shaf-shaf kalian alias Yang mahakuasa akan menjadikan hati kalian berselisih.’ Nu’man berkata, ‘Maka saya meluluk seseorang melekatkan bahunya dengan bahu kawannya, lututnya dengan lutut kawannya, ain kaki dengan alat penglihatan suku kawannya.’’” (Hadits riwayat Serbuk Dawud 662, Ibnu Hibban 396, Ahmad 4272. Dishahihkan Syaikh Al-Albany kerumahtanggaan As-Shahihah no.32)

  28. ^

    Rasulallah ﷺ bersuara, “Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf tercantum kesempurnaan shalat.” (Hadits riwayat Bukhari, dalam Fath al-Bari’ No.723)

  29. ^

    Rasulallah ﷺ berfirman, “Benar-benarlah kalian meluruskan shaf-shaf kalian alias Allah akan membentuk bercekcok di antara wajah-paras kalian.” (Hadits riwayat Bukhari 717, Pastor Muslim 127, Lafadz ini berusul Pendeta Orang islam). Berujar Al-Pastor An-Nawawi, “Makna hadits ini merupakan akan terjadi di antara kalian permusuhan, kebencian dan perselisihan di hati.”

  30. ^

    Rasulallah ﷺ merenjeng lidah, “Luruskan shaf kalian, jadikan setentang di antara bahu-bahu, dan tutuplah ganggang-celah yang kosong, lunaklah terhadap tangan saudara kalian dan jangan kalian memencilkan celah-ganggang bagi setan. Barangsiapa menyambung shaf maka Yang mahakuasa menyambungkannya dan barangsiapa yang memutuskannya maka Allah akan memutuskannya.” (Hadits riwayat Bukhari, Duli Dawud 666. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Pangeran Bubuk Dawud)

  31. ^

    Rasul berbicara: “Sesungguhnya Tuhan dan malaikatNya mendoakan bani adam-orang yang merendengkan barisan salat. Barangsiapa yang menutup (mendampilkan) laskar yang renggang, maka Allah akan mengangkat derajatnya.” (Hadits riwayat Ibnu Majah)
  32. ^


    a




    b




    c



    Hadits Ibni Abbas, “Saya shalat bersama nabi ﷺ disuatu lilin lebah, saya redup di samping kirinya, habis rasul menyambut episode belakang kepala saya dan menempatkan saya di sebelah kanannya.” (Hadits riwayat Bukhari)

  33. ^

    Hadits Berkelepai, “Nabi ﷺ berdiri shalat maghrib, lampau saya menclok dan berdiri disamping kirinya. Maka dia menarik diri saya dan dijadikan disamping kanannya/ Tiba-tiba sahabat saya hinggap (untuk shalat), lalu kami berjajar di birit sira, dan shalat bersama rasulallah ﷺ.” (Hadits riwayat Ahmad)
  34. ^


    a




    b



    Hadits Anas bin Malik, “Bahwa dia shalat di belakang rasulallah ﷺ bersama sendiri yatim sementara itu Ummu Sulaim berkecukupan di pinggul mereka.” (Hadits riwayat Bukhari dan Mukmin)

  35. ^

    Hadits Aisyah, “Bahwa Aisyah salat menjadi rohaniwan bagi kaum wanita dan engkau berdiri ditengah shaf.” (Hadits riwayat Baihaqi, Hakim, Daruquthni dan Ibnu Abi Syaibah)

  36. ^

    Hadits Abu Hurayrah, “Sebaik-baiknya shaf maskulin adalah nan pertama, dan seburuk-buruknya yakni yang terakhir, dan sesudah-sudahnya shaf wanita merupakan yang paling kecil akhir, dan seburuk-buruknya yaitu yang mula-mula.” (Hadits riwayat Muslim)

  37. ^

    Hadits Bubuk Malik Al-Asy’ari, “Bahwa nabi ﷺ menjadikan (shaf) adam didepan momongan-anak, anak-anak di bokong mereka sementara itu kaum wanita di belakang anak-momongan. (Hadits riwayat Ahmad)

  38. ^

    Rasulullah ﷺ berfirman: “Janganlah dia larang wanita-wanita itu pergi ke masjid-sajadah Allah, tetapi hendaklah mereka itu keluar sonder memakai harum-haruman.” (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Daud berpangkal Serbuk Huraira)

  39. ^

    “Bisa jadi-siapa di antara wanita yang memakai harum-haruman, janganlah engkau timbrung shalat Isya bersama kami.” (Hadits riwayat Muslim, Debu Daud dan Nasa’i dari Debu Huraira, isnad hasan)

  40. ^

    Hadits bermula Ummu Humaid As-Saayidiyyah bahwa Anda datang kepada rasulullah ﷺ dan mengatakan: “Ya rasulullah, saya doyan sekali shalat di belakang Anda.” Diapun menanggapi: “Saya tahu akan hal itu, tetapi shalatmu di rumahmu adalah makin baik dari salatmu di surau kaummu, dan salatmu di masjid kaummu lebih baik dari salatmu di langgar Umum.” (Hadits riwayat Ahmad dan Thabrani)

  41. ^

    Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian melarang para wanita cak bagi pergi ke surau, tetapi (shalat) di rumah yakni lebih baik buat mereka.” (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar)

  42. ^

    Adil 2022, hlm. 88.

  43. ^

    Adil 2022, hlm. 221-222.

  44. ^

    Adil 2022, hlm. 222.

Daftar bacaan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Netral, Abu Abdirrahman (2018). Mujtahid, Umar, ed.
    Ensiklopedi Salat. Jakarta: Ummul Qura. ISBN 978-602-7637-03-0.



Pranala luar

[sunting
|
sunting sumur]

  • Siapakah yang berhak menjadi imam dalam salat berjama’ah? Saung Pesantren Nurul Huda
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]

  • Salat Berjama’ah maka dari itu: Taufik Ramlan Widjaja, antologi sumbang saran Isnet Diarsipkan 2005-04-09 di Wayback Machine.
  • Hadits Barometer Pendeta dalam Shalat di Asy-Syariah.com