Hewan Indonesia Yang Sudah Punah

Bandung

Musim Caruk Puspa dan Dabat Nasional diperingati setiap 5 November. Melangkaui peringatan ini, seluruh publik diajak cak bagi mengambil bagian dalam menjaga dan melestarikan keragaman flora dan fauna di Indonesia. Salah suatu tolak ukur bakal tingkat kepunahan suatu spesies adalah prestise pemeliharaan.

Salah satu organisasi yang senantiasa melakukan penelitian terhadap status proteksi berbagai spesies yakni the International Union for Conservation of Nature’s Red List of Threatened Species (IUCN). Privat menjabarkan status pemeliharaan aneka diversifikasi, IUCN mengeluarkan 9 kategori status konservasi nan disebut IUCN Red List.

Terletak 9 kategori daftar merah IUCN adalah kesuntukan data (Data Deficient/DD) tak mengkhawatirkan (Least Concern/LC), mendekati terancam (Near Threatened/NT), rentan (Vulnerable/Vu), terancam berbahaya (Endangered/EN), terancam kritis (Critically Endangered/CR), punah di umbul-umbul (Extinct in the Wild/EW), punah (Extinct), dan belum dievaluasi (Not Evaluated/NE). Bikin mengarifi bertambah lanjur terkait pembagian kategori ini, simak visualisasi berikut.



Made with Flourish

Selain beraneka macam kategori tersebut, sorong ukur lainnya bagi melihat tingkat kelangkaan suatu macam adalah adendum nan dikeluarkan maka itu Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Dabat and Flora (CITES).

Menurut CITES, terdapat tiga appendiks. Apendiks I adalah daftar seluruh variasi yang dilarang untuk beredar privat seluruh diversifikasi perdagangan. Appendiks II merupakan spesies yang dapat semakin terancam punah jika perdagangan terus berlanjut tanpa diatur dan diawasi. Sedangkan, Appendiks III adalah varietas yang dilindungi di negara atau perenggan habitat tertentu yang kadang kala boleh naik tingkat menjadi Appendiks I alias II.

Dirangkum dari berbagai jurnal, situs organisasi, dan situs resmi pemerintah, berikut 20 puspa dan satwa yang hampir punah.

1. Trenggiling (Kritis – Appendix I)

China: Trenggiling dihapus dari daftar obat tradisional Tiongkok, pegiat perlindungan satwa: 'Ini yang kita tunggu-tunggu'
Trenggiling (Foto: BBC Magazine)

Trenggiling adalah pelecok satu hewan mamalia nan dapat dijumpai di Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Malaysia. Di Indonesia sendiri, hewan dengan nama latin
Manis javanica
ini baku ditemukan di area Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Ciri singularis trenggiling adalah n kepunyaan sugi berbentuk runcing di sekujur tubuhnya yang dapat turut mengalir. Tembakau tersebut mengerudungi tubuh Trenggiling berpokok ujung nostril hingga ujung ekor. Tembakau binatang menyusui tersebut n kepunyaan corak cokelat kekuningan, sedangkan bagian bawah tubuhnya tertutup rambut berwarna putih kecokelatan dan alat peraba berwarna bubuk-debu kebiruan.

Awak trenggiling dewasa memiliki tingkatan seputar 79-88 cm dengan bobot 8-10 kg. Trenggiling memiliki kepala boncel yang tirus, mata kecil, perkataan tanpa persneling, lidah kecil sepanjang 25 cm. Lidah pangkat tersebut kamu gunakan bikin menyantap semut, kiyek, atau belatung serangga. Intern 21 periode terakhir, populasi trenggiling turun 80 persen.

2. Tarsius Siau (Tanggap – Appendiks II)

20 satwa dan puspa yang berstatus dilindungi.
Tarsius Siau. (Foto:menlhk.go.id)

Tarsius Siau yakni spesies primata yang berhabitat di pulau Siau, Sulawesi Utara. Binatang nokturnal atau normal aktif di malam hari ini n kepunyaan tera latin Tarsius tumpara. Tarsius Siau menyukai tempat nan mempunyai banyak rumpun aur, akar pohon beringin, alias gawang nan berlubang sebagai tempat dirinya bersembunyi dan beristirahat.

Hewan ini memiliki ciri badan ekor tinggi yang berbulu hanya lega penggalan ujungnya. Tarsius Siau n kepunyaan surai debu-abu gelap dengan bintik-titik cokelat. Setiap tangan dan tungkai binatang nokturnal ini memiliki lima deriji panjang. Komandan tarsius Siau juga dapat berputar hingga 180 derajat layaknya burung hantu.

Ki gua garba utama primata ini adalah berbagai insek seperti kecoa dan cengkerik. Sekadar, tarsius siau juga dapat meratah reptil kecil. Plong 2009, populasi tarsius Siau diperkirakan hanya tersisa 1.300-an ekor, menurun drastis sebanyak 80% dalam tiga generasi bontot.

3. Rusa Bawean (Kritis – Appendiks I)

20 satwa dan puspa yang berstatus dilindungi.
Rusa bawean. (Foto: gresikkab.go.id)

Dikenal laksana pelari ulung, menjangan bawean yakni pelecok suatu tipe yang hanya nyawa di kawasan Laut Jawa. Hewan dengan tera
latin Axis kuhlii
ini merupakan binatang endemik Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Rusa bawean kebanyakan aktif di sore hingga malam hari, selingkung pemukul 17.00 sebatas 21.00 WIB. Menjangan bawean dewasa memiliki tinggi sekitar 65 cm dan jenjang bodi mencecah 140 cm. Kijang ini punya rambut pendek dengan tekstur halus berwarna kuning ataupun cokelat.

Karena tak menyukai keberadaan manusia, rusa bawean biasanya menghabiskan waktunya di hutan maupun lereng curam. Masa ini, hanya tersisa seputar 300-an rusa bawean.

4. Orangutan Kalimantan (Kritis – Appendiks I)

20 satwa dan puspa yang berstatus dilindungi.
Orangutan. (Foto: diskominfo.kaltimprov.go.id)

Orangutan Kalimantan adalah salah satu satwa endemik yang terbesar di kewedanan Kalimantan (Indonesia), Sabah, dan Serawak (Malaysia).
Pongo pygmaeus
banyak ditemukan di hutan dan persil gambut ceduk rendah (di bawah 500 mdpl). Mereka senang menjelajah area itu karena memiliki banyak tumbuhan berhasil besar.

Secara morfologi, orangutan Kalimantan memiliki rambut panjang dan kusut berwarna ahmar gelap kecokelatan. Warna wajahnya adalah merah jambu, ahmar, dan hitam. Orangutan Kalimantan dewasa memiliki tinggi 1-1,5 meter dengan bobot sekeliling 30-90 kg.

Dibandingkan orangutan Sumatera yang juga Kritis, orangutan Kalimantan memiliki tubuh yang lebih samudra dan corak rambut yang makin ilegal. Tingkah laku orangutan Kalimantan juga cukup berbeda lantaran besar perut mengalir lebih lambat dan kerap mengamalkan aktivitas di tanah.

Jumlah keberadaan orangutan Kalimantan terus tergerus dikarenakan kehilangan habitatnya. Dalam satu dekade terakhir, minimal enggak terdapat 1,2 juta hektare kawasan alas di Indonesia nan digunakan laksana negeri penebangan berskala besar. Tambahan pula dalam 20 tahun terakhir, habitat orangutan Kalimantan sudah lalu berkurang sekitar 55 persen.

5. Badak Sumatra (Reseptif – Appendiks I)

20 satwa dan puspa yang berstatus dilindungi.
Rino Sumatra. (Foto: menlhk.go.id)

Dahulu, populasi rino Sumatra tersebar di bervariasi negara Asia Tenggara. Kini, 70% populasi badak Sumatra bumi terletak di sejumlah cagar alam di Sumatra. Fauna dengan cap latin
Dicerorhinus sumatrensis
ini biasanya ditemukan di daerah berbukit yang hampir dengan air. Selain itu, ia juga dapat dijumpai di hutan hujan tropis hingga rawa-rawa dataran abnormal.

Badak Sumatra merupakan badak terkecil dengan pangkat 2-3 meter, tahapan 1-1,5 meter, dan bobot 600-950 kg. Badak Sumatra n kepunyaan dua cula. Cula depan berkisar 25-80 cm, sedangkan cula pantat bukan makin dari 10 cm. Ia memiliki selerang tipis, halus, licun, dan berwarna cokelat kemerahan.

Rino Sumatra adalah salah suatu hewan yang minimal rentan punah. Pada 2022, populasi satwa ini diperkirakan kurang dari 100 individu di alam. Populasi ini kian tergerus akibat urut-urutan pembangunan di pulau Sumatra.

6. Warak Jawa (Kritis – Appendiks I)

20 satwa dan puspa yang berstatus dilindungi.
Badak Jawa. (Foto: dlhk.jogjaprov.go.id)

Sejak 1930-an, populasi badak gajah terhimpun di Taman Kewarganegaraan Ujung Kulon. Badak jawa sendiri menyukai habitat jenggala hujan abu dataran rendah dan rawa-rawa. Supaya demikian, terdapat pula beberapa jasad Jawa yang terdapat di ketinggian 600 mdpl dengan habitat pangan yang rimbun, semak yang rapat, dan terdapat banyak tempat ternganga.

Rino Jawa ialah rino bercula suatu dengan tahapan raga 3-4 meter, tinggi 1,2-1,7 meter, dan bobot sekitar 900-2.300 kg. Cula nan dimiliki badak sumbu memiliki matra 20-30,5 cm dan umumnya ditemukan pada warak jantan.

Badak jawa n kepunyaan rona jangat serdak-duli dan kulit tebal berlepit-lepit yang tertentang seperti lapisan baju jamur. Pada 2022 lampau, populasi warak Jawa hanya tersisa 75 ekor, menjadikannya salah satu hewan dengan populasi paling sedikit.

7. Monyet Yaki (Reaktif – Appendiks II)

20 satwa dan puspa yang berstatus dilindungi.
Anjing yaki (Foto: ragunanzoo.jakarta.go.id)

Monyet yaki atau Ketek hitam Sulawesi adalah satwa endemik Pulau Sulawesi bagian utara. Primata nan n kepunyaan tanda
latin Macaca nigra
ini banyak dijumpai di area alas, distrik pantai, terlebih di dataran tinggi hingga 2000 mdpl. Kendati demikian, monyet yaki juga buruk perut ke area perkebunan lakukan mencari bersantap.

Primata suatu ini n kepunyaan surai berwarna hitam legam mengkilat di sekujur tubuhnya, kecuali area roman, bekas kaki tangan, dan pantat. Beruk yaki dewasa memiliki tingkatan sekitar 44-60 cm dengan bobot 7-15 kg. Ciri khas yang membuatnya berbeda dengan monyet lain adalah gombak di kepalanya dan ekor sejauh 20 cm.

Monyet yaki biasa mengonsumsi bermacam-macam bagian tumbuhan seperti daun, biji, bunga, umbi, dan buah. Saja, primata ini dapat memakan bilang varietas insek, kijing, invertebrata kecil, terlebih ular. Masa ini, populasi monyet yaki cuma tersisa sekitar 3.000 ekor.

8. Lutung Simakobu (Kritis – Appendiks I)

Lutung Simakobu merupakan salah satu primata terancam punah nan berasal dari Gugusan pulau Mentawai, Sumatra Barat. Habitat simakobu terletak di wana hujan abu lembang cacat atau hutan distrik paya air asin dan tawar yang dekat dengan lereng dolok.

Simakobu n kepunyaan fisik yang dipenuhi rambut berwarna cokelat kehitaman dan wajah yang dipenuhi surai bercelup hitam. Umumnya simakobu n kepunyaan tubuh singkat dan berada. Panjang tubuh simakobu berkisar 45-52 cm, sedangkan beratnya 6-9 kg. Ekor simakobu kembali tergolong pendek, hanya 15 cm doang.

Populasi simakobu terus terancam karena perburuan bawah tangan dan rusaknya habitat akibat deforestasi. Jumlah simakobu menurun sekitar 22-75 uang berusul tahun 1980 sampai saat ini.

9. Beruk Mentawai (Reaktif – Appendiks II)

Kera Mentawai merupakan satu-satunya monyet endemik gugusan pulau Mentawai, Sumatra. Hewan dengan etiket latin Macaca pagensis ini boleh ditemui di distrik wana bakau, pesisir pantai, hutan primer, dan hutan sekunder. Persebarannya terbatas di pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora di Kepulauan Mentawai, Sumatra.

Cigak Mentawai dewasa n kepunyaan panjang tubuh 40-55 cm dengan bobot 4,5-9 kg. Strata ekor primata ini sekitar 10-16 cm. Monyet Mentawai memiliki bulu cokelat kekuningan di sekitar tubuhnya dengan mahkota berwarna cokelat dan rambut pada dahi serta baju hujan yang lebih tahapan.

Primata yang suatu ini memakan bermacam ragam spesies daun, anak uang, skor-bijian, dan buah-buahan. Umumnya, ketek Mentawai lewat di atas pohon sekitar 24-36 meter. Pada 2004, populasi ketek Mentawai hanya sederhana 2.100-3.700 ekor, menyusut 86 persen berasal tahun 1980.

10. Kukang Jawa (Kritis – Appendiks I)

Kukang Jawa banyak tersebar di Pulau Jawa, terutama n domestik kawasan yojana nasional cagar alam atau suaka margasatwa. Hewan dengan nama latin Nycticebus javanicus ini banyak ditemukan di hutan sekunder, perkebunan, dan perenggan tertentu dalam hutan primer.

Panjang tubuh hewan nokturnal ini sekeliling 28-32 cm, bobot seputar 575-750 gram, dan panjang ekor 10-20 cm. Kukang Jawa kebanyakan dipenuhi oleh bulu kelabu keputihan di sekujur tubuhnya. Ciri khas Kukang Jawa adalah terdapat surai di selingkung telinga dan mata yang bercat cokelat dan membentuk bulatan sehingga menyerupai kacamata.

Misal makanan sehari-hari, kukang Jawa lazimnya menyantap xilan, nektar bunga, serangga, dan beberapa keberagaman buah-buahan. Populasi kukang Jawa terus menciut lantaran camar diburu dan habitat yang semakin mengecil. Dalam 24 tahun terakhir, diperkirakan populasinya menurun hingga 80%.

11. Surili (Ramping)

Seekor monyet Surili yang sempat bikin geger karena disangka siluman oleh warga Desa Sukaraharja, Cianjur berhasil ditangkap.
Surili (Foto: Ismet Selamet)

Surili adalah sato khusus Jawa Barat dan Banten. Primata ini tersebar di area hutan pantai sampai hutan pegunungan, mulai dari 0-2000 mdpl. Dabat dengan nama lain Presbytis comata ini kerap dijumpai di pinggiran antara hutan dengan ladang penduduk.

Surili dewasa galibnya n kepunyaan tahapan sekitar 42-60 cm, bobot 6,5 kg, dan panjang ekor sekitar 56-72 cm. Telapak primata satu ini galibnya berwarna hitam atau cokelat tua keabuan. Padahal, tubuh adegan depan surili mempunyai warna putih.

Umumnya, surili menyantap daun muda, kuncup daun, buah, rente, dan biji-bijian. Saja, surili juga dapat menyantap serangga, cendawan, dan tanah. Surili yang sangat tergantung dengan kehadiran hutan andai tempat hidupnya semakin menurun populasinya seiring dengan maraknya penebangan jenggala.

12. Paderi Biru (Saring – Appendiks I)

Seekor paus biru ditemukan terdampar di Raja Ampat, Pulau Papua. Ini merupakan ilustrasi paus biru.
Paderi dramatis (Foto: CNN)

Meski bisa ditemukan di nyaris seluruh pecahan samudra, termasuk di perairan Indonesia. Umumnya, hewan dengan nama latin Balaenoptera musculus ini terdapat di perairan Antartika, Samudra Hindia, dan Samudra Atlantik.

Binatang hewan menyusui terbesar di mayapada ini memiliki pangkat bodi 33 meter dan bobot sekitar 181 ton. Warna punggung paderi biru didominasi oleh warna biru kehijauan atau abu-abu, sedangkan bagian perutnya memiliki dandan yang makin kirana.

Sreg sediakala abad ke-20, populasi paderi biru amat melimpah dengan kisaran sekitar 200.000-300.000 ekor. Namun, populasi dabat ini terus menyusut hingga 11.000-25.000 ekor sahaja. Pengikisan jumlah paus dramatis dikarenakan perburuan mamalia tersebut dan perlintasan temperatur laut yang berpengaruh puas populasi krill, rezeki terdepan paus dramatis.

13. Harimau Sumatra (Genting – Appendiks I)

Seekor harimau Sumatra  (Panthera tigris sumatrae) yang diberi nama Bayu berusaha menggapai makanan yang diberikan untuknya dalam Peringatan Hari Harimau Sedunia di Jatim Park 2, Batu, Jawa Timur, Rabu (29/7/2020). Kegiatan tersebut diadakan untuk memberikan dukungan pada program perlindungan habitat dan konservasi harimau agar terhindar dari kepunahan. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/aww.
Harimau Sumatra (Foto: ANTARA FOTO/Kandang kuda BOWO SUCIPTO)

Maung Sumatra merupakan satwa endemik Pulau Sumatra. Habitat Panthera tigris sumatrae ini adalah alas dataran rendah hingga hutan pegunungan. Nyaris seluruh harimau Sumatra yang tersisa berada di cagar alam, taman nasional, dan kebun binatang.

Harimau Sumatra merupakan salah satu harimau yang bertubuh kecil. Harimau Sumatra dewasa memiliki panjang tubuh selingkung 198-250 cm, tinggi 60 cm, dan elusif sekitar 90-140 kg. Keluarga Panthera yang satu ini memiliki bertambah banyak janggut dan bulu daripada sub-jenis harimau lainnya.

Diperkirakan ketika ini populasi harimau Sumatra hanya tersisa 400-600 ekor sahaja. Mamalia satu ini terus berkurang karena adanya kejatuhan lahan, pemberantasan habitat, hingga perburuan dan perdagangan harimau secara ilegal.

14. Luak Air (Lanjai – Appendiks II)

Musang air adalah salah satu binatang semi akuatik yang hanya bisa ditemukan di Sumatra, Kalimantan (Indonesia), Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Habitat Cynogale bennettii ini ialah jenggala rawa gambut atau hutan kering ceduk rendah. Binatang ini biasanya beredar di seputar sungai dan lahan basah.

Karena wajib jiwa di darat dan perairan, badan musang air sekali lagi sudah beradaptasi. Satwa ini n kepunyaan mulut yang demes dan kaki berbintik. Musang air yaitu salah satu hewan nokturnal.

Galibnya, satwa dilindungi ini menyantap ikan, kepiting, katak, dan kijing air batal bagaikan makanannya. Hanya, dia sekali lagi sewaktu-waktu meratah mamalia kecil, kalam, dan biji pelir. Populasi musang air dipekirakan berkurang hingga 50% dalam 15 tahun bontot akibat deforestasi hutan, pencemaran air, dan rusaknya daerah aliran kali besar.

15. Pesut Mahakam (Ramping – Appendiks I)

Pesut Mahakam merupakan salah satu mamalia yang tersebar di air payau dekat tepi laut dan estuari bengawan. Oleh karena itu, mereka selalu dijuluki babi duyung sungai sejati. Sato yang memiliki jenama latin Orcaella brevirostris ini banyak ditemukan di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Pesut Mahakam memiliki bentuk serupa dengan lumba-lumba. Namun, moncong pesut suntuk ketul, tidak seperti moncong lumba-lumba yang panjang. Kesudahannya, kepala pesut n kepunyaan bentuk membulat. Jenjang pesut Mahakam dewasa sekitar 1,5-2,8 meter dengan berat 114-135 kg.

Populasi mamalia ini pun yakni keseleo suatu yang paling memprihatinkan. Pada 2022, pesut ini memiliki populasi menyeluruh namun sebanyak 80 ekor saja. Di Kalimantan, besaran hewan ini terus menyusut akibat semakin sibuknya mondarmandir perairan Wai Mahakam dan sekitarnya.

16. Edelweis (Kritis)

edelweis
Edelweis (Foto: (M Rofiq/detikTravel)

Para pendaki jabal pasti sudah enggak asing dengan bunga edelweis. Bunga yang dijuluki bunga lestari ini hidup di jalal antara 1.600-3.600 mdpl. Bunga edelweis biasanya bermekaran di bulan April dan Agustus. Bunga ini tersebar di selingkung Asia Paruh, Tenggara, dan Kidul.

Ciri khas bunga edelweis yaitu memiliki batang bumbung, daun yang panjang dan tipis, beruban lebat, serta tersebar. Babak tengah rente edelweis memiliki warna merah jingga dan majikan bunga menyerupai bunga aster. Bunga ini n kepunyaan hormon etilen yang menyebabkan umur bunga itu dapat mencapai 100 periode.

Rente dengan logo latin Anaphalis javanica ini merupakan salah satu bunga yang dilindungi, Bahkan, orang yang melanggar UU terkait pelestarian bunga ini dapat didenda hingga Rp100 miliun. Populasi anakan ini kerap melandai karena comar dipetik oleh pendaki yang tidak bertanggung jawab.

17. Acung Jangkung

Mengangkat tangan jangkung adalah salah satu pohon endemik Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pokok kayu dengan nama latin Amorphophallus decus-silvae Backer & Aldrew ini n kepunyaan tinggi yang boleh mencapai 2-3,5 meter. Ciri tanaman ini adalah n kepunyaan warna gandar cangkul keabu-abuan dengan bintik-bintik cokelat tua.

Bunga yang mengeluarkan bau menyengat saat mekar ini termasuk salah suatu tumbuhan yang dilindungi. Saat ini, diperkirakan populasi tumbuhan ini sudah berada di radiks 10.000. Pelecok satu faktor yang menjadi penyebab utama penghamburan jumlah pohon ini adalah alih kebaikan lahan.

18. Kocek Semar

Kantong semar, salah satu tanaman endemik Indonesia
Kocek semar (Foto: Getty Images/iStockphoto/Liyao Xie)

Kantong semar adalah pelecok suatu tumbuhan nan berpasangan plong batang tumbuhan. Biasanya, saku semar tumbuh puas petak atau tempat-tempat yang miskin unsur hara. Sejumlah varian kantong semar hidup di bekas lembab, padahal terletak versi lainnya yang hayat di gelanggang membengang dengan banyak seri mentari.

Tumbuhan yang satu ini merupakan tumbuhan karnivora, yaitu tumbuhan pemangsa daging seperti serangga dan binatang kecil. Pohon tersebut meranggah makanannya menggunakan kantong yang dilapisi oleh lilin yang silam licin.

Dari setidaknya 85 macam kocek semar, terdapat 27 spesies terancam punah. Malar-malar, salah satu jenis kantong semar yang mempunyai nama latin Nephentes sumatrana masuk privat status pemeliharaan kritis.

19. Anggrek Hitam

Anggrek hitam yaitu salah satu tumbuhan nan tersebar di area Kalimantan dan Sumatra. Rata-rata, anggrek dengan etiket latin Coelogyne pandurata ini hidup di tumbuhan yang akrab dengan batang air serta mempunyai humiditas sekitar 60-85%. Pokok kayu ini biasanya berbunga saat akhir waktu, sekitar Oktober hingga Desember.

Tumbuhan endemik mulai sejak pulau Kalimantan ini terus terancam karena diburu oleh kolektor dan perusakan hutan. Justru, kebakaran hutan yang melanda kawasan Kalimantan lagi turut berkarisma pada keberadaan anggrek hitam yang terletak dalam Uang muka Alam Padang Luway.

20. Keruing Dolok

Keruing gunung maupun dikenal kembali dengan palahlar ialah riuk satu varietas tumbuhan nan tersebar di berbagai provinsi seperti mana Aceh, Bali, Lombok, Sumbawa, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Tumbuhan endemik di pulau Nusakambangan ini demap ditemukan di area dengan kemiringan 0-40 derajat dan ketinggian 10-108 mdpl. Akhirnya, tumbuhan ini jamak terwalak di dekat diseminasi sungai.

Tumbuhan dengan nama latin Dipterocarpus littoralis ini masuk ke dalam pamor konservasi kritis. Tanaman ini semakin berkurang karena gelojoh ditebang dan diambil secara ilegal untuk dijadikan kayu bakar.

Simak Video “Jual Satwa Dilindungi, Perjaka Semarang Dibekuk Penjaga keamanan Cyber

[Ketola:Video 20detik]
(tya/tey)

Source: https://www.detik.com/jabar/berita/d-6388177/20-satwa-dan-puspa-yang-hampir-punah-ada-surili-hingga-kantong-semar

Posted by: gamadelic.com