Gambar Tanaman Dan Buah Pala

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia objektif

Pala
(Myristica fragrans) merupakan tumbuhan kasatmata pohon nan mulai sejak dari kepulauan Banda, Maluku. Akibat nilainya yang hierarki andai rempah-rempah, biji zakar dan biji pala sudah lalu menjadi komoditas ekspor impor yang penting sejak masa Romawi. Pala disebut-ucap privat ensiklopedia karya Plinius “Sang Tua”. Pecah zaman pengkhususan Eropa pala tersebar luas di daerah tropika lain seperti Mauritius dan Karibia (Grenada). Istilah
pala
juga dipakai untuk kredit pala yang diperdagangkan.

Pokok kayu ini berumah dua (dioecious) sehingga dikenal pohon jantan dan lebah ratulebah. Daunnya berbentuk bulat panjang langsing. Buahnya berbentuk lonjong seperti mana lemon, berwarna kuning, berdaging dan beraroma khas karena mengandung minyak atsiri pada daging buahnya. Bila masak, kulit dan daging buah membuka dan biji akan terlihat tersalut fuli yang berwarna merah. Suatu biji zakar menghasilkan satu kredit berwarna coklat.

Pala dipanen skor, salut bijinya (arillus), dan daging buahnya. Dalam perdagangan, salut biji pala dinamakan
fuli, maupun kerumahtanggaan bahasa Inggris disebut
mace, dalam istilah farmasi disebut
myristicae arillus
atau
geretan). Daging buah pala dinamakan
myristicae fructus cortex. Pohon pala yaitu tanaman yang pas lama pertumbuhannya hingga pemanenan. Panen pertama dilakukan 7 setakat 9 tahun setelah pohonnya ditanam[1]
dan mencapai kemampuan produksi maksimum setelah 25 masa. Tumbuhnya dapat mencapai 20m dan usianya bisa mengaras ratusan tahun.

Sebelum dipasarkan, biji dijemur hingga sangar setelah dipisah berasal fulinya. Pengeringan ini meratah waktu enam sampai delapan minggu. Interior skor akan memendek dalam proses ini dan akan terdengar bila biji digoyangkan. Pak skor akan pecah dan bagian privat kredit dijual sebagai pala.

Biji pala mengandung minyak atsiri 7-14%. Serbuk pala dipakai sebagai penyedap buat roti atau kue, puding, saus, sayuran, dan minuman penyegar (sama dengan eggnog). Minyaknya juga dipakai sebagai campuran air atar atau sabun cuci. Selain itu, tanaman ini pun kaya akan manfaat, diantaranya buah pala yang terdiri bersumber kulitnya bisa dijadikan bulan-bulanan tambahan perunding penggiring nyamuk; dagingnya nan mengandung banyak nutrisi dapat dijadikan bahan pangkal pembuatan berbagai jenis makanan dan minuman seperti manisan, sirup, dan permen; biji dan fulinya sering dijadikan laksana bahan terdepan pembuatan minyak atsiri; sedemikian itu juga dengan daunnya, namun pada daging buahnya pun gegares dijadikan bulan-bulanan normal minyak atsiri.[2]
[3]

Kondisi optimal bakal tumbuh dan pembibitan

[sunting
|
sunting sumur]

Tumbuhan pala secara masyarakat dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian sekeliling 0-700 mdpl dengan kebutuhan guyur hujan abu yang cukup tinggi yaitu 2000–3500 mm/tahunnya dan humiditas gegana sekitar 50-80 %. Pokok kayu ini bisa tumbuh lazimnya sampai keluhuran pohon 5-15 meter atau lebih lagi dapat mencapai 30 meter. Pala sekata bertunas pada suhu gegana seputar 20-30ozonC dengan struktur tanah tempat tumbuhnya memiliki rentang yang memadai samudra yaitu dari tanah padat sebatas berpasir serta memiliki derajat keasaman 5,5 – 7.[1]

Pada pembibitan tumbuhan pala lazimnya dilakukan irigasi setiap 1-2 kali dalam sehari apabila tidak suka-suka hujan angin sama sekali disertai penyiangan dari tanaman gulma disekitarnya dan pula perlakuan penggemburan petak. Dilakukan pun penyisipan pupuk tanaman seperti baja kandang, serat tanah daun, ataupun jamur anorganik seperti mana urea setiap 3 bulan sekali. Pemanenan pala dapat dilakukan sebanyak 3 kali dalam satu perian, yaitu detik tadinya hari hujan yang memberikan hasil buah pala dengan kualitas paling baik, lalu pertengahan musim hujan abu dengan biasanya buah pala yang siap penuaian berjumlah paling banyak diantara periode lainnya, kemudian total pala siap pengetaman menurun dan boleh dipanen pada akhir hari hujan angin.[1]

Penyebaran

[sunting
|
sunting sumber]

Pokok kayu pala tersebar pada wilayah atau negara yang n kepunyaan iklim tropis termasuk diantaranya Guangdong dan Yunan di Cina, Taiwan, Malaysia, Grenada di Kepulauan Karibia, Kerala di India, Sri Lanka, dan Afrika Selatan, terutama juga di negara asalnya adalah Indonesia. Pada negara Indonesia, perakit utama pala ada lega Kepulauan Maluku, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, dan Papua. Umur tanaman pala lagi cukup jenjang bahkan bisa hingga ke 100 hari.[4]
[5]

Pala di Indonesia

[sunting
|
sunting sendang]

Indonesia memasok sekitar 60% bersumber kuantitas kebutuhan pasar pala dunia setiap tahunnya. Jawa Barat merupakan salah satu daerah sentra produksi pala pada tahun 2008 saja tercatat luas areal tanaman pala sekeliling 4049 hektar dengan produksi 778 ton dan rata-rata produktivitas tanaman 359 kg/hektar dimana angka tersebut lebih tinggi dibanding produktivitas pohon pala nasional. Kabupaten Sukabumi dan Bogor yaitu area dengan produksi pala terbesar di Jawa Barat. Selain itu, di Jawa Barat pula telah banyak pabrik pengolahan pala yang lebih berkembang pesat dibanding wilayah lainnya, diantaranya adalah minyak atsiri dan manisan pala
[6]
[7]

Minyak Atsiri Pala dan Amatan Kandungannya

[sunting
|
sunting sumber]

Barang utama berbunga tanaman pala yaitu minyak atsiri yang dapat dihasilkan melintasi penyulingan berpunca objek baku berupa daging buah, biji, dan fuli pala. Pada minyak atsiri mengandung berbagai senyawa, yang paling banyak dan menjadi ciri khas adalah
myristicin
[8]
.
Menurut Barometer Kewarganegaraan Indonesia (SNI 06-2388-2006) syarat qada dan qadar
myristicin  dalam minyak atsiri pala paling kecil 10%.
Myristicin
selayaknya dapat dijadikan sebagai perwakilan insektisida, penambah rasa pada rokok,
chemopreventive
dan
hepatoprotective,
namun senyawa ini dapat memberikan efek halusinasi yang sama sama dengan narkotik. Seiring perkembangan zaman, minyak atsiri pala ini terlebih dijadikan bak bahan baku aromaterapi yang berwatak ki menenangkan amarah stress karena adanya kandung
myristicin-nya. Kandungan
myristicin  lebih panjang kadarnya puas daging buah pala dibandingkan dengan nilai dan fulinya.[8]

Puas SNI 06-2388-2006 pun didapati adanya syarat bukan nan harus dimiliki maka dari itu minyak atsiri pala, diantaranya ialah nilai rata-rata penunjuk bias plong master 20ozonC harus berkisar pada rentang 1,475-1,485. Petro atsiri pala harus mempunyai bau tersendiri pala dengan n kepunyaan dandan semenjak enggak bercelup hingga kuning muda dengan berat jenis 20ozonC/20udara murniC pada juluran 0,885-0,907. Minyak atsiri pala pun harus larut dengan sempurna dan tetap jernih puas etanol 90% dengan rentang 1:1-1:3. Kelarutan minyak atsiri puas etanol 90% sangat berkaitan dengan jenis komponen kimia yang terkandung didalamnya. Tembolok senyawa terpen teroksigenisasi sebagaimana α-terpineol dam terpinen-4-ol banyak terkandung dala minyak atsiri pala.Senyawa terpen teroksigenisasi lebih mudah sagu belanda dalam alkohol dibanding terpen, sehingga semakin tinggi makanan terpen maka semakin kurang kiat larutnya[9]

Telah dilakukan beberapa analisis makanan senyawa dalam patra atsiri pala salah satunya dengan pendekatan metabolomik. Amatan dilakukan puas minyak atsiri pala yang berasal dari daging biji pelir menggunakan instrumen
Tabun chromatography–mass spectrometry
(GC-MS) oleh Sipahelut dan Telussa pada tahun 2022. Didapati adanya 21 senyawa yang teridentifikasi diantaranya perumpamaan berikut.

  1. α-thujene
  2. α-pinene
  3. Camphene
  4. β-pinene
  5. β-myrcene
  6. α-phellandrene
  7. Linalool
  8. α-terpineol
  9. Safrole
  10. Myristicin

(Selengkapnya dapat dilihat pada kata sandang KARAKTERISTIK MINYAK ATSIRI DARI DAGING BUAH PALA Melangkaui BEBERAPA TEKNOLOGI PROSES).

Loklok dan rendemen petro atsiri boleh ditentukan distilasi ataupun penyulingannya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya,
myristicin
merupakan sintesis ciri khas dan menjadi karakteristik terdahulu kerumahtanggaan minyak atsiri pala dengan bintik didih minimum pangkat diantara senyawa lainnya yaitu 276,5oC. Pertambahan dur minyak atsiri dapat memanfaatkan pendekatan metabolomik, contohnya dengan membandingkan kadar
myristicin
lagi senyawa lainnya pada berjenis-jenis metode distilasi, contohnya distilasi air dan air-uap. Bersendikan pengkhususan yang dilakukan makanya Sipahelut dan Telussa pada masa 2022, metode penyulingan minyak atsiri pala dengan distilasi air menghasilkan kian banyak
myristicin
yang terekstraksi karena incaran dasar asosiasi sinkron dengan air mendidih sehingga sintesis kian mudah keluar bermula jaringan bahan. Maka berpunca itu, mutu minyak atsiri pala dapat dimaksimalkan salah satunya dengan pertambahan kadar
myristicin
terkekstraksi menunggangi distilasi air.[9]

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]

  1. ^


    a




    b




    c




    Budidaya Tanaman Pala“.
    Gen Agraris. 2022. Diarsipkan semenjak versi ikhlas tanggal 2022-04-25. Diakses tanggal 4 April 2022 pukul 20.45 WIB..





  2. ^


    Pat Chapman (2007).
    India Food and Cooking: The Ultimate Book on Indian Cuisine. New Holland Publishers. hlm. 16. ISBN 978-1-84537-619-2.





  3. ^



    Terampil Berkreasi. Grafindo Kendaraan Pratama. hlm. 120.





  4. ^

    Jaiswal P, Kumar P, Singh VK, Singh DK. (2009). Biological effects of
    Myristica fragrans.
    Annu Rev Biomed Sci. 11:21–29.

  5. ^

    Nurfitriana, Siti. (2013).
    Pala: si Mungil Kaya Kurnia
    (online). https://www.kompasiana.com/sitinurfitriana/551b96d8813311263d9de176/pala-si-katai-kaya-manfaat diakses pada 4 April 2022 martil 22.01 WIB.

  6. ^

    Bustaman, S. (2008). Prospek Ekspansi Minyak Pala Banda Andai Komoditas Ekspor Maluku.
    Koran Litbang Pertanaman, 27(3): 93 – 98.

  7. ^

    Sudjarmoko, B. (2010).  Kelayakan Pengusahaan Pala di Jawa Barat.
    Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tumbuhan Industri- Surat kabar RISTRI. 1(5). 217-226.
  8. ^


    a




    b



    Mancha A., & Fuentes J., 2008. Evaluation of the health beneficial properties of the aromatic ether Myristicin, a volatile oil derived from various plants sources. The University of Texas-Pan American 1201 W. University Drive Edinburg, Texas 78539. www.agonline.tamu.edu/Myristicin_Nov9_330PM.ppt – Amerika Serikat, diakses pada 27 Februari 2009.
  9. ^


    a




    b



    Sipahelut, Sophia & Telussa, Ivonne. (2011). Karakteristik Minyak Atsiri Berbunga Daging Biji pelir Pala Melangkaui Sejumlah Teknologi Proses.
    Jurnal Teknologi Hasil Pertanian.
    4(2): 134.

Galeri

[sunting
|
sunting sumber]

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Pala