Fosil Yang Ditemukan Di Sangiran

Jakarta
– Seorang petani di Sragen, Jawa Tengah, Setu Wiryorejo, menemukan fosil atap tempurung kepala bersumber bani adam purba tertua di Indonesia (Homo Erectus Arkaik). Temuan ini melengkapi temuan-temuan fosil manusia purba sebelumnya di situs cagar budaya Sangiran.

Direktur Pemeliharaan Persekot Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto mengatakan, fosil tersebut ditemukan di Sungai Bojong, anak Batang air Solo, yang subur di Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Sragen, pada 5 Februari 2022 lalu. Setu menemukan fosil detik sedang bertani lewat melaporkannya ke Balairung Pelestarian Situs Bani adam Purba di Sangiran, Sragen.

Tim dari Balai kemudian melakukan identifikasi dan temuan ini diyakini sebagai sengkuap tengkorak dari manusia purba Homo Erectus Arkaik, golongan manusia purba tertua yang pernah tercatat di Sangiran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Itu adalah jenis berusul Homo Erectus Arkaik, manusia purba di Jawa ini nan minimum lanjut umur. Dari materi nan menempel pada sisa purba saya memperkirakan ia dari 1,5 miliun tahun lalu,” pembukaan Harry saat berbincang dengan detikcom, Alat pernapasan (27/4/2016).

Menurutnya, fosil-fosil yang dari 1,5 juta sampai 900 mili ialah sisa purba yang paling tua di Sangiran dan Indonesia dan diberi nama Homo Erectus Arkaik. Di atasnya ada Homo Erectus Tipik, diperkirakan kehidupan antara 800 mili setakat 300 mili tahun yang lalu. Terakhir, cak semau Homo Erectus Progresif nan semangat antara 300 ribu hingga 100 mili tahun silam.

Eks kepala Balai Pelestarian Situs Individu Purba ini menyebut suka-suka banyak spesimen nan ditemukan dari era homo erectus tipik dan progresif. Jumlahnya sekitar 120 spesimen dan kini tersimpan di bermacam rupa panggung, kerjakan keefektifan penajaman.

“Terserah yang di Frankfurt, Jerman, ada di Leiden, lainnya terserah di laboratorium universitas di Indonesia dan lab di Indonesia, termasuk di museum Sangiran,” kata Harry.

Temuan spesimen yang paling kecil sedikit pecah dari Homo Erectus Arkaik. Jumlahnya sekarang diperkirakan tetapi 20 spesimen. Itu terdiri berbunga atap kranium, mandibula, dan beberapa percontoh rahang atas.

Perbandingan fosil Homo Erectus Arkaik dan Homo Sapiens (Foto: Muchus/detikcom)

Berpokok temuan-temuan tersebut, yang paling bagus kualitas fosilnya adalah Sangiran IV. Ini adalah fosil tempurung kepala yang ditemukan maka itu peneliti Belanda GHR von Koenigswald pada periode 1936. Selanjutnya wasilah suka-suka temuan tulang kepala di tahun 1988.

“Temuan Pak Setu ini persis dengan Sangiran IV. Ini menentukan kualitas berpunca kreasi Homo Erectus Arkaik,” terangnya.

Setu hanya menemukan bagian fosil sengkuap tengkorak saja. Sementara Konigswald menemukan fosil tengkorak paradigma dengan bagian rahang.

Penasihat Balairung Preservasi Situs Manusia Purba, Sukronedi, saat diwawancarai terpisah mengatakan temuan ini akan dikoservasi kemudian dipublikasikan kerumahtanggaan jurnal ilmiah. Rencananya, temuan ini akan dipajang ibarat koleksi museum.

“Sisa purba temuan Buntelan Setu ini sangat mirip dengan temuan kumpulan atap tengkorak yang ditemukan maka itu GHR von Koenigswald tahun 1939 yang saat ini tersimpan di Frankfrut, Jerman. Rencana kami, nanti sehabis diteliti akan dikonservasi, temuan yang terakhir ini akan disimpan di Sangiran kerjakan dipajang sebagai kompilasi museum,” lanjur Sukronedi.

Sisa purba yang ditemukan di Kali besar Bojong itu berukuran janjang 14 cm, bogok 12 cm dan tangga 10 cm. Para peneliti mengatakan Homo Erectus Arkaik memiliki volume pentolan sebesar 800 cc dengan ketebalan benak batok kepala 1,5 cm. Ukuran lebih ki akbar dimiliki maka dari itu Homo Erectus Tipik sebesar 1.000 cc dan Homo Erectus Progresif sebesar 1.100 cc. Sementara itu manusia bertamadun memiliki volume dedengkot sebesar 1.400 cc.
(mad/imk)

Source: https://news.detik.com/berita/d-3197466/temuan-fosil-manusia-purba-sejak-zaman-belanda-di-sangiran

Posted by: gamadelic.com