Dua Sumber Utama Dalam Hukum Islam Adalah

Desa Bajur –Jum’at, 24 Desember 2022 Kajian majlis baiturrahman malam ini di isi oleh TGH. Musleh nan merupakan koteng Tuan Master karismastik, kajian lilin batik ini bertema, “Sendang Syariat Selam.” Kajian di hadiri maka dari itu masyarakat Desa Bajur yang menunaikan janji masjid baiturrahman.

Tgh. Musleh menjelaskan dalam menetapka  hukum islam suka-suka 4 yaitu Al-Qur’an, Hadis, Ijma’, Qiyas.

1. Al-Qur’an
Al Quran merupakan titit Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Tulisannya berbahasa Arab dengan gayutan Malaikat Jibril.
Al Quran juga adalah hujjah atau argumentasi lestari bagi Utusan tuhan Muhammad SAW intern menyampaikan risalah kerasulan dan pedoman hidup kerjakan khalayak serta hukum-hukum yang wajib dilaksanakan. Hal ini untuk mewujudkan kebahagian hidup di dunia dan alam baka serta untuk mendekatkan diri kepada Almalik SWT.
Al Quran andai kalam Tuhan SWT dapat dibuktikan dengan ketidaksanggupan atau kelemahan yang dimiliki oleh manusia kerjakan membuatnya sebagai tandingan, walaupun khalayak itu adalah okultis.

Dalam surat Al Isra ayat 88, Allah bersuara:

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

Katakanlah, “Sesungguhnya kalau manusia dan jin berkumpul untuk membentuk yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu separas lain.”

2. Hadits
Seluruh umat Selam mutakadim sepakat dan berpendapat serta mengakui bahwa sabda, ulah dan persetujuam Rasulullah Muhammad SAW tersebut adalah sendang hukum Selam nan kedua sesudah Al Alquran. Banyak ayat-ayat di dalam Al Quran nan memerintahkan untuk mentaati Rasulullah SAW seperti firman Allah SWT kerumahtanggaan Q.S Ali Imran ayat 32:


قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ ۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ – ٣٢

Katakanlah (Muhammad), “Taatilah Allah dan Rasul. Seandainya kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah bukan menyukai anak adam-orang dahriah.”

Al Hadits sebagai sendang syariat nan kedua berfungsi bak penguat, sebagai pemberi keterangan, andai pentakhshis keumuman, dan membuat hukum yunior yang ketentuannya tidak ada di dalam Al Alquran. Hukum-hukum nan ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW ada kalanya atas petunjuk (ramalan) dari Allah SWT, dan kadang kala berasal dari ijtihad.

3. Ijma
Imam Syafi’i memandang ijma misal sendang syariat setelah Al Alquran dan sunah Rasul. Privat moraref alias portal akademik Departemen Agama bertajuk Pandangan Imam Syafi’i akan halnya Ijma laksana Sumber Penetapan Hukum Islam dan Relevansinya dengan jalan Syariat Selam Dewasa Ini karya Sitty Fauzia Tunai, Ijma’ adalah salah satu metode privat menargetkan hukum atas barang apa persoalan nan tidak didapatkan di dalam Al-Alquran dan Sunnah. Sendang syariat Selam ini mengawasi berbagai masalah yang timbul di era globalisasi dan teknologi modern.
Jumhur ulama ushul fiqh yang bukan seperti Serdak Zahra dan Wahab Khallaf, merumuskan ijma dengan kesepakatan atau konsensus para mujtahid dari umat Muhammad lega suatu musim pasca- wafatnya Rasulullah SAW terhadap suatu hukum syara’ mengenai satu kasus atau situasi.
Ijma dapat dibagi menjadi dua rang yaitu ijma sharih dan ijma sukuti. Ijma sharih atau lafzhi yaitu kerukunan para mujtahid baik melewati pendapat ataupun perbuatan terhadap hukum masalah tertentu. Ijma sharih ini juga silam selit belit terjadi, bahkan jangankan yang dilakukan dalam satu majelis, pertemuan lain dalam forum pula runyam dilakukan.
Bagan ijma yang kedua dalah ijma sukuti yaitu kesepakatan ulama melalui cara seorang mujtahid atau lebih mengemukakan pendapatanya adapun hukum satu masalah internal tahun tertentu kemudian pendapat itu tersebar luas serta diketahui orang banyak. Tidak ada seorangpun di antara mujtahid bukan nan menggungkapkan perbedaan pendapat atau menyanggah pendapat itu sesudah meneliti pendapat itu.

4. Qiyas
Sumber hukum Islam lebih jauh yakni qiyas (kias). Qiyas yaitu bentuk bersistem dan yang mutakadim berkembang fari ra’yu yang memainkan peran yang amat terdahulu. Sebelumnya dalam tulangtulangan teori hukum Islam Al- Syafi’i, qiyas menduduki tempat ragil karena ia memandang qiyas lebih lemah dari pada ijma.

Source: http://bajur.desa.id/berita/read/sumber-hukum-islam-apa-saja-5201082006/2#:~:text=Hukum%2Dhukum%20yang%20ditetapkan%20oleh,dan%20adakalanya%20berasal%20dari%20ijtihad.&text=Imam%20Syafi’i%20memandang%20ijma,Al%20Quran%20dan%20sunah%20Rasul.