Dikenal Sebagai Penemu Konstruksi Cakar Ayam Adalah

Insinyur Banyak akal nan Inovatif

Sedyatmo dilahirkan di desa Karangpandan, Jawa Perdua Ahad Kliwon terlepas 24 Oktober 1909 sebagai putra ketiga Raden Mas Panji Hatmo Hudoyo (cucu Mangkunegoro III-Surakarta) dengan R. Ayu. Sarsani Mangunkusumo. Sedyatmo n kepunyaan nama mungil Raden Mas Sarwanto. Momen berusia beberapa rembulan, dia lindu patut lama yang membuatnya harus mengganti nama. Orang tuanya kemudian memberikan tanda bau kencur R.M Sedyatmo. Nama Sedyatmo diambil dari perkenalan awal Sedia dan Atmo yang artinya sedia, sanggup atau mau dan Atmo yang artinya momongan. Melalui jenama mentah ini, kedua orang tuanya mengharapkan Sedyatmo belakang hari menjadi anak yang baik dan penting untuk masyarakat, bangsa dan negaranya. Sebuah do’a yang beberapa tahun kemudian terwujud nyata.

SEDYATMO DAN PENDIDIKAN

Sedyatmo menuntut ganti rugi pendidikan di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), pendidikan setingkat SMP di Surakarta. Selama belajar di MULO, beliau bergabung dengan kelompok kepanduan (kini pramuka). Di kepanduan dia mendapatkan latihan jasmani dan rohani terdaftar pembinaan watak, keterampilan, kemanusiaan, kemasyarakatan dan hal bermanfaat tidak nan kemudian ikut membentuk watak dan kepribadiannya. Berbekal kemampuan bermain gitar yang memesona, ia juga kemudian berintegrasi dengan kerumunan irama.

Ketertarikannya pada dunia seni tidak terjadi begitu saja. Sejak kecil ia sangat menyukai karya-karya seni tradisional terutama Gending Jawa dan Wayang patung. Bima dan Gatotkaca yaitu tokoh idolanya. Dari kedua tokoh hebat tersebut, Sedyatmo membaja kebiasaan keberanian, kegigihan, semangat perjuangan, ketenangan, kesediaan berkorban, pengabdian, cita–cita, kecintaan kepada nasion dan tanah air serta religiositas kepada Halikuljabbar.

Setelah menamatkan pendidikan di MULO, anda melanjutkan pendidikan di Algemene Middel-bare School (AMS), pendidikan setingkat SMA di Yogyakarta. Saat menempuh pendidikan di AMS ia kerap menjadi juara di arena olahraga. Namun ia tidak selalu sukses mendapatkan hal yang diinginkannya. Pada tahun 1930 detik Pemerintah Belanda mengiklankan pemberian beasiswa kepada pelajar–pesuluh Indonesia bagi sparing di Technishe Hogeschool de Bandoeng (THS) beliau gagal. Kendatipun sudah belajar ekstra keras beliau tidak lolos pemilihan.

Ditengah keputusasaan atas kekecewaan lolos seleksi ini, rupanya nasib baik masih berpihak kepadanya. Sonder sepengetahuannya, sendiri guru yang pernah bersabung pendapat dengannya dan mengatakan bahwa manjapada itu bulat memberikan jaminan kepada rektor THS bahwa Sedyatmo sememangnya ki berjebah meskipun nilai rata-ratanya terbatas. Pernyataan dan uang kancing bermula seorang guru AMS Yogyakarta inilah yang kemudian mengantarnya masuk THS nan kini dikenal perumpamaan Institut Teknologi Bandung (ITB). Sedyatmo turut di THS bersama dengan Abdul Mutholib Danuningrat, putra Tumenggung Purworejo, Danunegoro.

Saat ditingkat II Sedyatmo berteman dengan Goenarso yang masuk bertambah awal. Kombinasi keduanya sangat damping baik kerumahtanggaan perkuliahan alias diluar sekolah. Tidak sekadar akrab dengan Goenarso, rangkaian dengan para mahasiswa Indonesia lainnya juga sangat akrab. Disamping sparing, mereka pula kerap berkujut pembicaraan ketatanegaraan teragendakan membahas sukma bangsanya, Indonesia.

Pada masa 1932 sejumlah mahasiswa berhasil meraih gelar insinyur, salah satunya Roosseno. Sayangnya di tahun tersebut pula, nampak cak semau perlakukan nan berbeda antara mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Belanda. Para Insinyur Indonesia kesulitan mendapatkan jalan hidup yang menciptakan menjadikan mereka akhirnya berupaya menciptakan pelan tiang penghidupan koteng sama dengan dinas gedung, mendirikan sekolah, bekerja di kantor pamong praja dan lainnya.

Setelah empat hari menuntut ganti rugi pendidikan, Sedyatmo meraih gelar Insinyur pada musim 1934. Setelah lulus Sedyatmo memilih pun ke Mangkunegaran dan bekerja bagaikan insinyur perencanaan di berbagai instansi pemerintahan. Privat bekerja anda dikenal gentur dan punya kepatuhan nan tahapan. la sekali lagi kaya akan gagasan-gagasan inovatif. Lantaran etos kerjanya yang tinggi serta dikenal banyak akalnya, Sedyatmo mendapat julukan “si Kancil”. Privat perjalanan karir dan pengabdiannya seumpama Insinyur, bangsa Indonesia kemudian mencatat kegemilangan karyanya melalui Gedung Kakas Ayam yang digagasnya pada tahun 1962.

Senat ITB, almamaternya kemudian juga menganugerahinya gelar Doctor Honoris Causa internal llmu pengetahuan Teknik atas jasa-jasanya sebagai insinyur. Dengan promotor Prof. Ir. Soetedjo, gelar tersebut disematkan pada Pancawarsa ketiga (Hari jadi ke-15) ITB, terlepas 2 Maret 1974.

Sedyatmo menikah lega tahun 1942 dengan Raden Ajeng Hoesniah Pardani, putri sulung Mangkunagoro VII. Mulai sejak ijab kabul tersebut ia dikarunia beberapa manusia amoi yaitu : Pardiatni Hoesneiniah Riantini, Latifah Amiati, Amini, Tedjaswati, Krisnawati. Putra terbaik Karangpandan, peraih Medali Mahaputra Kelas I dari Pemerintah Indonesia ini berpulang di Jakarta pada 15 Juli 1984. Untuk mengenang jasa dan pengabdiannya, Pemerintah memvideokan namanya sebagai nama jalan netral obstruksi menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Sistem Pondasi Cakar Ayam Nan Mendunia

Sedyatmo adalah pencetus gagasan sistem pondasi konstruksi Cakar Ayam banyak diaplikasikan laksana solusi pondasi di petak panjang usus. Konstruksi Ceker Ayam diperkenalkan Sedyatmo di waktu 1962 dan telah dipatenkan secara nasional maupun internasional. Sistem pondasi cakar ayam ini lagi mutakadim dikenal dibanyak negara, tambahan pula mutakadim mendapat syahadat paten internasional di 11 (sebelas) negara, yaitu : Indonesia, Jerman Timur, Inggris, Perancis, Italia, Belgia, Kanada, Amerika Serikat, Jerman Barat, Belanda dan Denmark. Pondasi cakar ayam jago tersusun berpunca plat beton bertulang tipis yang didukung buis-buis beton berduri yang dipasang vertikal dan disatukan secara monolit dengan plat beton pada jarak 200-250cm. Tebal plat beton berkisar antara 10-20cm, medium pipa buis beton berduri berdiameter 120cm dengan ketebalan berkisar 8cm dan panjang 150-250cm. Buis-buis beton ini gunanya untuk pengaku pelat. Intern mendukung bagasi gedung, pelo buis beton dan tanah yang terkurung di dalam pondasi bekerja sama sehingga menciptakan suatu sistem konglomerasi yang di kerumahtanggaan prinsip bekerjanya secara keseluruhan identik dengan pondasi rakit raft foundation.

Mekanismenya dalam bisnis bagasi dijelaskan sebagai berikut : bila diatas pelat berkreasi tanggung titik, maka bagasi tersebut membuat pelat melendut. Lendutan ini menyebabkan buis-buis ceker ayam berotasi. Hasil pengamatan plong model menunjukkan peredaran ceker terbesar adalah pada ceker yang terdapat di dekat beban. Peredaran cakar memobilisasi tekanan kapling lateral di belakang kuku-ayam aduan dan merupakan detik yang melawan lendutan pelo. Dengan demikian, prinsip mengurangi lendutan cadel, semakin besar saat tampin cakar untuk melawan lendutan maka semakin osean rabat lendutan. Momen imbangan cakar dipengaruhi oleh dimensi cakar dan kondisi kepadatan (kuat geser) petak disekitar cakar, yaitu semakin tinggi (dan pun lebar) cakar, maka semakin segara momen saingan terhadap lendutan pelat yang bisa diperoleh.

Banyak bangunan yang telah menggunakan sistem ini di antaranya : ratusan menara PLN tegangan tinggi, hangar kapal terbang dengan bentangan 64m di Jakarta dan Surabaya, antara runway dan taxi way serta apron Bandara Sukarno-Hatta Jakarta, jalan akses Pluit- Cengkareng, industri pupuk di Surabaya, balong renang dan tribune di Samarinda serta ratusan bangunan gedung bertumpuk di berbagai kota di Indonesia.

Solusi pondasi di tanah labil dan lunak

Lahirnya ide kreatif teknik cakar ayam jago berawal berusul kesulitan tenaga pelaksana konstruksi menghadapi tanah kepala dingin. Mewujudkan pondasi di lahan lunak memang sulit dilakukan. Hal tersebut pula dialami Sedyatmo ditahun 1962, saat ia menjadi pejabat di PLN ditugaskan memimpin proyek pembangunan tujuh (7) menara listrik tegangan tinggi di provinsi pandau-paya di kawasan Ancol, Jakarta.

Saat itu, para tenaga tukang dan penyusun titipan nan ditugaskan bersamanya mengalami banyak kesulitan bakal melaksanakan pembangunan palas-palas listrik tegangan pangkat tersebut. Setelah bekerja keras dengan mengerahkan segala apa kemampuan mereka saja bertelur membangun dua (2) palas-palas. Sungguhpun telah mengerahkan segala cara mereka alhasil mengalami jalan buntu buat menyelesaikan lima (5) menara lainnya mengingat kegoyahan lahan yang merupakan daerah pandau-rawa. Disisi lain proses konstruksi dua (2) menara sebelumnya nan dibangun dengan sistem pondasi sahih sudah benar-benar menguras tenaga, biaya dan waktu konstruksi yang lama.

Tingkat ketegangan tim semakin memuncak meningat keberadaaan panggar-menara setrum tersebut sangat diperlukan sebagai sarana penyaluran aliran setrum dari buku tenaga listrik di Semenanjung Priok ke Gelanggang Olah Raga Senayan yang saat itu akan dijadikan tempat pengelolaan pesta olah jasmani Berbahagia Games periode 1962.

Dalam situasi genting tersebutlah Sedyatmo babaran ide pondasi sebagai cakar ayam. Melalui konsep ini menara dibangun di atas pondasi yang terdiri berusul plat beton yang didukung pipa-gudu-gudu beton di bawahnya. Culim dan piringan hitam yang melekat, menyatu dan mencengkeram dengan lewat abadi ditanah lembek mirip cara kerja cakar ayam jago ini manjur mampu tanggulang masalah nan dihadapai timnya sehingga tugas terik tersebut dapat tergarap tepat waktu. Lima menara berdiri kokoh, abadi dan tepat musim.

Penemuan sistem pondasi Cakar Ayam kemudian terbukti tidak doang memintasi kebuntuan pembangunan menara listrik PLN saat itu, tapi menjadi solusi atas kendala pembangunan diatas lahan lempem nan labil diberbagai kondisi. Sistem ini pula mujarab cocok digunakan cak bagi konstruksi bangunan, gedung, kronologi bahkan limbung pesawat terbang. Keunggulan lainnya manjur bahwa teknik kuku ayam ini tidak memerlukan sistem pengaliran dan sambungan kembang susut.

Pengujian dan Modifikasi Teknik Kuku Ayam
Penciptaan teknologi Kuku Ayam aduan Sedyatmo menarik ingatan sejumlah ahli konstruksi Indonesia. Sutrisno ditahun 1982, misalnya menguji Cakar Ayam menggunakan pendekatan analitik (2-D) dengan mengekuivalenkan kekuatan perkerasan Cakar Ayam dengan sistem slab seremonial. Dari pengujian ini terbukti bahwa teknologi Ceker Ayam memiliki manfaat lima bisa jadi dibandingkan slab konvensional. Demikian sekali lagi pengujian-pengujian yang dilakukan Suraatmadja di periode 1982, Sosrowinarso, 1982 dan Chen-Lima-Salle, 1982 yang menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda yakni bahwa honcoe-honcoe ceker ayam aduan lega keefektifan slab memang memiliki dominasi yang berfaedah.

Pengujian sistem Cakar Ayam serampak dilapangan dengan skala penuh juga pernah dilakukan secara marathon oleh Antono dan Daruslan, 1979 di apron PUAL Juanda-Surabaya, di Pelud Polonia Medan, 1981 serta makanya Aeroport de Paris 1983 di runway Bandara Soekarno-Hatta.

Privat pengujian yang dilakukan Hardiyatmo dan sindikat-serikat di perian 1999 dengan pendekatan eksemplar badan di laboratorium pun diperoleh kesimpulan mengenai perilaku pondasi Cakar Ayam jago yang kesannya telah dituangkan ke dalam proposisi-usulan formula analitik yang secara praktis boleh memberikan kontribusi maujud dalam tahap perancangan pendahuluan Cakar Ayam jantan.

Setelah dikenal luas dan banyak dipakai dalam bermacam ragam proyek pembangunan infrastruktur dan setelah melintasi berbagai rupa modifikasi serta verifikasi, Suhendro, 1996, menemukan permodelan elemen hingga memadai berpangkal sistem perkerasan Cakar Ayam. Penyempurnaan atau lebih tepatnya modifikasi teknik Ceker Ayam jantan kemudian dilakukan pada beberapa aspek, yakni:

  1. penggantian slab stiffener hokah beton dengan hokah baja galvanis nan 700% kian ringan,
  2. peletakan slab plong posisi tanah asli (tidak di atas timbunan), dan
  3. peluasan dan penggunaan material timbunan ringan (berat volumenya 1/3 rumpil onggokan baku) yang ditempatkan di atas slab.

Teknik Cakar Mandung modifikasi tersebut memiliki bearing capacity nan tinggi, deteksi slab yang boncel, berperangai elastic-linier dalam merespons bagasi sampai intensitasnya mencapai 4-6 kali single wheel load rencana, enggak sensitive terhadap pengaruh repetisi beban dan apabila dipadukan dengan “bahan timbunan ringan”akan menjadi salah suatu alternatif solusi nan sangat menjanjikan untuk permasalahan pembuatan kronologi di atas tanah lunak.

Teknik Cakar Ayam modifikasi ini telah diaplikasikan untuk pertama kali pada bulan Agustus 2005 ibarat perkerasan detoar di jalan Sedyatmo. Modifikasi teknik Cakar Ayam ini diyakini dapat memperbaiki pengejawantahan “Cakar Ayam jantan tulen (pada awal ditemukan)”baik ditinjau pecah aspek teknis, ekonomis, akomodasi, kelajuan perian pelaksanaannya, aspek perawatan dan serviceability system-nya, baik dalam paser singkat atau pangkat.

Si Napuh Yang Tak Kekeluargaan Kehabisan Akal busuk

Bukti kepiawaian Sedyatmo bukan nongkrong sampai disitu. Bernasib baik keahliannya beliau dipercaya menjadi co-designer plong proyek pembangunan bendungan Jatiluhur bersama konsultan Perancis Coyne et Sellier. Jamahan tangan dinginnya juga dapat dilihat pada pengembangan provinsi wai Citarum. Sedyatmo adalah manusia yang merencanakan pemasangan 17 pompa hidraulik yang mampu mengalirkan air bengawan Citarum dan wai-sungai enggak yang dilalui melalui saluran penghubung sepanjang selingkung 80km hingga ke sungai Ciliwung.

Untuk mewujudkan rencananya beliau berhasil memodifikasi buram pompa hidraulik yang dasarnya adalah tesis bakal gelar Doktor Ir., Van Blommestein (kelak beliau bergelar Prof., Doktor). Pompa yang dalam pengoperasiannya tak menggunakan BBM alias ki akal setrum. Setrum tersebut menyenggangkan air irigasi bikin sawah seluas kira-kira 80.000 ha melalui jaringanjaringan tali air yang komprehensif. Kawasan ini tercatat sebagai areal perladangan yang mana tahu paling luas di dunia nan dialiri air irigasi melangkahi pompa hidraulik. Disamping itu saluran tersebut juga mengalirkan air protokoler lakukan air minum Kota Jakarta.

Penampilan lainnya, Sedyatmo tercantum sebagai perencana utama beberapa proyek PLTA antara lain : Bestelan PLTA Ngebel (wilayah Madiun) serta Antaran PLTA di Rawa Pening nan dibangun untuk menyuplai listrik terutama untuk Kota Semarang.

Diluar karya-karya monumental nan dikenal luas secara nasional atau internasional, Sedyatmo sejatinya mutakadim menunjukkan talenta besar sebagai inovator dan ahli mesin yang concern pada pembangunan berbagai infrastruktur yang memberikan manfaat simultan masyarakat. Berikut beberapa karyanya nan kali mutakadim berperan lautan mencanai dan takhlik kemampuannya menjadi semakin mumpuni.

Pada periode 1936, dua periode setelah memperoleh gelar insinyur, Sedyatmo berbintang terang tugas bersumber Mangkunegaran VII (memerintah plong perian 1916–1944) lakukan membangun sebuah jembatan air di desa Wiroko daerah Wonogiri.

Sirat air tersebut adalah jembatan untuk mengairi air dari satu tempat ke tempat yang tidak melintasi bengawan. Perian itu Wiroko merupakan desa yang sulit dicapai, jalannya belum diaspal, lahannya belum tergarap lebih-lebih masih terdapat banyak ular berbisa. Mangkunegoro VII menerimakan pembangunan jembatan tersebut kepada Sedyatmo. Satu hal nan menjadi ingatan Sedyatmo merupakan bagaimana mereka cipta dan membangun keretek nan cermat bahan, biaya dan waktu tapi dengan mutu setinggi-tingginya serta faedah sebesar–besarnya khususnya bagi orang tani di desa Wiroko. Tepat di waktu 1937, bangunan jembatan air Wiroko radu dengan baik. Peresmiannya dilakukan Mangkunegoro VII. Sebelum diresmikan Sedyatmo mencoba sendiri kurnia titian yang dibuatnya.

Kemajuan pembangunan jembatan ini diharapkan dapat menginspirasi, memberi otoritas serta mengugah insinyur-insinyur lainnya buat melakukan hal yang sebabat. Namun dengan berbagai keterbatasan pada saat itu enggak ada cara untuk menginformasikan keadaan tersebut secara langsung kepada umum luas, terkecuali menerobos pertolongan wahana. Satu-satunya media yang sepan yang cak semau sreg waktu itu adalah majalah De Ingenieur in Nederlansch Indie, satu–satunya majalah yang dibaca makanya kalangan insinyur yang dikelola para teknikus Belanda. Sayangnya, sikap insinyur Belanda yang mengelola majalah tersebut tidak farik dengan para insinyur tidak yang menentang konstruksi pembangunan Jembatan Wiroko.

Namun Sedyatmo tidak memulur begitu saja, dia terus berusaha cak agar hasil karya pertamanya tersebut bisa dimuat dimajalah De Ingenieur in Nederlansch Indie. Sedyatmo kemudian berinisiatif mengangkut surat kepada pimpinan redaksi yang bernama Prof., Ir. Bijlaard, seorang mahaguru nan dikagumi Sedyatmo. Riuk satu usaha nan ditempuhnya agar hasil karyanya dapat di publikasikan dimajalah De Ingenieur in Nederlansch Indie yaitu dengan menuliskan inskripsi pengantar yang dimulai dengan kata majemuk dan pengakuan kekagumannya atas kegenturan Prof., Ir. Bijlaard.

Kian lanjut ia juga menjelaskan bahwa sebagai eks mahasiswanya, anda meneladani dan mengikuti jejak sang professor misal seorang Pencipta. Pada bagian intiha, barulah dia meminang seharusnya tulisan atas hasil karyanya dapat dimuat di majalah De Ingenieur in Nederlansch Indie. Tulisan tersebut juga dilengkapi penjelasan tentang rumus gedung yang digunakan serta pencantuman foto jembatan yang dibawahnya menuliskan kalimat yang sama dengan kalimat yang ditulis oleh Prof., Ir. Bijlaard dibawah foto jembatan bisa jadi Progo. Kalimat tersebut berbunyi “Sistem Titian ini belum diketahui dan belum perhubungan dibuat sebelumnya”. Melangkaui prinsip ini kendatipun banyak perkelahian dalam dewan redaksi, karena umumnya para ahli mesin Belanda tidak ingin tersaingi maka dari itu operator Indonesia, Prof., Ir. Bijlaard memperjuangkan dengan gigih dan teguh sehingga akibatnya tulisan yang memuat karya Sedyatmo tentang Jembatan Wiroko bisa berasal dalam Majalah tersebut.

Sebagai tanda penghargaan Prof., Ir. Bijlaard kemudian berusaha memberikan pekerjaan yang lebih kepada Sedyatmo. Sejumlah waktu kemudian Sedyatmo keluar dari Mangkunegaran dan diangkat andai pegawai.

Pada waktu 1945 Sedyatmo bertugas di Kementrian Perhubungan dibawah Pimpinan Ir. Juanda. Momen itu Sedyatmo berupaya menumbuhkan sarana angkutan jalan raya bakal rakyat. Untuk takhlik hal tersebut dibentuklah Djawatan Angkutan Pemrakarsa Republik Indonesia (DAMRI). Setelah itu maka itu Ir. Juanda, ia dipindahkan ke bidang lain yang erat sekali hubungannya dengan keahlian yang dimilikinya yaitu menjadi asisten Prof., Dr., Ir. W.J Van Blommestein bakal mempersiapkan proyek serbaguna Jatiluhur di Jawa Barat.

Sedyatmo pada masa itu adalah satu–satunya insinyur dibidang tenaga air di Indonesia nan n kepunyaan sedemikian itu banyak batang air, danau dan lautan. Ditengah kondisi tersebut ia menyadari dan merasa wajib jatuh tangan beranak sebanyak-banyaknya insinyur dibidang tenaga air. Kesadaran tersebutlah yang kemudian memanggilnya untuk menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Perkumpulan Teknologi Bandung (ITB) disamping menjalankan tugasnya di Kementerian Karier Umum.

Seumpama dosen, Sedyatmo sangat disenangi para mahasiswanya selain karena kepribadiannya yang menyeret pula karena kemampuan mengajarnya yang mudah dipahami. Ia juga dikenal karena pakaiannya yang selalu rapi, serasi, dan terlambat, serta pendirian urut-urutan dan bicaranya yang hening. Sebagai seorang nan pandai di tanah lapang, Sedyatmo lebih banyak menyuguhkan hal-kejadian praktis nan terjadi dilapangan dibandingkan menyampaikan teori. Kamu pun sering mengajak mahasiswanya ambruk ke lapangan khususnya di proyek– proyek yang sedang ditanganinya.

Sedyatmo juga tak perkariban bosan mengingatkan mahasiswanya agar menjadi insinyur nan menyayangi ilmunya, senang mencipta dan lain tetapi dapat meniru invensi hamba allah lain. Anda kembali tak lupa menekankan pentingnya pembangunan banyak bendungan serbaguna yang bermanfaat bagi masyarakat dan Negara. Bilang mahasiswanya yang kemudian berbuah dan dikenal luas diantaranya Prof., Ir. Suryono (ITB) dan Ir. Riyanto (Fakultas Teknik UGM).

Puas tahun 1950-an, Sedyatmo berhasil membangun bendungan yang tidak sekadar kuat tetapi juga indah bentuknya. Sebuah tebat serba jeluk nan terbuat dari beton ini terwalak di Ngebel Jawa Timur. Untuk memperoleh tekanan air yang kuat, bendungan ini dibangun dilereng ardi. Balong Ngebel nan serba lengkung ini memiliki impitan 24 angkasa luar, dan teragendakan mempunyai tekanan tertinggi diseluruh dunia, maupun hingga tiga kali lipat dibandingkan nan ada saat itu. Sebelum balong ini, tambak yang memiliki tekanan air tertinggi ialah Soap Lake Aquaduct dengan dinding setebal 35cm, sedangkan tebat Ngebel memiliki tebal dinding cuma 15cm.

Pada tahun 1954, Sedyatmo kerjakan kali purwa intern sejarah hidupnya mendapat paten diluar provinsi untuk kreasi barunya : Pipa Pesat Sistem Indonesia, honcoe bermula beton berkerangka khas, untuk pusat listrik tenaga air dengan faedah melebihi 10 atmosfer alias tekanan air 100m. Pipa pesat sistem Indonesia ini permulaan kalinya dipasang di Kolam Golang dan telah dipatenkan di lima (5) negara diantaranya : Swiss, Perancis, Inggris, Jerman Barat dan Kanada.

Sreg musim 1962, Sedyatmo dikenal luas misal penemu “Pondasi Cakar Ayam“. Tanda sistem ini mutakadim mendapat pengakuan international serta mendapatkan hak paten dari 11 negara. Penciptaan yang bisa diterapkan dalam kondisi alam yang sukar dengan sistem pengerjaan nan terlambat, cepat, padat karya dan murah ini membuktikan bahwa n domestik melahirkan karyakarya inovatif Sedyatmo senantiasa menampilkan sifat bawaan dan pengamatan yang hemat pada alam sekitar.

Pada waktu 1978 temuan Sedyatmo digunakan dalam pembuatan Apron Bandar udara Angkatan Laut Juanda, Surabaya dan landasan bandara Polonia, Medan.Karena kemampuannya menghambat beban pada kawasan pantai dan rawa-rawa, kontruksi Cakar Ayam dapat digunakan pada guri sungga, Taxy way dan Apron di Bandar udara Soekarno-Hatta, Jakarta. Sampai masa ini kreasi Sedyatmo itu banyak di terapkan di sejumlah Bendungan, Geretak, Gedung berpangkat, jalan tol dan menara.

Selain invensi–penemuan hebat tersebut, Sedyatmo juga punya peran besar kerumahtanggaan pembangunan Tambak Karangkates, Jawa Timur, Pompa air Hidrolik di Bendungan Jatiluhur. Ia pun masih punya impian nan belum sempat terwujud yaitu, Jembatan Maritim Ontoseno, yang diungkapan pada perian 1969, yaitu geretak nan menyambat pulau-pulau Sumatera, Jawa dan Bali (panjang 30km.  lebar 12 m.) dengan sistem pondasi “cakar laut” merupakan pondasi berbunga metal anticorodal, cakar mandung yang berisikan air laut.

Proyek Tri Nusa Bima Sakti

Pemikiran ki akbar lainnya Prof. Ir. Sedyatmo (alm), puas tahun 1960-an disampaikan ide Tri Nusa Bima Mandraguna yaitu membuat pernah langsung antara pulau Sumatera, Jawa, dan Bali dengan metode Jembatan Bahari Ontoseno. Ide nan tergolong kosen pada kondisi Indonesia zaman itu, mendapat respon nyata bersumber tadbir Presiden Soekarno. Pada 1965 uji coba desain jeti Sumatera-Jawa (Jembatan Selat Sunda) dibuat di ITB. Hasil dari percobaan tersebut akhirnya boleh disampaikan ke meja Presiden RI Soeharto plong awal Juni 1986.

Pemerintah lalu mencanangkan Antaran Tri Nusa Bima Sakti, satu mega bestelan yang berusaha menghubungkan pulau Sumatera-Jawa-Bali intern satu kempang darat utama. Presiden Soeharto menunjuk Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala Awak Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) BJ Habibie bikin menangani proyek ini. Geretak penghubung antar pulau Sumatera, Jawa, dan Bali tersebut direncanakan akan menjadi bagian berusul proyek Membujur Highway Network (Trans Asia Highway dan Trans Asia Railway). Namun awan proyek ini ternyata mendapat banyak hambatan, terutama finansial. Sampai saat ini baru proyek jembatan Suramadu belaka yang telah terealisasi dan direncanakan menghabiskan kalkulasi sebesar Rp3,27 trilliun.

Pada pertengahan 1990-an, lagi pra-eksplorasi kelayakan (pre-feasibility study) JSS dilakukan makanya Prof Dr Ir Wiratman Wangsadinata dan Dr. Ir. Jodi Firmansyah. Penyelidikan tersebut mengestimasi order ini akan menyedot dana sekitar Rp25 triliun dengan musim konstruksi 10 tahun. Perian itu mutakadim direncanakan jalan akan terdiri dari enam jongkong (dua sisi) dan trek ganda kereta jago merah. Selain itu pun akan dibuat sarana peristirahatan dana wahana penunjang lainnya. Ternyata hantaman krisis ekonomi tahun 1998 membuat tulangtulangan tersebut menjadi di luar radius kemampuan pemerintah Indonesia. Proyek ini akhirnya kandas di tengah kronologi.

Proyek ini terus dicoba direalisasikan makanya Kepala negara Susilo Bambang Yudhoyono dengan menjujut pihak konsorsium swasta. Dengan revisi Peraturan Presiden No. 67 Perian 2005, maka dibentuk kembali kelompok penelitian kelayakan (feasibility study) nan terdiri bersumber soal teknis, tata ulas, dan keekonomian, serta sosial. Prastudi kelayakan Titian Selat Sunda ini menyertakan Distrik Banten, Lampung dan 10 provinsi lainnya di Sumatera serta Pemerintah Pusat, disampaikan dalam suatu acara khusus pada tanggal 13 Agustus 2009. Pada 2022, berusul Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2022 tentang Peluasan Kawasan Taktis dan Infrastruktur Selat Sunda.

Proses merealisasikan gagasan Prof. Ir. Sedyatmo (Alm.) masih harus melewati jalan nan lampau strata dan penuh kontroversi yang mendukung dan menolak. Tertera kembali untuk Jembatan Selat Bali, menghubungkan antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali yang belum terlaksana karena Tadbir Daerah Provinsi Bali belum bersedia. Jika kiriman Jembatan Selat Sunda (JSS) ini jadi terbina, maka akan menjadi riuk satu jembatan terpanjang di mayapada dan pastinya menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara.

Sumber : https://alsi-itb.org/prof-dr-ir-sedyatmo/

Source: https://ftik.itpln.ac.id/id/NTE4-Profesor-Sedyatmo-merupakan-Tokoh-dibalik-terciptanya-Pondasi-Cakar-Ayam.html