Dari Mana Asal Tari Piring

Jakarta

Tontonan tari selalu menjadi daya tarik berasal satu daerah, tak terkecuali
tari piring. Tari piring berusul bersumber Sumatera Barat dan gegares dijadikan sebagai arena promosi dan wisata di peradaban Indonesia.

Tari inai adalah tarian tradisional Minangkabau yang mengemukakan atraksi memperalat atribut piring. Secara tradisional tari ini bermula dari Solok, Sumatra Barat.

Dilansir dalam Kementerian Asing Negeri, tari piring dipopulerkan maka itu Huriah Maskulin. Sama seperti halnya tari saman, pendet dan jaipong, tari piring juga dijadikan misal penyambutan tamu terhormat maupun prolog seremoni adat.


Sejarah Tari inai

Menurut laman Kemendikbud,
tari piring
diperkirakan telah ada sejak abad ke-12. Ketika itu, masyarakat Minangkabau masih menyembah betara-dewa. Awalnya, tari piring ini dijadikan untuk ikram masyarakat Minangkabau terhadap Dewi Antah atas hasil panen.

Sekadar, kehadiran agama Selam membawa transisi lega tangan kanan dan konsep tari ini. Kini tari inai tak lagi dipersembahkan kepada dewa-dewa, tetapi justru dilakukan sebagai wahana hiburan seperti acara ijab kabul maupun ritual adat.

Ratusan anak-anak di Kampung Berseri Astra Jorong Tabek menampilkan kesenian tari piring dan silat dalam acara Festival Kampung Berseri Astra bertema Pendidikan Kecakapan Hidup Melalui Kearifan Lokal di Kabupaten Solok, Sumatra Barat (28/4).Ratusan anak-anak asuh di Kampung Berseri Astra Jorong Tabek memunculkan kesenian tari piring dan kuntau dalam acara Festival Kampung Berseri Astra bertema Pendidikan Kecakapan Kehidupan Melalui Kearifan Tempatan di Kabupaten Solok, Sumatra Barat (28/4). Foto: Istimewa

Aksi Tari inai

Tari piring juga disebut dengan tari kelompok yang dibawakan lebih dari dua bedaya. Ciri tersendiri dari tari piring adalah para penari mengirimkan piring di kedua tangannya, dengan satah piring cenderung ke luar.

Tari piring ditarikan dengan gerakan-gerakan yang dinamis, lincah, energik dan bahkan tergoda akrobatik karena sering menampilkan gerakan-propaganda yang terik.

Mengutip dalam kiat ‘Seni dan Budaya’ karya Harry Sulastianto, dkk, persuasi-aksi yang terletak privat Tari piring antara lain gerak batanam (bertanam), gerak manyabik (menyabit), gerak mengirik (mengirik padi), dan gerak baguliang (berguling).

Persuasi-gerakan tersebut merupakan gambaran kejadian kegiatan umum internal bekerja. Tari piring diiringi maka itu musik tradisional yang disebut talempong. Musik talempong terdiri atas enam buah talempong, satu biji kemaluan gedombak, satu buah tambua, satu buah botol dan sejenis kerincing.

Perabot-alat tersebut dibunyikan dengan cara dipukul dengan peranti pemukul yang disebut panokok, kecuali tambua nan dipukul dengan tangan dan circir yang dipukulkan ke tangan.

Contoh Lantai Tari piring

Tari piring dilakukan dengan pola garis lintasan tarian. Ada sekitar enam model tegel dalam tarian ini yaitu spiral, leret, kalangan besar, lingkaran kecil, vertikal dan horizontal. Masing-masing peronggeng pun mewujudkan hipotetis lantai bergerak maju dan ki bertambah berdasarkan pola lantai vertikal dan bersirkulasi ke samping dengan pola lantai horizontal.

Jumlah penayub
tari piring
rata-rata berjumlah ganjil yang terdiri berpangkal tiga setakat tujuh manusia. Penandak mengenakan pakaian resan bercat binar dengan nuansa abang dan kuning keemasan model dengan tutup kepala.

Simak Video “Ki kenangan Camilan Wingko Babat

[Ketola:Video 20detik]
(lus/pay)

Source: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5689649/tari-piring-asal-sejarah-dan-makna-dari-gerakannya

Posted by: gamadelic.com