Dalil Tentang Keutamaan Orang Berilmu

KEUTAMAAN Anak adam Nan BERILMU

Allah SWT sudah menciptakan manusia ke intern tulangtulangan yang paling bagus. Baik bentuk tubuh yang tampak mulai sejak luar, maupun peranti-alat yang ada di dalam tubuhnya termasuk juga fungsinya. Secara fisik lahir, kita dapat mematamatai bagaimana Sang pencipta menjadwalkan Hierarki dan runyam setiap organ. Tangan, misalnya, jarak antara deriji hingga kelukan dengan siku sampai pundak bukan setimbang. Ketidaksamaan ini menjadikan tangan terlihat indah serta fungsional. Kemudian dimensi panjang tungkai tiba berpangkal ujung suku sampai bawah paha dengan format fisik tiba dari pangkal pukang hingga leher. Posisi mulu, hidung, netra,  dan telinga, jenjang setiap ruas jari, panjang masing-masing jari dan sebagainya menunjukan jarak dan tata letak yang indah dan fungsional. Dan semuanya Nampak serupa itu sepadan. Inilah yang disebut oleh ilmuwan dengan sebagai
Golden Ratio (rasio kencana). Ini adalah sedikit gambaran keutuhan fisik manusia begitu juga tersurat privat tindasan at-Tin.

Mengenai fungsinya, tangan basyar bisa digunakan untuk meraih apa tetapi yang diinginkan. Hal ini berbeda dengan dabat, menggunakan perkataan bikin meraih sesuatu yang diinginkan. Demikian pula khasiat organ asing yang lain yang dapat digunakan sesuai niat turunan.

Kesempurnaan perangkat intern, misalnya otak, dengan otak individu bisa berpikir dalam-dalam, memufakati dan menggurdi pemberitahuan, memperlainkan yang mana yang baik untuk kehidupannya dan mana nan buruk akibatnya, memikirkan solusi persoalan hidup yang dihadapi dan sebagainya (Harori, 2001:juz 32, 129).  Di otak inilah, segala apa ilmu pengetahuan yang dipelajarinya bersemayam. Dan dengan guna-guna warta ini pun, makhluk memiliki keutamaan di bandingkan dengan khalayak yang lainnya.

Momen Halikuljabbar Swt menciptakan Maskulin
‘alaihissalam,
Allah mengajarkan ilmu proklamasi tentang
al-asma’
(tanda-label) seluruh ciptaan-Nya, dengan bermacam-macam jenisnya, dan heterogen varietas bahasa yang berbeda-beda sebagai bekal bikin Adam untuk mengurusi bumi. Peristiwa ini mencerminkan, bukan main pentingnya hobatan pengetahuan bagi turunan. Maka, seseorang nan punya hobatan pengetahuan nan menghadirkan kemaslahatan buat umat bani adam, Allah Swt akan menyanggang derajatnya. Sebagaimana firman Allah n domestik al-Qur’an surat al-Mujadilah ayat 11:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Tuhan akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Almalik akan memekakkan insan-orang nan berkepastian di antaramu dan orang-hamba allah yang diberi guna-guna publikasi beberapa derajat. Dan Yang mahakuasa Maha Mengetahui apa yang dia kerjakan. (QS. Al-Mujadilah : 11)

Allah Swt. sekali lagi memuji orang-anak adam nan mempunyai hobatan pengetahuan, begitu juga terjadwal dalam surat  Ali Imran ayat 18, yang artinya:

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Allah menyatakan bahwa bukan ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para Malaikat dan sosok-hamba allah nan berilmu nan menegakkan keadilan, tak suka-suka almalik selain Dia, yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”.

Di internal surat az-Zumar ayat 9 Almalik berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ

“Katakanlah, “Apakah sepadan orang-makhluk yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak memaklumi?” Sebenarnya sekadar orang yang berakal fit yang dapat menerima pelajaran.

Selanjutnya dalam salinan Fathir ayat 28, yang artinya:

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤا

“Hanya tetapi yang kabur kepada Halikuljabbar dari sekian hamba-Nya ialah ulama,”

Rasulullah Muhammad
shollallahu ‘alaihi wa sallam, juga memuji khalayak yang berilmu, sebagai halnya tersebut dalam sejumlah haditsnya, sebagaimana yang terdapat dapat kitab
Adab ad-Dunya wa ad-Din
bab
Adab al-‘Ilm,
perumpamaan berikut:

روي عن النبي صلّى الله عليه وسلّم أنّه قال: أوحى الله إلى إبراهيم عليه السّلام: إنّي عليم أحبّ كلّ عليم

“diriwayatkan berpunca Nabi Saw. dia bersabda: Allah Swt memberi petunjuk kepada Ibrahim as.: sesunggunya Aku (Allah Maha) mengetahui, Aku (Yang mahakuasa) mencintai turunan-orang nan berilmu”

روى أبو أمامة قال: سُئِل رسول الله

صلّى الله عليه وسلّم عن رجلين: أحدهما عالم والاخر عابد, فقال صلّى الله عليه وسلّم: فضل العالم على العباد كفضلى على أدنا كم رجلا

“Diriwayatkan dari Abu Umamah, berkata: Rasulullah Saw. ditanya mengenai 2 orang, yang satu hamba allah imani dan yang satunya pandai ibadah. Rasulullah Saw. bertutur: keutamaan makhluk alim terhadap ahli ibadah seperti keutamaanku terhadap manusia yang paling rendah di antara kalian (sahabat)”

Di dalam kitab
Tanqih al-Qoul
al-Hatsits bi Syarh Lubab al-hadits
karya Imam Nawawi pekarangan 8,  terwalak sabda mengenai keutamaan makhluk yang berilmu, yaitu:

وقال صلى الله عليه وسلم فَقِيْهٌ وَاحِدٌ مُتَوَارِعٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ مُجْتَهِدٍ جَاهِلٍ وَارِعٍ

Nabi Saw. Bersabda: Seorang faqih (alim dalam mantra agama),
wira’i
(menjaga diri dari kejadian-situasi yang diharamkan) adalah kian berat (elusif) untuk syaitan disbanding seribu tukang ibadah nan bersungguh-sungguh, (tapi) bodoh, (sungguhpun)
wira’i.

وقال صلى الله عليه وسلم فَضْلُ العَالِمِ عَلىَ العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلىَ سَائِرِ الكَوَاكِبِ

Nabi saw. bersabda, “Keutamaan orang yang ampuh (yang mengamalkan ilmunya) atas basyar yang juru ibadah ialah seperti mana utamanya bulan di malam purnama atas semua bintang-medali lainnya.”

وقال النبي صلى الله عليه وسلم نَوْمُ العَالِمِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الجَاهِلِ

Nabi saw. bersabda, “Tidurnya seorang yang sakti (yakni cucu adam saleh yang memelihara budi pekerti hobatan) lebih utama semenjak lega ibadahnya cucu adam yang bodoh (yang tak memperhatikan adabnya beribadah).”

Bilang congor para sahabat mengenai keutamaan orang nan berilmu, seperti dinukil oleh KH. Hasyim Asy’hipodrom dalam kitabnya
Adab Ta’lim wa al-Muta’allim halaman 20, seumpama berikut:

Mu’adz bin Jabal ra. Bersuara:

تَعَلَّمُوْا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ حَسَنَةٌ  وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيْحٌ وَالْبَحْثُ عَنْهُ جِهَادٌ وَبَذْلُهُ قُرْبَةٌ وَتَعْلِيْمَهُ لِمَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ

“Belajarlah ilmu, sesungguhnya mempelajari ilmu merupakan suatu guna, mencari ilmu ialah ibadah, mengingatnya adalah tasbih, ceratai suatu aji-aji adalah jihad, bersungguh-bukan main terhadao ilmu adalah pengorbanan, mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak memiliki pengatahuan adalah sedekah”

Sufyan bin ‘Uyainah ra. Bertutur:

أَرْفَعُ النَّاسِ عِنْدَ اللّه مَنْزِلَةً مَنْ كَانَ بَيْنَ اللّهِ وَبَيْنَ عِبَادِهِ وَهُمْ الأَنْبِيِاءُ والْعُلَمَاءُ

“Kedudukan terala orang di sisi Tuhan merupakan para Nabi dan ‘Ulama (orang yang berilmu”

Seperti mana penjelasan di atas, dapat diketahui bukan main sani kedudukan hamba allah yang berilmu. Maka tidak heran, para jamhur terdahulu menghabiskan sebagian besar waktunya demi melestarikan hobatan, terutama ilmu syari’at Selam.  Bahkan, di antara mereka ada yang rela tak berkeluargan demi mengabdikan diri sepenuhnya untuk ilmu. Misalnya, Anak lelaki Jarir at-Thobari seorang mufasir (pakar kata tambahan) dan sejarahwan, Zamakhsyari seorang ahli tafsir dan teolog, Imam Yahya bin Syarof ad-Din an-Nawawi seorang ahli hadits (muhaddits), Anak lelaki Taimiyah dan sebagainya. Mereka mendedikasikan dan membaktikan diri bagi melestarikan mantra. Sehingga rekaman mencatatkan sebagai orang-insan  alim yang mempengaruhi dunia Selam.


Referensi

Al-Qur’an al-Karim
Asy’ari, Hasyim. (1994).Tata krama at-Ta’lim wa al-Muta’allim.Jombang: Maktabah Turost al Islamy.
Al-Mawardi, Serbuk al-Hasan Ali. (1971).Etik ad-Duna wa ad-Din. Lebanon: DKI.
Harori, Muhammad al-Amin. (2001).Tafsir Hadaiq ar-Rouh wa ar-Roihan, Makkah: Dar Thouq an-Najah.
An-Nawawi. (1935).Tanqih al-Qoul al-hatsits bi Syarh Lubbabul Perbuatan nabi nabi muhammad, Mesir: Musthofa Muhammad.

Penulis : unknown

Source: https://bdksemarang.kemenag.go.id/berita/keutamaan-orang-yang-berilmu#:~:text=%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%89%D9%8E%20%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D8%A6%D9%90%D8%B1%D9%90%20%D8%A7%D9%84%D9%83%D9%8E%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%83%D9%90%D8%A8%D9%90-,Nabi%20saw.,semua%20bintang%2Dbintang%20lainnya.%E2%80%9D

Posted by: gamadelic.com