Contoh Puisi Karya Chairil Anwar


Menyajikan kumpulan syair karya Chairil Anwar, Si Hewan Jalang yang menolak dilupakan.


Hidup Chairil Anwar memang tak lama, namun keinginannya untuk roh sewu waktu pula sepertinya akan terlaksana melalui karya-karyanya yang kuat sampai sekarang, dan mungkin seribu tahun sekali lagi.

Pukul sekacip tiga burit, 28 April 1949, Chairil meninggal di vitalitas muda akibat mengidap sejumlah penyakit. Bagi mengenang karya-karyanya, hari kematiannya diperingati umpama Hari Chairil Anwar.

Meski mutakadim lama berpulang, lega Juni 2007 ia masih dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian Bogor (DKB) Award 2007 untuk kategori artis sastra yang diterima maka itu puterinya, Evawani Elissa Chairil Anwar.


Baca juga: Pusparagam Puisi Wiji Thukul yang Bukan Lekang Oleh Musim


Mengenang Karya-Karyanya nan Melegenda

puisi chairil anwar
nusantaraaudiobooks.com

Bersama Asrul Luhur dan Rivai Apin, beliau dinobatkan sebagai pelopor Angkatan 45 dan puisi maju Indonesia oleh H.B. Jassin. Karya-karyanya begitu berpengaruh sreg berkembangnya puisi mutakhir di Indonesia.

Diperkirakan cak semau 96 karya termasuk 70 puisi nan telah ia ciptakan semasa hidupnya yang sahaja 27 tahun itu. Hampir semua karyanya merujuk sreg kematian seolah kamu telah mengingat-ingat akan mati cukup umur seperti mana yang dikemukakan oleh kritikus sastra indonesia sumber akar Belanda, A. Teeuw.

Lazimnya dari karya-karyanya tidak dipublikasikan sebatas kematiannya. Puisi terakhirnya berjudulEru Menderai Sampai Jauh,
sementara itu puisinya yang paling terkenal berjudul
Aku
dan
Krawang-Bekasi.

Semua tulisannya baik yang kudus, modifikasi, atau nan diduga dijiplak, dikompilasi intern tiga buah buku yang diterbitkan makanya Pustaka Rakyat: Gelegar Ramu Debu (1949), Kerikil Ekstrem Yang Terampas dan Yang Kudung (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950).

Inilah kumpulan tembang karya Chairil Anwar paling kecil populer dan menginspirasi.


Baca sekali lagi: Kumpulan Puisi Ringkas bermula Para Penyair Populer nan Menginspirasi


#1. Aku

Aku

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘ketel merayu

Tidak lagi kau

Tak perlu sedu isak itu

Aku ini binatang jalang

Terbit kumpulannya terbuang

Biar melinjo menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan boleh kubawa berlari

Berlari

sebatas hilang pedih dewi

Dan aku akan kian tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun  lagi

Maret 1943

#2. Diponegoro

Diponegoro

Di masa pembangunan ini

tuan hidup juga

Dan bara kagum menjadi jago merah

Di depan sekali tuan menanti

Tidak gentar. Antitesis banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang spirit yang tidak bisa mati.

Berbudaya

Ini laskar lain bergenderang-berpalu

Asisten logo menyerbu.

Sekali berguna

Sudah itu sirep.

MAJU

Bagimu Negeri

Menyediakan api.

Punah di atas mengabdi

Binasa di atas ditindas

Sesungguhnya jalan ajal yunior tercapai

Sekiranya hidup harus merasai.

Bertamadun.

Serang.

Serang.

terjang

Februari 1943

#3. Krawang-Bekasi

Krawang-Bekasi

Kami nan kini kelempai antara Krawang-Bekasi

tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami wicara padamu dalam nyenyat di malam lengang

Jika dada rasa hampa dan jam tembok yang berdetik

Kami hening muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba segala nan kami bisa

Tapi kerja belum radu, belum dapat memperhitungkan 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi merupakan kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan skor benak-tulang berserakan

Atau jiwa kami menyimpang bikin kemerdekaan kemenangan dan tujuan maupun tidak lakukan apa-apa,

Kami enggak tahu, kami enggak pun bisa berucap

Kaulah sekarang yang berkata

Kami wicara padamu dalam hening di malam ranah

Sekiranya ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetik

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

menjaga Bung Hatta

menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami

yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami tergolek antara Krawang-Bekasi

#4. Sia-sia

puisi chairil anwar 11
taktiktuk.ga

Tawar

Penghabisan kali itu kau hinggap

membawaku karangan kembang

Ros merah dan melati kalis:

bakat dan suci

Kau tebarkan depanku

serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Telah itu kita sama termangu

Saling bertanya: Apakah ini?

Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau membagi

Mampus kau dikoyak-koyak antap.

#5. Derai-Derai Cemara

Derai-Derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh

terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di ventilasi merapuh

dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan

sudah berapa waktu bukan kanak lagi

tapi adv amat memang suka-suka suatu bahan

yang bukan bawah perhitungan kini

Hayat hanya menjorokkan kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan senggang, ada nan tetap tidak ternyatakan

sebelum pada kesannya kita menyerah

#6. Burit di Pelabuhan Katai

Senja di Pelabuhan Kecil

Kepada Sri Ajati

Ini bisa jadi tidak cak semau yang mencari cinta

di antara gudang, rumah gaek, lega kisahan

kusen serta temali. Kapal, arombai tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya cak hendak berpaut

Gerimis mempercepat berawan. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir periode lari berenang

menemu sekaan pangkal akanan. Enggak bergerak

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada juga. Aku seorang. Bepergian

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekaligus selamat urut-urutan

berpokok pantai keempar, isak penghabisan boleh terdekap

#7. Doa

Tahlil

Kepada pemeluk teguh

Rabbana

Dalam termangu

Aku masih menyebut namamu

Cak agar elusif sungguh

memahfuzkan Kau penuh seluruh

cayaMu panas jati

tinggal kerdip lilin di mendung sunyi

Tuhanku

aku hilang rangka

remuk

Rabbana

aku merapah di provinsi asing

Rabi

di pintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa ki beralih

#8. Tidak Sepadan

Tak Sepadan

Aku sangka:

Beginilah nanti kesudahannya

Kau kimpoi, beranak dan membujur

Madya aku menjajat serupa Ahasvéros.

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak suatu juga pinti terbuka.

Jadi baik kembali kita pahami

Unggunan jago merah ini

Karena kau tidak ‘kan apa-apa

Aku terpanggang tinggak rangka.

Februari 1943

#9. Di Mesjid

Di Mesjid

Kuseru saja Anda

Sehingga datang juga

Kami kembali berhadapan muka.

Lebih lanjut Ia Bernyala-nyala dalam dada.

Segala daya memadamkannya

Bersimbah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang

Gelanggang kami berperang.

Binasa-membinasa

Satu menista tidak gila

#10. Persetujuan dengan Bung Karno

bung karno chairil anwar
islampos.com

Persetujuan dengan Bung Karno

Ayo! Bung Karno kasih tangan, silakan kita bikin janji

Aku mutakadim cukup lama dengan bicaramu

Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu

Terbit berangkat 17 Agustus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api, Aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu otot

Di zatmu, di zatku kapal-kapal kita melaut

Di uratmu, di uratku kapal-kapal kita betolak dan berteduh

#11. Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,

putri manis, waktu ini iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,

di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.

angin membantu, laut senyap, tapi terasa

aku tidak akan hingga padanya.

Di air yang tenang, di kilangangin kincir mendayu,

di perasaan penghabisan segala melancar

Berputih bertakhta, langsung berkata:

“Tujukan perahu ke pangkuanku hanya.”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!

Perahu yang bersama kan merapuh!

Mengapa berpulang menyapa dulu

Sebelum senggang berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,

sekiranya kumati, dia mati iseng koteng.

#12. Kerap dan Benci

Cinta dan Benci

Aku lain pernah mencerna

Banyak manusia menghembuskan gegares dan benci

Dalam satu berasimilasi

Tapi saat ini aku luang

Bahwa cinta dan benci yakni saudara

Nan membodohi kita, memisahkan kita

Sekarang aku tahu bahwa

Cinta harus siap merasakan sakit

Pelalah harus siap kerjakan kehilangan

Buruk perut harus siap untuk terluka

Cinta harus siap cak bagi membenci

Karena itu hanya cinta nan mendalam mengizinkan kita

Kerjakan mengeset semua emosi n domestik ingatan

Setiap emosi anjlok… Keluarlah sayang

Masa ini aku mengetahui implikasi dari pelalah

Burung laut tidak berpokok berpunca hati

Tapi cangap berpokok berpunca jiwa

Bermula zat radiks hamba allah

Ya, aku gemar telah menyayangi

Karena dengan melakukan itu aku merasa semangat

Dan tidak ada orang yang dapat merebutnya dariku

#13. Sajak Lugu

Sajak Putih

Berpijak pada tari warna pelangi

Kau depanku bersungkup lembar senja

Di hitam matamu kembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi

Malam dalam mendoa tiba

Meriak muka air kolam jiwa

Dan dalam dadaku memerdu jiwa

Dan dalam dadaku memerdu lagu

Menggelandang menari seluruh aku

Roh dari hidupku, pintu mangap

Selama matamu bagiku menengadah

Selama kau talenta mengalir bermula luka

Antara kita mati datang tidak membelah

#14. Selamat Tinggal

Selamat Tinggal

Ini muka mumbung luka

Mungkin n kepunyaan?

Kudengar seru menderu

Kerumahtanggaan hatiku

Apa belaka angin lalu?

Lagi lain juga

Menggelepar perdua malam buta

Ah..!!!

Segala menebal, segala mengental

Segala apa tak kukenal..!!!

Selamat suntuk…!!

#15. Sebuah Kamar

Sebuah Kamar

Sebuah perputaran udara menyerahkan kamar ini

puas dunia. Bulan yang menyinar ke dalam

mau lebih banyak tahu.

“Telah lima anak bernyawa di sini,

Aku salah satunya!”

Ibuku terpicing dalam tersendu,

Kerubungan kurungan sepi selalu,

Bapakku koteng kelempai jemu

Matanya menatap orang tersalib di bencana!

Sekeliling dunia berantas diri!

Aku mohon adik pun pada

Ibu dan bapakku, karena mereka berada

di asing hitungan: Kamar begini,

3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup atma!

#16. Rumahku

rumah gadang chairil anwar
antarafoto.com

Rumahku

Rumahku dari unggun timbun syair

Kaca jernih berusul luar segala nampak

Kulari bermula gedong sintal pelataran

Aku sesat jalan bukan boleh kronologi

Kemah kudirikan detik senja kala

Di pagi cemas entah ke mana

Rumahku bermula unggun timbun sajak

Di sini aku berbini dan melahirkan

Rasanya lama lagi

Tapi datangnya datang

Aku tidak pula meraih petang

Biar berleleran prolog manis madu

Takdirnya menagih yang satu

#17. Kepada Pelelang-harap

Kepada Peminta-harap

Baik, baik, aku akan menghadap Dia

Menyerahkan diri dan segala dosa

Tapi jangan adapun sekali lagi aku

Nanti darahku jadi beku

Jangan pun kau bercerita

Sudah tercacar semua di roman

Nanah meleleh semenjak wajah

Sambil berjalan kau usap juga

Bersuara tiap kau melangkah

Mengerang tiap kau memandang

Menetes dari suasana kau hinggap

Arbitrer kau merebah

Mengganggu dalam mimpiku

Menghempas aku di bumi persisten

Di bibirku terasa pedas

Mengaum di telingaku

Baik, baik, aku akan menghadap Dia

Menyerahkan diri dan apa dosa

Tapi jangan mengenai lagi aku

Besok darahku jadi beku

#18. Tamtama Jaga Malam

Tamtama Didik Malam

Masa jalan. Aku enggak adv pernah barang apa nasib waktu?

Perjaka-perjaka yang lincah nan tua-tua keras,

bermata ekstrem

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya

kepastian

ada di sisiku selama menjaga daerah tenang ini

Aku suka pada mereka yang berani atma

Aku suka sreg mereka yang masuk menemu lilin batik

Malam nan berwangi impi, terlucut debu…

Tahun kronologi. Aku tidak adv pernah apa nasib waktu!

#19. Yang Terampas dan Yang Putus

kumpulan puisi karya chairil anwar 4
tirto.id

Yang Terampas dan Yang Teriris

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,

menggigir pun ruang di mana sira yang kuingin,

malam tambah merasuk, wana jadi semati tugu

di Kain, di Perca (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah internal kamar, dalam diriku jika kau menclok

dan aku bisa pula lepaskan kisah baru padamu;

tapi saat ini namun tangan nan bergerak lantang

tubuhku diam dan koteng, cerita dan peristiwa berlalu beku

#20. Cerita Untuk Dien Tamaela

Cerita Untuk Dien Tamaela

Beta Pattiradjawane

Yang dijaga datu-datu

Cuma satu.

Beta Pattiradjawane

Kikisan laut

Berpembawaan laut.

Beta Pattiradjawane

Ketika lahir dibawakan

Datu dayung sampan.

Beta Pattiradjawane, menjaga alas pala.

Beta jago merah di pesisir. Siapa mendekat

Tiga kali memanggil beta punya nama.

Dalam nyenyat malam jeruji meronggeng

Menurut beta punya tifa,

Tanaman pala, jasmani dara jadi

Arwah sampai pagi start.

Silakan menari!

ayo beria!

mari berlupa!

Awas jangan bakal beta marah

Beta bikin pala sepi, nona kaku

beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, cak semau di siang

Irama celah dan api membakar pulau….

Beta Pattiradjawane

Yang dijaga datu-datu

Cuma satu.

1946

#21. Hampa

Hampa

Kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.

Lurus kaku pohonan. Tidak bersirkulasi

Setakat ke puncak. Antap mencotok,

Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala apa menanti. Menanti. Menanti.

Tenang.

Tambah ini menanti jadi mencekik…

Memberat-mencekung punda…

Sebatas binasa barang apa. Belum apa-segala

Mega bertuba. Setan bertempik

Ini sepi terus terserah. Dan menanti.

#22. Kawanku dan Aku

Kawanku dan Aku

Kami sebabat pejalan larut

Menembus kabut

Hujan abu mengiprat badan

Berkakuan kapal-kapal di bom

Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat

Siapa bersabda-kata…?

Kawanku hanya rencana hanya

Karena dera mengelucak tenaga

Dia bertanya jam berapa?

Sudah sagu betawi sekali

Hilang tenggelam barang apa makna

Dan gerak tak punya arti.

#23. Kepada Perseroan

Kepada Kawan

Sebelum berputih mendekat dan menghianat

Menerkam dari bokong momen kita tidak mengaram

Selama masih menggelombang n domestik dada pembawaan serta rasa

Belum bertugas kecewa dan gentar belum ada

Tidak lalai mulai-tiba bisa malam membenam

Jib berma terkirai-kirai hilang privat berawan

Kawan, yuk kita putuskan kini di sini

Ajal yang menganjur kita, pula mencekik diri seorang

Jadi

Isi gelas selengkapnya lantas kosongkan

Tembus jelajah dunia ini dan balikkan

Dekap kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu

Pilih kuda yang paling liar, pacu lancar

Jangan tembatkan pada siang dan lilin batik

Dan

Hancurkan pula apa yang kau perbuat

Hilang sonder pusaka, minus kerabat

Lain mohon ampun atas barang apa dosa

Tidak memberi pamit siapa semata-mata

Makara

Mari kita putuskan sekali sekali lagi

Ajal yang menyentak kita, morong merasa angkasa tenang

Sekali pula kawan, sebaris sekali lagi

Tikamkan pedangmu menyentuh hulu

Sreg bisa jadi nan menggenangi kemurnian madu…!!

#24. Lagu Siul

Lagu Siul

Laron pada antap

Terbakar di sumbu lampu

Aku sekali lagi menemu

Ajal di cerlang caya matamu

Heran! ini badan yang selama berjaga

Habis tutung di api matamu

‘Ku kayak tidak sempat namun.

II

Aku kira

Beginilah nanti jadinya:

Kau interelasi, beranak dan berbahagia

Semenjana aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta,

Tak satu lagi ki longo.

Jadi baik kita padami

Unggunan jago merah ini

Karena kau tidak ‘cerek apa-apa,

Aku terpanggang dahulu rangka

25 November 1945

#25. Tuti Artic

puisi chairil anwar
goognewsfromindonesia.id

Tuti Artic

Antara bahagia saat ini dan nanti kanyon terbuka,

Adikku yang pun keenakan menjilati es artic;

Tunggang ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca

cola.

Isteriku dalam latihan: kita hentikan jam berdenyut.

Kau weduk sopan bercium, terserah goresan habis

terasa

– momen kita bersepeda kuantar kau pulang –

Seronok darahmu, sungguh taajul kau bintang sartan dara,

Mimpi tua bangka ke langit juga menjulang.

Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali

berpalis;

Lusa kita ki bentrok jalan, bukan kenal tahu:

Sorga hanya permainan sebentar.

Aku pun sama dengan kau, semua lekas berpulang

Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar,

Cak acap ialah bahaya yang buru-buru jadi pudar.

1947

#26. Puisi Kehidupan

Tembang Hidup

Hari hari lewat, lapangan tapi karuan

Hari ini aku menuju satu puncak tinggi yang bau kencur

Karena aku akan membuka lembaran hijau

Untuk sisa jatah umurku yang baru

Daun gugur satu per

Semua terjadi karena ijin Halikuljabbar

Umurku bertambah satu-satu

Semua terjadi karena ijin Allah

Tapi… coba aku tengok kebelakang

Ternyata aku masih banyak berhutang

Ya, berhutang pada diriku

Karena ibadahku masih layak-pasan

Kuraba dahiku

Astagfirullah, sujudku masih jauh dari serius

Kutimbang keinginanku….

Hmm… masih bertambah besar duniawiku

Ya Yang mahakuasa

Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di perian depan?

Akankah aku masih merasakan rasa ini pada copot dan bulan nan sama di tahun depan?

Masihkah aku diberi kesempatan?

Ya Almalik….

Tetes airmataku merupakan tanda kelemahanku

Rasa tersentuh perasaan yang serius adalah penyesalanku

Astagfirullah…

Jika Engkau ijinkan hamba beradu hari depan

Ijinkan hambaMU ini, mulai musim ini lebih serius dalam ibadah…

Timbangan marcapada dan akhirat hamba sama…

Sehingga hamba dapat transendental sebagai khalifahMu…

Hamba terlampau ingin melihat wajahMu di sana…

Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana…

Ya Allah,

Ijikanlah

#27. Nisan

Nisan

Bukan kematian ter-hormat menusuk kalbu

Keridhaanmu menerima segala tiba

Enggak kutahu ekuivalen itu di atas debu

Dan duka maha tuan tak bertahta.

***


Baca juga: Koleksi Puisi Karya Sapardi Djoko Damono Paling Menyentuh


Sebenarnya masih banyak sekali lagi kumpulan tembang karya Chairil Anwar yang tetap melegenda, namun tentu halaman ini tak akan sanggup menampung seluruh karya-karyanya. Maka kita diskriminatif 27 puisi untuk memancing inspirasi…

Mudahmudahan
terinspirasi
!




Source: https://gasbanter.com/kumpulan-puisi-karya-chairil-anwar/

Posted by: gamadelic.com