Contoh Hewan Yang Hidup Di Dua Alam

Setelah sebelumnya Muslim.Or.Id mengkaji hukum hewan air, kita akan belinjo lagi hukum hewan nan vitalitas di dua alam sebagaimana kangkung, buaya dan ketam.


Hukum Asal Hewan yang Hidup di Dua Standard

Yang kami ketahui tidak suka-suka dalil mulai sejak Al-Qur’an dan hadits yang shahih dan tegas yang mengklarifikasi tentang haramnya hewan yang umur di dua kalimantang (laut dan darat) kecuali bagi bongkok. Dengan demikian binatang yang kehidupan di dua alam dasar hukumnya pun ke kaedah: “Hukum dasar segala sesuatu itu biasa kecuali suka-suka dalil nan mengharamkannya”.


Perselisihan Ulama

Para cerdik pandai madzhab memiliki silang pendapat dalam masalah hewan yang hidup di dua tunggul (air dan darat). Rinciannya sebagai berikut.

Ulama Malikiyah: Membolehkan secara mutlak, baik itu katak, labi-labi (limpa), dan ketam.

Cerdik pandai Syafi’iyah: Membolehkan secara mutlak kecuali bongkok. Penis air dihalalkan kalau disembelih dengan cara yang syar’i.

Cerdik pandai Hambali: Hewan  yang hidup di dua alam tidaklah konvensional kecuali dengan jalan disembelih. Cuma bakal yuyu itu dibolehkan karena termasuk dabat nan tak punya darah.

Cerdik pandai Hanafiyah: Binatang yang nasib di dua alam lain halal setara sekali karena hewan air yang halal hanyalah lauk.[1]


Haramnya Katak

Adapun dalil haramnya memakan katak adalah hadits,

أَنَّ طَبِيبًا سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ضِفْدَعٍ يَجْعَلُهَا فِى دَوَاءٍ فَنَهَاهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ قَتْلِهَا.

Ada koteng sinse meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai katak, apakah boleh dijadikan perunding. Kemudian Utusan tuhan shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang lakukan menyembelih bongkok.” (HR. Abu Daud no. 5269 dan Ahmad 3/453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Al Khottobi
rahimahullah
mengatakan, “Dalil ini menunjukkan bahwa bangkong itu diharamkan untuk dimakan. Bangkong termasuk hewan yang tidak masuk intern hewan air yang dihalalkan.”[2]


Bolehkah berobat dengan katak?

Panitera ‘Aunul Ma’bud mengatakan, “Jika seseorang ingin berobat dengan katak tentu saja beliau teradat membunuhnya. Takdirnya diharamkan bikin membunuh, maka tentu saja dilarang sekali lagi untuk berobat dengannya. Bongkok itu terlarang, mungkin karena ia najis atau mungkin karena ia adalah hewan yang kotor.”[3]


Apakah Bicokok Halal Dimakan?

Mayoritas ulama menyatakan bahwa bicokok itu haram dimakan. Pendeta Ahmad
rahimahullah
memiliki pendapat,

يُؤْكَلُ كُلُّ مَا فِي الْبَحْرِ إِلَّا الضُّفْدَعَ وَالتِّمْسَاحَ

“Setiap hewan nan jiwa di air dapat dimakan kecuali bongkok dan buaya.”[4]

Jika kita memakai pendapat ulama yang mengatakan bahwa hewan air itu menjadi bawah tangan jika kamu memiliki kemiripan dengan hewan darat, maka jadinya buaya lagi bisa diharamkan. Seperti mana kita ketahui bersama bahwa buaya adalah fauna bertaring dan beliau memangsa buruannya dengan taringnya. Berpunca sini buaya boleh saja masuk privat pelarangan dabat bertaring sebagai halnya sabda Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ

Setiap binatang tebal hati nan bertaring, maka memakannya adalah haram.” (HR. Muslim no. 1933)

Semata-mata qiyas (metafor) buaya dengan dalil di atas
kuranglah tepat. Syaikh Dr. Shalih Al Fauzan
hafizhohullah
mengatakan,

“Mengenai para cerdik pandai yang mempunyai pendapat dengan mengqiyaskan hewan air dengan hewan darat nan diharamkan, maka ini
tidaklah tepat. Qiyas sejenis ini inkompatibel dengan nash (dalil tegas) merupakan firman Allah
Ta’ala,

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan rahim dari laut.” (QS. Al Maidah: 96).”[5]

Kami bertambah tentram memilih pendapat yang mengatakan bahwa
buaya itu halal dimakan
karena tidak ada dalil tegas yang mengharamkannya sehingga kita kembalikan ke hukum dasar, segala apa sesuatu itu halal. Jika kami menyatakan formal, bukan berharga wajib ataupun sunnah cak bagi dimakan,
saja boleh cuma. Jika geli atau tidak suka, yah silakan. Yang kami bahas ialah masalah hukumnya.


Pendapat Cerdik pandai Besar Mengenai Buaya katak, Labi-labi, Kepiting dan Landak Laut

Permulaan: Fatwa Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia)

Cak bertanya: Apakah dibolehkan memakan limpa-kura, unduk-unduk, buaya, landak laut? Ataukah hewan-hewan tersebut haram dimakan?

Jawaban:

Landak laut halal untuk dimakan. Situasi ini bersendikan keumuman ayat,

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh kerumahtanggaan petunjuk yang diwahyukan kepadaku, sesuatu nan diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu mayat, maupun bakat yang bergerak ataupun daging babi – karena selayaknya semua itu kotor – atau binatang nan disembelih atas keunggulan selain Allah.”
(QS. Al An’am: 145).

Syariat asal segala sesuatu adalah sah sebatas ada dalil yang menyatakannya haram.

Adapun hewan kura-kura, sebagian jamhur menyatakan bisa dimakan meskipun tidak disembelih. Hal ini beralaskan keumuman firman Sang pencipta Ta’ala,

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ

Dihalalkan bagimu satwa buruan laut dan lambung dari laut.” (QS. Al Maidah: 96).

Sedemikian itu pula dengan sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
tentang air laut,

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Air laut itu suci dan bangkainya pun biasa.” (HR. At Tirmidzi no. 69, An Nasai no. 332, Tepung Daud no. 83, Ibnu Majah no. 386, Ahmad 2/361, Malik 43, Ad Darimi 729)

Akan saja kerjakan kehati-hatian, limpa-limpa tersebut kukuh disembelih seharusnya keluar dari perselisihan para ulama.

Tentang buaya katak, sebagian ulama menyatakan bisa dimakan sebagaimana lauk karena keumuman ayat dan hadits yang sudah lalu disebutkan. Sebagian lainnya mengatakan tidak biasa. Doang nan rojih (pendapat terkuat) merupakan pendapat pertama (yang menghalalkan buaya).

Adapun kuda laut, kamu lagi stereotip dimakan berdasarkan keumuman ayat dan hadits yang sudah lewat, lagi dihalalkan karena enggak adanya dalil penentang. Kuda yang jiwa daratan itu seremonial dengan nash (dalil tegas), sehingga  kuda laut sekali lagi bertambah pantas dinyatakan halal.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.

[Nan menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah kacang Baz selaku superior; Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi selaku ketua muda; Syaikh ‘Abdullah kedelai Qu’ud selaku anggota] [6]

Kedua: Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin

Dalam
Fatawa Cerah ‘ala Ad Darb, Syaikh
rahimahullah
mengatakan, “Seluruh sato air itu sahih justru buat orang yang medium ihrom. Orang yang sedang ihrom boleh baginya berburu di laut. Hal ini berlandaskan firman Allah
Ta’ala,

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut (nan ditemukan internal situasi semangat) dan nan ditemukan dalam keadaan mayat bagaikan peranakan nan lezat bagimu, dan bakal orang-sosok yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, sejauh sira n domestik ihram.” (QS. Al Maidah: 96)

Yang dimaksud “shoidul bahr” merupakan hewan air yang ditangkap internal peristiwa hidup. Sedangkan yang dimaksud “tho’amuhu” merupakan hewan air yang ditemukan dalam hal sudah mati. Ayat tersebut menerangkan (nan artinya), “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut (yang ditemukan intern keadaan hidup)”. Secara tekstual (zhohir ayat), tidak ada nan mengalami pengecualian dalam ayat tersebut. Karena “shoid” privat ayat tersebut adalah mufrod mudhof. Sedangkan berdasarkan kaedah mufrod mudhof menunjukkan umum (artinya: seluruh tangkapan hewan air merupakan normal, pen), sebagaimana pula dalam firman Allah Ta’ala,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Dan jika kamu menghitung legit Halikuljabbar, tidaklah dapat beliau menghinggakannya” (QS. Ibrahim: 34). Mufrod mudhof kerumahtanggaan introduksi nikmat menunjukkan atas seluruh nikmat.

Kaprikornus pendapat nan menyatakan halalnya seluruh hewan air (tanpa pengecualian), itulah nan makin tepat. Sebagian ulama mengecualikan katak, buaya katak, dan ular bura (yang hanya hidup di air). Mereka menyatakan binatang-satwa ini tidak stereotip. Sekadar pendapat yang tepat sato-hewan tadi tetap halal (kecuali katak, pena). Seluruh dabat air itu lazim, baik ditangkap intern keadaan hidup alias mayat. [Fatawa Nur ‘ala Ad Darb, kaset no. 129, side A[7]]

N domestik
Liqo’ Al Bab Al Maftuh, Syaikh
rahimahullah
ditanya, “Segala apa hukum makan katak, ular (yang hanya hidup di air), dan yuyu?”

Beliau
rahimahullah
menjawab, “Takdirnya kita menyibuk keumuman firman Allah Ta’ala,

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut (yang ditemukan n domestik keadaan hidup) dan nan ditemukan dalam keadaan bangkai sebagai ki gua garba nan nikmat bagimu, dan lakukan orang-manusia nan intern penjelajahan”
(QS. Al Maidah: 96), menunjukkan bahwa hewan-fauna tersebut halal kecuali bangkong. Engkau bukanlah binatang air. Kangkung nyawa di darat dan di air sehingga ia tidak masuk dalam keumuman ayat tadi. [Liqo’ Al Gerbang Al Maftuh kaset no. 112, side B[8]]

Sira juga ditanya n domestik kajian
Kurat ‘ala Ad Darb, “Daging buaya katak dan katung-kura itu sah dimakan ataukah haram? Karena kami menemukan tembolok sejenis itu di negeri kami, Sudan. Berilah penjelasan pada kami. Barakallahu fiikum.”

Kamu menjawab, “Semua hewan air itu halal, baik nan ditangkap dalam keadaan hidup maupun bangkai. Halikuljabbar Ta’ala berfirman,

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ

Dihalalkan bagimu hewan buruan laut (yang ditemukan internal keadaan vitalitas) dan yang ditemukan privat peristiwa bangkai sebagai kandungan yang lezat bagimu, dan bikin hamba allah-orang yang dalam avontur”
(QS. Al Maidah: 96) Anak laki-laki ‘Abbas mengatakan bahwa “shoidul bahr” maknanya yaitu dabat air yang ditangkap hidup-spirit. Sementara itu “tho’amuhu” adalah hewan air yang ditangkap dalam keadaan antap. Akan cuma sebagian ulama katakan bahwa buaya itu enggak lazim karena bingkatak terjadwal binatang nan bertaring. Padahal Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam
sudah melarang memakan hewan yang bertaring baik itu dabat jahat. Sedangkan sato darat piaraan (jinak) yang bertaring pun diharamkan.  Akan belaka, zhohir (tekstual) surat Al Maidah ayat 69 menunjukkan akan halalnya buaya katak. [Fatawa Nur ‘ala Ad Darb, kaset no. 137, side A]

Syaikh rahimahullah nikah menyanggah orang nan mengharamkan buaya katak dengan alasan bahwa buaya itu bertaring. Syaikh menyatakan bahwa yang dimaksud larangan internal hadits adalah untuk binatang darat nan bertaring. Sedangkan hewan biadab yang hidup di air, maka engkau memiliki hukum tersendiri. Oleh karena itu, dihalalkan memakan ikan hiu. Padahal ikan hiu sekali lagi memiliki taring yang digunakan untuk memangsa buruannya. (Lihat Syarhul Mumthi’, 15/34-35)[9]

Ulama saat ini nan pula menghalalkan buaya yakni Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
rahimahullah
(Fatwanya, 23/24) sebagaimana beliau kembali mendukung pendapat ini dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah yang telah lewat.[10]

Ikhtisar: Penjelasan ini menunjukkan bahwa buaya, katung-kura dan yuyu itu seremonial dimakan. Halalnya hewan-hewan ini sesuai dengan pendapat cerdik pandai Malikiyah karena mereka menganggap setiap hewan air itu normal.[11]

Padahal ulama nan menyatakan bahwa kepiting dan kura-kura itu palsu karena dianggap risi (khobits), maka ini terlazim ditinjau. Karena khobits (risi) itu bukanlah dalil tegas akan haramnya sesuatu. Adapun, katak cak semau dalil tegas yang menunjukkan akan haramnya karena ia termasuk sato nan tidak dapat dibunuh.


Lalu bagaimana cara gorok yuyu dan kura-limpa agar jadi halal?

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni menyatakan, “Setiap sato air nan bisa jiwa di daratan, maka
tidak formal kecuali dengan disembelih. Contohnya adalah ceceh air,
kura-kura, dan beruk laut. Kecuali jika binatang tersebut enggak mempunyai saluran bakat sebagaimana
ketam. Kepiting itu dihalalkan walaupun tidak dengan cara penyembelihan. Pater Ahmad kombinasi ditanya,

السَّرَطَانُ لَا بَأْسَ بِهِ .قِيلَ لَهُ : يُذْبَحُ ؟ قَالَ : لَا

“Ketam itu tidak mengapa dimakan (baca: sahih), lantas bagaimana engkau disembelih? Pendeta Ahmad menjawab, “Tidak perlu disembelih.”

Demikian karena memang penyembelihan itu berlaku buat dabat nan mengeluarkan darah. Dagingnya mana tahu halal dengan cara mengeluarkan darah dari tubuhnya. Hewan yang tidak ada mengalir talenta n domestik tubuhnya lain pelir kerjakan disembelih.”[12]

Artinya, ketam disembelih di provinsi mana pun yang membuat ia mati, ki ajek membuatnya halal.[13]


Inferensi Mengenai Sato Air

Mengenai fauna air dapat kami ringkas sebagai berikut:

Pertama: Syariat seluruh sato air (nan namun hidup di air) adalah halal. Sejenis itu pula, syariat sumber akar hewan air nan kehidupan di dua alam (air dan darat) adalah lazim.

Kedua: Katak itu palsu karena ada dalil yang melarang membunuhnya. Ada kaedah, setiap sato nan dilarang dibunuh, maka tidak boleh dimakan.

Ketiga: Bicokok itu halal, berbeda dengan pendapat mayoritas ulama.

Keempat: I beludak nan hanya hidup di air sekali lagi halal karena ia termasuk dalam keumuman ayat,

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ

Dihalalkan bagimu fauna buruan laut (yang ditemukan n domestik keadaan hidup) dan yang ditemukan intern keadaan bangkai sebagai makanan nan enak bagimu, dan bagi insan-manusia yang intern perjalanan”
(QS. Al Maidah: 96). Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian cerdik pandai yang mengharamkannya.

Kelima: Hewan air nan dapat hidup di dua alam (darat dan laut) sebagai halnya anjing laut, limpa-kura, burung laut, pula dapat dimakan asalkan dengan jalan disembelih. Kecuali jika binatang tersebut tak memiliki darah seperti kepiting.

Keenam: Setiap hewan air nan membawa dampak bahaya ketika dikonsumsi, tidak bisa dimakan. Dalilnya yakni firman Sang pencipta
Ta’ala,

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Dan janganlah dia membunuh dirimu; sesungguhnya Tuhan adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An Nisa’: 29)

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kerusakan.”  (QS. Al Baqarah: 195)

Pendek cakap, hewan yang hidup di air itu halal kecuali kangkung dan hewan lainnya yang boleh membawa dampak bahaya ketika dikonsumsi.
Wallahu a’lam bish showab.

Selesai sudah pembahasan kami seputar hewan air. Seharusnya bermanfaat.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Diselesaikan di Singgang-GK, 11 Jumadits Tsani 1431 H, 24/05/2010

Penyadur: Muhammad Abduh Tuasikal

Kata sandang Muslim.Or.Id



[1]
Al Ath’imah, hal. 91-92.

[2]     ‘Aunul Ma’bud, 10/ 252.

[3]
‘Aunul Ma’bud, 10/252

[4]
Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Abul ‘Alaa Al Mubarakfuri, 1/189, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah

[5]
Al Ath’imah, hal. 88.

[6]     Tanya kedelapan mulai sejak Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 5394, 22/320.

[8]     Idem.

[9]     Idem.

[11]    Pendapat Malikiyah telah kami sebutkan di semula tulisan.

[12]
Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, 11/83, Darul Fikr.

[13]    Lihat
Al Mausu’ah Al Fiqhiyah, 2/1601, Multaqo Ahlul Hadits.

🔍 Nama Enggak Dari Masa Intiha, Pentingnya Shalat Berjamaah, Baca Narasi Dewasa, Surah Al Zalzalah

Source: https://muslim.or.id/11001-panduan-makanan-6-hewan-yang-hidup-di-dua-alam.html