Budidaya Tanaman Buah Buahan Secara Umum


Materi III-a:
Penanganan Pascapanen Buah dan Sayuran

Faktor-faktor yang mempengaruhi penanganan pascapanen buahan dan sayuran merupakan sebagai berikut:



1.




Musim ketika panen (hujan atau kemarau)



2.




Waktu penuaian (pagi maupun siang)



3.




Cara penumpukan



4.




Cara dan bungkusan dalam pengiriman



5.




Cara pencucian



6.




Cara trimming



7.




Cara dan bahan pengemasan



8.




Prinsip dan suhu penyimpanan

Penanganan buahan dan sayuran harus dilakukan pada suhu rendah (sekitar 20 C), dan penyimpanan dilakukan pada master optimum yang berlainan-cedera buat setiap tipe produk. Buahan dan sayuran harus diperlakukan laksana dagangan nan masih spirit, berbeda dengan biji-bijian yang sudah mengalami proses pengeringan.


1. Ketuaan Penuaian

Ketuaan panen adalah kejadian perkembangan dimana pohon alias episode-bagian dari pohon telah memenuhi syarat untuk dimanfaatkan sesuai dengan tujuan dari panen. Kian jauh ketuaan panen dibedakan menjadi dua tipe yaitu ketuaan fisiologis dan ketuaan komersil. Ketuaan panen secara fisiologis adalah ketuaan dimana tanaman atau bagian-episode bersumber tumbuhan telah hingga ke pertumbuhan jalan puncak, tetapi belum memasuki musim penuaan. Bilang penanda dari ketuaan fisiologis adalah reklamasi bagian padatan telah maksimum dan lega beberapa spesies biji zakar seperti pepaya kemunculan warna kuning start tampak. Padahal ketuaan komersil enggak bersambung dengan fisiologis tanaman dan adegan-bagiannya, tetapi berhubungan dengan kegunaan tumbuhan ataupun episode-bagian dari pokok kayu yang dipanen. Dengan kata bukan, ketuaan komersil adalah keadaan tanaman alias bagian-bagian dari tanaman nan sudah dapat dipanen karena sudah dapat dijual. Buah pepaya yang dipanen untuk dimanfaatkan sebagai buah meja dipanen pada tingkat ketuaan fisiologis, padahal bilan akan dimanfaatkan perumpamaan sayuran dipanen plong saat belum tua secara fisiologis. Artinya dapat dipanen bilamana saja selama belum mencapai tingkat ketuaan fisiologis, cuma secara komersil mutakadim tua karena sudah bernilai jual.

Tingkat ketuaan barang pada saat panen mempengaruhi dur penutup dagangan, daya simpan, dan kemungkinan terjadinya bias fisiologis. Seumpama umpama, buah yang akan dikonsumsi dalam keadaan matang, bila dipanen pada keadaan masih muda akan punya warna kulit nan tidak merata ketika matang, rasa yang sedikit gurih, wangi-wangian nan minus bila dibandingkan dengan buah nan masak normal, yaitu biji pelir nan setimbang namun dipanen dalam keadaan tua renta penuh. Ketuaan yang belum penuh pula bersambung dengan pematangan yang bukan merata pada biji pelir mangga, meningkatkan resiko chilling injury dalam penyimpanan dingin lega biji pelir nenas, dan perkecambahan dini pada bawang merah. Sebaliknya, kejadian yang sesak tua pula dapat menyebabkan timbulnya peristiwa-keadaan yang kurang menguntungkan. Selain memperpendek masa simpan, barang nan dipanen kerumahtanggaan situasi terlalu tua renta juga akan meletakkan mutu, saat dimakan misalnya, meningkatkan ki gua garba serat kasar dan gigih bilang diversifikasi biji zakar dan sayuran daun.

Selain berhubungan dengan tuntutan pasar dan harapan penggunaan produk, ketuaan panen juga bersambung dengan perian simpan yang diinginkan, hari dan jarak yang harus ditempuh privat transportasi ke gelanggang pemasaran, dan kebijakan pemasaran yang digunakan. Lega bilang jenis buah, mana tahu teristiadat dipanen saat biji zakar sudah lalu sungguh-sungguh tua lontok, tetapi masih hijau dan gigih agar mempunyai hari yang lebih lama bakal transportasi ke tempat pemasaran, dan penyimpanan sebelumnya dipasarkan kepada pemakai akhir. Dalam penggait dengan strategi pemasaran, penuaian di mulanya atau di penutup musim berpeluan untuk memperoleh harga jual yang makin baik. Hal ini kembali akan diperhitungkan oleh pembajak atau petualang produk hortikultura sehingga mana tahu saja mereka memburu-buru alias menuda pengetaman seyogiannya dapat menjual hasil panen dengan harga yang bertambah baik.


Indikator Ketuaan Panen

Indeks ketuaan adalah satu dimensi yang bisa digunakan untuk menentukan tahun panen, yaitu apakah satu dagangan sudah lalu boleh dipanen atau belum. Ada bilang macam indeks ketuaan yang dapat digunakan untuk menentukan waktu panen, dan untuk beberapa jenis hortikultura biasanya akan kian baik bila digunakan lebih terbit satu varietas indeks ketuaan, karena hasilnya akan lebih akurat. Indeks ketuaan panen bisa bersifat subyektif (S) atau obyektif (O), dan bisa digolongkan ke dalam metoda destruktif (D) atau non-destruktif (Kaki langit). Sedangkan berdasarkan obyek pengamatannya, penggolongan indeks ketuaan panen adalah sebagai berikut:

1. Indeks ketuaan visual (bersifat S dan N)








Bersendikan warna alat peraba: misalnya jeruk, duku, manggis, betik, nenas, rambutan rafiah, tomat, semangka.








Berdasarkan ukuran: mislanya sapersi, ketimun, jeruk, anak uang penggal








Berdasarkan bentuk: mislanya lengkungan pada buah pisang dan lekukan pada biji zakar mangga.








Berdasarkan karakteristik latar: formasi kutikel pada biji kemaluan tomat dan anggur, pola jaring-jaring sreg buah melon, semburat warna kuning/berma puas buah mangga.








Beralaskan bagian pokok kayu yang mengering: daun yang meringkai pada pohon mauz, pucuk nan meringkai pada bawang merah, bawang kalis, jahe, dan kentang.

2. Indeks ketuaan jasmani

(bersifat S dan N)








Berair: milu manis








Mudah longo: jenis kapri








Mudah dilepaskan bermula tanamannya: belewah








Kekerasan, kepadatan, kekompakan: melon, kol, selada








Rumit jenis: pauh, durian, kentang








Obstulen membahana bila diketuk: semangka, nangka, durian








Mempunyai aroma lestari: nangka, durian








Struktur daging: seperti mana tajam penglihatan puas tomat, berwarna tua lega beberapa buah




nangka




3. Indikator kimia (bersifat Ozon dan D)








Total padatan terlarut: apokat, melon, anggur








Kadar lemak: apokat








Predestinasi air: jeruk








Kadar asam: jeruk, mangga








Takdir karbohidrat: apel, pear, mempelam








Takdir gula: memanjatkan perkara, pear, mangga, anggur




mangga









melon




4. Indeks fisiologis (berkepribadian O, N, dan D)








Lampias respirasi dan produksi etilen: pisang, mempelam, keliki, tomat, markisa








Konsentrasi etilen: memanjatkan perkara, pear, markisa




Nov03170




5. Penunjuk perkiraan (berperangai Ozon dan Lengkung langit)








Unit seksi: mangga, kacang kapri, jagung manis








Hari sejak pembungaan: mangga, menggusta








Musim sejak pembentukan buah: durian, melon, rambutan








Hari sejak anakan mekar: sitrus, mangga








Perian sejak penghutanan: spesies umbi




jagung





Berekspansi Indeks Ketuaan

Indeks ketuaan haruslah sederhana, mudah diterapkan di lapangan, dan lain memerlukan peralatan yang mahal dalam penerapannya. Indikator ketuaan pula harus secara loyal memperlihatkan perhubungan dengan mutu dan daya simpan produk. Indikator ketuaan nan bertabiat obyektif dan non-destruktif lebih disukai. Sejumlah hal berikut dapat digunakan sebagai acuan dalam peluasan penunjuk ketuaan:



1.




Fase-fase perubahan pada komoditas plong sepanjang periode pertumbuhan dan perkembangannya harus dikenali



2.




Ciri-ciri yang berhubungan dengan perkembangan produk harus dicari



3.




Percobaan organoleptik dan gerendel simpan komoditas harus dilakukan bikin menentukan peristiwa dengan ponten minimum untuk ketuaan yang masih dikabulkan



4.




Indikator ketuaan yang dihasilkan harus diujicoba pada bermacam ragam lokasi dan waktu buat meluluk konsistensinya dengan mutu produk hasil panen




indexsize





2.
Sistem Panen

Pasca- diketahui bahwa dagangan hortikultura sudah layak bertongkat sendok bagi dipanen, penuaian bisa segera dilakukan dan produk harus dikumpulkan di persil secepat barangkali. Penuaian harus dilakukan secepat mungkin, dengan fasad produk sekecil kali, dan biaya semurah barangkali. Umumnya pengetaman masih dilakukan secara manual menunggangi tangan dan peralatan-peralatan tertinggal. Kendatipun memerlukan banyak sida-sida, panen secara manual masih lebih akurat, pemilihan mangsa panen sekali lagi bisa lebih baik dilakukan, kebinasaan fisik yang berlebihan dapat dihindari, dan membutuhkan biaya yang lebih kecil dibandingkan dengan panen menggunakan perlatana mekanis.

Mandu panen yang publik dilakukan yaitu sebagai berikut:








Dengan mandu ditarik: apokat, kapri, tomat








Dengan cara dipuntir: jeruk, melon








Dengan cara dibengkokkan: nenas








Dengan mandu dipotong: biji pelir dan sayuran plong umunya, dan bunga sembelih








Dengan cara digali dan dipotong: umbi, dan sayuran akar








Dengan menunggangi tongkat panjang: biji zakar pada di tanaman nan tinggi secara umum

Gantar sebagai radas tolong panen manual mempunyai beraneka ragam rancangan, disesuaikan dengan resan biji kemaluan yang akan dipanen seperti panjang dan maslahat tangkai, serta ukuran dan rumpil buah. Radas bantu lainnya seperti mana pisau dan gunting digunakan untuk menyelit, tongkat dan golok digunakan kerjakan menggali, panjang atau sejenisnya digunakan untuk menjangkau buah yang tinggi.

Disamping pendirian pengetaman, masa panen pula mempengaruhi kualitas produk hortikultura yang dihasilkan. Kebanyakan panen dilakukan pagi hari ketika surya baru saja berpokok karena perian sudah cukup sorot belaka suhu lingkungan masih cukup rendah sehingga bisa mengurangi kebinasaan akibat respirasi barang dan juga meningkatkan efisiensi pemanenan. Bilang macam produk hortikultura lebih baik dipanen sangka siang agar embun yang menempel plong komoditas telah mengering, ataupun sekalian senja musim bila suhu lingkungan pula menjadi pertimbangan terdahulu. Situasi ini dapat mengurangi luka bakar akibat getah yang meringkai pada biji pelir-buah yang mengecualikan pulut dari tangkainya seperti mangga, atau mengerluarkan minyak seperti jeruk, dan mengurangi fasad mekanis (sobek) pada sayuran daun. Jagung manis juga diketahui akan menjadi lebih manis bila dipanen agak siang.


3. Penanganan di Lahan

Persiapan dan transportasi produk semenjak lahan yaitu kegiatan-kegiatan utama yang harus dilakukan selepas produk dipanen. Hasil panen harus segera dikumpulkan, dikemas sementara, bikin kemudian diangkut ke apartemen pengemasan, ajang penyimpanan, anak kunci pengolahan atau pabrik penggodokan produk segar, alias sinkron ke pasar. Lokasi di mana kegiatan ancang dilakukan harus dekat dengan lahan, dan dapat didatangi oleh kendaraan yang akan digunakan untuk mengapalkan dagangan keluar berasal lahan. Lokasi tersebut juga harus terlindung dari sinar matahari sederum (intern bangunan beratap atau pun di bawah naungan pohon lebat) dan udara bebas celam-celum untuk mencegah akumulasi panas, baik yang berasal berasal pendar syamsu maupun yang ketimbul akibat pernapasan produk. Tempat kerjakan melakukan kegiatan persiapan sebaiknya beralaskan keramik jauhar sebab bilaberalas kapling dikhawatirkan dagangan akan terkontaminasi kotoran yang ada pada persil, dan mudahmudahan digunakan sampul dapat melindungi produk berpokok kerusakan akibat penanganan yang dilakukan.

Proteksi produk dari master lingkungan yang tinggi sangat terdepan bikin menghindari pemanasan dan lukan bakar pada produk yang baru dipanen.

Komoditas nan ketularan sinar matahari langsung dapat meningkat suhunya hingga melebihi suhu udara mileu, dan hal ini akan berakibat buruk puas dagangan karena respirasinya akan meningkat dan penurunan loklok akan terjadi dengan cepat. Bila memungkinkan, produk nan telah dipanen segera dibawa ke tempat terlindung, di internal bangunan beratap atau di bawah tanaman rindang atau naungan lainnya, hendaknya suhunya tetap rendah. Hal ini perlu diperhatikan terutama bila produk tidak dapat segera diangkut karena berbagai sebab sebagai halnya menunggu kendaraan pengangkut, atau menunggu produk terkumpul dalam jumlah yang cukup bikin diangkut. Bila tidak tersaji tumbuhan yang rindang di sekitar lahan, mudahmudahan digunakan tenda yang dapat dipindah-pindahkan. Puas daerah dengan hawa udara yang patut tahapan, moga jangan mengamalkan panen pada siang waktu setelah matahari sangkil tinggi.

Terserah beberapa jenis kemasan atau keranjang yang bisa bakal penanganan produk di lahan, tergantung lega varietas komoditas, biaya yang disediakan untuk cangkang, dan ketersediaan bahan pembuat kemasan, serta sistem penuaian yang diterapkan. Praktek yang sepan baik adalah para pemanen mengumpulkan hasil panen dalam keranjang-keranjang katai, habis bila sudah terisi mumbung menjangkitkan hasil panen tersebut ke keranjang yang kian besar untuk keperluan transportasi ke asing persil.

Transportasi produk keluar semenjak lahan mungkin dilakukan untuk jarak yang sanding atau jauh, melalui jalan nan mulus atau kasar, maupun tambahan pula melalui perkembangan setapak, menunggangi kendaraan bermesin alias bertenaga hewan, dan tidak sebagainya. Dengan kata lain, banyak kemungkinan terjadi dalam transportasi produk keluar dari lahan, maka dari itu karena itu produk harus dilindungi dari kebinasaan mekanis yang mungkin terjadi melalui penggunaan alat angkut transportasi yang sesuai dengan kondisi jalan nan dilalui. Ki alat transportasi yang digunakan pun sebaiknya beratap dan mempunyai ventilasi nan baik, terutama bila perjalan akan memerlukan tahun yang patut lama. Penanganan yang cepat selama proses transportasi juga menjadi faktor yang terdepan n domestik perlindungan produk setelah dipanen.

Kegiatan tak nan mungkin dilakukan di lahan puas produk nan baru dipanen meliputi pembungan sipulut, (delatexing), pembuangan penggalan-bagian nan tidak diperlukan (trimming), pemisahan dan pemutuan (sorting and grading), dan pengemasan (packaging) yang lakukan berbagai produk akan kian baik bila dilakukan di kerumahtanggaan rumah pengemasan (packing house). Penggunaan kemasan seperti peti dan keranjang lakukan produk yang mudah rusak sama dengan buah dan sayuran yang lunak akan meminimalkan perlakuna di petak dan dapat mengurangi kebinasaan mekanis pada komoditas dan menindihkan biaya penanganan. Semua kegiatan harus direncanakan dengan baik dan apa perabot yang diperlukan harus dipersiapkan sebelum kegiatan berlangsung. Pengarahan dan pelatihan tenaga kerja pula hal yang terdahulu untuk dilakukan.

Kembali ke Kelompok Materi 3

Presentasi Powerpoint(a)
Presentasi Powerpoint(b)

Source: http://web.ipb.ac.id/~usmanahmad/Penangananbuahsayur.htm