Buah Jamblang Ditanam Dengan Cara

Duwet
Jamblang (Syzygium cumini)

Duwet (Syzygium cumini)

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae
Genus:
Syzygium

Spesies:

S. cumini


Nama binomial


Syzygium cumini



(L.) Skeels.
Muradif

Daftar sumber:[1]
[2]
[3]

  • Eugenia cumini
    (L.) Druce. (1914)
  • E. jambolana
    Lamk. (1789)
  • Myrtus cumini
    L. (1753)
  • Syzygium jambolana
    Miq.
  • S. jambolanum
    (Lamk) DC. (1828)
  • S. malaccense
    (L.) Merr. & Perry.

Duwet
(Syzygium cumini) atau dinamakan kembali
jambu keling
dan
duwet
yaitu sejenis tumbuhan buah dari suku jambu-jambuan (Myrtaceae). Tumbuhan berbuah sepat masam ini dikenal pula dengan beraneka macam cap seperti
jambee kleng
(Aceh),
jambu kling,
nunang
[4]
(Gayo),
jambu koliong
(Riau),
jambu kalang
(Min.),
jambulang,
jambulan,
jombulan,
jumblang
(aneka tanda tempatan di Sulut),
jambulan
(Flores),
jambula
(Ternate),
jamblang
(Btw., Sd.). Pun
jambu juwat,
jiwat,
jiwat padi
(Ind.,
juwet
alias
duwet
(Jw.),
juwet, jujutan
(Bl.),
dhuwak, dhalas
(Md.),
duwe
(Bima),
Rappo – Rappo
(Selayar) dll.[5]

Dalam pelbagai bahasa luar biji zakar ini dikenal umpama
jambulan, jambulana
(Malaysia),
duhat
(Filipina),
jambul,
jamun, alias
Java plum
(Ingg.), dll. Label ilmiahnya adalah
Syzygium cumini.

Tanaman jamblang

Pemerian botanis

Buah jamblang

Tumbuhan nan kokoh, berkayu, kaliber 10-30 m, bercat putih kotor, dan tidak menggugurkan daun.[2]
Kadang-kadang berbatang bengkok, strata setakat 20 m dan gemang mencapai 90 cm. Bercabang rendah dan bertingkat bulat alias tidak mengaryakan aturan.

Patera-daunnya terdapat tatap muka, berjupang 1-3,5 cm. Helaian daun buntar telur terbalik lebih sedikit jorong sampai jorong lonjong, 5-25 x 2-10 cm, pangkalnya luas n kepunyaan bentuk pantek ataupun membundar, ujung majal alias bertambah kurang melancip, bersempadan rata, menjangat tebal dengan riol yang tipis dan kian kurang seruak pandang. Hijau bertongkat sendok berkilat di arah atas, daun jamblang makin adv minim berbau terpentin apabila diremas. Daun nan muda berwarna merah jambu. Pertulangannya menyirip.[2]

Karangan bunga n domestik malai atau malai rata, renggang, hingga tiga kali bersangkak; rata-rata muncul pada ceranggah yang tak berdaun. Anak uang boncel, duduk rapat-rapat, 3-8 kuntum di tiap ujung tangkai, berbau harum. Daun kelopak bentuk giring-giring berhanyut-hanyut atau corong, tinggi 4-6 mm, asfar hingga keunguan. Daun mahkota bulat dan abolisi-lepas, 3 mm, putih abuk-abu sebatas merah muda, mudah gugur. Makao sari kuantitas, 4-7 mm; putik 6-7 mm.

Biji zakar buni[3]
memiliki bentuk lonjong hingga bulat telur, belalah lebih abnormal bengkok, 1-5 cm, bermahkota cuping kelopak, dengan indra peraba tipis licin mengkilap, merah tua hingga ungu kehitaman, kadang-kadang putih. Cerbak dalam gerombolan luhur. Daging biji pelir putih, kuning kelabu hingga makin kurang merah ungu, hampir lain berbau, dengan total konsentrat buah, sepat masam hingga masam manis. Biji bujur telur, sebatas 3,5 cm.
[6]
[7]
Buahnya benar yang tak berbiji, benar kembali yang berbiji dengan batasan jumlah 5.[3]

Perputaran dan habitat

Jamblang bisa ditemui di sama berat dibudidayakan/liar di Asia tropis dan Australia. Pohon jamblang mempunyai kawasan revolusi alaminya di Himalaya anggota subtropis, India, Sri Lanka, Malesia dan Australia. Masa ini sudah lalu ditanam diseluruh daerah tropika dan subtropika.[3]
Di Pulau Jawa, bertaruk liar di hutan salih dan dibudidayakan umpama pohon biji pelir di pekarangan, mulai sejak dataran tekor[1]
setakat 500 mdpl.[8]
Walaupun demikian, kamu boleh tumbuh pada ketinggian 1800 mdpl. Guyur hujan nan diperlukan bakal pertumbuhan yang bagus adalah bertambah dari 1000 mm per tahun dengan masa kering yang nyata. Jamblang tumbuh di lembang air ampuh. Varietas ini toleran terhadap kekeringan dan bisa bertaruk sreg berbagai rupa jenis tanah nan tak subur, lahan basah dan tanah yang berdrainase bagus (petak lempung, belet berkapur, tanah berpasir dan lahan-petak berkapur). Umumnya, duwet diperbanyak dengan biji, namun kultivar-kultivar nan ulung mampu diperbanyak dengan cangkok.[3]

Kemanfaatan

Bunga jamblang

Buah jamblang biasa dimakan segak. Di India dan Filipina, sama dengan pula norma budaya di beberapa area di Indonesia, buah duwet yang masak dicampur dengan sedikit garam dan kadang-kadang ditambahi gula, dulu dikocok di dalam wadah tertutup (biasanya dua cawan ditangkupkan) sehingga lunak dan berkurang sepatnya. Buah ini boleh mengurangi calit di transmisi. Buah yang kreatif vitamin A dan C ini juga bisa dijadikan sari biji kemaluan, tajam tilikan atau anggur. Di Filipina, anggur jamblang diusahakan secara komersial.
[6]

Kayunya bisa digunakan lakukan bahan kontruksi, walaupun tak unik dan lebih kurang mudah bersumber. Papan ini sepan kuat, tahan cairan dan bidasan serangga; sekalipun bertambah kurang pelik diselesaikan. Yang terlebih buruk perut ialah digunakan bak gawang bakar. Kulit kayunya menghasilkan zat penyamak (tanin) dan dimanfaatkan cak bagi mewarnai (ubar) jaring. Lempengan mungil pepagan ini sekali lagi kadang-kadang dibubuhkan bikin menyergap keasaman tuak. Daunnya kerap digunakan sebagai pakan peliharaan.

Jamblang bersifat sejuk, aromatik, dan bersifat astringen kuat. Ponten berharta kembali untuk mengobati strikhnina (strychnine), yakni sebangsa penawar venom nan spesifik, dan mengobati terapi limpa.[1]
Hasil penelitian di India menunjukkan bahwa buah duwet berpotensi sebagai perlengkapan kontrasepsi untuk laki-laki. Kemudian, hasil investigasi juga menunjukkan biji, daun, dan pepagan jamblang bisa menurunkan diabetes, yang dipertegas lagi dengan percobaan hewan yang menunjukkan tumbuhan ini mencegah katarak belakang suatu peristiwa diabetes.[1]
Jamblang bersusila isinya minyak atsiri, jambosin, asam organik, triterpenoid, dan resin nan bersusila isinya asam elagat, dan tanin. Pekerja Ayurweda menunjukkan bahwa daging buah menurunkan pembawaan selama 30 menit, bijinya menempatkan gula darah dalam waktu 24 jam, dan hasil maksimum pencapaian efek hipoglikemik dalam hari 10 musim.[1]

Beberapa anggota pohon juga digunakan andai bahan obat, tradisional maupun modern. Selerang jenazah, daun, biji pelir dan bijinya acapkali digunakan ibarat peminta diabetes, murus (diare), dan bilang penyakit lain. Apalagi simplisia berpangkal jangat batang (dikenal umpama
Syzygii cortex) dan ponten jamblang (disebut
Syzygii sperma) dahulu dipetuakan sebagai sediaan apotek yang enggak harus. Di samping tanin, target aktif yang dikandungnya selang lain adalah glukosida yambolin (jamboline).
[5]
[9]
Oleh penyembuh tradisional di Amerika Daksina, jamblang bersama ceremai belanda bikin mengurangi kerusakan dalaman dan lever penanggung kanker nan asian kemoterapi doxorubicin (doksorubisin).[1]
Jamblang dan
Eugenia caryophyllata
benar isinya senyawa yang dapat mengaktifkan enzim S-transferase di hati. Pada percobaan, enzim tersebut bisa menurunkan kejadian kanker kandungan hingga 80%. Sebagian wilayah di Asia Tenggara memakai akar tunjang jamblang bakal mengobati pitam babi.[1]
Di Dataran Tingkatan Gayo, duwet yang sering dinamakan nunang digunakan bagi mengobati mencret.[4]

Pokok kayu duwet sekali lagi comar ditanam seumpama tanaman peneduh di pelataran dan perkebunan (misalnya untuk meneduhi pohon kopi), atau ibarat penahan angin (wind break). Bunga-bunganya seimbang berat umpama pakan lebah istri muda.

Lihat pula

  • Marga Jambu-jambuan

Rujukan

  1. ^
    a
    b
    c
    d
    e
    f
    g
    Dalimartha, Setiawan. (2003)
    Atlas Tumbuhan Obat Indonesia.
    3: 19-23. Jakarta:Puspa Swara. ISBN 979-3235-73-X.
  2. ^
    a
    b
    c

    “Eugenia cumini Merr.”. Departemen Kebugaran. 14 November 2001. Diakses 9 Mei 2022.



  3. ^
    a
    b
    c
    d
    e

    “Syzygium cumini (L.) Skeels”. Prohati. Diakses 9 Mei 2022.



  4. ^
    a
    b
    Hidayat, Syamsul (2005).
    Ramuan Tradisional ala 12 Kedaerahan Indonesia. hal. 71. Jakarta:Penebar Swadaya. ISBN 979-489-944-5.
  5. ^
    a
    b
    Heyne, K. 1987.
    Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3. Yay. Fasilitas Alas Jaya, Jakarta. Hal. 1518.
  6. ^
    a
    b
    Verheij, E.W.M. dan R.E. Coronel (eds.). 1997.
    Sumber Kiat Nabati Asia Tenggara 2: Buah-buahan yang bisa dimakan. PROSEA – Gramedia. Jakarta. ISBN 979-511-672-2. Hal. 380-382.
  7. ^
    Steenis, CGGJ van. 1981.
    Flora, bakal sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Hal. 327.
  8. ^
    Dharma, A.P. (1987)
    Indonesian Medicinal Plants [Tanaman-Tanaman Pelelang Indonesia]. Hal. 23-24. Jakarta:Balai Pustaka. ISBN 979-407-032-7
  9. ^
    Sutrisno, R.B. 1974.
    Ihtisar Farmakognosi, edisi IV. Pharmascience Pacific, Jakarta. Situasi. 119 dan 163.

Tautan luar

  • (Inggris)
    Sorting Syzygium names, Multilingual Multiscript Plant Name Database.



Sumber :

id.wikipedia.org, civitasbook.com (Ensiklopedia), p2k.ggkarir.com, wiki.edunitas.com, dan sebagainya.

Source: https://p2k.utn.ac.id/id3/2-3077-2966/Jamblang_102575_p2k-utn.html