Buah Gluta Renghas Tanaman Jingah


Ekstrak Tumbuhan Jingah (Glutha Rengas) Laksana Biopestisida


Tumbuhan jingah (Glutha rengas) banyak tumbuhan di petak rawa baik pasang surut atau rawa lebak, pohon jingah ini kebanyakan tumbuhan dipinggir-pinggir  sungai. pohon jingah
(Gluta renghas)
yang sring menimbulkan gatal-galak seandainya terkena getahnya baik itu dari daun, ranting, maupun dahan. Tanaman jingah hanyalah keseleo suatu dari banyak tanaman beracun/menyebabkan alergi plong kulit jika tersentuh langsung.

Tanaman jingah/rengas tertulis famili Anacardiaceae merupakan sendang papan yang signifikan di Indonesia. Spesies ini dikenal karena getahnya lalu beripuh yang dapat menyebabkan iritasi berat pada kulit dan boleh melumpuhkan orang. Sama sekali penduduk asli menggunakan getahnya perumpamaan racun bagi berburu binatang (Heyne, 1987).

Berdasarkan studi pustaka, tumbuhan ini belum banyak diteliti, eksplorasi sebelumnya plong getah rengas dilaporkan campuran ursiol, rengol, glutarengol, laccol dan thitsiol (Backer, 1941).  Pengkajian pada kusen rengas dilaporkan senya- wa golongan steroid, lipid, benze- noid dan flavonoid (Imamura,
et.al.,1979), sedangkan eksplorasi pada bagian tumbuhan lainnya sebagaimana akar, buah, bunga, kulit batang dan lainya belum banyak dilaporkan.

Bilang penelitian menyebutkan rengas mengandung fusi ursiol, rengol, glutarengol, laccol, dan thitsiol. Sedangkan kayunya punya senyawa golongan steroid, lipid, benzenoid dan flavonaloid.

Biarpun khasiat senyawa ilmu pisah nabati jauh dibawah paduan kimia sentitik, saja senyawa tersebut n kepunyaan manfaat, yaitu minus menimbulkan dampak negatif antara lain risidu nan terjadi melalui rantai makanan yang membahayakan sosok dan lingkungan (http://www.tempo.co.id/hg/iptek/2007).  Menurut Asikin dan Thamrin (2002) bahwa tumbuhan jingah ini cukup efektif dalam mengendalikan hama penggerek batang gabah yaitu hingga ke 75%.

Cak agar berperilaku iritan, sipulut rengas punya khasiat bagi membasmi baja. Bilang pengkhususan menyebutkan rengas mengandung sintesis ursiol, rengol, glutarengol, laccol, dan thitsiol. Sedangkan kayunya punya senyawa golongan steroid, lipid, benzenoid dan flavonaloid.  Zat toksik tanin, saponin dan flavonoid yang terwalak pada daun jengkol inilah yang menyebabkan belatung grayak mati.  Daun jengkol diduga bertambah banyak mengandung tanin hal ni nampak kapan pembuatan larutan pasta, dimana larutan pasta tidak adanya busa nan  terasuh, padahal zat aktif saponin mempunyai kemampuan membentuk busa (Widodo, 2005). (S.Asikin)








Balai Penekanan Pertanian Persil Rawa



Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Daksina

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Whatsapp : 081251206759
Email : [email protected]

Perangkaan Website

Hari Ini:

469

Kemarin:

1513

Minggu ini:

8890

Bulan Ini:

34623

Total:

301791


Visitor Info

  • IP:
    8.215.31.168


Madya Online


24-09-2022

Source: http://balittra.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-aktual/25-publikasi/prosiding/1281-ekstrak-tumbuhan-jingah-glutha-rengas-sebagai-biopestisida