Buah Duku Banyak Ditanam Di Kecamatan

  • 31 Maret 2022
  • Super Administrator
  • 0 Komentar

Melestarikan Langsat Palembang, Upaya Menjaga Kapling Gambut. Seperti Apa

Mana tahu nan tidak kenal duku Palembang yang rasanya manis? Cak agar disebut “duku Palembang” ternyata duku ini dihasilkan bermula Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Daksina, yang sebagian samudra wilayahnya adalah rawa gambut. Bagi generasi sangat, buah tahunan ini merupakan sumber ekonomi nan hasilnya jauh kian baik dari berkebun karet ataupun sawit. Kini, sejalan dengan perubahan beber pataka di OKI, khususnya rawa gambut, pohon duku banyak yang tenang atau buahnya tidak lebat juga.

“Setiap pokok kayu duku, buahnya dibeli para pedagang berkisar Rp8-10 juta. Jikalau kita mempunyai 100 buntang, uangnya dapat mengaras Rp1 miliar, dan kapling yang dibutuhkan seputar 3 hektar,” alas kata Edi Rusman, yang memiliki 50 tumbuhan langsat di Desa Perigi Talangnangka, Kecamatan Pangkalan Lampan, Kabupaten OKI, Sumsel, saat dikunjungi tim berpokok TRG (Tim Pembaruan Gambut) Sumsel, Ahad (04/3/2018) lalu.

Pohon duku yang ditanam publik OKI dan OKU umumnya berpunya di persil mineral yang erat sungai dan rawa gambut. Duku bersama pokok kayu biji pelir lainnya seperti durian menjadi kawasan penyangga antara persil mineral dengan rawa gambut, sehingga kebun buah ini dekat flat awam.

Biji pelir langsat yang rasanya manis. Foto: Wikimedia Commons/UTC under the CC-BY-SA-2.0 and GFDL/
Sakurai Midori

Tapi entah kenapa, sejak rawa gambut mengering alias kekeringan air dan sering terbakar, banyak tanaman duku yang mati atau buahnya tidak selebat adv amat. Padahal, hasil penjualan duku jauh bertambah besar dibanding getah karet. Jika ladang kejai per hektar dalam setahun hanya menghasilkan selingkung Rp60-70 juta, duku dalam satu hektar menghasikan ratusan juta yen.

Bedanya, getah karet kesudahannya setiap minggu, tentatif langsat setiap tahun, dan kembali tergantung kondisi iklim. “Lima perian terakhir, baru tahun ini buahnya bagus, boleh jadi karena banyak hujan abu dan cukup semarak matahari,” tutur Solian, pemukim Desa Sumber Talangnangka.

Sementara, dibandingkan tanaman sawit, setiap hektarnya namun menghasilkan Rp50-60 juta tiap-tiap perian. Pokok kayu ini belaka setuju dikelola perusahaan, sebab uangnya terasa jika mempunyai ratusan hingga beribu-ribu hetar huma. Jika umum, hanya fertil mengurus tanah sekitar 2-5 hektar, yang alhasil jauh lebih katai dibandingkan duku,” jelasnya.

Bibit langsat yang tingginya berkisar 30-45 centimeter, akan disedekahkan Edi Rusman dan warga lainnya di Desa Perigi Talangnangka, Kabupaten OKI, Sumsel, perumpamaan upaya membantu restorasi gambut. Foto: Taufik Wijaya/Mongabay Indonesia

Najib Asmani, koordinator TRG Sumsel, menyatakan potensi tumbuhan buah di OKI diakuinya luput dari analisis dan penelitian para pihak yang berkreasi buat mengamalkan restorasi gambut. “Mungkin karena enggak merecup di lahan gambut, sehingga tidak diperhatikan. Padahal jika dilihat dari pendapatan awam sekeliling gambut, tanaman ini memasrahkan pendapatan nan terbukti sejak puluhan tahun sangat. Artinya, masyarakat bisa jadi tidak akan mengelola lahan gambut, jika pohon ini memberikan penghasilan yang raksasa,” katanya.

Selain itu, alas kata Najib, tumbuhan biji zakar sebagaimana duku dan durian juga terjemur kondisi rawa gambut. Jika bagus, tumbuhan berproduksi baik. “Ini memberi prospek umum cak bagi menjaga gambut sepatutnya tanaman duku atau duriannya baik,” jelasnya.

Durian, buah yang dulu diminati masyarakat Indonesia. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Sedekah pokok kayu duku

Desa Perigi Talang Nangka yakni desa nan banyak dibantu pemerintah dalam upaya restorasi lahan gambut. Desa ini berbatasan dengan Suaka Margasatwa Sugihan Sebokor. “Sebagai merek syukur kepada pemerintah, kami akan bersedekahkan sewu pohon duku yang bibitnya semenjak dari huma kami. Pohon langsat ini kami harapkan dapat ditanam di lahan kering yang berbatasan dengan rawa gambut alias sungai, sehingga 15-20 tahun mendatang, jadi pembayaran masyarakat dan juga bagaikan daerah penyangga,” ujar Edi Rusman.

Najib Asmani memastikan seribu tanaman langsat tersebut akan ditanam di sejumlah desa nan punya tanah mineral berbatasan dengan gambut, yang menjadi binaan TRG Sumsel. “Minimal tanaman buah ini tidak menghilangkan jejak duku Sumatera Selatan yang terkenal manis, termasuk dapat terus dinikmati anak dan cucu kita,” katanya.

Biji kemaluan durian yang selalu menggoda dan ditunggu musimnya. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Selain pohon langsat, TRG Sumsel juga berencana menyebarkan tanaman biji pelir yang dapat ditanam di lahan gambut atau di tanah mineral sekitar gambut, seperti durian, nangka, dan cempedak. “Buah nangka itu pasarannya jelas. Pembelinya enggak asosiasi putus selama masih ada rumah makan. Harganya pun cenderung menaiki. Tanaman ini sekali lagi dapat tumbuh di gambut tipis, dan sekiranya tidak juga produktif, kayunya banyak pemadat, terutama para seniman patung dan pengrajin tatahan.”

Najib berkeyakinan, pohon buah lebih disenangi masyarakat, sebab mereka telah mengenal dan luang bagaimana merawatnya. Biayanya rendah, kemungkinan besar tidak butuh perawatan karena masyarakat secara sukarela memeliharanya. “Bibitnya juga mengasihkan pemasukan untuk masyarakat, dapat dibeli serampak bersumber awam. Pastinya, lain kalam biaya transportasi seperti mana mengebumikan jelutung yang bibitnya didatangkan terbit daerah lain,” tandasnya.

Sumber : https://www.mongabay.co.id/2018/03/09/melestarikan-duku-palembang-upaya-menjaga-lahan-gambut-seperti-barang apa/

Source: http://103.98.120.27/webdesa/palembang/pulo-kerto/detailpost/melestarikan-duku-palembang-upaya-menjaga-lahan-gambut-seperti-apa