Bobot Buah Per Tanaman Cabai

Poin tengah populasi bobot buah per tanaman plong tomat bagi silangan IPBT1 x IPBT3, dan IPBT78 x IPBT1 sesepuh lebah ratulebah (P1) lebih panjang dibandingkan dengan populasi tetua jantan (P2). Populasi kamitua jantan (P2) pada IPBT78 x IPT73 memiliki nilai tengah bobot buah per pokok kayu lebih hierarki berasal poin tenga tetua betina (P1) (Diagram 6.31). Nilai perdua populasi F1 pada silangan IPBT1 x IPBT3 makin tinggi bersumber nilai paruh tetua tertinggi. Nilai tengah F1 pada siangan IPBT78 x IPBT1 memiliki angka perdua diantara kedua tetuanya. Nilai tengah populasi F1 IPBT78 x IPBT73 lebih rendah dari nilai tengah tetua terendah (Tabel 6.32).

Tabel 6. 31 Nilai perdua populasi khuluk bobot buah per tanaman pada tomat Populasi IPBT1 x IPBT3 IPBT78 x IPBT1 IPBT78 x IPBT73 P1 1.19 ± 0.31 1.57 ± 0.26 1.55 ± 0.27

P2 0.99 ± 0.25 1.10 ± 0.13 1.68 ± 0.45

BCP1 1.05 ± 0.46 1.48 ±0.47 1.59 ± 0.63 BCP2 1.01 ± 0.33 1.32 ± 0.62 1.48 ± 0.74 F2 1.00 ± 0.432 1.64 ± 0.62 1.68 ± 0.72

P1: vlek betina, P2: sesepuh jantan, BCP1: Backcross ke tetua betina (F1 x P1), BCP2: Backcross ke pasak negeri dakar (F1 x P2), F2: generasi kedua

94

Hasil uji kehomogenan ragam (uji f) dan kekuasaan tetua betina dengan menggunakan uji selisih skor paruh (uji t) menunjukkan bahwa tidak terwalak perbedaan yang aktual antara F1 dan F1R bakal karakter bobot buah per pokok kayu sreg semua kombinasi silangan yang diamati (Tabel 6.32). Hasil uji cakrawala yang tidak nyata menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh tetua betina dan hanya gen- gen dalam inti yang mengendalikan pewarisan karakter-karakter tersebut, sehingga untuk analisis selanjutnya F1 dan F1R dapat digabungkan.

Tabel 6. 32 Uji dominasi datuk betina lega karakter bobot biji zakar per tanaman sreg tomat

Populasi IPBT1 x IPBT3 IPBT78 x IPBT1 IPBT78 x IPBT73

F1 1.45 ±0.09 1.48 ± 0.09 1.25 ± 0.07

F1R 1.46 ± 0.08 1.46 ± 0.08 1.26 ± 0.14

Prob > f hit 1.08 tn
1.07
tn
4.16
*

Prob > t hit -0.16 tn 0.11 tn -0.12 tn

tn: tidak nyata pada taraf α 5%; * positif pada taraf α 5%.

Angka potensi neraca karakter bobot buah per tanaman lega kombinasi persimpangan IPBT1 x IPBT3 bertambah besar dari 1 yaitu 3.44, pada persaudaraan silangan IPBT78 x IPBT1 sebesar 0.52 dan pada kombinasi silangan IPBT78 x IPBT73 lebih kecil dari -1 ialah -5.67 (Grafik 6.33). Ponten potensi ratio yang berada lega kisaran 0 sebatas 1 signifikan bahwa galibnya F1 lebih besar bermula umumnya kedua tetua tetapi bertambah kerdil dari rata-rata tetua dengan bobot biji zakar terberat. Keadaan ini menunjukkan bahwa khuluk bobot buah saban tumbuhan plong kombinasu silangan IPBT78 x IPBT1 dikendalikan maka dari itu propaganda gen dominan fragmentaris. Kredit potensi ratio yang kian raksasa dari satu berarti biasanya F1 lebih lautan dari rata-rata sesepuh terberat, sedangkan skor potensi ratio lebih kecil mulai sejak -1 penting rata-rata F1 lebih katai dari rata-rata tetua terkecil. Hal ini menunjukkan bahwa karakter bobot buah per tanaman pada sangkut-paut silangan IPBT1 x IPBT3 dan IPBT78 x IPBT73. Tabel 6. 33 Aksi gen dan jumlah gen pengendali karakter bobot buah per

tanaman plong tomat Perhubungan

silangan

Potensi

rasio Manuver gen

Total faktor

efektif
Skewness Kurtosis

IPBT1 x IPBT3 3.44 Overdominan 0.04 0.42 -0.11 IPBT78 x IPBT1 0.52 Dominan fragmentaris 0.59 0.56 -0.23 IPBT78 x IPBT73 -5.67 Overdominan 0.08 1.22 2.53

Biji potensi ratio khuluk bobot buah sendirisendiri pokok kayu pada kombinasi persilangan IPB1 x IPBT3 lebih besar bermula 1 yaitu 3.44, sreg perkariban silangan IPBT78 x IPBT1 sebesar 0.52 dan sreg pernah silangan IPBT78 x IPBT73 lebih boncel berpunca -1 yaitu -5.67 (Tabel 6.33). Nilai potensi ratio nan berada pada kisaran 0 setakat 1 berarti bahwa umumnya F1 bertambah besar pecah rata-rata kedua tetua sekadar kian katai dari galibnya tetua dengan bobot buah terberat. Hal ini menunjukkan bahwa karakter bobot biji zakar tiap-tiap pohon sreg kombinasu silangan IPBT78 x IPBT1 dikendalikan maka dari itu operasi gen dominan parsial. Kredit potensi ratio yang makin besar dari suatu berharga lazimnya F1 lebih besar mulai sejak umumnya pasak negeri terberat, sedangkan nilai potensi ratio lebih kerdil berpangkal -1 berfaedah rata-rata F1 lebih boncel dari lazimnya vlek terkecil. Hal ini menunjukkan bahwa karakter bobot buah

95 per tumbuhan puas kombinasi silangan IPBT1 x IPBT3 dan IPBT78 x IPBT73 dikendalikan maka itu aksi gen overdominan (Tabel 6.33). Peristiwa ini menunjukkan bahwa jumlah paling faktor efektif nan terlibat dalam pengendalian karakter bobot buah per tanaman merupakan minimal suatu gen.

Kepribadian bobot buah per tanaman mempunyai
skewness
positif untuk semua nikah silangan dan nilai
kurtosis
berbentuk
mesokurtic
(-3 <
kurtosis
< 3). Nilai potensi rasio karakter bobot buah per tanaman pada kombinasi persilangan IPBT1 x IPBT3 kian osean pecah 1 yaitu 3.44, pada koneksi silangan IPBT78 x IPBT1 sebesar 0.52 dan pada kombinasi silangan IPBT78 x IPBT73 lebih kecil dari -1 merupakan -5.67 (Tabel 6.33). Nilai potensi ratio yang berada pada kisaran 0 sampai 1 bermakna bahwa rata-rata F1 kian ki akbar dari kebanyakan kedua tetua tetapi lebih kecil dari rata-rata tetua dengan bobot buah terberat. Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian bobot buah per pohon plong kombinasu silangan IPBT78 x IPBT1 dikendalikan oleh aksi gen dominan parsial. Kredit potensi ratio yang lebih besar berpangkal suatu berarti rata-rata F1 lebih besar dari rata-rata tetua terberat, sedangkan nilai potensi ratio lebih kecil berasal -1 penting rata-rata F1 lebih boncel dari umumnya tetua terkecil. Peristiwa ini menunjukkan bahwa karakter bobot buah per pohon pada kombinasi silangan IPBT1 x IPBT3 dan IPBT78 x IPBT73. Berdasarkan takrif tersebut maka karakter bobot biji kemaluan per pokok kayu dikendalikan makanya banyak gen dengan manuver gen aditif dengan supremsi epistasis komplementer.

Tabel 6. 34 Uji kecocokan model genetik karakter bobot biji pelir per tanaman pada tomat

Model Genetik IPBT1 x IPBT3
χ
2
IPBT78 x IPBT1 IPBT78 x IPBT73 hit Prob χ2hit

χ2hit

Prob

χ2hit

m d 24.43* 0.000 28.23* 0.000 25.86* 0.000 m dh 20.39* 0.000 21.193* 0.000 14.46* 0.002 m dhi 6.26* 0.043 7.548* 0.023 1.73tn
0.418

m dhj 20.38* 0.000 19.99* 0.000 10.63* 0.004 m dhl  1.157tn 0.561 19.96* 0.000 5.12tn 0.077 m dhij 6.24* 0.013 6.96* 0.008 0.36tn 0.712 m dhil 0.52 tn 0.469 0.87tn 0.352 1.73tn 0.187 m dhjl 0.44tn 0.507 18.18* 0.000 3.83 tn 0.050

χ2
hit:
χ2
hitung (Chi-square);
Prob: Probability sreg taraf α 5%; * paradigma tidak sesuai lega taraf α

5%; tn: acuan sesuai pada taraf α 5%.

Model genetik yang sesuai untuk karakter bobot buah per tanaman pada ikatan silangan IPBT1 x IPBT3 adalah aditif-dominan dengan kekuasaan interaksi dominan x dominan (m[d][h][l]), aditif-dominan dengan supremsi interaksi aditif x aditif dan dominan x dominan (m[d][h][i][l]), dan model aditif- dominan dengan pengaruh interaksi aditif x dominan dan dominan x dominan (m[d][h]j][l]). Teoretis yang sesuai sreg pernah silangan IPBT78 x IPBT1 adalah model aditif-dominan dengan pengaruh interaksi aditif x aditif dan dominan x dominan (m[d][h][i][l]). Model yang sesuai bakal korespondensi silangan IPBT78 x IPBT73 adalah aditif-dominan dengan pengaruh interaksi aditif x aditif (m[d][h][i]), aditif-dominan dengan pengaruh interaksi dominan x dominan (m[d][h][l]), aditif-dominan dengan yuridiksi interaksi aditif x aditif dan aditif x dominan (m[d][h][i][j]), aditif-dominan dengan pengaruh interaksi aditif x aditif

96

dan dominan x dominan (m[d][h][i][l]), dan model aditif-dominan dengan pengaruh interaksi aditif x dominan dan dominan x dominan (m[d][h]j][l]) (Diagram 6.34). Model yang paling sesuai lakukan kombinasi silangan IPBT1 x IPBT3 yaitu interaksi aditif x dominan dan dominan x dominan (m[d][h][j][l]) dan model aditif-dominan dengan pengaruh interaksi aditif x aditif dan aditif x dominan (m[d][h][i][j]) buat kombinasi IPBT78 x IPBT73 karena memiliki χ2hitung lebih

katai berpangkal model nan sesuai lainnya.

Grafik 6. 35 Pendugaan komponen genetik budi bobot buah saban tanaman pada tomat Kombinasi silangan Komponen genetik m D h i j l IPBT1 x IPBT3 1.09* 0.105* -0.65* – -0.138* 1.015* IPBT78 x IPBT1 2.30* 0.21* -1.83* -0.98* – 1.05* IPBT78 x IPBT73 2.11* -0.06tn -0.87* -0.50* 0.32* –

m: angka tengah; d: pengaruh aditif; h: pengaruh dominan; i: pengaruh interaksi aditif x aditif; j: dominasi interaksi aditif x dominan; l: pengaruh interaksi dominan x dominan; tn: tidak farik riil pada taraf ᾰ 5%

Kepribadian bobot buah saban tanaman pada semua populasi silangan memiliki suku cadang aditif dan dominan positif kecuali pada populasi silangan IPBT78 x IPBT73 dengan yuridiksi aditif lain kasatmata (Diagram 6.35). Kontrol dominan bernilai negatif pada semua silangan, yang mengindikasikan bahwa bobot biji zakar per pokok kayu yang bertambah ringan dominan terhadap bobot buah per tanaman nan lebih jarang, yaitu IPBT3 dominan terhadap IPBT1, IPBT1 dominan terhadap IPBT78, dan IPBT78 dominan terhadap IPBT73. Pengaruh aditif dan dominan berlawanan dengan kekuasaan interaksinya cak bagi semua populasi silangan, sehingga persuasi gen yang berkarisma lega besaran biji pelir per tanaman adalah epistasis duplikat.

Karakter jumlah biji zakar per pohon pada populasi silangan IPBT78 x IPBT1 n kepunyaan komponen dominan yang negatif, yang berarti bahwa total biji pelir nan makin cacat (IPBT1) domian terhadap jumlah biji zakar lebih banyak (IPBT78). Pengaruh aditif berlawanan sebelah dengan pengaturan interaksi aditif x aditif sehingga usaha gen yang berpengaruh adalah epistasis duplikat.

Pengaruh aditif dan dominan negatif plong populasi silangan IPBT78 x IPBT73 nan menunjukkan bahwa jumlah buah masing-masing tanaman yang lebih invalid (IPBT78) lebih dominan terhadap jumlah buah yang banyak (IPBT73). Pengaruh aditif dominan berlawanan arah dengan pengaruh interaksinya sehingga aksi gen yang bertambah berpengaruh ialah epistasis duplikat.

Nilai agak heritabilitas kurnia luas berkisar pada sedang sebatas tangga, sedangkan heritabilitas arti sempit minus hingga medium (Tabel 6.36). Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian bobot sendirisendiri buah lebih dikendalikan oleh faktor genetik ketimbang faktor mileu. Perbandingan perbuatan aditif terhadap ragam genetik total tinggi sreg populasi silangan IPT1 x IPBT3 dan IPB78 x IPBT1, nan berarti bahwa yuridiksi adirif lebih osean daripada otoritas dominan. Sreg silangan IP78 x IPB73, proporsi ragam aditif terhadap ulah genetik total tertera sedikit sehingga ragam dominan lebih berwibawa dibanding ragam aditif.

97 Tabel 6. 36 Biji duga heritabilitas arti luas dan heritabilitas manfaat sempit karakter

bobot biji kemaluan per tumbuhan lega tomat

Komponen IPBT1 x IPBT3 IPBT78 x IPBT1 IPBT78 x IPBT73

Ragam P1 0.09 0.07 0.05 Ragam P2 0.06 0.02 0.20 Polah F1 0.13 0.08 0.05 Ulah BCP1 0.21 0.22 0.40 Ragam BCP2 0.11 0.22 0.55 Ragam F2 0.18 0.39 0.52

Heritabilitas kebaikan luas (h2bs) 0.48 0.61 0.80 Heritabilitas arti sempit (h2ns) 0.25 0.49 0.18

(h2ns / h2bs) x 100% 0.52 0.80 0.23

P1: tetua betina; P2: tetua jantan; F1: turunan pertama; BCP1: backcross ke tetua betina; BCP2: backcross ke sesepuh jantan; F2: khalayak kedua.

6.3.7 Simpulan

1. Karakter panjang buah, diameter buah, ukuran biji kemaluan, bobot sendirisendiri buah, kuantitas buah per tumbuhan dikendalikan oleh banyak gen dan bukan ada efek meternal. 2. Derajat dominansi untuk budi panjang biji pelir adalah resesif parsial dan dominan fragmentaris, puas karakter kaliber buah adalah resesif parsial, dominan parsial dan overdominan, pada karakter ukuran buah adalah dominan parsial dan overdominan, pada karakter bobot tiap-tiap buah yakni dominan parsial dan overdominan, lega karakter jumlah biji pelir per tanaman ialah dominan segmental dan plong karakter bobot buah masing-masing pohon merupakan dominan parsial dan over dominan.

3. Aksi gen lakukan kepribadian panjang buah adalah epistasis duplikat dan aditif dominan, bikin karakter garis tengah buah yakni aditif dominan dan epistasis komplementer, epistasis duplikat dan aditif dominan untuk karakter matra buah, epistasis duplikat untuk bobot per biji zakar, jumlah buah per tanaman dan bobot buah per tanaman.

4. Heritabilitas arti luas untuk karakter suku cadang produksi adalah sedang hingga jenjang, heritabilitas arti sempit menengah hingga tinggi dengan proporsi kelakuan aditif terhadap ragam genetik kuantitas tahapan.

98

Daftar Teks

Acquaah G. 2007.
Principles of plant genetiks and breeding.

Inggris (UK): Blackwell Publishing.

Adams SR, Cockshull KE, Cave CRJ. 2001. Effect of Temperature on the Growth and Development of Tomato Fruits.
Annals of Botany. 88: 869-877.

Dordevic R, Zecevic B, Zdravkovic J. 2010. Inheritance of yield components in tomato.
Genetika.
43(3):575-583.

Firon Tepi langit, Shaked R, Peet MM, Pharr DM, Zamski E, Rosenfeld K, Althan L, Pressman E. 2006. Pollen grains of heat tolerant tomato cultivars retain higher carbohydrate concentrations under heat stress conditions.
Sci Hort.

109:212-217.

Hanson PM, Chen J, Kuo G. 2002. Gene action and heritability of high- temperature fruit set in tomato line CL5915.
Hort Sci.
37(1):172-175.

Lande R. 1981. The minimal number of genes contributing to quantitative variation between and within populations.
Genetics.
99:541-553.

Mangoendidjojo W. 2003.
Dasar-dasar Pemuliaan Pokok kayu. Yogyakarta (ID): Kanisius.

Mather SK, Jinks JL. 1982.
Biometrical Genetik. Ed ke-3. London (UK): Chapman and Hall.

Peet MM, Willits DH, Gardner RG. 1997. Responses of ovule development and postpollen production processes in male-sterile tomatoes to chronic, sub- acute high temperature stress.
J Exp Bot. 48: 101-111.

Petr FC, Frey KJ. 1966. Genotypic correlation, dominance, and heritability of quantitative characters in oat.
Crop Sci.
6:259-262.

Purnamaningsih R. 2008. Perakitan Tumbuhan Tomat Partenokarpi untuk Meningkatkan Produksi Tomat Di Dataran Kurang.
Warta Biogen. 4 (2):11- 12.

Purwati E. 2007. Varietas Unggul Harapan Tomat Hibrida (F1) bermula Balitsa.
IPTEK Hortikultura.
3: 34-40.

Roy D. 2000.
Plant breeding: Analysis and exploitation of variation. New Delhi (IN): Narosa Publishing House.

Hewan S, Peet MM, Gardner RG. 2001. Formation of partenocarpic fruit, undeveloped flowers and aborted flowers in tomato under moderately elevated temperatures.
Sci Hort. 90:243-254.

Sharpio SS, Wilk MB. 1965. An analysis of variance test for normality (completed sample).
Biometrika
52:591-611.

Sing RK, Chaudhary BD. 1977.
Biometrical Methods In Quantitative Genetik

Analysis.
New Delhi (IN): Kalyani Publisher.

Syukur M, Sujiprihati S, Yunianti R. 2022.
Teknik Pemuliaan Tanaman. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Tenaya IN, Setiamihardja R, Baihaki A, Natasasmita S. 2003. Heritabilitas dan operasi gen kandungan karbohidrat, kandungan kapsaisin dan aktivitas enzim peroksidase pada hasil persimpangan antar keberagaman lada api x embalau ahmar.
Zuriat.
14(1):26-34.

Wirnas D, Widodo I, Sobir S, Trikoesoemaningtyas Lengkung langit, Sopandie D. 2006. Penyaringan budi agronomi cak bagi menyusun penunjuk seleksi pada 11 populasi kedelai generasi F6.
J Agron Indonesia.
34(1):19-24.

99 Yunianti R, Sastrosumarjo S, Sujiprihati S, Surahman M, Hidayat SH. 2010. Kriteria seleksi untuk perakitan varietas lombok tahan
Phytophthora capsici

Leonian.
J Agron Indonesia.
38(2):122-129

100

7

Eksplorasi PEWARISAN KETAHANAN TOMAT TERHADAP

Source: https://id.123dok.com/article/bobot-buah-tanaman-produksi-dataran-rendah.lzg0xgvq