Bisakah Tanaman Dari Bibit Biji Berbuah Diumur 2 Tahun

PENDAHULUAN

Pemerintah sudah mencanangkan gerakan pertambahan produksi beras kebangsaan (P2BN), Program ini mematok peningkatan  produksi padi sebesar 2 juta ton sejak masa 2007 dan diharapkan rata-rata meningkat sebesar 5% per tahun sreg waktu-tahun  berikutnya (Purwanto. 2008). Untuk mengaras incaran tersebut perlu diimplementasikan beberapa kebijakan. Abduracman (2001) menyatakan bahwa salah suatu upaya dalam peningkatan produksi gabah adalah dengan penerapan budi sentral tumbuhan padi sesuai dengan konsep pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu (PTT) antah sawah, antara lain penggunaan spesies menjuarai baru (VUB) bermutu, pemanfaatan bibit umur taruna, kekuasaan sistem tanam, pengelolaan petak dan air nan tepat, fertilisasi berimbang nan rasional, pengendalian organisme pengganggu tanamam (OPT) sesuai dengan konsep pengendalian hama/keburukan terpadu (PHT).

Bibit merupakan onderdil teknologi produksi yang sangat berharga bagi mendapatkan tingkat produksi nan optimal. Teladan (1982) menyatakan bahwa ekstrak ialah tumbuhan muda yang sangat menentukan cak bagi pertumbuhan tanaman seterusnya. Cak bagi tanaman pari sawah, penggunaan bibit dengan hidup dan jumlah nan tepat wajib diperhatikan. Secara publik nan sering digunakan untuk rekomendasi pada padi sawah merupakan penggunaan bibit umur 21 perian sehabis semai (HSS) dengan jumlah bibit 1-3 batang/rumpun.  Namun demikian masih banyak petani nan menggunakan ekstrak yang berumur kian tua dari 21 HSS, bahkan ada petani yang menggunakan esensi yang telah berumur lebih dari 30 HSS, dengan besaran bibit yang lebih banyak (5-10 jenazah/rumpun). Abdullah
et al., (2000) melaporkan bahwa penggunaan konsentrat antah yang berumur lebih dari 30 HSS dan dengan kuantitas ekstrak yang lebih banyak akan memberikan hasil yang kurang baik, karena bibit nan digunakan relatif tua, sehingga beradaptasi lambat (kejumudan pertumbuhan setelah tanam pindah kian lama), tidak seragam (memiliki anak uang yang tidak kostum), perakaran dangkal sehingga berat memanfaatkan anasir hara yang lebih n domestik. Lebih lanjut menyebabkan tanaman padi tidak bertunas dengan baik setelah tanam pindah. Sebaliknya penggunaan bibit padi yang relatif lebih muda (umur 10-15 HSS) akan membentuk anak uang baru yang bertambah kostum dan aktif, serta berkembang lebih baik, karena bibit yang  muda bertambah berkecukupan beradaptasi dengan mileu yang plonco pasca- tanam bermigrasi (Kartaatmadja dan Fagi, 2000; dan Gani, 2003).

Penanaman bibit dengan kuantitas nisbi lebih banyak (5 – 10 layon/rumpun) menyebabkan terjadinya persaingan (kompetisi) sesama tanaman antah (perlombaan inter spesies) yang sangat berat, terutama dalam kejadian mendapatkan air, zarah hara, CO2, O2, cahaya dan ruang untuk merecup, sehingga pertumbuhan akar menjadi tidak sah. menyebabkan pokok kayu menjadi lemah, mudah rebah dan mudah terserang maka itu hama dan penyakit. Selanjutnya, keadaan tersebut akan mengurangi hasil antah. Sedangkan penggunaan jumlah bibit nan lebih adv minim (1-3 batang/rumpun) menyebabkan; (1) bertambah ringannya sayembara inter keberagaman bagi mendapatkan atom hara, cahaya dan air, (2) dengan kurangnya jumlah bibit yang digunakan akan berbuntut terhadap pengurangan biaya produksi. Musa (2001) melaporkan bahwa pemanfaatan sari umur remaja (10-15 hari) dengan besaran bibit rendah berpunca 5 batang/ rumpun boleh meningkatkan hasil, dur gabah dan beras yang lebih baik (Standard Bulog).

Disamping itu, kenaikan produksi padi kembali dapat dicapai melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) (BB-Gabah, 2009a). Hal ini antara lain didukung oleh tersedianya varietas spirit genjah (VUG) seperti ; Logawa, IR66, Ciherang, Way Apo Boru dan Mekongga, dan varietas nyawa sangat genjah (VUSG) seperti Silugonggo, Inpari 1, dan Dodokan  (BB-Padi, 2009b). Sehubungan dengan eksploitasi VUG dan VUSG tersebut, maka dilakukan pendalaman dengan tujuan bikin memahami yuridiksi umur dan total esensi terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa VUG dan VUSG padi sawah.

Â

Korban DAN METODE

Lokasi, Waktu Eksplorasi, dan Rancangan Percobaan

Riset dilaksanakan di lahan sawah Petani Sitiung Blok A di Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Kegiatan dilaksanakan sejak bulan  Mei sampai  Desember 2009. Lokasi penelitian terletak pada keluhuran
+
200 m diatas meres laut, dengan tipe tanah Podsolik merah Kuning. Perlakuan disusun dalam rencana Petak terpisah (Split-plot) dengan 4 boleh jadi ulangan. Dengan uji Lanjut DNMRT (Duncan New Multiple Range Test). Seumpama tanah terdahulu adalah kombinasi usia dan kuantitas bibit seumpama berikut: (a) kehidupan 10 hari selepas semai dengan 1 batang bibit/rumpun (10 hss, 1 bangkai), (b) umur bibit 20 perian sesudah semaian dengan 3 batang bibit/rumpun (20 hss, 3 kunarpa). Sementara itu momongan petak adalah 4 varietas pari sawah yang terdiri pecah 2 jenis umur genjah (VUG): logawa dan IR 66, dan 2 varietas semangat sangat genjah (VUSG): Silugonggo dan Inpari 1. Luas petakan berukuran 6 x 10 m. Kapling diolah sempurna yaitu dengan 2 siapa tenggala 1 mungkin garu, dan diratakan. Umur dan jumlah ekstrak yang ditanam disesuaikan dengan perlakuan, dengan jarak tanam 25 x 25 cm. Untuk mengatasi keong mas seputar petakan dibuat parit. Perabukan beralaskan hasil amatan hara spesifik lokasi (PHSL) adalah dengan perabukan: 200 kg/ha Urea, 100 kg/ha SP36, dan 75 kg/ha KCl. Seluruh pupuk P (SP36), 50% serat K (37,5 kg/ha KCl) dan 50 kg/ha Urea diberikan kapan tanam. Kemudian 50% rabuk K (37,5 kg/ha KCl) dan 50 kg/ha Urea diberikan plong jiwa 21 periode setelah tanam (HST), seterusnya pupuk Urea diberikan lagi sreg arwah 35 HST dan 49 HST, tiap-tiap sebanyak 50 kg/ha {pemberian urea ini berdasarkan pengamatan bagan warna daun (BWD)}. Penyiangan dilakukan secara manual (siang tangan) sebanyak 2 kali, yaitu pada umur 3 dan 6 minggu sesudah tanam (MST). Pada momen tanam diaplikasikan insektisida Carbofuran sebanyak 17 kg/ha. Pengendalian penyakit blast dengan menggunakan fungisida Fujiwan dengan takaran 2 ml/liter air, sedangkan hama walang sangit dikendalikan dengan insektisida Ripcord dengan takaran aplikasi sebanyak 2 ml/liter air. Belas kasih air dilakukan secara berselang dalam satu perian tanam, yaitu: (a) Bibit ditanam plong kondisi tanah jenuh air, (b) 3-5 hari setelah tanam petakan sawah diairi sekitar 3 cm, kemudian dibiarkan (tidak ada penambahan air), kemudian diairi lagi sreg hari ke 5. Cara pengairan ini berlangsung setakat stadia anak uang maksimum, (c) mulai stadia pembentukan malai sampai pengisian kredit petakan sawah digenangi sejajar 3 cm, dan (d) petakan sawah dikeringkan sekitar 10 hari sebelum pengetaman.

Pengamatan dilakukan terhadap analisis tanah tadinya cak bagi menentukan takaran perabukan. Pertumbuhan tanaman pada stadia vegetatif aktif (meliputi; tinggi pokok kayu, besaran anakan,dan kehijauan daun dengan memperalat BWD) tinggi tanaman momen pengetaman, suku cadang hasil (besaran malai, kuantitas biji per malai, persentase padi bernas, dan bobot 1.000 biji), hayat berbunga, umur pengetaman, dan hasil gabah kering (KA.14%).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Kajian Kapling

Hasil analisis pola tanah lokasi penellitian sreg kedalaman lapisan olah (0-25 cm) sebelum pelaksanaan percobaan (Diagram 1) menunjukkan bahwa beralaskan kriteria hasil kajian kapling di laboratorium menurut Harjowigeno (1992) terbantah bahwa tanah lokasi penelitian tergolong masam, baik berdasarkan pH-H2Udara murni (pH = 5,20) maupun bersendikan pH KCl (pH = 4,76).

Tabel 1. Hasil analisis model tanah sebelum kegiatan di lokasi pengkajian di sawah

petani Blok A. di Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya.MH.2009.

Â

Sifat Ilmu pisah Tanah

Nilai

Kriteria*)

pH (H2O)

pH (KCl)

C-organik (%)

N-total (%)

C/N

P2O5
Bray I (ppm)

P2O5
(sari HCl 25%)

K2O (bibit HCl 25%)

K-dd (me/100 g)

Al-dd (me/100 g)

Ca-dd (me/100 g)

Mg-dd (berpenyakitan/100 g)

Na-dd (me/100 g)

KTK (me/100 g)

Fe (ppm)

5,20

4,76

2,94

0,13

22,62

19,72

26,48

11,76

0,98

0,6

10,21

1,67

1,69

17,91

434

Masam

Masam

Sedang

Rendah

Tahapan

Rendah

Rendah

Rendah

Rendah

Terbatas

Sedang

Sedang

Sedang

Madya

Lampau Tinggi

*) Kriteria menurut Harjowigeno. 1992.

Â

Beberapa sifat kimi tanah lainnya seperti kandungan C-organik, kodrat Ca-dd, Mg-dd, dan KTK tergolong sedang. Takdir Kaki langit-total tergolong rendah dan nisbah C/N tergolong tinggi. Kadar P2O5
bersendikan Bray I maupun dengan esensi HCl 25% tergolong rendah. Qada dan qadar K2Ozon (ekstrak HCl 25%) dan takdir K-dd sekali lagi tergolong adv minim, Padahal suratan Fe tergolong sangat strata.  Berdasarkan hasil analisis pola tanah tersebut dan dikaitkan dengan tata hara tunggal lokasi (PHSL) plong pendirian penyelenggaraan tumbuhan terpadu (PTT) padi sawah, maka ditetapkan takaran kerjakan pemupukan P dan K yang semestinya diberikan lega persil pertanaman padi tersebut, yaitu per sebanyak 100 kg/ha SP36 dan 75 kg/ha KCl. Padahal rahmat pupuk N (Urea) diaplikasikan sebanyak 50 kg/ha Urea bersamaan dengan belas kasih serabut SP36 dan KCl. Sedangkan belas kasih Cakrawala (Urea) susulan berikutnya berdasarkan hasil pembacaan tulangtulangan warna patera (BWD). Berpunca hasil pengamatan tersebut, pemberian Urea susulan dilakukan 3 kali lagi, masing-masing diaplikasikan sebanyak 50 kg/ha Urea pron bila pohon berusia 21 HST, 35 HST dan 49 HST.

Pertumbuhan Tanaman

Data puas Tabel 2 menunjukkan bahwa umumnya hasil pengamatan tinggi  tanaman padi pada atma 35 HST menunjukkan bahwa rata-rata tinggi pohon kerjakan semua keberagaman yang diuji,  baik terhadap VUG (Logawa dan IR66) ataupun terhadap VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) enggak berlainan maujud sreg masing-masing perlakuan umur dan total pati sendirisendiri rumpun tanam (Tabel 2). Namun demikian, rataan hierarki tanaman berlandaskan perlakuan nasib dan jumlah ekstrak menunjukkan perbedaan nyata. Nilai rata- rata pangkat tanaman dengan umur bibit 20 HSS, 3 batang/rumpun nyata makin tahapan dibanding dengan spirit sari 10 HSS, 1 buntang/rumpun. Hal ini disebabkan dengan menanam esensi yang lebih lanjut usia (20 HSS) pasti bibitnya bertambah janjang dibanding dengan spirit pati yang makin muda (10 HSS). Disamping itu, menanam bibit dengan jumlah yang nisbi lebih banyak (3 batang/rumpun) sekali lagi menunda pertumbuhan tanaman bertambah tinggi dibanding dengan tanam 1 buntang/rumpun. Hal ini disebab pada kuantitas bibit yang lebih banyak (3 batang/rumpun) tersebut masih terjadi kompetisi inter spesies diantara pokok kayu padi, sedangkan yang ditanam 1 batang/rumpun tak terjadi kompetisi tersebut, sehingga lebih mendorong pertumbuhan kearah samping atau memperbanyak jumlah anakan. Menurut Gani (2002) pendayagunaan ekstrak tanaman padi umur akil balig menyebabkan pati tersebut makin cepat beradaptasi dengan lingkungan tumbuh, mempunyai perakaran yang lebih baik dan n domestik, sehingga lebih efektif memanfaatkan hara dan dapat bersemi lebih baik. Selanjutnya Balitpa Sukamandi (2003) juga melaporkan bahwa penggunaan bibit padi sawah umur muda (10-12 hari) akan menjorokkan pertumbuhan akar susu lebih dalam sehingga tumbuhan tahan kejut-kejut dan tahan kekeringan.

Hal yang relatif sebagai halnya tangga tanaman pada umur 35 HST tersebut pula terbantah terhadap kuantitas anakan. Data pada Tabel 2. juga menunjukkan bahwa penggunaan bibit hayat 20 HSS, 3 batang/rumpun dengan VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) alias dengan VUG (Logawa dan IR66) memberikan jumlah anak uang nan faktual bertambah banyak dibanding  dengan penggunaan bibit umur 10 HSS, dengan total bibit 1 mayit/rumpun. Hal ini disebabkan bahwa sampai dengan waktu pengamatan umur 35 HST pendayagunaan pati sebanyak 3 bangkai/rumpun pasti akan mengasihkan jumlah rente yang kian banyak dibanding dengan penanaman bibit sebanyak 1 batang sendirisendiri rumpun.  Sementara itu biasanya jumlah rente untuk setiap kelompok diversifikasi, baik VUG (Logawa dan IR66) maupun VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) pada masing umur dan jumlah bibit nan digunakan relatif tidak berbeda.

Â

Tabel 2.  Pengaturan umur dan jumlah bibit per rumpun tanam terhadap Pangkat pokok kayu,

jumlah anakan dan pembacaan BWD (sukma 35 HST) pada VUG dan VUSG

pari sawah di Sitiung, Kab.Dharmasraya, MH.2009.

Perlakuan

Pertumbuhan pokok kayu

Umur dan Kuantitas bibit

Jenis

Panjang tanaman

(cm)

Besaran anak uang

(buntang/m2)

Pembacaan BWD

10 HSS,1 batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

37,7 b

38,5 b

39,3 ab

38,5 b

171,2 b

163,2 b

171,5 b

180,8 b

3,67

3,54

4,10

3,83

Parasan


38,5 B

171,6 B

3,79

20 HSS,3 batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

42,9 a

43,7 a

43,3 a

41,2 ab

212,8 a

202,4 a

204,8 a

203,2 a

3,55

3,75

3,50

3,90

Satah


42,8 A

205,8 A

3,68

Poin selajur diikuti oleh lambang bunyi nan proporsional tak berbeda positif menurut uji DNMRT 5%.

Siaran: VUG   = Logawa dan IR 66

VUSG = Silugonggo dan Inpari 1

Hasil pembacaan bagan dandan daun (BWD) pada umur 35 HST menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil pembacaan BWD antara VUG dan VUSG dengan berbedanya umur dan jumlah bibit yang digunakan. Berlandaskan hasil pembacaan BWD pada nyawa 35 HST tersebut, maka diperlukan pemberian pupuk Horizon (urea) susulan sebanyak 50 kg/ha. Hasil pengamatan yang setimpal juga terjadi pada umur 21 HST dan 49 HST.

Perlakuan nyawa dan jumlah sari menunjukkan bahwa rata-rata umur berbunga dan umur pengetaman dengan umur ekstrak 20 HSS 3 batang/rumpun lebih cepat empat hari dibanding dengan penggunaan bibit umur 10 HSS 1 batang/rumpun. Tetapi, bila hayat tanaman dihitung sejak benih tiba disemaikan, maka penggunaan pati umur 10 HSS 1 batang/rumpun boleh mengulangulang tanaman semenjak, atau panen, rata-rata 6 (enam) musim makin cepat dibanding dengan penggunaan bibit hayat 20 HSS 3 kunarpa/ rumpun (Tabel 3). Gani (2002) dan Dipertahorti (2003) melaporkan bahwa dengan menggunakan bibit yang muda akan mempersingkat waktu stagnasi esensi di lapangan,  sehingga umur berbunga dan umur panen dapat lebih dipercepat dibanding dengan penggunaan bibit yang lebih renta. Hal ini disebabkan pengusahaan bibit dengan spirit akil balig (10 HSS) mempunyai tingkat adaptasi yang lebih cepat dibanding dengan yang lebih tua (20 HSS). Disamping itu, pengusahaan bibit sebanyak 1 batang/rumpun menerimakan jumlah anakan yang nisbi lebih homogen dibanding dengan memperalat bibit sebanyak 3 batang/rumpun, sehingga dengan tingkat keseragaman pohon yang nisbi lebih baik tersebut menyebabkan umur berbunga dan panen juga relatif lebih cepat dan kian kostum.

Sampai dengan pengamatan umur 35 HST tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap tangga tanaman antar VUG (Logawa dan IR66) dengan VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) untuk setiap umur dan besaran bibit. Namun demikian, hasil pengamatan pangkat tanaman pada saat panen menunjukkan perbedaan nan nyata antar VUG maupun VUSG yang diuji. Data menunjukkan bahwa VUG (Logawa dan IR66) cenderung lebih tingkatan dibanding dengan VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) (Diagram 3).  Perbedaan tinggi pokok kayu ini sangat tersapu dengan kebiasaan/kharakteristik tiap-tiap varietas yang di uji tersebut. Setara halnya dengan hasil pengamatan roh 35 HST, bahwa biasanya tingkatan tumbuhan pari nan ditanam dengan umur ekstrak 20 HSS 3 mayat/rumpun aktual makin tinggi dibanding dengan varietas padi yang ditanam dengan umur pati 10 HSS 1 batang/rumpun. Kejadian ini disebabkan pertanaman bibit yang lebih muda (10 HSS) sebanyak 1 bangkai/rumpun ogok pertumbuhan yang cenderung berleleran, terutama untuk pembentukan anakan yang makin banyak, sedangkan bila spirit bibit yang kian tua (20 HSS, 3 batang/rumpun) menyerahkan pertumbuhan yang memfokus makin meninggi, karena populasi tanam yang bertambah padat dibanding dengan sari 1 batang. Disamping itu, pada saat tanam umur bibit yang lebih tua (20 HSS) juga lebih tahapan dibanding dengan usia bibit muda (10 HSS).

Â

Tabel 3.  Supremsi umur dan jumlah pati tiap-tiap rumpun tanam terhadap hayat berbunga,

umur panen dan tahapan pohon saat panen pada VUG dan VUSG padi sawah

di Sitiung, Kab.Dharmasraya, MH.2009.

Â

Perlakuan

Vitalitas Bersumber

(hari)

Vitalitas Panen

(hari)

Tinggi Tanaman  Ketika panen

(cm)

Â

Umur dan Kuantitas bibit

Varietas

10 HSS,1 batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

81

78

73

75

117

108

100

102

95,5 a

92,8 ab

81,4 c

86,3 b

Meres

76,7

107

89,8 B

20 HSS,3 batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

77

75

69

72

113

104

96

99

98,2 a

93,2 ab

88,1 b

93,0 ab

Rataan

73,2

103

93,1 A

Angka selajur diikuti maka itu huruf yang selevel tidak berbeda nyata menurut uji DNMRT 5%.

Keterangan: lihat Tabel 2.

Suku cadang Hasil

Perbedaan usia dan jumlah bibit menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap parasan total poin per malai dan persentase gabah bernas, tetapi tidak berkarisma kasatmata terhadap jumlah malai dan bobot 1.000 biji. Namun demikian, penggunaan bibit sukma 20 HSS 3 jenazah/rumpun memberikan parasan besaran poin per malai VUG dan VUSG yang lebih tataran dibanding dengan penggunaan bibit umur 10 HSS 1 batang/rumpun.  Data lega Tabel 4. menunjukkan bahwa penggunaan VUG (Logawa dan IR66) cenderung meningkatkan besaran malai per rincih luas tanam dengan umur sari 1 batang/rumpun, sedangkan penggunaan bibit nan lebih tua (20 HSS, 3 kunarpa/rumpun)  mengurangi jumlah malai per satuan luas tanam. Situasi sebaliknya terlihat bila digunakan VUSG (Silugonggo dan Inpari 1). Kejadian ini menunjukkan bahwa pendayagunaan VUG (Logawa dan IR66) lebih baik ditanam dengan atma sari yang bertambah mulai dewasa (10 HSS, 1 bangkai/rumpun).  Sedangkan bila digunakan VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) akan memberikan kuantitas malai yang banyak bila ditanam plong umur bibit 20 HSS, 3 kunarpa/rumpun. Peristiwa yang relatif sama sekali lagi terlihat terhadap jumlah biji per malai.

Berlandaskan umur dan kuantitas esensi nan digunakan terlihat bahwa persentase pari bernas tertinggi (85,2%) didapatkan dengan menggunakan bibit umur 10 HSS 1 batang/rumpun dan berlainan nyata dibanding dengan eksploitasi ekstrak nyawa 20 HSS 3 batang/rumpun. Berdasarkan  varietas nan digunakan terlihat bahwa pendayagunaan VUG (Logawa dan IR66) cenderung memasrahkan persentase gabah ki berjebah yang lebih strata dengan penghutanan esensi nyawa 10 HSS 1 bangkai/rumpun.  Sedangkan penggunaan VUSG Silugonggo dan Inpari 1 kembali menunjukkan persentase antah bernas nan tahapan pada  umur bibit 10 HSS 1 batang/rumpun,  masing-masing 86,5% dengan VUSG Silugonggo dan 81,9% dengan VUG Inpari 1.  Musa (2001) juga melaporkan bahwa antah sawah tanam pindah dengan sari akil balig (umur 10-15 HSS) meningkatkan kualitas gabah nan dihasilkan, dengan meningkatnya persentase gabah berlimpah dan bobot 1.000 biji. Persentase gabah bernas  terrendah (77,6%) tertentang sreg VUSG Inpari 1 dengan kehidupan bibit 20 HSS 3 batang/rumpun.  Lebih banyaknya jumlah malai dan jumlah pari per malai serta tingginya persentase gabah subur dengan total bibit
<
3 batang per rumpun  disebabkan kurangnya sayembara antar tanaman antah dalam mendapatkan partikel hara dan cahaya, sehingga tumbuhan dapat tumbuh lebih baik dan menerimakan keragaan komponen hasil yang baik (Gani, 2002., dan Balitpa Sukamandi 2003).

Perbedaan gabungan umur dan kuantitas bibit yang digunakan bukan berwibawa nyata terhadap ponten rataan bobot 1.000 biji. Lebih jauh terlihat pada setiap VUG (Logawa dan IR66) atau VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) yang digunakan (Diagram 4). Data pada Tabel 4. menunjukkan bahwa masing-masing varietas baik pada VUG (Logawa dan IR66) maupun lega VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) memperlihatkan bobot 1.000 biji yang berbeda. Dengan VUG Logawa mengasihkan bobot 1.000 biji tertinggi (28,5 g), kemudian diikuti oleh VUSG Inpari 1 (26,8 g), dan VUG IR66  (25,2 g), sedangkan bobot 1.000 biji terrendah  sreg VUSG Silugonggo. Dengan demikian, perbedaan bobot 1.000 poin ini kian ditentukan oleh aturan/karakteristik tiap-tiap varietas yang digunakan.

Â

Grafik 4.  Pengaruh atma dan jumlah bibit per rumpun tanam terhadap komponen hasil

lega VUG dan VUSG padi sawah di Sitiung, Kab.Dharmasraya, MH.2009.

Â

Perlakuan

Jumlah malai

(malai/m2)

Jumlah kredit

per-malai

(ponten/malai)

Persentase kaya

(%)

Bobot

1.000 biji

(g)

Umur dan Jumlah sari

Spesies

10 HSS,1batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

286 a

264 ab

231 b

242 b

102,3 b

101,8 b

91,7 c

96,8 bc

87,0 a

85,5 ab

86,5 a

81,9 b

28,5 a

26,2 bc

25,2 c

26,8 b

Rataan

257,8 A

98,2 B

85,2 A

26,7 A

20HSS,3 batang

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

249 b

240 b

283 a

278 a

106,5 ab

113,8 a

101,3 b

98,5 bc

82,2 b

80,3 bc

77,6 c

79,9 bc

27,6 ab

26,5 bc

25,7 bc

27,7 ab

Satah

262,5 A

105,0 A

80,0 B

26,9 A

Angka selajur diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda positif menurut uji DNMRT 5%.

Amanat: lihat Tabel 2.

Hasil Antah Tandus

Perbedaan umur dan jumlah bibit nan digunakan tidak berpengaruh riil terhadap rata-rata hasil pari kering (KA.14%) VUG (Logawa dan IR66) dan VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) yang digunakan. Namun demikian, data pada Tabel 5. menunjukkan bahwa penggunaan hayat pati 10 HSS 1 jenazah/rumpun memberikan hasil yang lebih tinggi terhadap kedua VUG yang diuji, masing-masing 6,79 t/ha dengan VUG Logawa, dan 6,48 ufuk/ha dengan VUG IR66. Tingginya hasil gabah sangar nan didapatkan, terutama disebabkan terdapatnya kontribusi nan nyata  berasal beberapa komponen hasil seperti jumlah malai persatuan luas tanam, persentase gabah bernas, dan bobot 1.000 nilai (Table 4). Keadaan ini, sesuai dengan tingkat hasil nan dicapai seperti yang telah dilaporkan oleh Gani (2002), dan Balitpa Sukamandi (2003).  Sebaliknya terjadi puas kedua VUSG yang diuji, dimana kedua VUSG tersebut menyerahkan hasil yang tinggi dengan umur bibit 20 HSS 3 jenazah/rumpun, masing-masing 6,19 n/ha dengan VUSG Silugonggo dan 5,88 cakrawala/ha dengan VUSG Inpari 1.

Â

Diagram 5.  Yuridiksi umur dan besaran bibit per rumpun tanam terhadap hasil gabah

sangar (KA.14%) pada VUG dan VUSG antah sawah di Sitiung, Kabupaten

Dharmasraya, MH.2009.

Â

Perlakuan

Hasil Gabah

Pada KA.14%)

(t/ha)

Umur dan Jumlah bibit

Varietas

10 HSS,1 layon

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

6,79 a

6,48 ab

4,58 d

4,92 cd

Rataan

5,69 A

20 HSS,3 mayat

Logawa

IR66

Silugonggo

Inpari 1

5,47 bc

5,33 bc

6,19 ab

5,88 b

Bidang

5,72 A

Angka selajur diikuti maka dari itu leter nan sama tidak berbeda nyata menurut uji DNMRT 5%.

Keterangan: lihat Tabel 2.

Â

Penali DAN SARAN

Pecah hasil riset ini bisa dikemukakan beberapa konklusi dan saran laksana berikut:

Penali

  1. Pemakaian bibit umur 10 HSS 1 bangkai/rumpun meningkatkan total malai VUG (Logawa dan IR66) per satuan luas tanam. Sedangkan bikin VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) peningkatan jumlah malai per satuan luas tanam dicapai dengan menggunakan bibit umur 20 HSS 3 buntang/rumpun.
  2. Jumlah angka per malai cenderung kian tinggi dengan menggunakan bibit umur 20 HSS 3 kunarpa/rumpun, baik dengan VUG (Logawa dan IR66) ataupun VUSG (Silugonggo dan Inpari 1). Sedangkan persentase gabah berharta yang tinggi didapatkan dengan menggunakan bibit kehidupan 10 HSS 1 batang/rumpun pada kedua VUG dan VUSG yang diuji.
  3. Berlandaskan umur sperma yang digunakan, maka penggunaan bibit umur 10 HSS 1 jenazah/rumpun dapat mempersingkat waktu berpokok dan nasib panen lazimnya selama 6 hari dibanding dengan penggunaan bibit umur 20 HSS 3 batang/ rumpun.
  1. Penggunaan VUG (Logawa dan IR66) dengan usia bibit 10 HSS 1 jenazah/ rumpun menerimakan hasil yang panjang, masing-masing 6,79 n/ha dengan VUG Logawa, dan 6,48 t/ha dengan VUG IR66.  Sedangkan penggunaan  kedua VUSG memberikan hasil yang panjang dengan spirit ekstrak 20 HSS 3 batang/rumpun, masing-masing 6,19 t/ha dengan VUSG Silugonggo dan 5,88 cakrawala/ha dengan VUSG Inpari 1.

Saran

  1. Bagi mendapatkan hasil yang optimal disarankan pengunaan kedua VUG (Logawa dan IR66) semoga ditanam dengan hidup konsentrat mulai dewasa (10 HSS 1 buntang/rumpun), sedangkan bagi kedua VUSG (Silugonggo dan Inpari 1) sebaiknya mengguna- cerek arwah bibit 20 HSS 3 mayit/rumpun.



Daftar pustaka

Abduracman, A., Irsal las, A. Hidayat, dan E. Pasandaran, 2001. Optimalisasi sumberdaya lahan dan air cak bagi pembangunan pertanian pohon pangan. Dalam. A. Makarim.K (Eds). Tonggak Kemajuan Teknologi Produksi Pangan. Puslitbangtan, Badan Litbang Persawahan, p.28-44.

Abdullah, S. R. Munir, Z. Hamzah, S. Zen, dan A. Kanufi. 2000. Laporan tahunan hasil pengkajian intesifikasi padi sawah dalam komplet labor lapang. Balairung Penggalian Teknologi Pertanaman Sukarami. 116 hal.

Balairung Riset Tanaman Pari (Balitpa) Sukamandi. 2000. Kinerja Eksplorasi, Balai Penelitian Tanaman Padi. Mangsa Berapit Kerja Jasad Litbang Pertanian, 22-24 Mei 2000 di Cisarua, Bogor.

Auditorium Besar Penelitian Pohon Padi (BB Padi) Puslitbangtan, Balitbangtan.  2009a. Pedoman Umum Peningkatan Produksi Padi Melalui Pelaksanaan IP Padi 400, 34 hal.

Balai Besar Pendalaman Tumbuhan Padi (BB-Padi). 2009b. Deskripsi Varietas Antah (Draft). Jasad Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. 91 hal.

Dinas Persawahan Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dipertahorti) Sumbar, 2003. Sistem Intensifikasi Padi. Northern Sumatera Irrigated Agriculture Sector Project (NSIASP) Part B.

Dirjen Pokok kayu Jenggala. 2007. Rencana operasional peningkatan suplemen produksi beras 2 miliun ton tahun 2007. Makalah disampaikan lega Sanggar kerja P2BN, Balai Segara Penyelidikan Padi Sukamandi, Maret 2007.

Gani, A. 2003. Sistem Intensifikasi Padi (System of Rice Intensification) Pedoman Praktis Bercocok Tanam Padi Sawah dengan Sistem SRI. 6 hal.

Hajowigeno, S. 1992. Guna-guna Tanah. PT. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta 231 hal.

Kamil. J. 1982. Teknologi Benih, Penerbit Angkasa Raya, Padang Sumatera Barat, Indonesia, 2 32 hal.

Kartaatmadja, S. dan A. M. Fagi. 2000. Pengelolaan Tanaman Terpadu, Konsep dan Penerapan. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Jenggala IV. Peristiwa. 75-89.

Musa, S. 2000. Program pengembangan komoditi serealia. Makalah disampaikan puas pertemuan regional peningkatan produksi tumbuhan pangan distrik barat. Direktorat Jenderal Produksi Pohon Alas, Bukittinggi, 19-21 September 2000.

Purwanto.S. 2008. Implementasi kebijakan cak bagi pencapaian P2BN).
Dalam.
B. Suprihatno
et al.
(Eds). Hasil-Studi Padi Menunjang P2BN. Prosid. Seminar Sanjungan (Buku I), Balai Besar Penelitian Tumbuhan Pari, Badan Litbang Persawahan. p.9-37.


Source: http://sumbar.litbang.pertanian.go.id/index.php/publikasi/karya-ilmiah-peneliti-dan-penyuluh/695-pengaruh-umur-dan-jumlah-bibit-pada-padi-sawah-varietas-umur-genjah-vug-dan-sangat-genjah-vusg-di-sitiung