Biografi Abu Bakar Ash Shiddiq

Abuk Bakar
أبو بكر
Ash-Shiddiq
Rashidun Caliph Abu Bakr as-Șiddīq (Abdullah ibn Abi Quhafa) - أبو بكر الصديق عبد الله بن عثمان التيمي القرشي أول الخلفاء الراشدين.svg

Abu Bakar Ash-Shiddiq
radhiallahu ‘anhu

Khalifah Kekhalifahan Rasyidin Ke 1
Berkuasa 8 Juni 632 – 23 Agustus 634
(2 tahun, 77 hari)
Penerus ‘Umar polong Khattab
Lahir 27 Oktober 573
Makkah, Tanjung Arab
Wafat 23 Agustus 634
Madinah, Ancol Arab
Pemakaman

Masjid Nabawi, Madinah

Suku Quraisy (Bani Taim)
Keunggulan dan tanggal periode
Khulafaur Rasyidin: 632–634
Ayah Abu Quhafah ‘Utsman
Ibu Salma binti Shakhar
N antipoda
  • Qutailah binti Abdul Uzza
  • Ummu Ruman binti Amir
  • Asma’ binti Umais
  • Habibah binti Kharijah
Anak asuh Putra

  • Abdullah
  • ‘Abdurrahman
  • Muhammad

Putri

  • Asma’
  • Aisyah
  • Ummu Kultsum
Agama Islam

Abdullah polong Abu Quhafah
(bahasa Arab:
عبد الله بن أبي قحافة‎; 573 – 23 Agustus 634/21 Jumadil Akhir 13 H) atau yang kian dikenal dengan
Bubuk Bakar Ash-Shiddiq
(bahasa Arab:
أبو بكر الصديق‎), adalah keseleo satu pemeluk Selam mulanya, salah satu sahabat utama Rasul, dan khalifah pertama yang di-bai’at sepeninggal Utusan tuhan Muhammad wafat. Melalui putrinya, Aisyah, Abu Bakar yaitu ayah mertua Rasul Muhammad.[1]
[2]
Ash-Shiddiq
yang merupakan julukan Nabi Muhammad kepada Abu Bakar merupakan salah satu gelar yang paling melekat padanya.
[butuh rujukan]

Bersama ketiga penerusnya, Abu Bakar dimasukkan ke dalam kerubungan
Khulafaur Rasyidin.[3]

Sebagai riuk seorang pemeluk awal Islam,[4]
Abu Bakar mutakadim menjeput berbagai peran raksasa. Melalui ajakannya, Abu Bakar berhasil mengislamkan banyak sosok yang di kemudian perian menjadi tokoh-tokoh terdahulu privat sejarah Islam, di antaranya adalah ‘Utsman kacang ‘Affan nan kemudian menjadi khalifah ketiga. Abu Bakar juga timbrung serta dalam berbagai perang seperti Perang Badar (624 M/2 H) dan Perang Uhud (625 M/3 H).
[butuh rujukan]

Kekariban dan kesetiaannya plong Rasul Muhammad yakni satu keadaan yang sangat melekat sreg diri Abuk Bakar, utamanya tertentang saat mendampingi Nabi Muhammad hijrah ke Madinah dan kepatuhannya intern menerima keputusan Nabi dalam Perjanjian Hudaibiyah, meski banyak sahabat Nabi kala itu enggak memufakati perjanjian tersebut karena dipandang berat sebelah.
[penis rujukan]

Serbuk Bakar dinyatakan sebagai khalifah sepeninggal Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Abu Bakar menjadi khalifah pertama umat Islam yang menjadi awal dari Kekhalifahan Rasyidin.
[butuh rujukan]

Perian kekuasaannya nan singkat, dipusatkan pada pemadaman peperangan kaki-tungkai Arab yang menolak tunduk pada Serdak Bakar.[5]
Dalam memerintah, Serdak Bakar berusaha memperlainkan kebijakan yang tidak farik dengan Nabi Muhammad, seperti penolakannya untuk mencopot Khalid bin Walid dari kedudukannya sebagai panglima.
[titit rujukan]

Logo dan silsilah

[sunting
|
sunting sumber]

Nama lengkap Debu Bakar adalah ‘Abdullah bin ‘Utsman bin Amir polong Amru kedelai Ka’ab kacang Sa’ad kedelai Taim bin Murrah kedelai Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik polong An-Nadhar, dan ia bernama Quraisy bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah kedelai Ilyas polong Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan at-Taimi al-Qurasyi.[6]
[7]

Beradu nasabnya dengan Nabi Muhammad pada kakeknya yang bernama Murrah kedelai Ka’ab[8]
dan ibu dari Serbuk Bakar adalah Ummu al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir polong Ka’ab bin Sa’ad bin Taim yang berarti ayah dan ibunya sama-sekelas dari kabilah Anak laki-laki Taim.[3]

Nama lugu Abu Bakar tidak tentu dan sumber mempertanyakan Abdullah, Abdul Ka’bah dan Atiq sebagai namanya.[9]

Nabi memberinya gelar yaitu
Ash-Shiddiq
(artinya ‘yang bersabda moralistis’) sesudah Bubuk Bakar menasdikkan situasi Isra Mi’raj yang diceritakan Rasul kepada para pengikutnya, sehingga ia makin dikenal dengan cap “Serdak Bakar ash-Shiddiq”.
[butuh rujukan]

Semangat tadinya

[sunting
|
sunting sumber]

Bubuk Bakar lahir di kota Makkah sekeliling tahun 573 (tahun kedua berbunga tahun gajah[3]), bersumber keluarga berkecukupan internal Anak lelaki Taim dari suku Quraisy.[10]
Abu Bakar menghabiskan masa kecilnya seperti anak Arab pada zaman itu di antara suku Badui nan menyebut diri mereka dengan nama Ahl-i-Ba’eer atau rakyat gamal.
[ceceh rujukan]

Puas periode kecilnya, Abu Bakar sering sekali bertindak dengan dengan unta dan embek, dan kecintaannya terhadap unta inilah yang memberinya nama “Tepung Bakar” yang berarti, bapaknya unta.[11]

Ketika umurnya berumur 10 tahun, Abu Bakar pergi ke Suriah bersama ayahnya dengan kafilah dagang. Nabi Muhammad nan kapan itu berumur 12 tahun juga bersama kontingen tersebut. Pada musim 591, Debu Bakar nan pada saat itu berusia 18 tahun menghindari bagi berwarung, berprofesi sebagai pedagang kain yang memang telah menjadi menggandar batih.
[butuh rujukan]

Dalam tahun-tahun mendatang Tepung Bakar belalah sekali berjalan dengan kafilahnya. Perjalanan kulak membawanya ke Yaman, Suriah dan sejumlah ajang lainnya. Pengelanaan bisnis inilah yang membuatnya semakin berkecukupan dan semakin berpengalaman dalam berkedai.
[butuh rujukan]

Bisnisnya semakin berkembang, mempengaruhi harga diri sosial Tepung Bakar. Sungguhpun ayahnya Abu Quhafah Utsman masih hidup, Bubuk Bakar diakui andai majikan sukunya.
[butuh rujukan]

Sama dengan anak-anak bukan dari keluarga musafir Makkah yang kaya, Duli Bakar adalah orang terpelajar (bisa menulis dan membaca) dan dia menyukai puisi. Serdak Bakar rata-rata menghadiri pameran tahunan di Ukaz dan timbrung berpatisipasi n domestik simposium puitis.
[penis rujukan]

Ia mempunyai ingatan yang bagus dan pemahaman yang baik mengenai silsilah maupun asal usul suku-tungkai Arab, sejarah dan pula politik mereka.[12]

Sebuah kisah ketika Abu Bakar masih katai, ayahnya membawanya ke Ka’bah, dan mempersunting Abu Bakar berdoa kepada berhala. Pasca- itu ayahnya pergi untuk menggapil urusan bisnis lainnya, pergi Abu Bakar sendirian dengan kultus-fetis tersebut. Abu Bakar tinggal sembahyang kepada berhala, “Ya Tuhanku, aku sedang membutuhkan pakaian, berikanlah kepadaku pakaian”. Kultus tersebut tetap acuh tak acuh enggak menanggapi permintaan Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar berdoa kepada berhala lainnya dan mengatakan “Ya Illah, berikanlah aku lambung yang legit, lihatlah aku dahulu lapar”. Berhala itu masih tidak mengasihkan jawaban apapun dan mau tak mau. Melihat permintaannya tidak dikabulkan, kesabaran Abu Bakar habis suntuk mengangkat sebuah provokasi dan berkata kepada berhala tersebut. “Di sini saya menengah mengangkat bujukan dan akan mengarahkannya kepadamu, kalau ia memang almalik, maka lindungilah dirimu koteng”. Serdak Bakar suntuk menabrakkan perahu provokasi tersebut ke arah fetis dan meninggalkan Ka’bah. Setelah itu, Abu Bakar enggak pernah lagi datang ke Ka’bah untuk menyembah pujaan-berhala di Ka’bah.[13]

Ciri Tubuh

[sunting
|
sunting sumber]

Anda berkulit asli, bertubuh kurus, berambut lebat, tampak kurus wajahnya, dahinya muncul, dan ia sering memakai hinaa dan katm.

Memeluk Islam

[sunting
|
sunting sumber]

Setelah kembali dari penjelajahan niaga dari Yaman, Serbuk Bakar diberi adv pernah oleh teman-temannya bahwa ketika sira tidak berada di Makkah, Muhammad menyatakan dirinya bahwa beliau adalah seorang utusan Yang mahakuasa. Ibnu Jarir ath-Thabari, ahli ahli sejarah muslim yang paling populer, dalam bukunya
Sanat ath-Thabari
mengutip perkataan dari Muhammad kacang Sa’ad bin Abi Waqqash, yang mengatakan:

Sunni dan Syi’ah mempertahankan pendapat mereka bahwa bani adam kedua yang secara terang-terangan memufakati Muhammad sebagai utusan Allah adalah Ali bin Abi Thalib, dan makhluk yang permulaan adalah Khadijah.[15]

Anak laki-laki Katsir dalam bukunya
Al-Bidayah wan Nihayah
memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapat di atas. Dia berpendapat bahwa wanita yang pertama barangkali ikut Islam merupakan Khadijah. Zaid kedelai Haritsah adalah budak pertama yang masuk Selam. Ali bin Abi Thalib adalah anak katai pertama yang masuk selam karena pada perian kamu timbrung Islam, Ali belum dewasa puas waktu itu. Adapun laki-junjungan dewasa yang bukan budak yang mula-mula siapa masuk selam yaitu Abu Bakar.[16]

Dalam kitab
Hayatussahabah, dituliskan bahwa Duli Bakar turut Islam setelah diajak maka dari itu Muhammad.[17]
Diriwayatkan oleh Abu Hasan Al-Athrabulusi dari Aisyah, engkau berbicara:

Serdak Bakar lalu mendakwahkan ajaran Selam kepada Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqas dan sejumlah dalang terdahulu kerumahtanggaan Islam lainnya.[18]
[19]

Spirit setelah turut Selam

[sunting
|
sunting sumber]

Istri pertama Abu Bakar yang bernama Qutailah binti Abdul Uzza tidak menerima agama Islam lampau Serbuk Bakar menceraikannya. Istrinya yang lain nan bernama Ummi Ruman menjadi mualaf.
[butuh rujukan]

Semua anak Abu Bakar mengakui agama Islam kecuali Abdurrahman kacang Abi Bakar sehingga membuat mereka berpisah, walaupun puas karenanya Abdurrahman lusa menjadi sendiri Muslim setelah Perjanjian Hudaibiyyah.
[butuh rujukan]

Masuk Islamnya Serbuk Bakar membuat banyak khalayak ikut Islam. beliau memburas teman dekatnya untuk masuk Selam sehingga banyak temannya menerima ajakan tersebut.[18]
[19]

Masa bersama Utusan tuhan

[sunting
|
sunting sumber]

Momen Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, dia pindah dan hayat bersama Serbuk Bakar.
[titit rujukan]

Saat itu Muhammad menjadi tetangga Serdak Bakar.
[zakar rujukan]

Sejak saat itu mereka berkenalan satu sama lainnya.
[butuh rujukan]

Mereka berdua berusia sekelas dan sahaja ribut 2 musim 1 bulan makin muda daripada muhammad, pedagang dan ahli berdagang.
[pelir rujukan]

Penyiksaan oleh suku Quraisy

[sunting
|
sunting sumber]

Sebagaimana yang kembali dialami maka itu para pemeluk Islam pada masa awal. Ia sekali lagi mengalami penyiksaan nan dilakukan oleh penduduk Makkah yang mayoritas masih memeluk agama leluhur mereka. Doang, penyiksaan terparah dialami oleh mereka yang terbit dari golongan budak. Sementara para pemeluk non budak umumnya masih dilindungi makanya para keluarga dan sahabat mereka. Hal ini menyorong Abu Bakar mengkhususkan para budak tersebut dengan membelinya dari tuannya kemudian memberinya kemerdekaan. Riuk seorang budak yang dibelinya lalu kemudian dibebaskan adalah Bilal bin Rabah.

Detik peristiwa Hijrah, saat Nabi Muhammad pindah ke Madinah (622 M), Abu Bakar adalah suatu-satunya orang yang menemaninya. Abu Bakar juga jatuh cinta dengan Nabi Muhammad secara korespondensi. Anak perempuannya, Aisyah menikah dengan Rasul Muhammad beberapa saat setelah Hijrah.

Selama masa sakit Rasulullah saat menjelang wafat, dikatakan bahwa Serdak Bakar ditunjuk kerjakan menjadi pastor salat menggantikannya, banyak nan menganggap ini perumpamaan indikasi bahwa Abu Bakar akan menggantikan posisinya. Bahkan kembali selepas Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah meninggal manjapada, Duli Bakar Ash-Shiddiq dianggap sebagai sahabat Utusan tuhan nan paling tabah menghadapi meninggalnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ini. Segera sehabis kematiannya, dilakukan musyawarah di gudi para pemuka suku bangsa Anshar dan Muhajirin di Tsaqifah Anak laki-laki Saidah yang terletak di Madinah, yang akhirnya menghasilkan penunjukan Debu Bakar sebagai superior plonco umat Islam atau khalifah Islam pada periode 632 M.

Apa yang terjadi saat musyawarah tersebut menjadi sumber perdebatan. Penunjukan Serdak Bakar sebagai khalifah adalah subyek polemis dan menjadi perigi perpecahan pertama internal Selam, di mana umat Islam terpecah menjadi kabilah Sunni dan Syi’ah. Di satu sebelah kaum Syi’ah percaya bahwa seharusnya Ali kacang Abi Thalib (menantu Rasul Muhammad) nan menjadi pemimpin dan dipercayai ini adalah keputusan Rasulullah sendiri, temporer kaum Sunni berpendapat bahwa Rasulullah menunda bakal menunjuk penggantinya. Kabilah Sunni berargumen bahwa Muhammad mengedepankan musyawarah untuk penunjukan komandan. Sementara Syi’ah berpendapat bahwa utusan tuhan privat hal-keadaan terkecil seperti sebelum dan setelah makan, menenggak, tidur, dan bukan-enggak, tidak pernah meninggalkan umatnya tanpa hidayah dan didikan sampai-sampai masalah kepemimpinan umat terakhir. Banyak hadits yang menjadi referensi dari kaum Sunni alias Syi’ah tentang barangkali khalifah sepeninggal Rasulullah. Terlepas dari kontroversi dan kebenaran pendapat masing-masing kabilah tersebut, Ali sendiri secara sahih menyatakan kesetiaannya (berbaiat) kepada Abu Bakar dan dua khalifah setelahnya (Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan). Kabilah Sunni menggambarkan pernyataan ini laksana pernyataan nan antusias dan Ali menjadi pendukung setia Serbuk Bakar dan Umar. Darurat kaum Syi’ah menggambarkan bahwa Ali mengerjakan baiat tersebut secara
menyebelahi forma, mengingat ia berbaiat selepas sepeninggal Fatimah istrinya yang berbulan bulan lamanya dan setelah itu ia menunjukkan unjuk rasa dengan menyelimuti diri mulai sejak arwah publik.

Pengangkatan perumpamaan khalifah

[sunting
|
sunting sumber]

Setelah Rasul ajal, berkumpullah ketua-komandan kaum Anshar, baik pihak Aus alias perkauman Khazraj, internal sebuah aula hak Ibnu Sa’idah. Mereka bermaksud hendak memilih Sa’ad ibni Ubadah menjadi khalifah Rasulullah, sebab ia adalah kepala termulia kaum Anshar pada masa itu.[3]
Berita permusyawaratan itu lekas sampai kepada orang-orang besar di kalangan Muhajirin. Saat itu sekali lagi dengan segera mereka menyingkir ke balai. Baru saja sampai, Serdak Bakar sinkron berceramah, menyarankan Anshar agar mengidas salah suatu berpokok dua tokoh Muhajirin menjadi khalifah : Bubuk Ubaidah atau Umar.

Sesudah selesai Serbuk Bakar berceramah, berdirilah Habbab ibni Al Munzir, menyatakan penolakannya. Ia mengusulkan agar per bersumber baluwarti Anshar dan Muhajirin mempunyai khalifahnya sendiri-sendiri. Mendengar itu, Umar lalu menyambung pembicaraannya, “Jangan sekali-kali menyebutkan itu. Tidak bisa berhimpun dua kepala dalam satu kekuasaan.” Hebat sekali pertempuran Umar dengan Habbab pron bila itu.

Basyir ibnu Sa’ad, koteng yang terpandang pecah golongan Aus Anshar, tampil ke depan, “Duhai kaum Anshar, memang kita mempunyai bilang kelebihan dalam penangkisan. Sahaja, ingatlah pencahanan besar itu kita kerjakan bukanlah karena mengharapkan yang bukan, hanyalah cuma mendambakan ridha Halikuljabbar dan menaati Nabi kita. Makanya sebab itu, tidaklah pantas kita memanjangkan mulut menyebut-nyebutkan jasa itu pada cucu adam. Pulang ingatan kembali bahwa Muhammad shalallahu alaihi wasallam. jelas bermula Quraisy, kaumnya kian berhak menjadi penggantinya bakal mengepalai kita. Jangan bertingkah dengan saudara-saudara kita Muhajirin, jangan berselisih.”

Majlis pun menjadi tenang. Ketika itu, berkatalah Serbuk Bakar, “Ini ada Abu Ubaidah dan Umar, pilihlah mana di antara keduanya yang kamu sukai dan berbaiatlah.”[3]
Dengan serempak keduanya membantah. Abu Ubaidah dan Umar, tambahan pula mencalonkan Abu Bakar sebagai khalifah. Pertimbangannya, Abu Bakar pernah mendampingi Rasulullah ketika bersembunyi dalam gorong-gorong pada saat masa hijrah ke Madinah. Selain itu, Abu Bakar juga koneksi ditetapkan sebagai pengubah Rasulullah intern shalat ketika sira sakit.

Basyir ibnu Sa’ad dari Aus ikut kondusif pengemukaan Abu Bakar. Berduyun-duyunlah anggota Aus yang enggak membaiat Abu Bakar. Melihat itu, anggota-anggota Khazraj sekali lagi tergoyahkan, pula ikut tampil ke depan bakal menginisiasikan Serdak Bakar. Melihat pihak bukan telah berentetan menobatkan Bubuk Bakar, Bani Hasyim pun tidaklah dapat mengelak kembali. Mereka sadar bahwa perkara ini enggak perkara anak bini, melainkan siapakah orang yang paling mulia di sisi Rasulullah. Sedangkan, Ali bin Abi Thalib bukan hadir di telaga, karena sedang menjaga jenazah Rasulullah. Karena itu, ia tidak turut membaiat. Ali sendiri lagi akhirnya membaiatnya pun, merupakan beberapa hari setelah istrinya, Fathimah binti Rasulullah, wafat.[3]

Setelah orang-orang selesai membaiatnya, Serdak Bakar juga berpidato sebagai perjuangan atas kepercayaan bani adam banyak pada dirinya.

Duhai manusia, sekarang aku sudah menjawat pekerjaan ini, saja tidaklah aku insan yang lebih baik daripada kamu. Takdirnya aku telah berlaku baik dalam jabatanku, sokonglah aku. Tetapi, takdirnya aku berperan salah, tegakkanlah aku kembali. Kejujuran adalah suatu amanat, kedustaan adalah satu seleweng. Anak adam yang langgeng di antara kamu, di sisiku ia lemas, karena aku tarik darinya lakukan kepunyaan sang lemah. Turunan yang letoi di sisimu, di sisiku ia kuat, sehingga akan kuberikan haknya bersumber si kuat, insyaa Halikuljabbar. Taatlah kepadaku selama aku konstan kepada Allah dan Nabi-Nya. Semata-mata, jikalau aku kejedot perintah Allah dan Rasul, tidak usah kamu mengikutiku.[3]

Memadamkan pemberontakan

[sunting
|
sunting sumber]

Bau kencur saja terselerak deklarasi kematian Utusan tuhan, bergeraklah kerubungan-keramaian pemberontak hendak mengkhususkan diri berbunga persatuan Islam yang baru berdiri.

Sebelum mengeset persiapan bikin memerangi pendurhaka, Abu Bakar makin dahulu hendak memenuhi pasukan perang di asal Usamah. Lega saat itu, Usamah baru kira taksir 17 perian. Usamah diangkat serempak oleh Rasulullah menjadi kepala perang.[3]
Banyak pengarah Quraisy menjadi prajurit di bawah perintahnya.

Abu Bakar menghindari ke tempat pencopotan armada perang Usamah, untuk melepasnya berangkat. Abu Bakar lamar Usamah untuk mengizinkan Umar enggak ikut berperang. Abu Bakar membutuhkan Umar bikin menemaninya n domestik menata rezim n domestik provinsi.[3]
Permintaan itu dikabulkan maka dari itu Usamah.

Ketika mereka akan menginjak, Serbuk Bakar berpidato :

Jangan berkhianat. Jangan memungkiri janji. Jangan menganiaya jasad bandingan yang telah mati. Jangan membunuh momongan-anak asuh, ayah bunda dan perempuan. Jangan menyela kunarpa kurma. Jangan membakar dan jangan menumbangkan kayu-kayuan yang berbuah. Jangan menyembelih kambing, sapi dan unta, kecuali namun untuk dimakan. Kalau kamu bertemu dengan suatu kabilah yang sudah menyisihkan dirinya privat gereja-basilika, hendaklah dibiarkan doang. Kalau diberi makanan makanya bani adam lain, hendaklah membaca label Allah detik memakannya. Hai Usamah, berbuatlah dengan apa yang diperintahkan Rasulullah kepadamu di negeri Qudha’ah, jangan dia lalaikan sedikit pun perintah Rasulullah.[3]

Setelah itu Abu Bakar melepaskan tentara itu di Jurf, lalu beliau lagi ke Madinah. Usamah berangkat dan mengepung negeri Qudha’ah. Setelah empat puluh hari peperangan hebat, Usamah juga dengan kemenangan. Tentara yang menghindari ke Qudha’ah bukan terbatas jumlahnya, sehingga menimbulkan kesan sreg padanan-oponen yang tidak.

Sesudah pulang, Usamah dan tentaranya disuruh buat berlindung. Tepung Bakar runtuh tangan menganjuri pasukannya langsung bagi menyelesaikan perlagaan kabilah Abs dan Dzubyan di luar Daerah tingkat Madinah. Selama memimpin armada, Abu Bakar menyerahkan kepemimpinan Kota Madinah kepada orang enggak. Sehabis Abuk Bakar berhasil memadamkan tangkisan itu, kamu mengumpulkan tentaranya di Zhul Qishshah[3], sekitar 15 km dari Madinah, menghadap ke Najd. Disana, ia membagi sebelas buah tunggul kepada sebelas insan senapati.[3]

  1. Khalid anak laki-laki Al Walid, ke Thulaihah ibnu Khuwailid al-Asadi di negeri Bazuakhah. Jika sudah selesai, lanjut ke Malik ibnu Nuwairah di negeri Batthaah.
  2. Ikrimah ibnu Duli Jahal, ke Musailamah di Yamamah.
  3. Syurahbil ibnu Hasanah, menyusul Ikrimah di belakang.
  4. Al-Pengungsi anak laki-laki Abi Umayah, ke Aswad al-Insyi di Yaman.
  5. Hudzaifah ibnu Muhsin, ke area Daba di Umman.
  6. Arfajah ibni Hartsamah, ke negeri Mahrah.
  7. Suwaid ibnu Muqarrin, ke Tihamah di Yaman.
  8. Al-Ala’ anak laki-laki Al-Hadhrami, ke Bahrain.
  9. Thuraifah anak lelaki Hajiz, ke Bani Sulaim dan Hawazin.
  10. ‘Amru anak laki-laki Al-Ash, ke Qudha’ah.
  11. Khalid bani Sa’id, ke distrik tanah tinggi di Syam.

Bernasib baik para kepala perang itu, n domestik masa nan bukan berapa lama, seluruh sambutan dan huru-hara dapat disapu bersih. Seluruh Jazirah Arab bercampur kembali di pangkal satu bendera.

Pemilikan Persia

[sunting
|
sunting perigi]

Setelah aman huru-hara dalam negeri, khalifah cenderung ke luar negeri bagi menundukkan negeri Persia. Diangkatnya komandan perang segara yang masyhur, ialah Saifullah (Khalid ibnu Al-Walid).[3]
Jika rencana ini berbuntut, pelawatan boleh diteruskan menyentuh batas-batas Hindustan. Sebagai pembantunya, diangkat Iyadh anak lelaki Ghanam yang datang dari Irak.

Khalid berbuntut memasuki Persia, mulai dari pinggir Batang air Furrat sampai ke Ubullah, merubung Syam dan Irak. Di beberapa tempat, mereka bertempur dengan tentara-armada Persia, Romawi dan Arab. Khalid lebih demen berduel beradu tombak menyamai superior-ketua kaum, sebab dengan demikian tempo perang boleh disingkatkan. Jikalau satu provinsi ditaklukkannya, maka disana ia akan mengangkat seorang amir untuk mengatak khiraj (cukai) mulai sejak juru dzimmah.

Di satu sisi, keunggulan Khalid menakutkan musuh. Namanya lebih lampau mengegerkan tempat-tempat yang belum dimasukinya. Di sisi bukan, Khalid sangat dipuji maka itu musuhnya, sebab para petani dan pertaniannya tidak pernah diganggu, melainkan dipeliharanya.[3]
Maka itu sebab itu, jika Khalid ikut ke negeri Arab yang masih berada sebagai vassal Persia, orang-orang itu bertambah demen diperintah Khalid dan membelot semenjak pemerintahan yang lama. Temporer itu, agama mereka tidak diganggu, karena memeluk agama masehi.

Laskar ‘Iyadh berhasil menguasai Daumatul Jandal menjejak Irak. Mereka berdapat bala Khalid di Hirah.

Pemilikan Syam

[sunting
|
sunting sumber]

Serbuk Bakar mengapalkan surat kepada penduduk Mekah, Tha’if, Yaman, wilayah Arab yang lain sampai ke Najd dan seluruh Hijaz. Mereka diperintahkan bersiap untuk menciptakan menjadikan satu bala tentara ki akbar untuk menaklukan negeri Syam, pusat Kerajaan Romawi puas masa itu.[3]
Saban panglima perang telah diberikan area tugas mereka. Abu Ubaidah ke Homsh. Yazid anak lelaki Serdak Sufyan ke daerah Damsyik. Syurahbil ibnu Hasanah ke negeri Ardan. Amr ibni al-Ash dan Alqamah ibnu Mujzri ke Palestina. Kalau sudah selesai, Alqamah dapat menyinambungkan ke Mesir.[3]

Puncaknya merupakan perdurhakaan segara di Yarmuk. Pertempuran berlangsung alot, berminggu-minggu. Hal ini disebabkan tiap-tiap penasihat perang khalifah tanggulang tentaranya sendiri-koteng, tidak ada panglima perang besar untuk menyatukan komando. Padahal, orang Romawi sudah bermaksud cak bagi hendak keluar dari benteng untuk berbuat serangan besar.

Plong suatu periode, datanglah Khalid dengan mulai-tiba, setelah selesai menaklukan Persia. Beliau mendapat inskripsi pecah Khalifah nan menyuruhnya lekas bergerak ke Romawi. Setelah sampai di sana, Khalid mengusulkan sistem bergilir untuk memimpin komando seluruh pasukan menjadi satu.[3]
Panglima-panglima itu juga mengakuri usulan Khalid. Untuk musim pertama, Khalid mengusung komando seluruh tentara. Baru doang Khalid memimpin, barisan khalifah mendapatkan kejayaan, sehingga besoknya tidak terserah yang bahadur menggantikannya lagi.

Pada hari ketujuh bulan Jumadil Penutup perian 13 H, Abu Bakar ditimpa sakit. Setelah Abu Bakar merasa bahwa telah dekat ajalnya, ia mengusulkan Umar bin al-Khattab bikin menjadi khalifah. Kehendak Abu Bakar diterima oleh sahabat-sahabatnya. Setelah lima belas musim lamanya menderita penyakit itu, beliau wafat pada 21 Jumadil Akhir 13H (22 Agustus 634 M). Ia memerintah selama 2 hari, 3 rembulan dan 10 waktu.[3]
Beliau dikebumikan di samping taman bahagia Rasulullah.

Ketika peperangan sangat hebatnya, datang arsip semenjak Madinah yang menyatakan bahwa Abu Bakar telah wafat. Sekarang yang memerintah yaitu Umar, bukan Bubuk Bakar kembali. Khalid diperintahkan Umar untuk mengetem memimpin pemberontakan kerjakan digantikan maka dari itu Bubuk Ubaidah. Surat itu semata-mata disimpannya sampai peperangan radu, untuk mencegah kekalutan kerumahtanggaan bala.

Setelah Romawi kalah dan pasukan khalifah menang, barulah Khalid datang kepada Abu Ubaidah untuk menyerahkan kekuasaan arahan pasukan. Khalid menjadi serdadu biasa dan meneruskan pertempuran di tempat-tempat nan lain. Setelah kemenangan di Yarmuk, secara berturut turut jatuh wilayah Quds, Damsyik, Homsh, Humat, Halb, dan lain tak.


Al-Qur’an

[sunting
|
sunting sumber]

Serdak Bakar juga berperan dalam pelestarian teks-teks tercatat Al-Qur’an. Dikatakan bahwa setelah kejayaan yang sangat pelik detik melawan Musailamah al-Kazzab dalam Perang Yamamah, banyak para penghafal Al-Qur’an yang terbunuh dalam perjuangan. Umar lantas meminta Abu Bakar bagi mengumpulkan koleksi dari Al-Qur’an oleh sebuah skuat nan diketuai maka dari itu sahabat Zaid kedelai Tsabit, dikumpulkan paisan Al-Qur’an berpangkal para penghafal Al-Qur’an dan gubahan-tulisan yang terdapat plong media tulis begitu juga tulang, kulit dan tidak sebagainya,setelah transendental penulisan ini maka kemudian disimpan oleh Serbuk Bakar. Setelah Tepung Bakar meninggal maka disimpan oleh Umar kedelai Khattab dan kemudian disimpan makanya Hafshah, anak dari Umar dan juga istri bersumber Rasul Muhammad. Kemudian pada masa pemerintahan Utsman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks Al-Qur’an nan dikenal sekarang.

Kematian

[sunting
|
sunting mata air]

Penggantian posisi khalifah dari Utusan tuhan Muhammad kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq sudah lalu diisyaratkan dalam sebuah hadits. Pada hadits ini, Rasul Muhammad melakukan perbincangan kepada sendiri wanita. Pada akhir interlokusi, wanita tersebut lamar kepada Rasul Muhammad cak bertanya nan mengisyaratkan kematian Nabi Muhammad dan cara menemuinya ketika itu terjadi. Nabi Muhammad menjawab bahwa jika wanita tersebut tak pula boleh bertemu dengannya, maka urusannya dialihkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq.[20]

Pertanda bukan pun diberikan kontan oleh Nabi Muhammad dalalm sebuah pertinggal nan ditujukannya sinkron kepada Serdak Bakar Ash-Shiddiq. Piagam ini berisi gagasan Utusan tuhan Muhammad bakal membentuk kekhalifahan. Dalam pertinggal ini nabi mengusulkan Bubuk Bakar sebagai khalifah karena ia yakin para sahabat akan menerimanya. Pengajian pengkajian ini diyakini karena kepeloporan dan keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq bagi kabilah mukminin di periode Nabi Muhammad. Hadis lain nan mengisyaratkan posisi Abu Bakar sebagai khalifah untuk mengoper Rasul Muhammad diriwayatkan maka dari itu Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi berpunca Hudzaifah bin Yaman, Ibnu Mas’ud, Bani Umar, dan Serdak Darda’. Kedudukan hadis ini yakni perkataan nabi sahih.[20]

Debu Bakar meninggal pada sungkap 23 Agustus 634 di kota Madinah karena sakit yang dideritanya plong usia 63 musim. Abu Bakar dimakamkan di rumah putrinya Aisyah, di samping taman bahagia Nabi Muhammad.

Batih

[sunting
|
sunting sumber]

Orangtua

[sunting
|
sunting sumber]

Ayah
— ‘Utsman
bin ‘Amir (540– Maret 635), pula dikenal dengan stempel
Abu Quhafah. Berasal dari Anak lelaki Taim. Debu Quhafah yunior menganut Islam sehabis penaklukkan Makkah. Beliau meninggal beberapa bulan sehabis mangkatnya Tepung Bakar.[21]

(hlm.87)

Ibu

Salma
binti Shakhar, juga dikenal dengan sebutan Ummu al-Khair. Salma merupakan sepupu Serbuk Quhafah dan pula berasal berasal Bani Taim. Salma termuat orang yang telah masuk Islam sebelum Nabi Muhammad pengungsian dan yang mendatangi kediaman Arqam.[22]
[23]
Dia meninggal pada masa kekhalifahan putranya.[24]

Pasangan

[sunting
|
sunting sumber]

Serdak Bakar menikahi empat wanita, yang melahirkannya tiga anak adam dan tiga anak perempuan dan mereka masing-masing:[25]

  1. Qutailah binti Abdul Uzza bin Sa’ad bin Jabir kacang Malik bin Hasl bin Amir polong Lu’ay, dan dia adalah ibu bersumber Abdullah dan Asma’.
  2. Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir polong Abdu Syams bin Attab bin Udzainah polong Subai’ kedelai Dahman kacang Al-Harits polong Ghanam kedelai Malik kacang Kinanah al-Kinaniyah, dan anda adalah ibu terbit Aisyah dan Abdurrahman. Dia meninggal pada bulan Dzulhijjah di hari 4 H atau 5 H ataupun 6 H.[26]
  3. Asma’ binti Umais bin Ma’ad bin Al-Harits bin Taim asy-Syahraniyah al-Khats’amiyah, dan beliau adalah ibu pecah Muhammad. Sebelumnya ia ialah istri gelap dari Ja’far bin Abi Thalib. Setelah Ja’far terbunuh ia menikah dengan Abu Bakar. Setelah Abu Bakar wafat ia menikah dengan Ali bin Abi Thalib.[27]
  4. Habibah binti Kharijah kedelai Zaid kacang Abi Zuhair al-Khazrajiyah al-Anshariyah, dikatakan namanya Mulaikah binti Kharijah, dan dia ialah ibu semenjak Ummu Kultsum.[28]

Anak

[sunting
|
sunting sumber]

Abu Bakar memiliki enam anak, tiga maskulin dan tiga cewek:[29]

  1. Abdurrahman bin Abi Bakar, ibunya merupakan Ummu Ruman, dan sira ialah saudara Aisyah, meninggal pada periode 53 H atau 55 H alias 56 H.[30]
  2. Abdullah kedelai Abi Bakar, ibunya adalah Qutailah binti Abdul Uzza, dan dia ialah saudara Asma’, dan dialah yang mendayukan perut dan memberitahukan berita tentang kaum Quraisy kepada Rasul dan ayahnya Abu Bakar detik mereka berada di korok setiap malam, meninggal pada masa kekhalifahan pertama Abu Bakar di wulan Syawal pada periode 11 H.[31]
  3. Muhammad polong Abi Bakar, ibunya merupakan Asma’ binti Umais, dan engkau adalah saudara Abdullah polong Ja’far terbit ibunya dan plasenta Yahya bin Ali dari ibunya.[32]
  4. Asma’ binti Abi Bakar, ibunya adalah Qutailah binti Abdul Uzza, dia yaitu amputan dari az-Zubair kedelai al-Awwam dan ibu dari Abdullah bin az-Zubair, ia dijuluki
    Dzatun Nithaqain.[33]
  5. Aisyah binti Abi Bakar, ibunya adalah Ummu Ruman, dan engkau yakni istri dari Nabi Muhammad dan nan paling tenar di antara para wanita, dia dijuluki Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq dan Ummul Mu’minin, dan ia ialah basyar nan paling kecil dicintai Nabi Muhammad dari seluruh orang-orang, meninggal pada 57 H atau 58 H puas malam selasa tujuh belas lilin batik selama wulan Ramadhan, dan dimakamkan di pemakaman al-Baqi’.[34]
  6. Ummu Kultsum binti Abi Bakar, ibunya merupakan Habibah binti Kharijah, engkau dilahirkan sehabis wafatnya Nabi Muhammad.[35]

Pustaka

[sunting
|
sunting sumber]

Catatan Kaki

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    “Sah al-Bukhari 3896 – Merits of the Helpers in Madinah (Ansaar) – كتاب مناقب الأنصار – Sunnah.com – Sayings and Teachings of Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم)”.
    sunnah.com
    . Diakses tanggal
    2021-12-09
    .





  2. ^


    “Legal Muslim 1422d – The Book of Marriage – كتاب النكاح – Sunnah.com – Sayings and Teachings of Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم)”.
    sunnah.com
    . Diakses tanggal
    2021-12-09
    .




  3. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    kaki langit




    o




    p




    q




    r



    Prof. Dr. Hamka (2016)
    Sejarah Umat Islam : Pra-kenabian hingga Selam di Nusantara
    Jakarta : Gema Insani

  4. ^


    Ibn Hishām, ʻAbd al-Malik (2000).
    Sirat Ibn Hisham
    (edisi ke-1st). Cairo: al-Falah Foundation. hlm. 41. ISBN 9775813808. Diakses rontok
    16 July
    2022
    .





  5. ^


    Zuhri, Muhammad (1989).
    Terjemah Tarakh al-Tasryi’ al-Islami. Indonesia: Darul Ikhya.





  6. ^

    Usud al-Ghabah fi Ma’rifat ash-Shahabah, Ibnul Atsir al-Jazari, Darul Tara al-Ilmiyyah, edisi pertama 1415 H-1994 M, jilid 3 hlm 310

  7. ^

    Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, 4/144-145

  8. ^

    Sirah wa Hayah Ash-Shiddiq, Majdi Fathi As-Sayyid, hlm 27

  9. ^

    Blankinship 1993, hlm. 140.

  10. ^


    Al-Jubouri, I.M.N. (2010).
    Islamic Thought: From Mohammed to September 11, 2001. Berlin. hlm. 53. ISBN 9781453595855.





  11. ^


    Drissner, Gerald (2016).
    Islam for Nerds – 500 Questions and Answers. Berlin: createspace. hlm. 432. ISBN 978-1530860180.





  12. ^

    Az-Zarkali.
    Al-A’lam. Darul Ilmi lil Malayin. Edisi ke-15. Mei 2002.

  13. ^

    Prof. Masud-Ul-Hasan. Sidiq-I-Akbar Hazrat Abu Bakr. hlm 2.

  14. ^

    Tarikh ath-Thabari jilid.2 hlm 60

  15. ^

    M. Th. Houtsma et al., eds.,
    E.J. Brill’s first Encyclopaedia of Islam, 1913–1936,
    Leiden: E. J. Brill, 8 vols. with Supplement (vol. 9), 1991. ISBN 90-04-09796-1


  16. ^

    The Biography Of Abu Bakr As Siddeeq by Dr. Ali Muhammad As-Sallaabee (Published 2007)

  17. ^


    Pramono, Agus (2021).
    Sentral Perkembangan Ilmu Kabar & Teknologi Dalam Perspektif Selam. Deepublish. hlm. 65. ISBN 9786230232282.




  18. ^


    a




    b



    Al-Bidayah wan Nihayah 3/26
  19. ^


    a




    b



    Merriam-Webster’s
    Encyclopedia of World Religions
    by Wendy Doniger ISBN 978-0-87779-044-0
  20. ^


    a




    b




    Katsir, Ibnu (2018).
    Dahsyatnya Perian Kiamat. Diterjemahkan maka itu Nurdin, Ali. Jakarta: Qisthi Press. hlm. 3. ISBN 978-979-1303-85-9.





  21. ^

    As-Suyuthi, Jalaluddin.
    Tarikh al-Khulafa. Translated by Jarrett, H. S. (1881).
    The History of the Caliphs. Calcutta: The Asiatic Society.

  22. ^


    Ibnu Hajar.
    Al-Ishabah, vol. 8.





  23. ^


    Muhammad bin Ishaq (1955).
    Sirat Utusan tuhan Halikuljabbar (The Life of Muhammad). Oxford University Press. hlm. 117.





  24. ^


    Ibnu Hajar.
    Al-Ishabah, vol. 4.





  25. ^

    Sirah Abi Bakar Ash-Shiddiq, Ali Ash-Shalabi, hlm 21-22

  26. ^

    Usud al-Ghabah, Ibnul Atsir, jilid 7 hlm 320

  27. ^

    Usud al-Ghabah, Ibnul Atsir, jilid 7 hlm 12

  28. ^

    Usud al-Ghabah, Ibnul Atsir, jilid 7 hlm 61

  29. ^

    Sirah Abi Bakar Ash-Shiddiq, Ali Ash-Shalabi, hlm 22-24

  30. ^

    Usud al-Ghabah, Ibnul Atsir, jilid 3 hlm 462

  31. ^

    Usud al-Ghabah, Ibnul Atsir, jilid 5 hlm 97

  32. ^

    Usud al-Ghabah, Ibnul Atsir, jilid 3 hlm 300

  33. ^

    Usud al-Ghabah, Ibnul Atsir, jilid 7 hlm 7

  34. ^

    Usud al-Ghabah, Ibnul Atsir, jilid 7 hlm 186

  35. ^

    Usud al-Ghabah, Ibnul Atsir, jilid 7 hlm 373

Perigi

[sunting
|
sunting perigi]

  • Abu, Huthayfa (2013).
    Debu Bakr: The First Caliph. ISBN 9780958172035.



  • Ashraf, Shahid (2004).
    Encyclopaedia Of Holy Prophet And Companion (Set Of 15 Volumes). Anmol Publications Pvt. Limited. ISBN 978-81-261-1940-0.



  • Barnaby Rogerson (2008).
    The Heirs of the Prophet Muhammad: And the Roots of the Sunni-Shia Schism. Overlook. ISBN 978-1-59-020022-3.




  • The History of al-Tabari.
    11.



  • Eaton, Charles Le Gai (1985).
    Islam and the Destiny of Man. SUNY Press. ISBN 9781438401799.



  • Hathaway, Jane (2015). “Amīr al-ḥajj”. Dalam Kate Fleet; Gudrun Krämer; Denis Matringe; John Nawas; Everett Rowson.
    The Encyclopedia of Selam, THREE. BRILL Online.



  • Hitti, Philip Khuri (2011).
    The Origins of the Islamic State: A Translation from the Arabic Accompanied With Annotations, Geographic and Historic Notes of the Kitab Futuh al-Buldan. Cosimo. ISBN 9781616405342.



  • Kuiper, Matthew J. (2021).
    Da’wa: A Universal History of Islamic Missionary Thought and Practice. Edinburgh University Press. ISBN 9781474451543.



  • Muir, William (1892).
    The Caliphate: Its Rise, Decline and Fall, from Original Sources. University of Michigan; Religious Tract Society. ISBN 9781417948895.



  • Muir, William (1878).
    The Life of Muhammad from Original Sources. Princeton University.



  • Fayda, Mustafa (1994).
    EBÛ BEKİR- An article published in 10th volume of Turkish Encyclopedia of Islam
    (kerumahtanggaan bahasa Turki).
    10. Istanbul: TDV İslâm Ansiklopedisi. hlm. 101–108. ISBN 978-975-38-9437-1. Diakses tanggal
    11 January
    2022
    .



  • Madelung, Wilferd (1997).
    The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate. Cambridge University Press. ISBN 978-0-52-164696-3.



  • McGregor, Richard J. A. (2004).
    Sanctity and Mysticism in Medieval Egypt: The Wafa Sufi Order and the Legacy of Ibn ‘Arabi. Suny Press. ISBN 9780791460115.



  • McHugo, John (2017).
    A Concise History of Sunnis & Shi’is. Georgetown University Press. ISBN 978-1-62-616587-8.



  • Barnaby Rogerson (4 November 2022).
    The Heirs of the Prophet Muhammad: And the Roots of the Sunni-Shia Schism. Little, Brown Book Group. ISBN 978-0-74-812470-1.



  • Haylamaz, Resit (16 September 2022).
    Abu Bakr: The Pinnacle of Truthfulness. Tughra Books. ISBN 978-1-59784-688-2.



  • Rippin, Andrew (2009).
    The Blackwell Companion to the Qur’an. Chichester, West Sussex: Blackwell Publishing. ISBN 978-1-4051-8820-3.



  • Gleave, Robert M. (2008). “Ali ibn Abi Talib”.
    Encyclopaedia of Selam, THREE. Brill Online. Diarsipkan dari varian ceria sungkap 2 April 2022. Diakses tanggal
    29 March
    2022
    .



  • Andrae, Tor (2013).
    Mohammed: The Man and his Faith. Routledge. ISBN 9781135030537.



  • Fitzpatrick, Coeli; Walker, Pria Hani (2014).
    Muhammad in History, Thought, and Culture: An Encyclopedia of the Prophet of God. ISBN 9781610691789.



  • Drissner, Gerald (2016).
    Islam for Nerds – 500 Questions and Answers. Createspace. ISBN 9781530860180.



  • Shoufani, Elias S. (1973).
    Al-Riddah and the Orang islam Conquest of Arabia. Toronto: University of Toronto Press. ISBN 0-8020-1915-3.



  • Watt, Montgomery William (1961).
    Muhammad: Prophet and Statesman. London: Oxford University Press. ISBN 9780198810780.



  • Watt, Montgomery William (1986). “Abū Bakr”.
    Encyclopaedia of Selam, Second Edition. E. J. Brill. ISBN 9789004161214.




  • The History of al-Tabari.
    6.



  • Weston, Mark (2008).
    Prophets and Princes: Saudi Arabia from Muhammad to the Present. John Wiley & Sons. ISBN 9780470182574.



  • Steigerwald, Diana (2004). “ʿAli (600–661)”.
    Encyclopaedia of Islam and the Muslim world; vol.1. New York: Macmillan Reference USA. hlm. 35–38. ISBN 978-0-02-865604-5.



Pranala Internal

[sunting
|
sunting sumber]

Bubuk Bakar Ash-Shiddiq

Bani Taim

Cabang kadet
Quraisy


Lahir:
27 Oktober 573


Wafat:
22 Agustus 634

Jabatan Islam Sunni
Jabatan baru

jabatan dibentuk buat meneruskan kepemimpinan umat Islam sepeninggal Utusan tuhan Muhammad

Khalifah

8 Juni 632 – 22 Agustus 634
Diteruskan oleh:
‘Umar bin Khattab



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakar_Ash-Shiddiq

Posted by: gamadelic.com