Bertanam Buah Di Tepi Pantai Bugel

Profil Desa Bugel

Awalnya, kondisi tanah di Desa Bugel nan terwalak di tepi pantai selatan ini positif gumuk (oleh warga setempat disebut gumuk batu halus) bergelombang. Setiap kali ada kilangangin kincir kencang, ramal ini akan bergerak berpunca tempatnya semula sehingga tidak bisa ditanami apa pun. Dan karena bertatap langsung dengan raksasa luas dan tanpa pohon pelindung, desa yang terdapat di Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta ini pun rentan terkena tsunami.

Suhu tanah di negeri ini silam tinggi. Pagi hari, sekitar pukul 7, suhu permukaan persil bisa mengaras 28o C. Puncaknya, lega pukul 1 siang, suhu tanah bahkan boleh mengaras 40o C. Dengan suhu yang sangat panas, maka kadar air tanah sekadar berkisar 0,16 hingga 0,32 uang.

Penguapan air (evapotranspirasi) di sini terlampau pangkat. Air sangat mudah menguap bermula tanah. Sebaliknya, kandungan incaran organik intern tanah sangat tekor, berkisar antara 0,2 sampai 0,75 uang jasa. Tingkat keasaman (pH) kapling antara 6—6,8. Intinya, petak di sini sangat tidak bagus untuk pertanian.

Kendati demikian, kedalaman air tawar di arena ini tetapi 5—6 meter. Air mata air inilah yang menjadi modal besar pembajak setempat bakal mengubah lahan kritis ini menjadi lahan pertanian.

Menyangkal Kapling Kritis

.

Enam tahun tinggal, Cak regu Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Jamiah Gadjah Mada (UGM) memulai penelitian di daerah tersebut. Cak regu peneliti menginjak dengan mengetanahkan 800 pohon cemara udang (Casuarina equisetifolia) di susur pantai. Selain berfungsi memecah angin laut yang berkadar garam tinggi dan destruktif tanaman persawahan (wind breaker), air terjun tumbuhan-pohon itu sekali lagi dipakai sebagai mulsa cak bagi tanah. Pohon cemara ini kembali ditanam bikin mengimpitkan terjadinya perpindahan tanah, sensual iklim mikro di kawasan tersebut, dan mengurangi potensi terjadinya tsunami di distrik yang memang sangat terbuka tersebut.

Selanjutnya, di lahannya per, petani mengebumikan tumbuhan biji pelir naga (Hylocerous undartussp), satu varietas lahan sangar. Manajemen lahan ini dilakukan dengan cara penambahan bahan organik, fertilisasi, dan penggunaan teknologi tepat guna.

Perabukan memperalat serat kandang berusul kotoran sapi dan mulsa pohon cemara ebi, enggak pupuk ilmu pisah. Rata-rata petani di desa ini punya tiga ekor sapi. Kaprikornus, kotoran sapi seumpama target buat serabut organik dengan mudah bisa didapat. Lazimnya pemupukan ini dilakukan secara sanggang royong. Adapun penggunaan mulsa organik bertujuan mengurangi penguapan air tanah (evaporasi). Mulsa ditebar di atas tanah yang sudah dibuat menjadiguludan.

Bagian paling berfaedah dari perlintasan tanah di sini adalah eksploitasi teknologi tepat kemustajaban. Ada tiga teknologi yang digunakan yaitu mulsa plastik, sendang renteng, dan lapisan buat mengurangi permeabilitas petak. Pengusahaan mulsa plastik dimaksudkan kerjakan menjaga humiditas lahan. Adapun mata air renteng adalah teknologi sederhana berupa mata air-perigi kecil berair sia-sia untuk mengairi lahan. Ada suatu sumur utama yang airnya dialirkan ke sumur-mata air kecil lainnya lewat pipa. Gunanya bakal melicinkan pekebun menyiram tanaman. Petani sangat menyauk air dari sumur terdamping, tanpa harus ke sumur utama. Sumur renteng ini merupakan kearifan domestik yang menggunakan prinsip termodinamika dalam aji-aji .sika.

Agar air siraman tidak langsung hilang karena tanah yang berpasir, di bawah petak diberi bahan “pembenah tanah” positif bentonit atau tanah lempung. Sayangnya, bentonit yang bisa dipakai selama heksa- sebatas tujuh periode ini harganya nisbi mahal, sekeliling Rp 30 miliun. Karena itu petani makin senang memakai persil lempung.

Incaran pembenah tanah ini mewah sekeliling 40 cm di sumber akar permukaan tanah. Di atasnya ada ramal setebal 33 cm, dan jerami. Seharusnya tanah itu congah, 5 cm paling atas pecah lahan ini yaitu campuran semenjak tanah liat, pupuk kandang, zeolit, dan pasir. Benih tidak dipakai karena membuat air berorientasi terhambat, lain meresap ke n domestik tanah. Akibatnya parasan lahan malah becek dan merusak tumbuhan.

Hasil Berlimpah Meningkatkan Status

Dengan menggunakan teknologi efisiensi tersebut, lahan reseptif di Desa Bugel ternyata dapat berubah. Tidak sekadar menghasilkan, tetapi juga berlimpah. Sayuran seperti cili, sawi, bawang, dan semangka bisa menghasilkan pengetaman berkali lipat dibandingkan di daerah tak. Kemampuan ekonomi dan status sosial penanam pun meningkat.

Dagangan unggulan petambak setempat merupakan merica ahmar, caisim, dan semangka. Manuver hortikultura ini mengalami kenaikan signi.cerek dengan teknologi yang waktu ini digunakan. Misalnya komoditas keramboja. Anggaran sreg persil seluas 0,17 hektar dengan biaya persuasi seputar Rp 850 ribu sendirisendiri musim bisa menghasilkan hingga 4 ton. Hasil penjualan yang bisa diterima peladang sebatas Rp 3,2 juta. Saja, keramboja tidak selalu ada sepanjang tahun. Buah ini umumnya ditanam antara Januari sebatas Februari dan Oktober hingga Desember.

Komoditas lain yang lagi mengalami peningkatan adalah cabai merah. Menurut penelitian Cak regu Ilmu Tanah Fakultas Perkebunan UGM, usaha lombok merah di atas lahan seluas 0,15 hektar bisa menghasilkan sekitar 2 ton lombok merah. Biaya yang diperlukan peladang sekitar Rp 2,5 miliun sendirisendiri musim. Biaya itu bisa ditutupi karena keuntungan cemar berpokok penjualan embalau mencapai Rp 14 miliun per musim. Kalau dihitung, keuntungan tulus orang tani sekitar Rp 11,5 juta.

Selain semangka dan lombok merah, komoditas enggak yaitu sawi. Bakal usaha di atas lahan seluas 0,08 hektar, orang tani wajib biaya sebesar Rp 572 mili untuk satu tahun tanam, sekitar 15—20 hari. Keuntungan yang didapat sekitar Rp 1,6 miliun bagi areal seluas 0,08 hektar.

Meningkatnya pendapatan penanam setelah mengolah lahan batu halus ini mewujudkan martabat ekonomi dan sosial mereka naik. Sebagai contoh, daerah ini semula agak tandus dan tidak berkecukupan sehingga warga desanya mengerjakan urbanisasi dan berkreasi di kota. Namun karena tanahnya sudah lalu produktif, kaum muda desa ini enggak pun menyingkir ke kota. Mereka memilih bertani di desa. Peningkatan ekonomi juga membuat kondominium berdinding bambu di desa tersebut kini berdinding tembok. Sarana ibadah makin gencar. Pit motor pula cak semau di setiap rumah pemukim, sesuatu yang dulunya langka.

Camar duka petani di Kulon Progo memberikan pelajaran bahwa petani dengan lahan kritis masih dapat menidakkan kondisi mereka tanpa harus merusak tunggul. Pertama, orang tani menggunakan teknologi secara arif, merupakan teknologi ramah lingkungan buat menjamin pertanian berkelanjutan. Contohnya, mereka tak mengubah gumuk- gumuk kersik halus dan tak menggali terlalu dalam. Kedua, mereka sudah menjalankan sistem pertanian terpadu, dengan menggabungkan bersua dengan tanam dengan beternak sapi. Kotoran sapi kemudian dimanfaatkan untuk mengedit kesuburan lahan.

Source: https://bugel-kulonprogo.desa.id/index.php/artikel/2019/3/5/profil-wilayah-desa