Berbuka Dengan Yang Manis Adalah

KOMPAS.com –Istilah “berbukalah dengan yang manis” sekali lagi populer detik memasuki Ramadhan. Sampai-sampai, banyak yang menjadikan istilah ini bagaikan anjuran detik berbuka puasa.

Akibatnya, enggak sedikit yang mengawali menu bentang puasanya dengan menyantap minuman dan makanan manis selama Ramadhan.

Disinyalir, kalimat “berbukalah dengan nan manis” merupakan sunah Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Syariat Ngupil dan Mengorek Telinga Saat Bulan Ramadhan, Batalkan Puasa atau Enggak?

Benarkah demikian?

Enggak hadis Nabi SAW

Mahaguru Bidang Ilmu sejarah Peradaban Selam UIN Raden Mas Said Surakarta Syamsul Bakri memaparkan, istilah “berbukalah dengan yang manis” bukan hadis ataupun sunah Nabi Muhammad.

“Itu lain ada hadisnya, bukan sabda,” ujarnya momen dihubungi
Kompas.com, Kamis (7/4/2022).

Dia menguraikan, tidak ada sabda nan menamai konsumsi tembolok dan minuman manis saat berbuka puasa. Melainkan, sabda yang menganjurkan untuk berbuka dengan kurma basah.

“Adanya dalam hadis, ialah hadis Nabi,
‘Berbukalah dengan tamar basah. Jika tidak ada, maka dengan kurma gersang. Jikalau tidak ada, dengan seteguk air’,” pengenalan Wakil Rektor UIN Raden Mas Said itu.

Baca sekali lagi: Penjelasan berusul Sebelah Agama dan Kesehatan soal Puasa Ramadhan bagi Ibu Menyusui

Anjuran berbuka puasa sesuai sabda

Ilustrasi kurma. Manfaat kurma untuk kesehatan.
freepik
Ilustrasi kurma. Keefektifan tamar cak bagi kesehatan.

Akan halnya tamar nan dimaksud privat hadis, menurut Syamsul dapat diartikan sebagai biji pelir-buahan apa saja yang bertaruk di provinsi masing-masing.

“Tamar ini artinya buah. Jadi seindah-baiknya berbuka ialah dengan buah, bukan dengan sesuatu hasil olahan,” terang Syamsul.

Jadi, anjuran saat berbuka puasa lebih dikhususkan untuk mengonsumsi buah-buahan manis, dan bukan kas dapur olahan manis seperti sirup dan sebagainya.

Baca juga: Pendirian Mengupah Fidiah dan Waktu yang Tepat cak bagi Menyalurkannya

Berbuka dengan yang manis bermula sisi kesehatan

Menujum dari sisi kebugaran, berbuka puasa dengan sesuatu nan manis memang diperlukan tubuh.

Hal tersebut dibenarkan oleh dokter spesialis vitamin balai pengobatan dari Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) Siloam Hospital Jakarta Selatan, Inge Permadhi.

“Perlu, terlazim banget. Karena bilamana itu predestinasi gula darah sudah sangat tekor,” terang Inge kepada
Kompas.com, Kamis (7/4/2022).

Inge mengklarifikasi, kadar sukrosa darah akan abnormal setelah 13-14 jam berpuasa.

Baca juga: Batas Musim Makan Sahur, Imsak atau Azan Subuh?

Oleh karena itu, teristiadat sesuatu nan manis untuk mendongkrak kadar gula darah agar normal pula.

Namun ia mengingatkan, pilihan peranakan atau minuman manis tentu harus dipilih dengan baik.

Konsumsi nan manis memang diperlukan untuk menaikkan qada dan qadar sukrosa darah, tapi menurut Inge, harus mulai sejak sesuatu yang sehat.

“Sesuatu nan memang mesti dapat segera meningkatkan ketentuan gula bakat hanya dari sesuatu yang segar. Karena mengonsumsi gula-gulaan itu memang suka-suka batasnya,” katanya lagi.

Baca juga: 7 Faedah Bengkuang bagi Kesehatan Badan

Pedagang takjil menjajakan dagangannya berupa hidangan untuk berbuka puasa di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, Selasa (13/4/2021). Menjelang ifthar atau buka puasa hari pertama Ramadhan 1442 Hijriyah, sejumlah pedagang telah bersiap menjajakan takjil sejak pukul 16.00 WIB.
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Pedagang takjil memperdagangkan dagangannya substansial suguhan untuk berbuka puasa di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, Selasa (13/4/2021). Menjelang ifthar atau beber puasa hari pertama Ramadhan 1442 Hijriyah, beberapa pedagang sudah lalu bersiap mengusahakan takjil sejak palu 16.00 WIB.

Dirinya menambahkan, takat konsumsi gula agar jasmani tegar sehat adalah maksimal 5 persen bersumber kebutuhan kalori dalam sehari.

“Jadi, misalnya kurma, oke. Tapi jangan juga kebanyakan karena kurma kan lagi manis sekali, dia dengan cepat akan menaikkan qada dan qadar gula pembawaan,” paparnya.

Sari buah buah yang benar-bermoral dari buah dan tidak ditambah sakarosa juga boleh menjadi pilihan sehat lakukan memanjatkan ketentuan sukrosa darah tanpa khawatir akan membawa dominasi buruk bakal kesehatan.

“Sari buah buah itu sesuatu yang baik ya, nan pecah bersumber buah-buahan, yang sehat, tidak ditambah lagi gula. Itu sesuatu yang alamiah dan baik bagi kebugaran,” tambah Inge menyarankan.

Baca kembali: 10 Manfaat Blewah bagi Kesehatan

Imbangi konsumsi peranakan bernutrisi separas

Usai berbuka puasa dengan yang manis, kadar sukrosa darah nan semula rendah akan kembali normal.

Kalau kerumahtanggaan suatu lilin batik terus-saluran mengonsumsi perut manis dan bukan banyak beraktivitas, pasti akan menumpuk dalam kerangka lemak di raga dan menyebabkan berkecukupan.

Oleh karena itu, Inge mengatakan, perlu pula imbangi dengan kas dapur yang fit dan bergizi seimbang.

“Jadi yang sebenarnya perlu adalah makannya itu yang harus baik, supaya kesegaran dan imunitas kita tidak terganggu. (Bersantap) perut yang disebut bergizi selaras,” papar Inge.

Baca kembali: Shalat Tarawih, Pilih 11 maupun 23 Rakaat? Simak Penjelasannya



KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo
Infografik: Durasi Puasa Terlama dan Tersingkat di Marcapada

Dapatkan update
berita pilihan
dan
breaking news
setiap tahun dari Kompas.com. Marilah bergabung di Grup Kawat “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Kamu harus install permintaan Benang besi terlebih terlampau di ponsel.

Source: https://www.kompas.com/tren/read/2022/04/08/095100865/menyelisik-arti-berbukalah-dengan-yang-manis-dari-sisi-agama-dan-kesehatan?page=all

Posted by: gamadelic.com