Berapa Lama Berbuah Tanaman Jambu Biji Dari Biji Generatif


1. Persiapan Bibit Batang Radiks

Angka yang akan digunakan untuk benih sebaiknya diambil dari buah yang sudah masak di pokok kayu (kulitnya sudah berwarna bau kencur kekuningan). Menurut hasil penyelidikan Rajan
et al.,
2007, menyatakan bahwa banyaknya biji yang terdapat di internal biji kemaluan jambu skor dipengaruhi secara serempak maupun tidak langsung maka dari itu berat buah. Oleh karena itu, untuk mendapatkan biji yang banyak untuk benih, disarankan lakukan memilih buah-biji pelir yang bertakaran menengah sampai besar.

Sebelum disemaikan, biji jambu biji harus dibersihkan pecah daging biji pelir dan diseleksi angka nan berbenda. Untuk menentukan biji yang congah alias tidak dapat dilakukan dengan merendam nilai kedalam air. Bila ponten yang direndam tersebut rapung atau mengambang menunjukkan bahwa biji tersebut nol atau tak baik dan harus dibuang dan sahaja biji–poin yang terbenam nan digunakan sebagai sperma.

Penyemaian skor harus dilakukan di tempat yang kerukunan terhadap alai-belai satwa maupun basyar, akrab dengan sumber air, dan letaknya strategis seharusnya mudah penge-lolaannya. Selain itu harus memiliki naungan untuk mereservasi benih dari teriknya cerah surya sewaktu dan derasnya air hujan angin. Bakal itu perlu dibuat rumah bibit yang permanen maupun sederhana. Di dalam kondominium bibit lebih jauh dibuat ajang  persemaian bisa berupa kotak kayu atau provokasi bata  dengan ukuran lebar 1 meter dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan. Selanjutnya panggung persemaian ini diisi dengan media semai (pasir halus) dengan ketebalan 10 cm atau lebih.

Biji jambu biji yang telah disiapkan segera disemaikan sreg tempat persemaian dengan cara menaburkan merata di atas media persemaian kemudian ditutup dengan media persemaian tersebut setebal ± 0,5 cm. Ponten yang telah disemaikan tersebut harus disiram seadanya saban hari untuk menjaga agar alat angkut semai tetap lembab. Ponten akan tumbuh sekitar 20 – 30 perian setelah penyemaian. Bakal menggesakan pertumbuhan sari jambu biji perlu dipupuk dan diberi zat perangsang pertumbuhan. Serabut dan zat perangsang pertumbuhan diberikan dengan mandu disemprotkan lega pokok kayu secara merata.

Apabila semai jambu poin mutakadim mencapai jenjang sekitar 5-10 cm (berusia 2-4 bulan), maka semai tersebut harus segera dipindahkan ke dalam polibag.   Ki alat yang digunakan untuk pembesaran semaian jambu biji adalah fusi persil + pupuk kandang dengan nisbah 2:1. Sebelum pencabutan semai sebaiknya media tersebut sudah disiapkan ke privat polibag ukuran 15 x 21 cm sesuai dengan total semaian yang akan dipindah. Pengungsian semaian ini dilakukan dengan cara mencabut pohon dengan hati-hati agar perakaran tidak rusak atau patah dan harus buru-buru di tanam ke alat angkut penanaman, setelah itu cak bagi penyiraman supaya semaian tidak layu.
Penjagaan tanaman menghampari penyiraman, pemupukan, penyiangan terhadap gulma nan tumbuh di sekitar semaian dan penyemprotan pestisida secara berkala untuk mencegah bidasan hama dan penyakit. Pelestarian ini terus dilakukan hingga bibit siap cak bagi disambung maupun diokulasi. Pati siap dijadikan buntang radiks bila telah berumur 6-12 wulan atau diameter batang mencecah 0,8-1 cm.



Rang 1.
Bibit jambu nilai yang siap okulasi atau sambung pucuk

2. Pelaksanaan Perbanyakan
Tanaman jambu biji dapat diperbanyak secara vegetatif yakni dengan pendirian sambung pucuk, okulasi, dan cangkok.  Keuntungan perbanyakan tumbuhan secara vegetatif adalah :

  • Buah yang dihasilkan karakternya sama dengan induknya
  • Tumbuhan cepat berbuah  (misalnya dengan cangkok akan berbuah lega hayat 3-4 bulan setelah tanam)
  • Arsitektur tanaman menjadi makin adv minim sehingga mudah pengelolaannya baik pemeliharaan tanaman alias pemanenan buah.

A.  Hubung pucuk
(Grafting)

Perbanyakan jambu poin dengan mandu sambung pucuk ini banyak dilakukan karena tekniknya relatif mudah dan tercecer. Selain itu bibit yang dihasilkan makin cepat berbuah.

Tahapan pelaksanaan sambung pucuk yakni sebagai berikut:

  • Siapkan layon bawah yang berumur 6-8 bulan selepas semai dengan diameter0,5–0,8 cm
  • Batang pangkal dipotong sekelas 10 – 15 cm
  • Putaran ujung potongan dibelah menjadi 2 bagian sama besarnya sepanjang ± 2 cm
  • Entres diambil dari cabang yang sudah taruna enggak terlalu taruna dan tidak terlalu tua dengan ciri-ciri kulitnya bercelup coklat kehijauan.
  • Pucuk entris dipotong sejauh 10 – 15 cm, bagian sumber akar disayat. Pucuk entris disisipkan lega jeruji batang radiks dan diikat dengan sutra plastik, kemudian disungkup dengan kantong plastik bening.
  • Apabila entris sudah lalu berasal tunas ataupun keluar patera mentah, sungkup plastik sudah dapat dibuka.


Gambar2
bibit hasil perkalian sambung pucuk


B.Okulasi (Budding)


Multiplikasi jambu biji dengan cara okulasi ini paling banyak dilakukan oleh penangkar bibit, karena cara ini cukup mudah dan sederhana serta irit entris sebab yang digunakan hanya mata tunas. Dengan keterbatasan entris maka cara perkalian okulasi ini akan menghasilkan pati lebih banyak dibandingkan dengan cara sambung pucuk atau cangkok.

Tahapan pelaksanaan okulasi :

  • Siapkan jenazah sumber akar umur 8-12 bulan setelah semai. Batang bawah disayat selebar  0,5 – 0,7 cm, tangga  3 – 4 cm, kemudian tarik adegan kulit yang telah disayat tersebut sehingga nampak berbentuk begitu juga lidah. Strata sayatan okulasi  10 – 15 cm berasal permukaan tanah.
  • Penyayatan entris dilakukan dari arah bawah ke atas dengan menumpangkan kayunya sedikit. Tetak kulit tersebut sehingga gambar dan ukurannya sama dengan sayatan batang bawah.  Silang entris  yang digunakan nan mutakadim berwarna kecoklatan dengan mata recup nan sudah padat.
  • Kayu nan masih berpasangan lega sayatan dibuang secara lambat-laun mudah-mudahan kelang-sungan usia selerang bisa terjamin.
  • Tempelkan buru-buru sayatan mata taruk tersebut pada batang bawah, kemudian diikat berdampingan dengan tali plastik.
  • Tiga minggu setelah pelaksanaan okulasi rayon balutan dibuka. Apabila bidang okulasi masih hijau berarti okulasi jadi.
  • Bangkai radiks dikerat sedikit  ± 10 cm di atas satah okulasi
  • Seandainya tunas telah berdaun 2–3 pasang dan diperkirakan daun tersebut rani berasi-milasi, batang bawah dipotong tepat plong keratan


Gambar3
Pati hasil perbanyakan secara okulas

i





C.  Cangkok

Perbanyakan jambu skor dengan prinsip mencangkok memiliki kelebihan dan kehabisan. Fungsi cara mencangkok dari jambu angka yaitu esensi yang diperoleh memiliki aturan yang sekufu dengan induknya, tanaman cepat besar, cepat bertelur, teknik pelaksanaannya mudah dan sederhana, dan tingkat keberhasilannya cukup tinggi. Kekurangannya adalah sukar untuk mendapatkan konsentrat dalam total banyak dan tidak mempunyai akar tunggang, sehingga pohon mudah rebah.

Tinggi pelaksanaan mencangkok :

  • Pilih simpang/ranting generatif dengan diameter ± 2 cm.
  • Sayat cabang/ranting  ± 10 cm dan beri zat pengatur tumbuh akar.
  • Gunakan media merecup paduan tanah + serabut kandang (2 : 1)
  • Basung dengan plastik/sabut kelapa dan ikat puas episode pangkal dan ujungnya.
  • Kerjakan pendirusan secara rutin bila kering ataupun tidak ada hujan angin.
  • Setelah keluar akar (umur 2-3 bulan), hasil cangkokan bisa dipotong dan dipindahkan ke polibag.
  • Siram hasil cangkokan dan letakkan ditempat teduh dan lembab. Cak bagi mengurangi penguapan, sebagian cabang dipotong dengan menyisakan satu maupun dua cabang saja.

Selepas bibit bertunas kuat dan baik (berumur 3–5 bulan), bibit cangkokan jambu ponten dapat ditanam di tegal



Gambar 4

Esensi hasil perbanyakan secara cangkok



3. Pemeliharaan tanaman di pembibitan

Sebelum bibit ditanam di kebun, bibit teradat mendapat konservasi intensif agar tumbuh dengan baik dan sehat. Pemeliharaan ekstrak memerlukan pikiran khusus karena tanaman masih litak dan peka terhadap lingkungan.



a. Pendirusan

Penyiraman bibit dapat dilakukan dua kali sehari kiranya media tanam sari patuh lembab. Semata-mata penyiraman jangan berlebihan. Penyiraman boleh menggunakan nasihat plastik atau gembor dan harus lever-lever seyogiannya enggak destruktif media tanam.



b. Penyiangan

Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman atau di polibag harus segera dicabut agar enggak mengganggu pertumbuhan bibit. Gelanggang pembibitan harus kalis berpangkal sampah agar bukan menjadi sarang hama dan masalah yang membahayakan bibit.



c. Fertilisasi

Pemupukan pada bibit dapat menggunakan cendawan NPK atau pupuk daun. Pupuk NPK boleh diberikan secara butiran alias cair. Butiran diberikan dengan dosis 3 g /pokok kayu dengan pause 2 rembulan sekali, sedangkan enceran 15 g/10 l air diberikan dengan interval waktu 1 bulan sekali. Untuk pupuk daun, takaran yang digunakan adalah 2 g/liter air  dengan jeda waktu 2 pekan sekali.



e. Pengendalian wereng dan ki aib


Wereng yang sering menyerang tanaman jambu ponten di pembibitan adalah belalang, ulat, bilang macam kutu  (Tungau
sp;
Aphid
sp, dan Thrip), serta keburukan nan disebabkan maka dari itu jamur/cendawan. Pengendalian hama dilakukan dengan penyemprotan insektisida baik berperangai kontak maupun sistemik, dan seyogiannya disemprotkan pada pagi musim agar bertambah efektif. Sementara itu lakukan penyakit pengendalian dilakukan dengan penyemprotan fungisida.

[email protected]





Source: http://balitbu.litbang.pertanian.go.id/index.php/hasil-penelitian-mainmenu-46/527-perbanyakan-tanaman-jambu-biji