Berapa Banyak Bahasa Di Indonesia

Catatan terbaru Kemendikbudristek menyatakan 11 bahasa daerah di Indonesia telah punah, di mana delapan bahasa ibu yang hilang itu ada di Provinsi Maluku.
Ilustrasi. Penghuni mengamalkan adat istiadat uang selawat atau sedekah palagan karet ketika hari raya Idulfitri di Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Ahad (1/5/2022). (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Yogyakarta, CNN Indonesia

Kementerian Pendidikan, Tamadun, Penekanan, dan Teknologi (

Kemendikbudristek

) mencatat sebanyak 11


bahasa daerah

di Indonesia telah punah.

Berdasarkan data yang diberikan Kemendikbudristek, Kewedanan Maluku menjadi daerah yang paling banyak kehilangan bahasa daerah yakni sebanyak okta- bahasa. Sementara itu, tiga bahasa lainnya berasal dari Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.

Adapun bahasa daerah yang punah antara tak Bahasa Tandia dari Papua Barat, Bahasa Mawes dari Papua, dan Bahasa Ternateno dari Maluku Lor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemudian Bahasa Kajeli/Kayeli, Bahasa Piru, Bahasa Moksela, Bahasa Palumata, Bahasa Hukumina, Bahasa Hoti, bahasa Serua, dan Bahasa Nila dari Maluku.

Komandan Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek, M Abdul Khak mengatakan kepunahan 11 bahasa daerah itu disebabkan banyak hal, dan masing-masing farik-cedera penyebabnya.

“Secara mahajana disebabkan makanya globalisasi yang mengarah ke monolingualisme, sangkut-paut silang ataupun campur antaretnis, migrasi dan mobilitas tinggi, serta sikap bahasa penutur jati,” kata Khak kepada
CNNIndonesia.com, Paru-paru (29/6).

Infografis 11 Bahasa Daerah Punah, 25 Terancam

Misal keterangan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek mengategorikan prestise bahasa daerah di Indonesia menjadi kategori aman, stabil cuma terancam punah, mengalami kemerosotan, terancam punah, reseptif, dan punah.

Status lega dada artinya bahasa daerah masih dipakai oleh semua anak dan semua bani adam dalam etnik tersebut. Cak semau 25 bahasa provinsi yang masuk dalam status kesepakatan.

Status stabil hanya terancam punah artinya semua anak-anak asuh dan suku bangsa tua bangka menggunakan bahasa kawasan cuma besaran pendongeng sedikit. Ada 19 bahasa daerah yang masuk dalam status ini.

Kemudian, status mengalami deteriorasi artinya sebagian penutur anak-anak, kaum tua, dan sebagian penutur anak-anak lain tak menunggangi bahasa daerah. Terserah tiga bahasa provinsi yang timbrung dalam status mengalami deklinasi.

Status terancam punah artinya semua penutur 20 waktu ke atas dan jumlahnya adv minim, tentatif generasi tua lain berfirman kepada anak-anak atau di antara mereka sendiri. Suka-suka 25 bahasa daerah yang ikut dalam martabat ini.

Selain itu, status responsif artinya penutur bahasa daerah berusia 40 tahun ke atas dan jumlahnya sangat sedikit. Suka-suka enam bahasa daerah yang masuk dalam prestise perseptif.

Terakhir, martabat punah yang artinya tidak cak semau lagi penutur bahasa daerah. Ada 11 bahasa daerah yang masuk dalam status punah.

Kekinian, Kemendikbudristek menyatakan setidaknya panca bahasa kewedanan di Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk dalam program revitalisasi bahasa area tahun 2022.  Lima bahasa ibu tersebut yakni bahasa Dawan, bahasa Manggarai, bahasa Kambera, bahasa Rote, dan bahasa Abui.

Abdul Khak menuturkan NTT ialah daerah ketiga di Indonesia dengan total bahasa daerah terbanyak. Dari 718 bahasa distrik yang ada di Indonesia, 72 di antaranya pecah dari NTT.

“Revitalisasi ini ialah upaya bakal mencegah bahasa wilayah punah terlalu, dan ponten-nilai kebahasaan tersebut masih dapat diketahui dan digunakan oleh generasi berikutnya,” kata dia.

(lna/kid)



[Gambas:Video CNN]


Source: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20220629134646-20-814988/data-kemdikbud-11-bahasa-daerah-di-indonesia-punah-maluku-terbanyak

Posted by: gamadelic.com