Bahasa Jawa Kuno Dan Artinya

Bahasa Jawa Kuno
Bhāṣa Jawa
Wilayah Jawa, Madura, dan Bali
Punah Berkembang menjadi Bahasa Jawa Pertengahan pada abad ke-13, lalu menjadi bahasa Jawa baru sekitar abad ke-17 hingga sekarang.

Rumpun bahasa

Austronesia

  • Melayu-Polinesia

    • Melayu-Polinesia inti
      • Bahasa Jawa Kuno

Sistem penulisan

Aksara Pallawa
Aksara Kawi
Aksara Jawa
Aksara Bali
Kode bahasa
ISO 639-2
ISO 639-3

Bahasa Jawa Kuno
(Jawa: ꦨꦴꦰꦴꦗꦮ) adalah fase tertua dari bahasa Jawa yang dituturkan di bagian Tengah dan Timur pulau Jawa, termasuk di bilang daerah di pulau Madura dan Bali. Bahasa ini merupakan salah satu cabang rumpun bahasa Jawi-Polinesia Inti.

Salah satu bukti tercatat bahasa Jawa Kuno adalah prasasti Plumpungan hari 750 Masehi di Salatiga, Jawa Perdua, model tertua yang ditulis pada keseluruhannya dalam bahasa Jawa Bersejarah ialah batu bersurat Sri Ranapati tahun 787 Masehi di Temanggung, Jawa Tengah dan prasasti Sukabumi tahun 804 Serani di Kediri, Jawa Timur.

Karya sastra Jawa abad pertengahan nan ditulis dalam bahasa Jawa Bersejarah dengan menggunakan huruf Kawi turut berkembang. Sastra-sastra itu disebut
layang kawi
atau
kakawin. Mulai abad ke-18, karya sastra yang terinspirasi berbunga bahasa Jawa Kuno ditulis dengan menggunakan bahasa dan tembang Jawa modern.[1]

Perkembangan

[sunting
|
sunting sumber]

Bahasa Jawa Kuno enggak bersifat statis, biarpun digunakan sekitar 500 periode, ialah sejak awal prasasti Plumpungan, yang ditemukan di Salatiga, Jawa Paruh (kk. 750 Serani) hingga zaman Kekaisaran Majapahit lega 1292. Bahasa Jawa yang dituturkan dan ditulis pada zaman Majapahit dianggap lebih ke sebelah Bahasa Jawa Modern karena telah mengalami sepenggal transisi.

Cikal-buat semenjak Austronesia

[sunting
|
sunting sumber]

Bak bahasa Austronesia murni, pengaruh yang paling kecil terdahulu dalam Bahasa Jawa Bersejarah merupakan kosakata (vocabulary), struktur kalimat, dan tata bahasa, begitu juga dengan bahasa-bahasa lainnya di Asia Tenggara. Dan sebagaimana bahasa Austronesia pada galibnya, bertambah dari sekerat kosakatanya selalu diakhiri dengan vokal melangah (ibarat: …-a, …-i, dsb.) dan lain konsonan penutup (misal: ….-h, …-lengkung langit, dsb.)

Kontrol Bahasa Sanskerta

[sunting
|
sunting perigi]

Otoritas linguistik India pada bahasa Jawa Bersejarah paling samudra adalah kekuasaan Sanskerta, dan hampir tidak ada dominasi unsur linguistik India lain selain Sanskerta, berbeda dengan bahasa kuno lainnya, misal seperti bahasa Jawi Historis yang dapat banyak pengaruh linguistik India selain berusul Sanskerta.

Bahasa Sanskerta memiliki otoritas nan besar dan kuat terutama pada daftar kata bahasa Jawa sebatas sekarang.
Kamus bahasa Jawa Kuno – bahasa Inggris
yang disusun oleh guru besar P.J. Zoetmulder sreg periode 1982 mengandung selingkung 25.500 alas kata, dengan seputar 12.500 (49%) kata diantaranya merupakan pengenalan pinjaman dari daftar kata Sanskerta. Hanya, terlazim dipahami bahwa kamus ini disusun namun berdasarkan perigi-sumur tulisan Jawa Historis yang tersisa sreg tahun tersebut. Kaprikornus, kemungkinan besar khazanah kata pada kamus tersebut lebih mencerminkan penggunaan bahasa puas konteks sastra dan puri, bukan pendayagunaan sehari-hari maka itu mahajana umum.[2]

Fonologi

[sunting
|
sunting sumber]

Walaupun bahasa Sanskerta sangat mempengaruhi bahasa Jawa Historis, bahasa Jawa Kuno taat adalah bahasa Austronesia. Namun di samping itu, bahasa Sanskerta juga mempengaruhi tidak doang kosakata saja, doang juga fonologinya. Misalnya, bahasa Jawa Kuno (dan termasuk turunannya) mengandung fonologi retrofleks nan mungkin berasal berusul bahasa Sanskerta. Akan tetapi, hal ini diperdebatkan oleh banyak pandai ilmu bahasa yang menganggap bahwa retrofleks-nya bahasa jawa ini merupakan perkembangan seorang n domestik keluarga bahasa Austronesia.

Vokal

[sunting
|
sunting sumber]

Bahasa Jawa Kuno memiliki enam vokal, ialah ⟨a⟩, ⟨ĕ⟩ /ə/, ⟨e⟩ /e/, ⟨i⟩, ⟨u⟩, dan ⟨udara murni⟩ dalam abc Latin. Secara umum, pemeriksa percaya bahwa pengucapan bahasa Jawa Historis tidak memiliki perbedaan dengan artikulasi kerumahtanggaan bahasa Jawa Beradab. Perkecualian itu terletak pada pengucapan ⟨a⟩ lega suku kata terakhir terbuka yakni å /ɔ/ yang sebelumnya /a/ sebagaimana pada kata
wana
(hutan).[3]
Lamun bahasa Jawa Kuno secara penulisan membedakan vokal panjang, yakni ⟨ā⟩, ⟨ö⟩, ⟨e⟩, ⟨ī⟩, ⟨ū⟩, and ⟨udara murni⟩, namun secara fonologi vokal hierarki dan ringkas tidak mempunyai perbedaan. Semua vokal tersebut diucapkan secara pendek.

Konsonan

[sunting
|
sunting sumber]

Konsonan dalam bahasa Jawa Kuno berjumlah 20. Konsonan-konsonan tersebut antara lain adalah b, c, d, ḍ, g, h, j, k, l, m, t, ñ, ŋ, p, r, s, n, ṭ, w dan y dalam fonem Latin. Konsonan ñ sesekali ditulis bak digraf ny alias IPA ɲ, sedangkan konsonan ŋ terkadang ditulis dengan digraf ng.

Konsonan
Kancah Pelisanan Semivokal Sibilan Celah
Nirsuara Bersuara Sengau
Non-aspirasi Teraspirasi1 Non-aspirasi Teraspirasi1
Velar ka kha ga gha ṅa (h)a
Palatal ca cha ja jha ña ya śa3
Retrofleks ṭa ṭha ḍa ḍha ṇa2 ra ṣa3
Dental ta tha da dha na la sa
Labial pa pha ba bha ma wa
Goresan


^1

Konsonan aspirasi diucapkan laksana konsonan non-aspirasi

^2

Konsonan sengau retrofleks diucapkan sebagai konsonan nasal dental.

^3

Konsonan sibilan palatal dan retrofleks diucapkan sebagaimana konsonan sibilan dental.

Keberadaan konsonan digunakan dalam kata serapan dari rumpun bahasa Indo-Arya (khususnya Bahasa Sanskerta).

Sandi

[sunting
|
sunting sendang]

Sandi adalah perubahan bunyi yang terjadi pada batasan morfem. Sandi-sandi pada bahasa Jawa Historis antara lain:

  • Takdirnya sebuah kata diakhiri dengan vokal dan kata berikutnya n domestik suatu kalimat dimulai dengan vokal, kedua kata bisa melebur menjadi suatu dengan satu vokal janjang dan bukan dengan dua vokal, seperti pada
    dewatādi
    alih-alih
    dewata
    +
    adi.
  • Vokal yang diikuti dengan vokal ĕ akan berasimilasi menjadi vokal ĕ, seperti pada pembukaan
    wawan
    (tanggung; wadah) berbunga kerangka
    wawa
    (bawa) +
    ĕn.
  • Vokal nan sama, tanpa memperhitungkan tahapan-pendek vokal, berasimilasi sebagai vokal tataran, misalnya
    rĕngön
    (dengarkan) dari
    rĕngö
    (dengar) +
    ĕn.
  • Vokal terbuka /a/ yang diikuti oleh vokal depan tertutup /e/ atau /i/ berasimilasi menjadi /e/ seperti pada perubahan
    bhinna ika
    menjadi
    bhinneka
    (hal nan berbeda)
  • Vokal terbuka /a/ nan diikuti oleh vokal pinggul terkatup /o/ alias /u/ berasimilasi menjadi /o/, seperti sreg pergantian
    mantra oṣadha
    menjadi
    mantroṣadha.
  • Semivokal y /j/ dan w akan menukar vokal /i/, /u/, atau ö ketika diikuti makanya vokal nan berbeda, contohnya
    kadi amṛta
    menjadi
    kadyamṛta
    (i + a → ya),
    ri ubhaya
    menjadi
    ryubhaya
    (i + u → yu),
    jagung āśā
    menjadi
    milwāśā
    (u + a → wa),
    māsku ibu
    menjadi
    māskwibu
    (u + i → wi), dan
    angangsö agawe
    menjadi
    angangswagawe
    (ö + a → wa).

Tata Bahasa

[sunting
|
sunting sumber]

Verba

[sunting
|
sunting sumber]

Verba dalam bahasa Jawa Kuno, begitu juga pada bahasa-bahasa intern rumpun bahasa Austronesia, bersifat obsesi secara ilmu saraf. Kompleksitas morfologi verba dibentuk dari konjungasi dengan imbuhan yang memperhitungkan aspek fokus/pemicu, kasus, dan modus.


Fokus/Trigger

[sunting
|
sunting sumber]

Verba internal bahasa Jawa Kuno bisa dibedakan menjadi kata kerja aktif dan kata kerja pasif.

  • Pembukaan kerja aktif diturunkan dengan awalan
    (m)aN-
    atau sisipan
    -um-.

    • Kata kerja aktif berawalan
      (m)aN-
      yang umumnya dinyatakan dengan persiapan
      maN-
      ataupun
      aN-
      menciptakan menjadikan kata kerja aktif transitif jika kata dasarnya substansial kata kerja, seperti lega
      amati
      (membunuh) dari
      konsentrat
      (kematian) dan
      mangan
      (makan) berpangkal
      pangan
      (makanan), Jika kata dasarnya ialah pengenalan benda, penurunan bisa menghasilkan kata kerja transitif maupun intransitif yang mana ketransitivifannya tidak boleh ditentukan, seperti mana pada
      angjanma
      (menjelma) dari
      janma
      (manusia). Verba yang diturunkan pecah adjektif dengan persiapan
      (m)aN-
      akan berperilaku kausatif. Denasalisasi dapat terjadi pada sosok introduksi dengan anju ini, contoh
      pamangan
      terbit
      mamangan
      (makan) dan
      panginum
      dari
      manginum
      (menenggak).
    • Sisipan
      -um-
      mewujudkan verba aktif yang galibnya bukan n kepunyaan perbedaan makna dengan verba aktif bermula langkah (m)aN-. Namun, perbedaan makna dapat ditimbul dari individu dengan awalan
      (m)aN-
      dan infiks
      -um-, seperti pada
      anahur
      (membayar kembali) dan
      sumahur
      (menjawab) dari
      sahur
      (jawaban, kembalian).
  • Kata kerja pasif diturunkan dengan awalan
    ka-
    or sisipan
    -in-. Jika praktisi disebutkan secara eksplisit, partikel
    de
    disematkan sebelum pelaku, seperti pada “Katon pwa ta de sang Śrutasena”.

    • Awalan
      ka-
      perumpamaan awalan verba pasif. Jika diikuti oleh kata dasar dengan huruf semula konsonan, awalan tak mengalami pertukaran. Sandi terjadi jika ancang tersebut diikuti maka itu vokal seperti lega
      kālap
      (diambil) from
      ka-
      +
      alap. Selain susuk
      ā
      terbit
      a + a, sandi terkait meliputi
      ā
      dari
      a + ĕ
      /ə/,
      e
      dari a + salah satu i atau e, dan
      o
      dari
      a + u
      (acuan
      a + o
      bukan ditemukan).
    • Bentuk perkenalan awal kerja pasif dapat diturunkan dengan infiks
      -in-, seperti
      inalap
      (diambil) berbunga
      alap.
Aturan Nasalisasi pada Awalan
(m)aN-
Ancang Kata Dasar Sandi Awalan Contoh
nasal (m-, falak-, ng-) (m)aN-
+
Ufuk-

(m)a-
(m)a- maga

amaga
(menjengkelkan)
k (m)aN
+
k-

(m)ang-
(m)ang- kĕmit

angĕmit
(menjaga)
p, w (m)aN-
+
p-,w-

(m)am-
(m)am- pahat

amahat
(memahat)
s, t (m)aN-
+
s-,t-

(m)an-
(m)an- songsong

anambut
(menyita)
c (m)aN- + c- → (m)any- (m)any- cangking

anyangking
(membawa)
vokal (m)aN-
+
V-

(m)ang– +
V-
(m)ang- abĕn

angabĕn
(kecam)
d, g, h (m)aN- + d-,g-,h-

(m)ang- + d-,g-,h-
(m)ang- haḍang

anghaḍang
(menghadang)
j (m)aN-
+
j-

(m)ang- + j-
(m)ang- jajah → angjajah
(menjelajah)
semivokal (r, l, w) (m)aN- + H- → (m)ang- + H- (m)ang- liput

angliput
(menutupi)
b (m)aN- + b- → (m)am- + b- (m)am- dukung → ambawa
(mengangkut)
Aturan Nasalisasi plong Sisipan
-um-
Awalan Kata Dasar Sandi Awalan Transendental
vokal -um-
+ V- →
umV-
umV- alap

umalap
(menjumut)
labial (b-,p-,m-,w-) -um-
+ C- →
um-
um- wawa

umawa
(membawa)
lainnya tidak berubah tidak berubah gamit → jumawil
(sampai ke)

Kasus

[sunting
|
sunting sumur]

  • Kasus benefaktif atau pluralitas bisa dinyatakan dengan sufiks
    -i
    dan
    an. Sufiks
    -i
    digunakan puas verba aktif transitif (dengan
    (m)aN-
    atau
    -um-) yang mencair menjadi
    -i
    (amatī, membunuh, pecah
    pati) sesudah vokal dan
    -ani
    (amatyani, mendabih, from
    pati) selepas konsonan. Akan tetapi, verba pasif transitif memperalat akhiran
    -an
    (dengan
    ka-
    atau
    -in-). Jika kata dasar diakhiri
    -a,
    -an
    diletakkan, buka
    -anan, seperti lega
    kapaḍan.
  • Kasus kausatif ditandai dengan akhiran –akĕn
    dari dasar verba (baik awalan
    (m)aN-
    maupun sisipan
    -um-) bersifat obyek. Namun demikian, kontak verba pasif
    ka-
    dengan akhiran –akĕn
    tidak ditemukan.
  • Kasus aplikatif dibentuk dengan awalan
    maka-
    dan
    pinaka-. Awalan
    maka-
    digunakan puas verba aktif (dengan
    (m)aN-
    atau
    -um-), sedangkan verba pasif menunggangi awalan
    pinaka-
    (dengan awalan
    -in-
    atau
    ka-). Fenomena denasalisasi dapat terjadi.

Modus

[sunting
|
sunting sumur]

  • Modus irealis ditandai dengan akhiran -a pada verba. Verba aktif irealis dapat dibentuk dengan persiapan verba aktif (awalan
    (m)aN-
    ataupun sisipan
    -um-) dengan akhiran
    -a
    (begitu juga
    manghuripa
    dari
    manghurip). Verba pasif irealis dapat dibentuk dengan pengguguran sisipan
    -in-
    dan disertai akhiran
    -ĕn
    (seperti
    huripĕn) atau verba pasif dengan suffiks -a pada langkah
    ka-. Kedatangan sandi terkadang memustahilkan untuk mengetahui apakah -a yakni
    mood
    irrealis. Jika akhiran pronominal dijumpai, sufiks irrealis diprioritaskan.
  • Modus imperatif dalam bahasa Jawa Bersejarah dapat dinyatakan dengan tiga cara
    • …dengan susuk tanpa imbuhan, sebagai halnya pada
      mijil
      (mohon datang) dan
      anunggangi
      (mohon menunggang) yang mana ialah bentuk sopan. Bentuk ini hanya dapat diketahui berlandaskan konteks.
    • …dengan aborsi anju verba, seperti
      wijil
      dan
      tunggangi
    • …dengan meletakkan
      cakrawala(a)
      atau
      p(a)
      sebelum bentuk dasar,
      sama dengan
      ta mijil,
      ta wijil, pamijil,
      atau
      pawijil
      dan
      tānunggangi, ta tunggangi, pānunggangi, ataupun
      patunggangi.
  • Larangan dibentuk dengan mengedrop
    haywa, seperti “haywa ta kita malara!” (Jangan bersedih!).
Pembentukan Kata kerja Irealis
Modus Irealis Kasus Benefaktif

-i

Kasus Kausatif

akĕn

Fokus Aktif

prefiks
(m)aN-
atau infiks
-um-

prefiks
(m)aN-
atau infiks
-um-
ada

sufiks
-ana

prefikd
(m)aN-
atau infiks
-um-
cak semau

sufiks
-akna
alias –akĕn

Fokus Pasif

infiks
-in-

infiks
-in-
tidak terserah

sufiks
-ana

infiks
-in-
tidak ada

sufiks
-akna or -akĕn

Nomina dan Kata ganti

[sunting
|
sunting sendang]

Molekul

[sunting
|
sunting sumber]

Bahasa Jawa Bersejarah memiliki beberapa partikel. Molekul
ta
yaitu partikel nan paling umum dijumpai. Partikel yang bukan yaitu
pwa,
ya, dan
sira. Partikel
ya
dan
sira
perlu dibedakan dengan pronomina personal
ya
dan
sira. Anasir terkadang dikombinasikan seperti
ta pwa
dan
ta ya. Anasir sekali-kali tidak dituliskan sama sekali.

Pronomina personal dan sufiks

[sunting
|
sunting sumber]

Bahasa Jawa Kuno mutakadim mempunyai pronomina personal yang orang pertama, kedua, dan ketiga. Pronomina bukan membedakan tunggal-seremonial dan martabat sosial secara umum.
Sira
dapat digunakan sebagai partikel kehormatan seperti
sang.

Kata ganti personal
rendah/netral netral netral/tinggi
orang mula-mula aku
(belaka tunggal)
kami

mami

sosok kedua ko kitakamukanyu
orang ketiga ya sira

Pronomina personal punya padanan sufiks pronomina yang berfungsi kerjakan menyatakan korespondensi kepemilikan.

Akhiran pronomina
low/neutral neutral
basyar pertama -ku-mami
orang kedua -mu-nyu -ta
anak adam ketiga -nya -nira

Sufiks tersebut mengikuti sifat-resan sandi, yakni:

  • Akhiran
    -ku
    tidak mengalami perubahan setelah konsonan, seperti puas
    tanganku
    (tanganku), namun akhiran akan berubah menjadi
    -ngku
    setelah vokal.
  • Sufiks
    -ta
    tidak mengalami perubahan setelah konsonan, namun akan berubah menjadi
    -nta
    setelah vokal.
  • Akhiran
    -nya
    akan berubah menjadi
    -ya
    setelah
    n.
  • Akhiran
    -nira
    akan berubah menjadi
    -ira
    setelah
    n.

Sufiks kata ganti orang ketiga dapat menunjukkan afiliasi kepemilikan antara dua kata, seperti pada
“Wĕtunira sang Suyodhana”
(kelahiran Suyodhana) selain juga digunakan lakukan membentuk nomina dari verba dan adjektif seperti
widagdhanya
(keterampilannya) dari pembukaan sifat
widagdha
dan
pinintanira
(dia medium diminta) semenjak pembukaan kerja
pininta.

Kerumahtanggaan bahasa Jawa Kuno, banyak perkenalan awal selain pronomina persona digunakan kerjakan menytakan kata ganti orang bani adam pertama dan orang kedua. Pembukaan-kata tersebut merupakan konstruksi tegar yang tidak mempunyai peran. Hal ini bukanlah stempel. Perumpamaan contoh, pronomina orang permulaan dapat faktual
nghulun
(hulun, budak) dan
ngwang
(wwang, anak adam).

Pronomina demonstratif

[sunting
|
sunting sumber]

Bahasa Jawa Kuno memiliki empat keramaian pronomina demonstratif. Setiap gerombolan menggambarkan perbedaan derajat lokasi dari pembicara dan mustami serta perbedaan penekanan.

Pronomina demonstratof bahasa Jawa Historis
netral penekanan penekanan bertambah penekanan lebih
ini iki tiki ike
itu (dempang mustami) iku tiku iko
itu (jauh dari keduanya, bdk. sana) ika tika ikā tikā

Determinan

[sunting
|
sunting mata air]

Bahasa Jawa Kuno tidak memiliki kata sandang indefinit. Kata kerja tanpa artikel yaitu pengenalan kerja indefinit. Bahasa Jawa Kuno memiliki tiga kata sandang untuk menunjukkan kondisi definit: artikel definit, artikel kegadisan dan
ika. Baik artikel definit maupun kata sandang kehormatan ditempatkan sebelum kata kerja dan bukan boleh redup sendiri. Artikel definit
(a)ng
ditulis sejaras dengan partikel. Artikel kehormatan berupa
si, pun, sang, sang hyang, ḍang hyang, śrī,
dan
ra.

Selain kata sandang definit dan artikel keperawanan,
ika
dapat digunakan pula untuk menunjukkan kondisi definit. Prolog
ika
punya dua keistimewaan ialah artikel definit dan pronomina demonstratif. Kata
ika
misal pronomina demonstratif nan bermanfaat ‘itu’ yang digunakan untuk membedakan dengan ‘ini’. Sekiranya tidak cak semau perbedaan itu-ini, fungsinya adalah kata sandang definit.
Ika
ditempatkan di depan kata dan selalu dirangkai dengan artikel definit.

Akhiran posesif

[sunting
|
sunting sumber]

Penyataan posesif internal bahasa Jawa Kuno dilakukan dengan akhiran posesif seperti akhiran
-(falak)ing
dan
-(horizon)ika. Akhiran
-ning
dibentuk dari klitik
-(kaki langit)i,
yang lain dapat berdiri sendiri walaupun diperlukan, dengan artikel definit
(a)ng. Akhiran tersebut galibnya ditulis sebagai
-ning, kecuali pasca- alas kata sumber akar berakhiran
n
ditulis
-ing. Kondisi sama berlaku sreg
-(n)ika
yang dibentuk dengan klitik
-(n)i
dan artikel definit
ika. Sufiks tersebut ditulis bak
-nika, kecuali setelah pembukaan dasar berakhiran
falak
ditulis
-ika. Kepemilikan pula boleh dinyatakan dengan akhiran pronomina. Artikel virginitas dapat menyatakan kepemilikan seperti puas
sebut sang guru
dengan memangkalkan artikel kehormatan setelah benda yang dimiliki diikuti dengan pemilik.

Adjektiva

[sunting
|
sunting sumber]

Bahasa Jawa Kuno mempunyai dua macam kata keadaan. Kelompok pertama merupakan kata dasar kata sifat, seperti
urip
(kehidupan). Kerumunan kedua yaitu adjektiva yang diturunkan dengan langkah
(m)a-
bermula alas kata dasar benda seperti
adoh
(jauh) dari
doh
(jarak),
ahayu
(elok) dari
hayu
(cantik), dan
mastrī
(beristri) from
strī
(istri). Dalam penurunan menggunakan awalan
(m)a-, kebiasaan sandi ki ajek berperan terutama jika kata dasar dimulai dengan vokal seperti
mānak
(beranak) dari
momongan,
enak
dari
inak, and
mojar
(bersabda) from
ujar. Substantif bisa dimodifikasi dengan kata keadaan.

Adverbia

[sunting
|
sunting sendang]

Verba dan adjektiva serta adverbia dapat tergolong internal kata keterangan. Adverbia diletakan sebelum verba yang diubah kecuali adverbia
dahat
(sangat) yang diletakkan setelah verba. Pembukaan
tan
digunakan cak bagi menyatakan negasi dan memiliki beberapa bentuk lain begitu juga
tatan,
tātan,
ndatan, dan
ndātan.

Prolog Depan

[sunting
|
sunting sumber]

Bahasa Jawa Kuno memiliki beberapa perkenalan awal depan yang mana substantif yang diikuti oleh alas kata depan ialah definit, seperti mana

  • perkenalan awal depan
    (r)i
    berarti ‘di internal’, ‘pada’ dan ‘kepada’ serta ‘bakal’ dan bahkan ‘melangkahi’.
  • pengenalan depan
    sa(ng)ka
    bermanfaat ‘bermula’, ‘dibanding’, serta ‘maka dari itu karena’
  • kombinasi kedua kata depan.

Sekadar, perkecualian ditemukan plong konsep ‘berpunca kerumahtanggaan’ privat bahasa Jawa Kuno. Bahasa Jawa Kuno dapat memperalat interelasi antara
jĕro
atau
dalĕm
(dalam) diikuti dengan klitik
-ni, seperti mana
dalĕmnikang
bagi menyatakan ‘privat’ maupun ‘pecah dalam’. Selain itu, konsep ‘kerumahtanggaan’ atau ‘mulai sejak internal’ dapat dinyatakan dengan menempatkan
(r)i
ataupun
sake
sebelum
jĕro
atau
dalĕm
(n domestik) minus penulisan klitik
-ni
dan kata sandang definit.

Pembukaan Hubung

[sunting
|
sunting sumber]

Perkenalan awal hubung yang paling umum kerumahtanggaan bahasa Jawa Bersejarah adalah
an,
yan,
apan, dan
yarapwan. Sekaan unsur intern klausa ki pionir dan klausa utama yaitu sama yaitu subjek diikuti predikat. Klausa kaki tangan, berlainan dengan klausa utama, tidak menggunakan partikel.

  • Introduksi hubung
    an
    dapat dimaknai sebagai “itu”, “oleh karena itu” dan “ketika”. Pengusahaan
    an
    menyebabkan hilangnya
    -um-. Denasalisasi dapat terjadi.
  • Kata hubung
    yan
    berfaedah “itu” atau “jika”.
  • Kata hubung
    apan
    berjasa “sebab”.

Sintaksis

[sunting
|
sunting sumber]

Dalam konstruksi sederhana bahasa Jawa Historis, predikat dan subyek dipisahkan dengan unsur. Misal komplet, “lunghā ta sira” berjasa “dia pergi” sebagaimana kata kerja
lunghā
(lunga, memencilkan), partikel
ta, dan kata ganti orang ketiga
anda. Kalimat dalam bahasa Jawa Historis lazimnya diawali dengan predikat nan diikuti makanya subjek. Namun demikian, belai terbalik dapat timbul kalau sang penulis menghendaki adanya penekanan. Sebagaimana bahasa-bahasa lain di Indonesia, bahasa Jawa kuno tidak mengenal perubahan konjungasi akibat musim.

Kosakata

[sunting
|
sunting sumur]

Alas kata pinjaman Sanskerta dalam bahasa Jawa Bersejarah karib semuanya merupakan nomina dan pengenalan resan kerumahtanggaan tulang beragangan yang akhir katanya enggak berubah (Sanskerta
lingga). Etimologi mulut Jawa Historis dan juga kata pinjaman Sanskerta tersebut terhidang di
Austronesian Basic Vocabulary Database.[4]

Acuan kosakata bahasa Jawa Kuno yang pecah berasal bahasa Sanskerta:

  • Agni
    = “api”, diserap ke privat bahasa Jawa berubah bunyi menjadi “geni“.
  • Aji
    = “mantra”
  • Aṣṭa
    = “okta-” (Jawa kuno asli = “walu“)
  • Bhāṣa
    = “bahasa”
  • Bayu
    = “kilangangin kincir” (bentuk Sanskerta asli = “vāyu”)
  • Candra
    = “rembulan”
  • Dwi
    = “dua” (Jawa kuno kalis = “ruwa“, Jawa modern = “loro“/”kalih“)
  • Eka
    = “satu” (Jawa kuno masif = “sa“, Jawa modern = “siji“/”setunggal“)
  • Hawa
    = “guru”/”pengajar”

Sempurna kalimat bahasa Jawa Kuno (catatan: huruf “â” dan “ě” dibaca e pepet /ə/, abjad “ê” dibaca /e/, abc “ṣ” ki ajek dibaca /s/, dan huruf ā kukuh dibaca /a/. Jika ada kesalahan baik kalimat atau kelebihan, mari dibetulkan.):

Kunang kacarita nikanang amawa phalaning jambu, sânak ikang nāga Takṣaka tumutur sakêng pātāla, ikang Takṣaka munggwing sunguting jambu. Ikang brāhmana mamawa jambu, ri huwusing jambu kawwat, mangunyakěn wedaśānti mangastungkārājaya-jaya mantra, sinwâgatan wineh dakșina.

Arti: “Adapun ceritanya, yang membawa biji pelir jambu ialah plasenta Ular besar Taksaka, nan telah mengikutinya sejak dari dalam bumi; padahal sang Taksaka sendiri berada di sungut jambu. Sang Brahmana (nan) mengirimkan jambu, setelah jambunya diberikan, mengucapkan puji-pujian weda, memujikan berkah bagi mantra keberhasilan; (kemudian) diterima dan diberi persembahan”.

Sistem Karangan

[sunting
|
sunting sumur]

Bahasa Jawa Bersejarah secara mahajana pada masanya, abad ke-8 hingga ke-16 Masehi, ditulis kerumahtanggaan aksara Kawi. Aksara Kawi merupakan aksara turunan dari leter Brahmi. Aksara Kawi digunakan oleh beberapa bahasa pada masa itu di Nusantara. Semata-mata demikian, bahasa Jawa Bersejarah di era modern ini kebanyakan ditulis kerumahtanggaan aksara Jawa dan aksara Bali selain transliterasi dalam abjad Latin.

Penggunaan

[sunting
|
sunting sumber]

Komunikasi lisan

[sunting
|
sunting sumur]

Bahasa Kawi lain lah punah sebagai babak dalam komunikasi oral. Bahasa ini umum digunakan pada pertunjukkan tradisional Jawa seperti wayang kelitik, wayang wong, dan wayang kulit, serta pernikahan khususnya pada formalitas Peningsetian dan Panggih. Beberapa bangsawan yang menjunjung tinggi tradisi, bahasa ini digunakan juga puas Midodareni, Siraman dan Sungkeman.

Kesusastraan

[sunting
|
sunting sumber]

Bahasa Kawi adalah salah suatu buram peluasan bahasa Jawa Kuno lakukan kepentingan kesusastraan kakawin.[5]
Secara tradisional, Kawi ditulis dalam lontar yang dibuat berusul patera palem.

Inskripsi

[sunting
|
sunting mata air]

Peninggalan tertulis yang secepat di pulau Jawa privat bahasa setempat ditulis intern bahasa Jawa (Kuno), namun demikian artefak yang mengandung salinan dalam bahasa Jawa Kuno lagi dapat ditemukan di Sumatra.[6]
Warisan tertulis berikut adalah beberapa peninggalan tertulis di pulau Jawa yang ditulis internal bahasa Jawa Kuno.

  • Epigraf Kayumwungan (Karangtengah) (824 M)
  • Prasasti Syiwagrha (856 M)
  • Epigraf Mantyasih (907 M)
  • Prasasti Turryan (929)
  • Prasasti Anjuk Tipar (935/937)
  • Batu bertulis Terep (1032)
  • Prasasti Turun Hyang II (1044)
  • Prasasti Kambang Safi (1050)
  • Prasasti Banjaran (1052)
  • Batu bersurat Malenga (1052)
  • Batu bersurat Garaman (1053)
  • Prasasti Sumengka (1059)
  • Batu bertulis Ngantang (Hantang) (1135)
  • Epigraf Mula Malurung (1255)
  • Prasasti Kudadu (1294)
  • Prasasti Tuhañaru/Jayanagara II (1323)
  • Batu bertulis Waringin Pitu (1447)

Tatap pula

[sunting
|
sunting sumur]

  • Bahasa Kawi
  • Kakawin

Referensi

[sunting
|
sunting sumur]


  1. ^


    Arps, Bernard (2019-09-02). “The power of the heart that blazes in the world: An Islamic theory of religions in early modern Java”.
    Indonesia and the Malay World.
    47
    (139). doi:10.1080/13639811.2019.1654217. ISSN 1363-9811.





  2. ^


    Blust, Robert Andrew. “Austronesian Languages”.
    Britannica
    . Diakses tanggal
    2022-07-15
    .





  3. ^


    van der Molen, Willem (2015).
    An Introduction to Old Javanese
    [Pengantar Bahasa Jawa Historis] (dalam bahasa Inggris). Tokyo: Research Institute for Languages and Cultures of Asia and Africa, Tokyo University of Foreign Studies.





  4. ^


    Greenhill, Simon J.; Blust, Robert; Gray, Russell D. (2008-01). “The Austronesian Basic Vocabulary Database: From Bioinformatics to Lexomics”.
    Evolutionary Bioinformatics
    (intern bahasa Inggris).
    4: EBO.S893. doi:10.4137/EBO.S893. ISSN 1176-9343. PMC2614200alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 19204825.





  5. ^


    Mijianti, Yerry (2017). “Peran Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu cak bagi Bahasa Indonesia”.
    Belajar Bahasa.
    2
    (1): 121.
    Bahasa Kawi adalah bahasa Jawa Kuna yang lazim dipakai lega kesusastraan.





  6. ^


    Griffiths, Arlo (2012). “Inscriptions of Sumatra, II. Short Epigraphs in Old Javanese” [Inskripsi berbunga Sumatra, II. Epigraf Pendek dalam Bahasa Jawa Kuno].
    Referensi Journal of the Humanities of Indonesia
    (dalam bahasa Inggris).
    14
    (2): 197–214. doi:10.17510/wjhi.v14i2.61. Diarsipkan pecah varian sejati tanggal 2022-03-15. Diakses tanggal
    2022-11-06
    .




Wacana tambahan

[sunting
|
sunting mata air]

  • (Belanda)
    Petrus Josephus Zoetmulder, 1950,
    De Taal van het Adiparwa, Bandung: Nix
  • (Inggris)
    Petrus Josephus Zoetmulder, 1982,
    Old Javanese-English Dictionary, The Hague: Martinus Nijhoff. 2 v. (xxxi, 2368 p.) In collaboration with S.O. Robson. ISBN 90-247-6178-6
  • (Indonesia)
    Petrus Josephus Zoetmulder, 1995,
    Kamus Jawa Bersejarah-Indonesia
    In collaboration with S.O Robson. Translators, Darusuprapta, Sumarti Suprayitna. Jakarta: Hasil kerja sekufu Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal, Land-, en Volkenkunde dengan Penerbit PT Gramedia Referensi Terdepan, 1995. 2 v. ; 1. A-0 — 2. P-Y.
  • (Inggris)
    Teeuw, A. and S.O. Robson.2005 edited and translated
    Bhomāntaka: the death of Bhoma
    Leiden: KITLV Press, Series:Bibliotheca Indonesica; 32. ISBN 90-6718-253-2
  • Old Javanese Ki akal Substansi Prolog Diarsipkan 2022-05-27 di Wayback Machine.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa_Kuno

Posted by: gamadelic.com