Bahasa Indonesia Berasal Dari Bahasa

tirto.id – Sudah lalu menjadi keterangan masyarakat bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Cuma, kelihatannya belum banyak turunan adv pernah mengenai bilamana siapa purwa etiket bahasa Indonesia muncul dan boleh jadi yang menciptakannya. Ini lagi termasuk dengan cerita tentang dipilihnya segel bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bukan bahasa Melayu.

Nama bahasa Indonesia pertama kali dicetuskan oleh Mohamad Tabrani, sendiri jurnalis. Ia boleh jadi pertama menyebut bahasa Indonesia dalam tulisannya yang berjudul “Kasihan” di harian
Hindia Baroe
plong 10 Januari 1926. Dikutip dari T.D. Asmadi intern “Anju Ki akbar Tabrani” (Pengutamaan Bahasa Negara di Pangsa Masyarakat: Perkuat Pengawasan, 2022), Tabrani menulis, “Atau dalam bahasa Indonesia” ketika menerjemahkan sebuah syair intern bahasa Belanda. Tak terserah tambahan apa-apa karena topik tulisan itu akan halnya tindak-sungu orang-individu Indo (keturunan campuran Eropa dan pribumi).

Barulah pada 11 Februari 1926 Tabrani secara unik menggambar tentang nama bahasa Indonesia. Pada copot itu sira menulis esai “Bahasa Indonesia” di rubrik “Kepentingan” di
Hindia Baroe.
N domestik esai yang menyorot fenomena kaum terdidik bangsa Indonesia yang terikat oleh bahasa Belanda seolah-olah itu adalah ukuran kemajuan orang di tanah air, Tabrani menulis bahasa itu sebagai:

“Satoe djalan oentoek mengoeatkan perasaan persatoean antara manoesia sebanding manoesia.”

Tabrani mengakui bahwa bahasa Belanda mendukung kaum terpelajar buat meluaskan pemberitaan dan rukyah. Namun, kamu mengingatkan kaum terpelajar untuk berusaha dan berikhtiar menerbitkan satu bahasa yang lambat laun akan diberi nama bahasa Indonesia.

Menurutnya, pergerakan persatuan bangsa Indonesia bukan sedemikian itu persisten dan lekas, antara lain, karena tidak punya bahasa yang gampang diketahui oleh sekalian bangsa kita. Anda mau bangsa Indonesia memiliki bahasa persatuan yang dinamakan bahasa Indonesia dengan harapan, “… soepaja pergerakan persatoean anak-Indonesia akan bertambah keras dan tjepat.”

Tabrani menutup esainya dengan pembukaan-pengenalan pembakar jiwa:

“Bangsa dan pembatja kita berbarengan! Nasion Indonesia beloem ada. Terbitkanlah bangsa Indonesia itoe. Bahasa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bahasa Indonesia itoe. Karena menoeroet kejakinan kita kemerdekaan bangsa dan tanah tumpah kita Indonesia ini teroetama akan tertjapai dengan djalan persatoean momongan-Indonesia jang antara tak-lain terikat maka itu bahasa Indonesia.”

Tabrani membawa gagasannya itu ke dalam Dewan perwakilan Pemuda Indonesia Purwa. Abdurrachman Surjomihardjo dalam pendahuluan
Laporan Kongres Pemuda Indonesia Permulaan
(terjemahan Muh. Nur, 1981), menyapa bahwa Tabrani bersama Muhammad Yamin dan Sumarto berbenda internal suatu kelompok dengan tugas menggosipkan dan mematangkan cita-cita satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.

Puas waktu ketiga dewan perwakilan itu, 2 Mei 1926, Yamin menuliskan nama bahasa Melayu intern butiran ketiga usul resolusi senat, yang akan dimajukan dalam sidang umum kongres: “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatuan, Bahasa Melajoe“.

Tabrani memurukkan ide itu.

N domestik esainya, “Senat Teruna Indonesia Pertama 30 April 1926 s/d. 2 Mei 1926” (45 Tahun Laknat Pemuda, 1974)”, Tabrani mengatakan bahwa urut-urutan pikirannya: tujuan kita bersama yakni Satu-Nusa, Satu-Bangsa, Satu-Bahasa.

“Kalau Nusa itu bernama Indonesia, Nasion itu bernama Indonesia, maka bahasanya harus disebut Bahasa-Indonesia dan lain Bahasa Melayu, biarpun molekul-partikel Bahasa Melayu mendasari Bahasa-Indonesia itu,” tulisnya.

Sebelumnya, sebagaimana diceritakan Tabrani dalam autobiografinya,
Anak Nakal Banyak Akal busuk
(manuskrip, 1978; diterbitkan
Aqua Press
pada 1979), beliau, bersama Sanusi Pane dan Djamaloedin Adinegoro, menyetujui ceramah Yamin sebelum dibacakan di sidang kongres.

Yamin dalam pidatonya, “Probabilitas-Kemungkinan Kala nanti Bahasa-Bahasa dan Sastra Indonesia” (dalam
Informasi Badan legislatif Cowok Indonesia Pertama)”, mengatakan bahwa sejak berabad-abad bahasa Melayu merupakan bahasa antarkepulauan di Nusantara, bahasa yang paling kecil banyak dipakai dalam perdagangan, pers, dan makrifat, keluar masuk di darat dan di air. Beliau berkeyakinan penuh bahwa bahasa Jawi lambat laun akan menjadi bahasa percakapan dan persatuan yang tepat bagi bangsa Indonesia dan kebudayaan Indonesia pada waktu depan akan menemukan ungkapannya dalam bahasa itu.

Karena Tabrani menolak bahasa Jawi sebagai bahasa persatuan dalam usul resolusi, Yamin naik pitam.

“Tabrani menyetujui seluruh pidato saya, tetapi kenapa menolak konsep usul resolusi saya. Sekali lagi pula yang cak semau bahasa Melayu, sedang bahasa Indonesia tidak ada. Tabrani juru ngelamun,” tuturnya sebagaimana ditirukan Tabrani.

Yamin mengatakan Tabrani tukang melamun karena ia menganggap Tabrani tak tegar: menyetujui bahasa Melayu misal bahasa persatuan dalam ceramah Yamin, belaka menolaknya intern usul resolusi. Mungkin Tabrani luput. Seharusnya ia menyorong stempel bahasa Melayu sejak n domestik pidato Yamin.

Tabrani (1978) lalu menanggapi Yamin dengan mengatakan bahwa alasan Yamin betul dan lestari. Sampai-sampai, tambahnya, Yamin makin perseptif bahasa ketimbang dirinya.

“Namun saya tetap pada pendirian. Nama bahasa persatuan mudah-mudahan bukan bahasa Melayu, namun bahasa Indonesia. Kalau belum cak semau, harus dilahirkan melalui Senat Pemuda Pertama ini.”

Infografik Sejarah Nama Bahasa Indonesia

Infografik Album Tera Bahasa Indonesia. tirto.id/Fuad

Kerumahtanggaan perdebatan mengenai tera bahasa persatuan itu terlibat juga Adinegoro dan Sanusi Pane. Menurut Tabrani (1978), mereka (Tabrani, Adinegoro, Pane, dan Yamin) merupakan panitia perumus. Pane menclok terlambat sehingga perundingan dilakukan hanya makanya Yamin, Adinegoro, dan Tabrani. Di tengah perdebatan itu, Adinegoro mengajukan pendapatnya.

Dikutip dari
Wage Rudolf Supratman
(B. Sularto, 1985), Adinegoro mengatakan bahwa argumentasi Yamin untuk menggerutu bahasa Melayu dalam konsep perumusannya memang berdasarkan fakta. Pada waktu itu bahasa Melayu mutakadim beratus-ratus menjadi semacam bahasa pengantar di Nusantara.

Saat suasana perdebatan terasa bertambah tegang, pembukaan Sularto (1985), muncullah Pane yang mendukung alasan Tabrani dan mengemukakan pendapatnya. Menurutnya, baik pendapat Yamin maupun Tabrani ekuivalen-sama bermartabat.

“Seandainya bertolak berpokok pesiaran rekaman, Mas Yamin benar. Akan tetapi, pendapat Mas Tabrani lagi tidak dapat dikatakan salah. Ya, kita sudah menyatakan bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Kita sudah mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Apa juga salahnya seandainya bahasa persatuan kita bernama bahasa Indonesia. Saya juga sejadi, bahasa Indonesia kita lahirkan menerobos Kongres Cowok Indonesia Mula-mula ini, Mas Yamin,” prolog Pane intern buku B. Sularto,
Dari Badan legislatif Pemuda Indonesia Pertama ke Laknat Cowok
(1986).

Sularto memang tidak menyebutkan sumber pernyataan Pane itu. Sahaja, dalam daftar informasi di akhir bukunya tertulis “Rekaman wawancara dengan Bapak Muhamad Tabrani, pada tahun 1977 di Jakarta” dan internal daftar pustakanya tertera: Tabrani, M, Memori “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu bahasa Indonesia”, naskah ceramah, Jakarta, 1975.

Perihal dukungan Adinegoro terhadap Yamin dan dukungan Pane, Tabrani (1978) mengobrolkan kalau Djamaloedin merentang ke pemikiran Yamin sehingga jika diibaratkan kompetisi sepak bola maka skor 2-1 buat kemenangan Yamin.

“Sesudah Sanusi Pane muncul stand berobah menjadi 2-2. Sebab Sanusi Pane menyetujui saya,” catat Tabrani.

Karena perbedaan pendapat mengenai nama bahasa persatuan, Tabrani (1981) membualkan bahwa diambil kebijaksanaan, putusan bungsu dipasrahkan kepada Badan legislatif Perjaka Indonesia Kedua dengan catatan bahwa Yamin harus memperjuangkan cak agar nama bahasa persatuan tak bahasa Melayu, melainkan bahasa Indonesia. Debat antara Yamin dan Tabrani akhirnya enggak diteruskan, semata-alat penglihatan untuk memelihara persatuan dan kesatuan antara keduanya, malar-malar menghafaz argumen mereka sejajar-setara benar.

“Tabrani lestari, karena ‘Ikrar Pemuda’ kiranya sesempurna kelihatannya. Dan ini diakui oleh Yamin. Cuma karena saya menyetujui seluruh pidato Yamin, sangka langka diminta kesediaan Yamin bakal menyetujui pendapat saya yang mendadak itu dalam sidang umum Kongres. Bersusila santun percaturan lain ataupun kurang memperkenankannya. Berdasarkan kesemuanya itu, sehabis Dewan perwakilan Yamin dan saya bukan wasilah membeberkan perbedaan pendapat tersebut dan terbukti Yamin menunaikan janji janjinya,” kata Tabrani (1981).

Tabrani mengklaim bahwa Yamin dan Adinegoro memahami, menghargai, dan menyetujui jalan pikirannya sehingga pengambilan putusan tentang nama bahasa persatuan itu ditunda dan sebaiknya dikemukakan dalam Kongres Pemuda Indonesia kedua. Tabrani menyampaikan klaimnya itu lagi dalam bukunya (1978)

“Diambil kebijaksanaan: keputusan terakhir ditunda sebatas Kongres Pemuda Indonesia Kedua. Itulah sebabnya yang masa ini terkenal dengan ‘Sumpah Pemuda’ tidak hasil keputusan Kongres Bujang Indonesia Permulaan (1926), tetapi hasil keputusan Kongres Cowok Indonesia kedua (1928). Arsiteknya Yamin dengan tulisan, bahwa logo bahasa Jawi diganti menjadi bahasa Indonesia sekelas dengan pesan nan dititipkan kepadanya oleh Kongres Bujang Indonesia Pertama.”

Intern paragraf tak buku itu, Tabrani mengatakan bahwa dalam Dewan perwakilan Pemuda Kedua, Yamin berarti besar karena tidak lupa kepada persetujuan nan sudah dicapai dalam Dewan perwakilan Pemuda Indonesia Mula-mula bahwa bahasa persatuan bukanlah bahasa Jawi, melainkan bahasa Indonesia.

Hingga Dewan perwakilan Pemuda Kedua, Yamin tidak membualkan alasannya menyetujui nama bahasa Indonesia yang diusulkan Tabrani itu.

Subagio Reksodipuro dkk. dalam
45 Musim Sumpah Jejaka
menceritakan, Yamin mengatakan bahwa bahasa Indonesia memberikan supremsi kepada persatuan bangsa Indonesia yang terdiri mulai sejak seperti itu banyak kabilah yang n kepunyaan beberapa ratus bahasa kawasan. Yamin juga menunjukkan bahwa bahasa Indonesia sudah lalu ada di Indonesia sejak berabad-abad dan bukan bahasa imitasi baru. Bahasa Indonesia, katanya, dipergunakan oleh kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

“Menurutnya, persatuan bangsa Indonesia yang terdiri bersumber banyak suku ini memerlukan bahasa persatuan dan bahasa Indonesia adalah bahasa yang sudah berurat-akar internal korespondensi dan peradaban Indonesia. Karena itu, bahasa Indonesia kiranya diakui sebagai bahasa persatuan oleh Kongres Perjaka itu,” kata Subagio Reksodipuro dkk.

Privat Kongres Perjaka Kedua, kata Subagio Reksodipuro dkk, Yamin berpidato adapun persatuan dan kebangsaan Indonesia. Yamin menampilkan bahwa persatuan tidak doang didasarkan atas paralelisme jiwa kerumahtanggaan kehidupan ekonomi, belaka pun pada album, syariat adat, dan pokok bahasa yang tunggal. Yamin mengatakan bahwa ada panca faktor untuk mendidik persatuan bangsa Indonesia, yaitu faktor memori, bahasa, hukum rasam, pendidikan, dan kemauan.

Maka sejak itu, bahasa Indonesia dipakai laksana suatu semenjak faktor nan memperkuat persatuan bangsa Indonesia. []

(tirto.id –
Sosial Budaya)


Penulis: Holy Adib

Pengedit: Nuran Wibisono



Source: https://tirto.id/bahasa-indonesia-dan-dari-mana-nama-itu-berasal-gv5E

Posted by: gamadelic.com