Denpasar (Antara Bali) – Minyak atsiri yaitu salah satu komoditas ekspor agroindustri potensial yang boleh menjadi andalan bagi Indonesia dalam meraup devisa.

Data statistik penggalasan bumi menunjukkan, konsumsi minyak atsiri dan turunannya panjat selingkung sepuluh persen dari tahun ke tahun, pengenalan Dewi dari Sekretariat Asosiasi Bali DWE di Denpasar, Rabu.

Kamu mencadangkan keadaan itu juga selaku panitia Dewan perwakilan Industri Atsiri se-Asia (Membujur Raksi Ingredients Congress/AAIC) yang akan berlanjut di kawasan Nusa Dua, Bali, pada 13-15 Mei 2022.

Peningkatan tersebut didorong maka dari itu perkembangan kebutuhan untuk industri perisa (food & beverage flavouring), industri komestik dan wewangian. Indonesia punya sekitar 500 jenis pohon yang berlimpah menghasilkan minyak atsiri.

Beberapa tanaman sumber minyak atsiri yang bertunas di Indonesia yang mengandung minyak atsiri, antara lain:  akar wangi, kunyit, lajago, daun nilam, cengkeh, sereh dapur, sereh wangi, sirih, mentha, kayu putih, gandapura, jeruk purut, kenikir, muslihat, selasih, seledri dan kemangi.

Selain itu juga nilai pala, lada, alpukat, kapulaga, klausena, kasturi, kosambi, serta biji kemaluan Adas, jeruk, jintan, kemukus, anis, ketumbar. Demikian sekali lagi bunga cengkeh, kenanga, ylang-ylang, melati, sedap malam, cempaka  kuning, daun seribu, gandasuli asfar, angsana dan srigading.

Demikian sekali lagi kulit kayu manis, akasia, lawang, cendana, masoi, selasihan, sintok, ranting eru gimbul, eru kipas, rimpang jahe, kunyit, bangel, baboan, jeringau, kencur, lengkuas, lempuyang sari, jumpa hitam, temulawak dan temu kuntum, sebut Haur.(*/T007)