Siapa Nyi Roro Kidul Sebenarnya?


Ilustrasi (Gunawan Kartapranata/Commons Wikimedia)

JAKARTA – Nyi Roro Kidul adalah ekspresi ideal pelukisan wanita perkasa. Nyi Roro Daksina adalah Ratu Pantai Selatan. Nyi Roro Kidul juga sosok pakar selamat yang menjaga kerelaan Imperium Mataram. Banyak versi yang menyantirkan sosok Nyi Roro Daksina. Sira sebagai keadaan konkret nan ‘digaib-gaibkan’ maupun hal gaib yang dibuat seakan nyata. Nan jelas, Nyi Roro Kidul lebih semenjak
konco wingking
atau n antipoda tidur, sebagaimana gambaran kuno.

Kehadiran Nyi Roro Kidul sudah sejak sangat jadi teka-teki. Tercalit sumber akar-usul, misalnya. Ada banyak varian soal darimana Nyi Roro Kidul bersumber.

Yang paling santer merupakan adapun Nyi Roro Kidul sebagai perawan keturunan raja Kediri, Jayabaya. Versi lain meyakini Nyi Roro Daksina sebagai baka Raja Airlangga berpunca Kahuripan. Belakangan, Nyi Roro Kidul lagi disebut ibarat putri dari Raja Pajajaran.

Kami dapat memaparkan berbagai literasi yang memerdukan versi terakhir. Merle Calvin Ricklefs, kerumahtanggaan anak kunci Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008) menulis segel polos Nyi Roro Kidul sang sekar kedaton Pajajaran bak Dewi Retno Suwodo.

“Menurut pagar adat Mataram, Ratu Selatan merupakan seorang nona Pajajaran yang diusir dari puri karena mendorong kawin menurut karsa ayahnya. Raja Pajajaran mengutuk putrinya: engkau dijadikan ratu semangat-arwah halus dengan istananya di radiks perairan Samudera Hindia, dan bau kencur akan menjadi wanita stereotip sekali lagi pada hari yaumul,” ungkap Ricklefs.

Tak belaka itu. Ratu Kidul juga diramalkan tak akan mempunyai suami. Kalau pun bersuami, pria yang mengawininya akan hinggap dari kalangan kurang, yaitu baginda-raja Islam dari Tanah Jawa. Ramalan itulah yang mengaitkan merek Ratu Selatan sebagai bidadari pelindung Kerajaan Mataram Islam sekaligus amputan gaib para raja jawa.

“Intern Babab Petak Melayu, Penembahan Senopati (1584-1601) dan Sultan Agung (1613-1646) dikisahkan menginjak dari Parangtritis menemui sang ratu di istana pangkal laut, nan belaka dihuni roh lembut dan bersetubuh dengannya. Hubungan intim dan tersendiri antara kanjeng sultan pembina Mataram dan Sang Paduka ini membawa kerajaan ke puncak kejayaannya plong awal abad ke-17 sreg tadbir cucu Senopati, Sultan Agung,” ungkap Peter Carey dan Vincent Houben dalam trik
Kuntum-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX
(2016).

Nyi Roro Kidul, Gaib yang nyata

Pendek kisah, rakyat Jawa pada masa itu meyakini Ratu Kidul sebagai jelmaan dua khalayak yang saling berlawanan. Batari Durga yang dikenal sebagai dewi perusak dan kesimpangsiuran, sekalian Dewi Uma yang merupakan dewi pelindung dan kemakmuran. Atas kesaktiannya itulah yang dipertuan-yang dipertuan Jawa kemudian menjalin jalinan dengan Ratu Kidul bagi menjamin keselamatan provinsi nan dipimpinnya.

Artinya, jika seorang kanjeng sultan jawa tak ingin kesuntukan harga diri, ia harus segera menundukkan Tuanku Kidul agar bukan menjadi Batari Durga. Caranya, tentu cuma dengan mengawini sang syah. Ditulis Soemardaid Moertono dalam buku
Negara dan Kekuasaan di Jawa Abad XVI-XIX
(2017), Nyi Roro Daksina pertama kali kawin dengan Panembahan Senopati dan kemudian dengan semua raja Mataram. Semua itu dilakukan sesegak-baiknya bakal keamanan kerajaan.

“… Sebab dalam masa bahaya sira akan nomplok membantu raka dengan tentara jinnya nan lain
terpermanai
(tiada ternilai) banyaknya. Tapi, kadang-kadang hati Nyai nan lain terduga ini masih juga ingin merenggut arwah banyak rakyatnya dalam varietas-macam epidemi,” ungkap ahli tarikh nan intim disapa Mas Moer.

Upaya tahunan labuhan pun dilangsungkan. Program itu ialah upacara mengirim hadiah kepada Ratu Kidul lewat atas rakit nan dibiarkan dibawa ombak merentang Samudera Hindia. Upacara dilakukan atas perintah Raja Yogyakarta. Sangat tradisi itu pula, basyar-orang memahami pertalian antara para penguasa di marcapada manusia dengan Nyai Roro Kidul sebagai salah suatu penguasa dunia gaib.

Sesajen labuhan rata-rata terdiri dari kain parang rusak awisan-dalem dengan kemben hijau (cemping cangkring, sumekan gaadung) dan batik pola plonco-putih bernama gadung mlati, yang diambildari nama kehidupan subtil penaung Parangtritis (Nyai Gadung Melati). Warna baru makara unsur berguna dalam sesajen karena diyakini sebagai warna kesukaan Paduka tuan Kidul. Barang apa sesajen itu kebanyakan disiapkan pihak Keraton Yogyakarta.

Uniknya, batik gadung mlati sayang digunakan para penari di Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta detik memainkan tarian suci Bedoyo Ketawang (Kesunanan) ataupun Bedoyo Semang (Kesultanan). Tarian itu dimainkan bakal mengundang roh halus Ratu Selatan bakal datang dan bersetubuh dengan raja.

Aktual yang gaib

Banyak nan memercayai keikhlasan Nyi Roro Kidul. Namun, banyak juga manusia nan menyangsikan otoritas dari penguasa pantai daksina itu. Beberapa di antara mereka nan meragunak adalah ahli sastra kesohor Tanah Air, Pramoedya Ananta Toer. Dalam khotbah penerimaan penghargaan Ramon Magsaysay 1988, Pram memanggil kisahan Sunan Kidul hanyanya mitos belaka.

Dulu lektur tertera berjudul
Sastra, Sensor dan Negara: Seberapa Jauh Bahaya Pustaka?
Pram menyedang mengklarifikasi bagaimana pujangga Puri Mataram menciptakan mitos Nyi Roro Daksina seumpama kompensasi kekalahan Sinuhun Agung ketika menyerang Batavia dua mungkin (1628 dan 1629) sekaligus kegagalan Sultan Agung mengusai kempang perdagangan di Tepi laut Utara Jawa.

“Untuk menutupi kehilangan tersebut, pujangga Jawa menciptakan Dewi Laut Nyi Roro Kidul bak selimut, bahwa Mataram masih menguasai laut, di sini Laut Selatan (Samudera Hindia). Legenda ini babaran momongan-momongan mite yang lain: bahwa setiap raja Mataram beristerikan Sang Haur tersebut,” ungkap Pram.

BACA Pula:


Menurut Pram, menginjak pecah legenda Nyi Roro Kidul, muncul pula mitos tabu lainnya, semisal dilarang memperalat pakaian bau kencur di provinsi tepi laut selatan. Padahal, hal itu saja rangka kebencian para pujangga terhadap kompeni. Plonco, pengenalan Pram merepresentasikan dandan pakaian serdadu Belanda.

Kendati demikian, sejarawan, Ong Hok Ham menilai hal itu masih n domestik taraf wajar. Kata Ong, mitos Nyi Roro Kidul merupakan legenda nan positif. Reka cipta legenda dan pemanfaatnya jelas untuk melanggengkan kekuasaan Mataram. Bahkan Ong menambahkan kejadian itu merupakan peristiwa yang seremonial terjadi, baik di tahun silam alias masa kini.

“Saga Nyi Roro Kidul justru memperkuat legitimasi emir. Hal ini berlainan dengan insan berpunya yang berhubungan dengan Nyi Blorong. Yang disebut bungsu adalah negatif, padahal yang purwa, yakni pertalian Raja Mataram dengan Nyai Roro Selatan yaitu positif. Demi kian pula dengan roh halus lain yang mereservasi Aji Mataram, yakni Prabu Lawu di Gunung Lawu,” tulis Ong Hok Ham dalam buku
Dari cak bertanya priyayi sampai Nyi Blorong
(2002).