Apakah Burung Memiliki Tulang Belakang

Ilmu urai asing burung (topografi) :

1. Paruh 12. Anus
2. Bos 13. Paha
3. Iris 14. Penyebutan Tibio-Tarsal
4. Manik mata 15. Tarsus
5. Jas hujan 16. Suku
6. Lesser Bulu 17. Benak gersang
7. Scapular 18. Perut
8. Bulu Atas 19. Panggul
9. Tertials 20. Dada
10. Pantat 21. Tenggorokan
11. Primari 22. Pial

Anatomi kalam
atau struktur fisik tubuh burung ogok banyak adaptasi, yang kebanyakan berniat sebagai menyundul kemampuan risau. Burung memiliki sistem kerangka nan ringan dan otot yang ringan tapi lestari, dengan sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan yang subur intern tingkat metabolisme yang tangga serta asupan oksigen yang memungkinkan burung sebagai galau. Jalan paruh telah mengapalkan evolusi pada sistem pencernaan. Kekhususan anatomi tersebut mutakadim menaruh penis internal klasifikasi ilmiah mereka internal filum vertebrata.

Daftar pokok

  • 1
    Sistem susuk

    • 1.1
      Tungkai burung
  • 2
    Sistem otot
  • 3
    Sistem integumen

    • 3.1
      Sisik
    • 3.2
      Rampoteka dan Podoteka
  • 4
    Sistem pernafasan
  • 5
    Sistem perputaran darah
  • 6
    Sistem pencernaan
  • 7
    Perilaku mereguk
  • 8
    Sistem urogenital dan endokrin
  • 9
    Sistem saraf
  • 10
    Lihat juga
  • 11
    Gubahan
  • 12
    Referensi
  • 13
    Pranala luar

Sistem kerangka

Rangka titit lewat beradaptasi sebagai kusut. Kerangka tersebut sangat ringan, namun cukup kuat bagaikan mencegat tekanan pron bila tinggal landas, mencacau dan mendarat. Salah satu kunci adaptasi yakni tergabungnya tulang dalam pembentukan tulang solo. Hal ini takhlik burung punya banyak tulang yang terbatas dibanding vertebrata tak yang sukma di darat. Burung pula lain memiliki gigi bahkan rahang, hanya memiliki paruh nan lebih ringan. Tengah pada anak burung punya “gigi telur” yang dipakai bak kontributif keluar dari kelongsong telur.

Ceceh memiliki banyak tulang yang berongga yang saling bersilang andai menambah kekuatan struktur tulang. Banyak lemak tulang berongga bervariasi antar macam, walaupun burung yang hilang akal dengan bertele-tele alias melambung cenderung memiliki tulang berongga yang kebanyakan. Rajut mega internal sistem pernapasan burung laut mewujudkan pundi-pundi-jaring-jaring udara kerumahtanggaan sumsum taruk berongga pada kerangka burung.[1]
Bilang ceceh yang tidak mampu terbang sama dengan penguin maupun burung unta hanya n kepunyaan lemak tulang nan padat, hal ini membuktikan hubungan antara kemampuan terbang burung dengan adaptasi lega sistem sinus sreg tulang.

Pura gegana dan pendistribusiannya.

Burung juga memiliki tulang leher yang kebanyakan dibanding binatang lainnya. Kebanyakan n kepunyaan tulang leher nan sangat luwes yang terdiri terbit 13 – 25 tulang. Burung merupakan satu-satunya binatang vertebrata yang memiliki tulang selangka yang menyatu (furcula atau tulang dada). Peristiwa ini berfungsi sebagai penopang otot pada saat terbang, ataupun serupa sreg penguin sebagai menopang otot kapan berenang. Adaptasi ini lain dimiliki makanya burung nan tidak bisa terbang sebagaimana burung gamal. Menurut catatan, butuh perenang memiliki tulang dada yang luas, burung yang berlantas memiliki tulang dada yang panjang maupun strata, temporer pelir yang khawatir mempunyai tulang dada yang panjang dan tingginya mendatangi sejajar.[2]

Burung memiliki bengkokan iga yang merupakan perpanjangan lemak tulang yang membongkok yang berfungsi misal memekakkan tulang rusuk dengan saling bertumpang tindih. Fitur ini pula ditemukan sreg
Sphenodon. Mereka juga mempunyai benak gendong
tetradiate
nan memanjang seperti pada beberapa reptil. Kaki belakangan memiliki sambungan intra-tarsal yang lagi ditemukan pada beberapa reptil. Memiliki perpaduan yang luas pada tulang tubuh sekelas seperti perpaduan sumsum dada. Mereka n kepunyaan kranium diapsid seperti sreg reptil dengan lekukan air indra penglihatan. Tengkoraknya memiliki oksipital kondilus tunggal.[3]

Tengkorak burung terdiri berbunga panca tulang utama:
frontal
(atas superior),
parietal
(belakang kepala),
premaksilari
dan indra (tengah atas), dan
rahang bawah
(paruh pangkal). Tempurung kepala burung stereotip biasanya beratnya sekitar 1% mulai sejak berat badan keseluruhan burung. Alat penglihatan burung menduduki sebagian akbar tengkorak dan dikelilingi makanya cincin ain-sklerotik, cincin tulang kecil nan merubung mata.

Sistem tulang belakangan dapat dibagi menjadi tiga penggalan:
cervical
(11-25) (gala),
Synsacrum
(berintegrasi pada tulang jejak kaki, juga bergabung plong bokong), dan
pygostyle
(ekor).

Dada terdiri dari
furcula
(sumsum cukit) dan
coracoid
(tulang leher), dimana dua benak, bersama-sama dengan benak belikat membuat
pectoral korset. Sisi dada diwujudkan maka itu lemak tulang rusuk, yang bertemu di sumsum dada.

Pundak terdiri dari
skapula
(tulang belikat),
coracoid
(benak leher), dan
humerus
(tulang lengan atas). Lengan atas bergabung dengan tulang pengumpil dan
ulna
(lengan) bak menciptakan menjadikan lekukan. Tulang-tulang
karpus
dan
metakarpus
mewujudkan “pergelangan tangan” dan “tangan” dari burung, dan terali yang digabungkan bersama. Tulang-tulang di sayap lewat ringan sehingga pelir bisa bingung makin gampang.

Pinggul terdiri dari panggul nan mencakup tiga tulang utama:
Illium
(atas bokong),
iskium
(sisi pinggul), dan
pubis
(depan bokong). Ketiga tulang ini menyatu menjadi satu (tulang
innominate). Lemak tulang
innominate
adalah evolusi yang signifikan yang memungkinkan burung perumpamaan bertelur. Mereka bertarung di
acetabulum
(soket pinggul) dan mengartikulasikan dengan tulang paha, yang merupakan sumsum mula-mula dari kaki belakangan.

Kaki ronde atas terdiri dari lemak tulang pukang. Plong sendi lutut, tulang pukang menghubungkan ke
tibiotarsus
(tulang kering) dan
fibula
(sisi tungkai dasar). Tarsometatarsus membuat ronde atas kaki, serta ujung tangan yang membentuk kaki. Tulang tungkai burung merupakan tulang yang paling kecil berat, berkontribusi puas rendahnya titik berat burung. Kejadian ini membantu kerumahtanggaan penerbangan. Suatu gambar zakar terdiri dari cuma sekitar 5% berpangkal kuantitas berat badan burung.

Kaki burung

Jenis kaki ceceh

Suku ceceh diklasifikasikan menjadi

anisodactyl
,

zygodactyl
,

heterodactyl
,

syndactyl

atau

pamprodactyl
.[4]
Anisodactyl
ialah wujud kaki kalam yang paling umum, dengan tiga jemari di depan dan satu di belakangan. Wujud seperti ini banyak ditemui di burung penyanyi, burung pengicau, nasar, rajawali, dan falkon.

Bilang ceceh memiliki wujud kaki
syndactyl
yakni wujud tungkai yang menyerupai
anisodactyl
namun jari ke tiga dan ke empat alias ketiga jari depan berintegrasi seperti nan terdapat puas burung raja udang. Jenis kaki ini merupakan karakteristik burung dari ordo
Coraciiformes.

Zygodactyl
(bersumber bahasa Yunani ζυγον, kuk) ialah wujud kaki titit, dengan dua ujung tangan tungkai menghadap ke depan (deriji 2 dan 3) dan dua ujung tangan menumpu ke belakangan (jemari 1 dan 4). Kekuasaan ini paling sering terjadi plong jenis
arboreal, terutama diversifikasi yang naik batang pohon atau memanjat melalui dedaunan. Wujud kaki
zygodactyl
dapat dijumpai pada burung bayan, penis pelatuk dan beberapa burung hantu. Semenjak hasil penelusuran,
zygodactyl
sudah ditemukan dari peride 120 – 110 juta tahun yang lalu (awal jaman kapur), 50 juta tahun sebelum sisa purba
zygodactyl
pertama kali diidentifikasikan.[5]

Heterodactyl
menyerupai
zygodactyl, nan membedakan hanya pada
heterodactyl
jari 3 dan 4 menghadap ke depan semenjana deriji 1 dan 2 menghadap ke belakangan. Wujud kaki sebagai halnya ini hanya ditemukan pada trogon, sedangkan
pamprodactyl
adalah struktur jari kaki dimana keempat jari boleh menghadap ke depan, atau burung dapat memutar kedua jari belakangan. Wujud kaki demikian ini merupakan karakteristik dari titit walet.

Sistem otot

Supracoracoideus
melakukan tiang penghidupan memperalat sistem sama dengan katrol sebagai mengangkat sayap sementara
pectorals
menyempatkan kekuatan tolak kebawah nan awet

Rata-rata penis n kepunyaan sekeliling 175 urat nan berbeda, yang sebagian akbar mengontrol sayap, kulit dan kaki. Urat terbesar mulai sejak seekor burung yakni otot pektoralis atau otot dada nan mengatur gerakan sayap dan burung penerbang, elusif urat ini sekitar 15 – 25% dari berat tubuhnya. Otot ini memberikan kepakan sayap yang awet seumpama terbang.

Otot medialis (bawah) sampai
pectorals
adalah
supracoracoideus. Urat ini menyanggang sayap bilamana kalam mengepakkan sayap. Kedua otot
supracoracoideus
dan
pectorals
ini memiliki berat sekitar 25 – 35% bermula keseluruhan berat badan kontol.

Urat-urat kulit membantu pelir bilamana terbang dengan menyesuaikan arah bulu nan melekat pada urat alat peraba dan membantu penis saat melakukan manuver penerbangan.

Ronde tubuh dan ekor belaka memiliki beberapa otot, hanya urat-urat tersebut sangat awet dan sangat terdahulu untuk burung.
Pygostyle
mengontrol semua kampanye di ronde ekor dan mengontrol rambut di ronde ekor. Hal ini menjadikan ekor n kepunyaan latar yang lebih akbar nan kontributif menjaga kalam di gegana.

Sistem integumen

Mole

Tembakau burung terdiri berpunca keratin yang sekufu seperti yang terdapat pada paruh, cakar, dan tegil. Sisik-sugi ini ditemukan terutama pada jari tungkai dan metatarsus, doang pada bilang titit dapat ditemukan juga di pergelangan tungkai. Kebanyakan sisik burung tidak terlalu tumpang tindih, kecuali sreg pelir kanjeng sultan-udang dan zakar candit. Sugi penis diasumsikan homolog dengan tembakau plong reptil dan mamalia.[6]

Lega tahap janin, kulit pelir mulai berkembang intern kondisi mulus. Di kaki, stratum, atau lapisan terluar, kulit ini dapat terkeratin, melebat dan sugi mulai terlatih. Sisik-sisik ini dapat digolongkan n domestik;

  1. Cancella – sugi sangat katai, yang hanya berupa penebalan serta pembekuan semenjak kulit, tukar bersilang dengan alur yang dangkal.
  2. Reticula – kecil tapi berlainan, terpisah, berwujud mole. Ditemukan pada rataan lateral dan medial metatarsus ayam. Sisik ini terbuat dari alpha-keratin.[7]
  3. Scutella – Tembakau yang tidak sebesar scute, seperti yang ditemukan pada ronde belakangan, berpokok metatarsus ayam.
  4. Scute – sugi terbesar, biasanya ditemukan pada rataan ronde depan metatarsus dan permukaan dorsal jari. Sugi ini terbuat dari beta-keratin seperti puas sugi reptilia.[7]

Pada beberapa kaki burung, rambut dapat berganduh dengan sugi. Kantung bulu dapat terletak di antara sisik atau apalagi sewaktu di pangkal sisik, di lapisan dermis jangat yang makin kerumahtanggaan. Dalam kasus buncit ini, rambut boleh jadi muncul secara langsung melampaui sisik, dan sepenuhnya hendak dilingkari di ronde munculnya maka dari itu keratin sugi.[6]

Rampoteka dan Podoteka

Paruh pada sebagian akbar kalam wader n kepunyaan ujung saraf yang membantu mereka mendeteksi mangsa yang bersembunyi di bawah pasir nan basah dengan merasakan perbedaan tekanan yang sekonyongkonyong di privat air.[8]

Semua pelir berevolusi dengan ki memengaruhi ronde rahang atas terhubung dengan tulang kepala pencetus. Namun keadaan ini lebih menonjol dalam sejumlah burung dan dapat dengan gampang dideteksi pada burung bayan.[9]

Kawasan di antara netra dan paruh di sebelah kepala titit disebut Lore. Kawasan ini kadang-kadang berbulu, dan kulit dapat berwarna, seperti dalam banyak spesies berpunca tanggungan pecuk.

Selaput berkulit yang melingkupi kaki burung disebut podoteka.

Sistem pernafasan

Udara demap mengalir berpokok kanan (posterior) ke kiri (anterior) menerobos paru-paru burung berpihak kepada yang benar lega saat mengganjur atau menghembuskankan nafas.
Keterangan rangka: 1 cervical, 2 clavicular, 3 cranial thoracic, 4 caudal thoracic, 5 abdominal (5′ diverticulus), 6 paru-paru, 7 trakea

Karena laju metabolisme basal yang tataran diperlukan sebagai kliyengan, burung memiliki kebutuhan oksigen yang pangkat. Perkembangan sistem respirasi nan efisien memungkinkan evolusi burung misal gugup. Penis melakukan pertukaran udara di paru-paru dengan menggunakan kantung mega.

Rajut udara ini tidak langsung melakukan pertukaran udara, tapi berlangsung sama dengan ubub nan menjangkitkan gegana ke sistem pernapasan, memungkinkan paru-paru menjaga volume peledak kerumahtanggaan banyak yang tetap dengan udara segar selalu mengalir melewatinya.[1]

Tiga inversi organ yang bertugas pernapasan; Jala-jala udara anterior (interclavicular, cervicals, dan anterior thoracics), paru-paru, dan kantung udara posterior (posterior thoracics dan abdominals). Kantung udara posterior dan anterior, galibnya sembilan, mengembang lega saat menghirup nafas. Gegana masuk melangkahi trakea. Separuh berpokok udara turut ke kantung udara posterior, separuh peledak nan lain melangkahi rabu dan masuk ke pundi-pundi udara anterior. Udara dari jaring-jaring awan anterior langsung tersisih melalui trakea dan keluar melewati hidung. Kantung peledak posterior mengkhususkan udara menerobos paru-paru. Awan nan melewati peparu saat burung menghembuskan nafas dibuang melewati trakea. Beberapa grup taksonomi (burung pengicau) memiliki 7 kantung peledak, karena kantung udara
klavikularis
dapat saling behubungan atau berintegrasi dengan kantung udara
cranial thoracic

Paru-paru ceceh mendapat udara murni berpihak kepada yang benar pada detik menghirup atau menghembuskan nafas.

Karena udara berputar melewati sistem kantung gegana dan paru-paru, risikonya tidak perantaraan terjadi percampuran antara udara yang kaya oksigen dengan udara yang miskin oksigen, kaya karbonium dioksida, begitu juga pada alat pernapasan hewan menyusui. Dengan demikian tekanan oksigen dalam paru-paru burung sama dengan tekanan di udara mendelongop, sehingga burung memiliki pertukaran oksigen dan zat arang dioksida yang lebih efisien dibandingkan dengan mamalia.

Paru-paru kalam bukan memiliki alveolus, umpama yang dimiliki paru-paru mamalia, tetapi mengandung jutaan ronde kerdil yang dikenal umpama
parabronkhus, terhubung di kedua ujunnya oleh
dorsobronchi
dan
ventrobronchi. Udara mengalir melewati dinding sarang tabuhan bersumber parabronkhus ke
vesikula
gegana, yang disebut rongga dada, nan menjorok mulai sejak parabronkhus. Atrium ini meningkatkan kapilaritas udara, di mana oksigen dan karbon dioksida yang bertukar dengan kapilaritas talenta yang mengalir bersilangan menerobos ronde difusi.[10]

Penis juga lain memiliki diafragma. Sinus seluruh fisik berperan sebagai penghembus bagaikan menjangkitkan udara melewati rabu. Fase giat fotosintesis pada burung ialah menghembuskan nafas, yang membutuhkan kontraksi otot.

Siring adalah organ yang menghasilkan kritik lega burung, terwalak di bawah trakea zakar. Sebagai halnya sreg laring mamalia, suara nan dihasilkan oleh getaran gegana bergerak melewati organ ini. Riol memungkinkan beberapa macam burung ibarat menghasilkan vokalisasi yang suntuk mania, bahkan berkaca ucapan manusia. Pada beberapa burung penyanyi, tepi bisa menghasilkan lebih dari satu suara pada suatu saat.

Sistem peredaran darah

Zakar memiliki dalaman dengan empat sasak, yang separas dengan khalayak, galibnya mamalia, dan beberapa reptil (merupakan Crocodylia). Adaptasi ini memungkinkan transportasi nutrisi dan oksigen yang efisien ke seluruh jasmani, menyerahkan burung dengan energi perumpamaan terbang dan mempertahankan kegiatan nan tinggi. Hati
Archilochus colubris
berdetak sampai 1200 kali tiap-tiap menit (sekitar 20 denyut tiap-tiap saat).[11]

Sistem pencernaan

Banyak pelir n kepunyaan kantong otot di sepanjang rengkung disebut rahim. Fungsi tembolok adalah sebagai tempat menghaluskan makanan serta menata persebaran kandungan kedalam sistem pencernaan dengan menyimpannya sementara. Ukuran dan wujud tembolok berbunga beberapa variasi zakar cukup berbeda. Kalam dari ordo columbidae begitu juga merpati menghasilkan susu rahim bergizi yang diumpankan ke anak mereka dengan
regurgitasi. Burung memiliki
ventriculus, atau ampela, terdiri dari empat larik otot yang memutar dan menghanyutkan makanan dengan memarginalkan makanan dari satu tempat ke tempat lain di dalam ampela. The ampela pecah beberapa spesies mengandung potongan kerdil batu halus atau rayuan nan sengaja ditelan oleh butuh laksana mendukung ronde penggilingan pencernaan, yang berfungsi begitu juga gigi plong mamalia ataupun reptil. Pemakaian bujukan ampela pada burung memiliki kesamaan dengan dinosaurus.

Perilaku minum

Mempunyai empat cara yang umum dilakukan burung sebagai minum: menggunakan gaya berat, menghisap, menggunakan lidah, mendapatkan air belaka dari makanan.

Sebagian akbar penis tidak dapat menelan dengan gerakan peristaltik “mengisap” maupun “memompa” di kerongkongan mereka (seperti nan dilakukan orang), dan mereguk dengan tautologis kali mengangkat atasan mereka setelah mengisi mulut mereka sebagai memungkinkan air berputar makanya gaya gravitasi, prinsip yang digambarkan sebagai “menyeruput”.[12]
Pengecualian yang tersurat adalah Columbidae, menurut Konrad Lorenz plong perian 1939,

“Ordo ini dapat diketahui dengan suatu karakteristik ulah, yaitu bahwa bilamana minum, air dipompa oleh propaganda peristaltik berasal esophagus yang terjadi tanpa pengecualian. Satu-satunya kumpulan enggak yang menunjukkan perbuatan yang sama adalah Pteroclidae, diletakkan lain jauh dengan merpati hanya karna karakteristik lama yang lain diragukan lagi.”[13]

Walaupun runding umum ini masih berlanjut, sejak saat itu, beberapa observasi telah membuat beberapa pengecualian semenjak kedua arah.[12]
[14]

Sebagai apendiks, titit penghisap nektar begitu juga Nectariniidae dan Trochilidae minum dengan menggunakan indra perasa yang menyerupai palung, dan Psittacidae meneguk dengan menjilat air.[12]

Banyak pelahap yang n kepunyaan glandula di tidak jauh matanya nan memungkinkan mereka mereguk air laut. Garam yang terkandung intern air laut hendak dikeluarkan melangkaui liang hidung.

Banyak kalam gurun pasir berkat air hanya bersumber makanan yang mereka makan. Pembuangan limbah nitrogen sebagai asam urat mengurangi kebutuhan tubuh hendak air.[15]

Sistem urogenital dan endokrin

Anak asuh burung

Meskipun kebanyakan burung jantan enggak mempunyai aurat di luar, namun burung nekat memiliki dua testis nan dapat membesar ratusan kali pada saat musim kawin andai memproduksi sperma.[16]
Testis butuh plong umumnya tidak simetri, dimana kebanyakan burung punya testis arah kidal yang lebih akbar berpunca sebelah kanan.[17]
Burung betina pada sebagian akbar famili hanya memiliki suatu ovarium nan boleh berfungsi (Ovarium jihat kiri), terhubung puas arus telur – meskipun puas embrio burung betina dapat ditemukan dua ovarium. Sejumlah spesies burung memiliki dua ovarium yang dapat berfungsi, dan ordo Apterygiformes selalu memiliki dua oravium.[18]
[19]

Pada pelir jantan dari spesies nan bukan mempunyai falus, semen disimpan di dalam semen glomera di privat tonjolan kloaka sebelum jimak. Pada saat persanggamaan, zakar betina menggagas ekornya ke sisi samping, dan burung kesatria menunggan burng betina dapat dari samping atau bermula atasnya. Kloaka kemudian bersentuhan, sehingga mani boleh timbrung ke internal sistem reproduksi pelir betina. Hal ini boleh terjadi dengan sangat cepat, malar-malar kadang terbatas dari sekepal detik.[20]

Sperma disimpan dalam penyimpanan sperda di tubuh burung betina intern momen suatu minggu sampai lebih dari 100 hari,[21]
tergantung berpangkal jenis spesiesnya. Kemudian telur-telur hendak di buahi satu per satu saat telur tersebut keluar dari ovarium, sebelum cangkang telur memadat. Setelah telur dikeluarkan makanya burung betina, embrio terus berkembang di dalam telur di luar tubuh burung betina.

Banyak unggas air dan bilang diversifikasi burung enggak seperti pelir onta dan kalkun, memiliki falus. Panjang falus ini diduga berkomunikasi dengan kompetisi benih.[22]
Bila tidak melakukan persetubuhan, falus tersebut siluman dalam ruang proktodeum dalam kloaka, di dalam lubang anus.

Setelah telur menetas, induk burung punya kepedulian yang bermacam rupa intern keadaan penyiapan kandungan serta pelestarian. Burung Precocial sudah lalu boleh mengurus diri sendiri hanya dalam saat bilang saat sehabis menetas, burung altricial kapan baru menetas tidak boleh melakukan apapun, buta, tak berbulu dan membutuhkan perhatian mumbung bersumber induknya. Anak mandung dan beberapa butuh yang bersarang di tanah seperti partridge dan wader sering boleh berlari seperti itu menetas, titit yang seperti ini dikelompokkan kerumahtanggaan nidifugous. Sebaliknya, burung yang bersarang di intern lubang, sering kali bukan bisa mengamalkan apapun begitu menetas.

Beberapa burung seperti merpati, angsa dan bangau mahkota berma memiliki bandingan yang kukuh selama hidupnya dan dapat menghasilkan baka secara integral.

Sistem saraf

Burung memiliki penglihatan yang tajam. Burung pemangsa memiliki rukyat delapan kali lebih tajam dari insan. Situasi ini dikarenakan tingginya densitas reseptor warna yang mempunyai di kerumahtanggaan retina (sampai 1.000.000 per mm persegi pada elang buteo, temporer cucu adam hanya memiliki 200.000 sendirisendiri mm persegi), sejumlah akbar saraf optik, otot mata kedua yang tidak dimiliki sato lain, dan, pada beberapa spesies, fovea yang menjorok nan dapat memperbesar ronde tengah ronde pandang. Banyak spesies, termaktub kolibri dan albatros memiliki dua fovea pada per mata. Banyak burung yang kaya mendeteksi cahaya yang terpolarisasi.

Butuh mempunyai otak nan relatif akbar bila dibandingkan dengan rasio tubuh. Hal ini tercermin dalam kecerdasan burung yang pangkat dan kompleks.

Lihat pula

  • Penglihatan pelir
  • Intelek burung

Gubahan

  1. ^
    a
    b

    Ritchison, Gary. “Ornithology (Bio 554/754):Bird Respiratory System”. Eastern Kentucky University. Diakses 2007-06-27.



  2. ^
    Ayhan Duezler, Ozcan Ozgel, Nejdet Dursun (2006) Morphometric Analysis of the Sternum in Avian Species. Turk. J. Vet. Anim. Sci. 30:311-314
  3. ^
    Wing, Leonard W. (1956) Natural History of Birds. The Ronald Press Company. [1]
  4. ^
    Proctor, Horizon. S. & Lynch, P. J. (1998)
    Manual of Ornithology: Avian Structure & Function. Yale University Press. ISBN 0300076193
  5. ^

    “Earliest zygodactyl bird feet: evidence from Early Cretaceous roadrunner-like tracks”. Naturwissenschaften. 2007.



  6. ^
    a
    b

    Lucas, Alfred M. (1972).
    Avian Anatomy – integument. East Lansing, Michigan, USA: USDA Avian Anatomy Project, Michigan State University. hlm. 67, 344, 394–601.




  7. ^
    a
    b
    Peter R. Stettenheim (2000) The Integumentary Morphology of Bertamadun Birds—An Overview. American Zoologist 2000 40(4):461-477; DOI:10.1093/icb/40.4.461
  8. ^

    Piersma, Theunis; Renee van Aelst, Karin Kurk, Herman Berkhoudt and Leo R. M. Maas (1998). “A New Pressure Sensory Mechanism for Prey Detection in Birds: The Use of Principles of Seabed Dynamics?”.
    Proceedings: Biological Sciences
    265
    (1404): 1377–1383. doi:10.1098/rspb.1998.0445.




  9. ^

    Zusi, R L (1984). “A Functional and Evolutionary Analysis of Rhynchokinesis in Birds.”.
    Smithsonian Contributions to Zoology
    395. hdl:10088/5187.




  10. ^
    Bird lungs
  11. ^

    June Osborne (1998).
    The Ruby-Throated Hummingbird. University of Texas Press. hlm. 14. ISBN 0-292-76047-7.




  12. ^
    a
    b
    c
    “Drinking Behavior of Mousebirds in the they are warm blooded. Namib Desert, Southern Africa “; Tali kekang J. Cade and Lewis I. Greenwald;
    The Auk, V.83, No. 1, January, 1966 pdf
  13. ^
    K. Lorenz, Verhandl. Deutsch. Zool. Ges., 41 [Zool. Anz. Suppl. 12]: 69-102, 1939
  14. ^
    “Drinking Behavior of Sandgrouse in the Namib and Kalahari Deserts, Africa”; Tom J. Cade, Ernest J. Willoughby, and Gordon L. Maclean;
    The Auk, V.83, No. 1, January, 1966 pdf
  15. ^
    Gordon L. Maclean (1996) The Ecophysiology of Desert Birds. Springer. ISBN 3-540-59269-5
  16. ^
    A study of the seasonal changes in avian testes Alexander Watson, J. Physiol. 1919;53;86-91, ‘greenfinch (Carduelis chloris)’, ‘In early summer (May and June) they are as big as a whole pea and in early winter (November) they are no bigger than a pin head’
  17. ^

    Lake, PE (1981). “Male genital organs”. In King AS, McLelland J.
    Form and function in birds
    2. New York: Academic. hlm. 1–61.




  18. ^

    Kinsky, FC (1971). “The consistent presence of paired ovaries in the Kiwi(Apteryx) with some discussion of this condition in other birds”.
    Journal of Ornithology
    112
    (3): 334–357. doi:10.1007/BF01640692.




  19. ^

    Fitzpatrick, FL (1934). “Unilateral and bilateral ovaries in raptorial birds”.
    Wilson Bulletin
    46
    (1): 19–22.




  20. ^

    Lynch, Wayne; Lynch, photographs by Wayne (2007).
    Owls of the United States and Canada : a complete guide to their biology and behavior. Baltimore: Johns Hopkins University Press. hlm. 151. ISBN 0-8018-8687-2.




  21. ^

    Birkhead, TR; A. P. Moller (1993). “Sexual selection and the temporal separation of reproductive events: sperm storage data from reptiles, birds and mammals”.
    Biological Journal of the Linnean Society
    50
    (4): 295–311. doi:10.1111/j.1095-8312.1993.tb00933.x.




  22. ^

    McCracken, KG (2000). “The 20-cm Spiny Penis of the Argentine Lake Duck (Oxyura vittata)”.
    The Auk
    117
    (3): 820–825. doi:10.1642/0004-8038(2000)117[0820:TCSPOT]2.0.CO;2.




Referensi

  • Peter Grant & Killian Mullarny
    The New Approach to Identification, in
    Birding World, Vols. 1&2 ISSN 0969-6024

Pranala luar

  • (Inggris)
    Bird skulls and skeletons
  • (Inggris)
    The avian respiratory system



edunitas.com

Source: http://p2k.unkris.ac.id/id1/1-3065-2962/Anatomi-Burung_96135_p2k-unkris.html

Posted by: gamadelic.com