Apa Yg Dimaksud Dengan Istinja

Istinja yang bosor makan dipahami sebagai polah menjernihkan kubul maupun dubur, dalam bahasa Arab merupakan derivasi pecah alas kata
najâ yanjû,nan berjasa menyelang atau melepas diri
(qatha‘a). Orang istinja artinya khalayak sedang berupaya melepas dirinya dari feses yang menempel di anggota tubuhnya. Mengenai istinja internal terminologi syariat adalah membersihkan sesuatu yang keluar berbunga genitalia, kubul ataupun dubur, menggunakan air atau batu yang kasmaran bilang syarat tertentu. (Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani,
at-Tausyîh ‘alâ Bani Qasim, [Surabaya, Nurul Huda], halaman 19).


Syariat dan Perabot Beristinja

Ulama setuju bahwa hukum istinja dari sisa ampas nan berapit pasca- lepaskan ampas adalah mesti. Bahkan, walau bukan diwajibkan pun tabiat setiap hamba allah pasti menunda melakukannya. Karena tabiat yang sehat tentu risih dan terganggu dengan kotoran yang ada lega dirinya. Allah berbicara:



فِيْهِ رِجَالٌ يُحِبُّوْنَ أَنْ يَتَطَهَّرُوْا وَاللهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ (التوبة: 108)


Artinya, “Di dalam masjid itu terdapat penduduk Quba yang bersuci dan membersihkan dirinya, Halikuljabbar sangat pelalah kepada hamba-Nya nan bersuci.” (QS at-Taubah: 108)


Di ayat ini secara tegas Allah menyatakan cintanya kepada mana tahu doang nan memanjakan kebersihan dan kesucian.


Perangkat istinja suka-suka dua: (1) air; dan (2) batu ataupun benda lain yang punya kesamaan sifat dan keefektifan dengannya, ialah bukan benda cair, tulus, berpotensi menjernihkan najis yang melekat di kubul maupun dubur, dan bukan terjadwal benda yang dimuliakan, sama dengan buku, roti, dan semisalnya. Di antara dalil air menjadi instrumen istinja yaitu hadist riwayat Anas kedelai Malik ra meriwayatkan:



كَانَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ الله عليه وسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلاَءَ فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلَامٌ نَحْوِي إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وعَنَزَةً فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)


Artinya, “Bilamana Rasulullah saw timbrung ke kamar kecil lakukan buang hajat, maka saya (Anas ra) dan seorang momongan seusia saya mendayukan medan berisi air dan suatu seligi ringkas, lalu beliau istinja dengan air tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim). (Anak lelaki Hajar al-Asqalani,
Bulûghul Marâm
dicetak bersama
Ibânatul Ahkâm, [Dârul Fikr: 2012], juz I, halaman 113).


Adapun dalil kebolehan istinja dengan bujukan merupakan hadits riwayat Abdullah bin Mas’ud ra:



أَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ الْغَائِطَ فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ ولَمْ أَجِدْ ثَالِثًا. فَأَتَيْتُهُ بِرَوْثَةٍ، فَأَخَذَهُمَا وَأَلْقَى الرَّوْثَةَ، وَقَالَ: إِنَّهَا رِجْسٌ


Artinya, “Suatu saat ketika Nabi saw lempar air besar, lewat memerintahkan saya agar membawakannya tiga batu. Kebetulan, waktu itu saya hanya menemukan dua provokasi dan tidak menemukan suatu alai-belai juga. Silam saya cekut kotoran satwa (yang sudah kering). Akhirnya, dia kembali mencuil kedua provokasi tersebut dan membuang kotoran binatang nan saya berikan. Bersabda, ‘Sesungguhnya kotoran binatang itu najis’.” (HR al-Bukhari). (Al-Asqalani,
Bulûghul Marâm, juz I, halaman 122).


Intern riwayat Imam Ahmad dan ad-Daraquthni, terwalak lampiran redaksi yang mengistilahkan bahwa Nabi bersabda,
‘I‘tini bi ghairiha’, alias ‘Robekan saya benda yang bukan sebagai ganti dari kotoran tadi’. Artinya, batu yang digunakan bersuci tidak boleh kurang bersumber tiga, saja bisa lebih bila memang dibutuhkan.


Garis hidup Istinja

Dalam istinja, turunan boleh memilih tiga kaidah; (1) istinja dengan batu lebih lagi dahulu lalu dengan air, dan ini kaidah terbaik; (2) istinja dengan air saja; dan (3) istinja dengan batu hanya. Cuma, jika dibandingkan antara pilihan kedua dan ketiga, lebih baik pilihan kedua, yaitu menggunakan air.


Cak semau beberapa kadar khusus yang harus dipenuhi detik orang istinja dengan batu atau benda lain yang memiliki kesamaan fungsi dengannya.

  1. Minimal memperalat tiga batu, alias satu cuma n kepunyaan tiga sebelah.
  2. Tiga batu tersebut dapat menjernihkan tempat keluarnya kotoran, kubul atau dubur, sehingga bila belum bersih, maka harus ditambah.
  3. Lain boleh suka-suka tetesan air atau najis enggak selain pungkur dan berkemih nan adapun kubul dan dubur.
  4. Najis nan keluar saat keluarkan hajat tidak boleh melampaui
    shafhah
    (lingkaran had dubur), alias melewati
    hasyafah
    (pucuk burung).
  5. Najis yang dibersihkan bukan najis nan sudah kering.
  6. Najis nan keluar tidak berpindah ke anggota tubuh yang tak semisal selangkangan, paha, dan lain-bukan.


Bila lain memenuhi ketentuan-ketentuan di atas, maka
mustanji
alias sendiri yang istinja harus memperalat air, tidak bisa menggunakan batu maupun yang serupa dan sefungsi. Semoga bermakna.
Wallâhu a’lam bishshawâb.


Ustadz Ahmad Dirgahayu Hidayat, Pengajar di Ma’tenggat Aly Situbondo, Jawa Timur.





Source: https://islam.nu.or.id/thaharah/istinja-pengertian-hukum-dan-tata-caranya-L1KH6

Posted by: gamadelic.com