Apa Yang Dimaksud Hukum Newton

Halaman yang dilindungi semi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia netral

Hukum Newton mula-mula dan kedua, dalam bahasa Latin, dari edisi tahir journal Principia Mathematica perian 1687.

Hukum gerak Newton
ialah hukum fisika yang menjelaskan perpindahan satu target bagaikan hasil hubungan antara nilai dan jarak dari tendensi yang bertindak pada bahan tersebut.[1]
Hukum gerak Newton merupakan pelecok satu berpunca tiga hukum fisika yang menjadi bawah mekanika klasik. Hukum ini menggambarkan pernah antara kecenderungan nan bekerja sreg suatu benda dan gerak nan disebabkannya. Syariat ini telah dituliskan dengan pembahasaan yang berbeda-cedera sejauh dekat 3 abad,[2]
dan dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Hukum Permulaan: setiap benda akan memiliki kelajuan yang teguh kecuali terserah gaya yang resultannya enggak hampa bekerja plong benda tersebut.[3]
    [4]
    [5]
    Berarti jika resultan gaya hampa, maka pusat komposit berasal suatu benda taat tutup mulut, atau mengalir dengan kecepatan kukuh (bukan mengalami percepatan). Hal ini berlaku kalau dilihat mulai sejak kerangka acuan inersial.
  2. Hukum Kedua: sebuah benda dengan konglomerasi M mengalami gaya resultan sebesar F akan mengalami akselerasi a yang arahnya sebagaimana arah tren, dan besarnya berbanding harfiah terhadap F dan berbanding terbalik terhadap M. alias








    F

    =
    m
    a


    {\displaystyle \sum \mathbf {F} =ma}



    . Bisa juga diartikan resultan gaya yang bekerja plong suatu benda proporsional dengan insan dari periang linear benda tersebut terhadap masa.

  3. Hukum Ketiga: tendensi aksi dan reaksi berpunca dua benda mempunyai segara yang separas, dengan arah terbalik, dan segaris. Artinya jika terserah benda A nan memberi gaya sebesar F puas benda B, maka benda B akan membagi gaya sebesar –F kepada benda A. F dan –F punya besar yang sekufu doang arahnya berbeda. Syariat ini juga terkenal seumpama hukum aksi-reaksi, dengan F disebut sebagai aksi dan –F adalah reaksinya.

Ketiga hukum gerak ini mula-mula dirangkum maka itu Isaac Newton privat karyanya
Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica, pertama kali diterbitkan pada 5 Juli 1687.[6]
Newton menunggangi karyanya bikin menjelaskan dan meniliti gerak dari bermacam rupa benda fisik atau sistem.[7]
Contohnya kerumahtanggaan jilid tiga mulai sejak naskah tersebut, Newton menunjukkan bahwa dengan menggabungkan antara hukum gerak dengan hukum gravitasi mahajana, ia dapat menguraikan hukum pergerakan planet milik Kepler.

Tinjauan

Hukum Newton diterapkan plong benda yang dianggap sebagai partikel,[8]
dalam evaluasi pergerakan misalnya, panjang benda tidak dihiraukan, karena target nan dihitung dapat dianggap katai, nisbi terhadap jarak yang ditempuh. Perubahan bentuk (deformasi) dan sirkulasi dari suatu bulan-bulanan juga tidak diperhitungkan internal analisisnya. Maka sebuah planet dapat dianggap bak suatu titik alias partikel untuk dianalisis gerakan orbitnya mengelilingi sebuah medali.

Dalam susuk aslinya, hukum gerak Newton tidaklah cukup untuk menghitung operasi dari objek nan bisa bermetamorfosis (benda tidak padat). Leonard Euler puas tahun 1750 memperkenalkan generalisasi hukum gerak Newton untuk benda padat yang disebut syariat gerak Euler, nan n domestik perkembangannya juga dapat digunakan bakal benda bukan padat. Takdirnya setiap benda boleh direpresentasikan sebagai sekumpulan elemen-partikel yang berlainan, dan saban elemen mengikuti hukum gerak Newton, maka hukum-syariat Euler dapat diturunkan bermula hukum-hukum Newton. Hukum Euler dapat dianggap umpama aksioma n domestik menjelaskan gerakan dari benda yang memiliki dimensi.[9]

Ketika kecepatan mendekati kecepatan kilat, efek dari relativitas khusus harus diperhitungkan.[10]

Hukum pertama Newton

Lex I: Corpus omne perseverare in statu suo quiescendi vel movendi uniformiter in directum, nisi quatenus a viribus impressis cogitur statum illum mutare.

Hukum I: Setiap benda akan mempertahankan kejadian diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali ada gaya yang bekerja cak bagi mengubahnya.
[12]

Hukum ini menyatakan bahwa jika resultan tendensi (jumlah vektor semenjak semua gaya nan bekerja plong benda) bernilai kosong, maka kecepatan benda tersebut kukuh. Dirumuskan secara matematis menjadi:









F

=
0






d

v



d
t



=
0.


{\displaystyle \sum \mathbf {F} =0\Rightarrow {\frac {d\mathbf {v} }{dt}}=0.}



Artinya:

  • Sebuah benda nan medium diam akan tetap sengap kecuali ada resultan gaya yang tidak nol berkreasi padanya.
  • Sebuah benda yang sedang bergerak, tidak akan berubah kecepatannya kecuali terserah resultan mode nan tidak hampa bekerja padanya.

Hukum purwa newton yaitu penjelasan kembali berasal hukum inersia yang sudah pernah dideskripsikan oleh Galileo. Privat bukunya Newton memberikan apresiasi puas Galileo kerjakan hukum ini. Aristoteles berpendapat bahwa setiap benda memilik tempat asal di dunia semesta: benda berat seperti mana batu akan berharta di atas petak dan benda ringan begitu juga asap kreatif di langit. Tanda jasa-bintang akan setia berada di surga. Ia menyengaja bahwa sebuah benda sedang berada pada kondisi alamiahnya jika bukan bergerak, dan kerjakan satu benda berputar pada garis lurus dengan kecepatan konstan diperlukan sesuatu dari asing benda tersebut nan terus mendorongnya, kalau tidak benda tersebut akan mengetem bergerak. Saja Galileo menyadari bahwa kecenderungan diperlukan untuk mengubah kepantasan benda tersebut (percepatan), tetapi untuk mempertahankan kelancaran lain diperlukan gaya. Sebagaimana syariat permulaan Newton: Tanpa mode berarti tidak ada akselerasi, maka benda makmur pada kecepatan konstan.

Hukum kedua Newton

Hukum kedua menyatakan bahwa total mode pada sebuah unsur sama dengan banyaknya pergantian momentum linier
p
terhadap hari:






F

=




d


p




d

t



=




d

(
m

v

)



d

n



,


{\displaystyle \mathbf {F} ={\frac {\mathrm {d} \mathbf {p} }{\mathrm {d} cakrawala}}={\frac {\mathrm {d} (m\mathbf {v} )}{\mathrm {d} ufuk}},}



Karena hukumnya hanya berlaku untuk sistem dengan konglomerasi konstan,[14]
[15]
[16]
variabel komposit (sebuah tegar) dapat dikeluarkan dari operator diferensial dengan memperalat sifat diferensiasi. Maka,






F

=
m





d


v




d

t



=
m

a

,


{\displaystyle \mathbf {F} =m\,{\frac {\mathrm {d} \mathbf {v} }{\mathrm {d} tepi langit}}=m\mathbf {a} ,}



Dengan
F
adalah jumlah mode yang bekerja,
m
yaitu massa benda, dan
a
yaitu percepatan benda. Maka total gaya yang bekerja sreg satu benda menghasilkan percepatan yang berbanding lurus.

Konglomerasi nan lebih maupun berkurang berasal suatu sistem akan mengakibatkan peralihan dalam momentum. Perubahan momentum ini bukanlah akibat dari gaya. Cak bagi menghitung sistem dengan konglomerat yang bisa berubah-tukar, diperlukan paralelisme yang berbeda.

Sesuai dengan syariat pertama, turunan paksa terhadap hari tidak nol ketika terjadi perubahan arah, biarpun bukan terjadi peralihan besaran. Contohnya adalah gerak bulat beraturan. Hubungan ini juga secara tidak sinkron menyatakan kekekalan momentum: Ketika resultan mode nan bekerja pada benda nihil, momentum benda tersebut konstan. Setiap perubahan gaya berbanding verbatim dengan pertukaran momentum tiap satuan waktu.

Hukum kedua ini perlu transisi jikalau relativitas eksklusif diperhitungkan, karena dalam kelajuan sangat tinggi hasil mana tahu massa dengan kelancaran bukan mendekati momentum sebenarnya.

Impuls

Impuls
J
unjuk ketika sebuah kecondongan
F
bekerja lega suatu selang antara tahun Δfalak, dan dirumuskan sebagai[17]
[18]






J

=





Δ


t



F



d

t
.


{\displaystyle \mathbf {J} =\int _{\Delta falak}\mathbf {F} \,\mathrm {d} lengkung langit.}



Impuls adalah suatu konsep nan digunakan kerjakan menganalisis tumbukan.[19]

Sistem dengan massa berubah

Sistem dengan massa berubah, sebagaimana roket yang bahan bakarnya digunakan dan mengeluarkan gas tinja, tak termuat dalam sistem tertutup dan tidak dapat dihitung dengan doang mengubah komposit menjadi sebuah faedah dari perian di syariat kedua.[15]
Alasannya, seperti yang termuat dalam
An Introduction to Mechanics
karya Kleppner dan Kolenkow, adalah bahwa hukum kedua Newton berlaku terhadap partikel-anasir secara mendasar.[16]
Pada mekanika klasik, unsur memiliki massa yang konstant. Dalam kasus partikel-partikel dalam suatu sistem yang terdefinisikan dengan jelas, syariat Newton dapat digunakan dengan menjumlahkan semua anasir dalam sistem:







F



t
o
falak
a
l



=
M


a



p
m





{\displaystyle \mathbf {F} _{\mathrm {total} }=M\mathbf {a} _{\mathrm {pm} }}



dengan
F
besaran
adalah total gaya yang bekerja pada sistem,
M
adalah total massa dari sistem, dan
a
pm
yakni percepatan mulai sejak pusat massa sistem.

Sistem dengan massa yang berubah-saling seperti mana roket maupun ember yang berlubang biasanya tidak boleh dihitung begitu juga sistem partikel, maka hukum kedua Newton enggak dapat digunakan langsung. Kemiripan baru digunakan untuk tanggulang tanya seperti itu dengan mandu menata ulang hukum kedua dan menotal momentum nan dibawa oleh massa yang masuk maupun keluar dari sistem:[14]






F

+

u





d

m



d

t



=
m




d


v




d

t





{\displaystyle \mathbf {F} +\mathbf {u} {\frac {\mathrm {d} m}{\mathrm {d} t}}=m{\mathrm {d} \mathbf {v} \adv lewat \mathrm {d} t}}



dengan
u
adalah kelajuan dari massa yang ikut atau keluar relatif terhadap daya massa dari incaran utama. Dalam beberapa konvensi, besar (u dm/dfalak) di sebelah kiri kemiripan, yang juga disebut dorongan, didefinisikan bak tendensi (gaya yang dikeluarkan oleh suatu benda sesuai dengan berubahnya massa, seperti dorongan peluru berpandu) dan dimasukan n domestik besarnya
F. Maka dengan mengubah definisi percepatan, persamaan tadi menjadi






F

=
m

a

.


{\displaystyle \mathbf {F} =m\mathbf {a} .}



Sejarah

Hukum kedua Newton dalam bahasa aslinya (latin) berbunyi:

Lex II: Mutationem motus proportionalem esse vi motrici impressae, et fieri secundum lineam rectam qua vis illa imprimitur.

Diterjmahkan dengan memadai tepat oleh Motte pada tahun 1729 menjadi:

Law II: The alteration of motion is ever proportional to the motive force impress’d; and is made in the direction of the right line in which that force is impress’d.

Nan privat Bahasa Indonesia berarti:

Hukum Kedua: Transisi dari gerak selalu berbanding harfiah terhadap mode nan dihasilkan / berkarya, dan punya arah nan selaras dengan garis normal berpunca tutul singgung gaya benda.

Syariat ketiga Newton

Hukum Ketiga Newton. Para anak tonsil sepatu luncur es mengasihkan gaya pada satu sekelas-enggak dengan besar nan sama semata-mata berlawanan arah.

Penjelasan hukum ketiga Newton.[20]

Benda apapun nan menindihkan alias meruntun benda bukan mengalami tekanan atau tarikan yang sama berasal benda yang ditekan alias ditarik. Sekiranya anda menekan sebuah bujukan dengan ujung tangan kamu, jari anda juga ditekan maka itu batu. Jika seekor kuda menarik sebuah bencana dengan menggunakan tali, maka kuda tersebut juga “silau” ke arah bencana: bikin lawai yang digunakan, lagi akan menjajarkan sang kuda ke arah batu sebesar ia menarik sang batu ke sisi kuda.

Hukum ketiga ini menjelaskan bahwa semua tren adalah
interaksi
antara benda-benda yang berbeda,[21]
maka bukan suka-suka gaya nan berkreasi hanya pada suatu benda. Seandainya benda
A
mengerjakan kecondongan lega benda
B, benda
B
secara bersamaan akan mengerjakan tendensi dengan besar yang sekufu plong benda
A
dan kedua tren segaris. Seperti mana yang ditunjukan di diagram, para peluncur es (Ice skater) memberikan tendensi suatu sama lain dengan besar yang sebabat, tetapi arah yang inkompatibel. Kendatipun gaya yang diberikan sama, percepatan yang terjadi tidak sama. Peluncur yang massanya bertambah kecil akan mendapat percepatan yang lebih besar karena hukum kedua Newton. Dua gaya yang bekerja pada hukum ketiga ini merupakan gaya yang bertipe separas. Misalnya antara roda dengan jalan sama-setinggi memberikan gaya menggisil.

Secara sederhananya, sebuah gaya selalu berkreasi pada sekelamin benda, dan tidak interelasi hanya pada sebuah benda. Jadi bakal setiap gaya pelahap memiliki dua ujung. Setiap ujung gaya ini selaras kecuali arahnya yang berlawanan. Ataupun sebuah ujung gaya adalah paparan berbunga ujung lainnya.

Secara matematis, hukum ketiga ini berwujud persamaan vektor satu dimensi, yang bisa dituliskan umpama berikut. Asumsikan benda A dan benda B memberikan mode terhadap suatu sama lain.










F


a
,
b


=








F


b
,
a




{\displaystyle \sum \mathbf {F} _{a,b}=-\sum \mathbf {F} _{b,a}}



Dengan

F
a,b
adalah gaya-kecenderungan nan berkarya pada A oleh B, dan
F
b,a
adalah gaya-gaya yang bekerja pada B oleh A.

Newton menunggangi syariat ketiga untuk menempatkan hukum ketetapan momentum,[22]
namun dengan pengamatan yang makin dalam, kekekalan periang yakni ide nan makin mendasar (diturunkan melalui teorema Noether berpunca relativitas Galileo dibandingkan syariat ketiga, dan kukuh berlaku pada kasus yang membuat hukum ketiga newton seakan-akan tidak dolan. Misalnya ketika medan gaya memiliki momentum, dan n domestik mekanika kuantum.

Pentingnya hukum Newton dan jangkauan validitasnya

Hukum-hukum Newton sudah lalu diverifikasi dengan eksperimen dan pengamatan selama lebih bersumber 200 tahun, dan hukum-syariat ini yaitu pendekatan yang dahulu baik buat kalkulasi dalam perbandingan dan kecepatan yang dialami oleh manusia sehari-perian. Hukum gerak Newton dan syariat gravitasi umum dan kalkulus, (bagi mula-mula kalinya) bisa memfasilitasi penjelasan kuantitatif tentang berbagai fenomena-fenomena jasmaniah.

Ketiga hukum ini pula ialah pendekatan yang baik kerjakan benda-benda makroskopis dalam kondisi sehari-perian. Doang hukum newton (digabungkan dengan hukum gravitasi umum dan elektrodinamika klasik) tak tepat untuk digunakan dalam kondisi tertentu, terutama dalam skala yang amat kecil, kelancaran yang sangat panjang (dalam kenisbian khusus, faktor Lorentz, konglomerat diam, dan kederasan harus diperhitungkan dalam formulasi momentum) atau medan gaya berat nan sangat awet. Maka hukum-hukum ini tidak dapat digunakan bikin menjelaskan fenomena-fenomena seperti konduksi listrik lega sebuah semikonduktor, sifat-adat optik dari sebuah bahan, kesalahan puas GPS sistem yang tidak diperbaiki secara relativistik, dan superkonduktivitas. Penjelasan dari fenomena-fenomena ini membutuhkan teori fisika nan lebih kompleks, termasuk relativitas masyarakat dan teori ajang kuantum.

Dalam mekanika kuantum konsep seperti gaya, paksa, dan posisi didefinsikan maka itu operator-teknisi linier yang beroperasi dalam kondisi kuantum, plong kederasan yang jauh lebih rendah dari kecepatan cahaya, hukum-hukum Newton sama tepatnya dengan teknisi-operator ini bekerja pada benda-benda klasik. Pada kelancaran nan mendekati kederasan cahaya, hukum kedua tegar dolan seperti bentuk aslinya
F =
dp

dt

, yang menjelaskan bahwa gaya adalah turunan berpokok momentum satu benda terhadap waktu, namun beberapa varian terbaru dari hukum kedua tidak berlaku pada kederasan relativistik.

Hubungan dengan hukum kekekalan

Di fisika modern, hukum keabadian berpangkal pejaka, energi, dan pejaka sudut bertindak bertambah umum daripada hukum-hukum Newton, karena mereka berlaku pada cahaya atau materi, dan juga pada fisika klasik maupun fisika non-klasik.

Secara sederhana, “Momen, energi, dan periang angular tidak dapat diciptakan atau dihilangkan.”

Karena kecenderungan adalah turunan mulai sejak momen, kerumahtanggaan teori-teori asal (sama dengan mekanika kuantum, elektrodinamika kuantum, relativitas mahajana, dsb.), konsep tendensi tak berarti dan berlimpah dibawah kekekalan momentum.

Model standar dapat menguraikan secara terperinci bagaimana tiga gaya-kecenderungan fundamental yang dikenal sebagai gaya-tendensi gauge, bermula dari pertukaran partikel virtual. Kecondongan-tendensi tak begitu juga gravitasi dan impitan degenerasi fermionik juga muncul dari kekekalan momentum. Kelestarian berpokok 4-momentum internal gerak kelembaman melewati ira-masa terkurva menghasilkan yang kita ujar sebagai tren gaya tarik bumi dalam teori relativitas umum.

Keabadian energi baru ditemukan setelah hampir dua abad sesudah spirit Newton, adanya jeda yang cukup jenjang ini disebabkan maka itu adanya kesulitan dalam memahami peran bersumber energi mikroskopik dan tak kelihatan seperti seksi dan cahaya infra-merah.

Tatap pula

  • Merkurius (planet)
  • Relativitas Galileo
  • Dinamika Newton
  • Mekanika Lagrangean
  • Mekanika Hamilton
  • Syariat Euler

Referensi

Coretan kaki


  1. ^


    Aswardi dan Yanto, D. T. P. (2019).
    Mesin Arus Searah. Purwokerto: CV IRDH. hlm. 6. ISBN 978-623-7343-12-7.





  2. ^

    • Newton’s “Axioms or Laws of Motion” starting on page 19 of volume 1 of the 1729 translation of the “Principia”;
    • Section 242,
      Newton’s laws of motion
      in Thomson, W (Lord Kelvin), and Tait, P G, (1867),
      Treatise on natural philosophy, debit 1; and
    • Benjamin Crowell (2000),
      Newtonian Physics.


  3. ^

    Halliday

  4. ^


    Browne, Michael E. (1999-07).
    Schaum’s outline of theory and problems of physics for engineering and science
    (Series: Schaum’s Outline Series). McGraw-Hill Companies. hlm. 58. ISBN 9780070084988.





  5. ^


    Holzner, Steven (2005-12).
    Physics for Dummies. Wiley, John & Sons, Incorporated. hlm. 64. ISBN 9780764554339.





  6. ^

    Tatap
    Principia
    secara daring di Andrew Motte Translation

  7. ^

    Andrew Motte translation of Newton’s
    Principia
    (1687)
    Axioms or Laws of Motion

  8. ^


    […]while Newton had used the word ‘body’ vaguely and in at least three different meanings, Euler realized that the statements of Newton are generally correct only when applied to masses concentrated at isolated points;
    Truesdell, Clifford A.; Becchi, Antonio; Benvenuto, Edoardo (2003).
    Essays on the history of mechanics: in memory of Clifford Ambrose Truesdell and Edoardo Benvenuto. New York: Birkhäuser. hlm. 207. ISBN 3764314761.





  9. ^


    Lubliner, Jacob (2008).
    Plasticity Theory (Revised Edition)
    (PDF). Dover Publications. ISBN 0486462900. Diarsipkan dari versi zakiah
    (PDF)
    sungkap 2022-03-31. Diakses tanggal
    2011-06-29
    .





  10. ^

    In making a bertamadun adjustment of the second law for (some of) the effects of relativity,
    m
    would be treated as the relativistic mass, producing the relativistic expression for momentum, and the third law might be modified if possible to allow for the finite signal propagation speed between distant interacting particles.

  11. ^


    Walter Lewin (September 20, 1999).
    Newton’s First, Second, and Third Laws. MIT Course 8.01: Classical Mechanics, Lecture 6
    (videotape) (dalam bahasa English). Cambridge, MA USA: MIT OCW. Berlangsung pada 0:00–6:53. Diarsipkan bermula varian asli
    (ogg)
    rontok 2022-02-09. Diakses tanggal
    December 23,
    2022
    .





  12. ^

    Isaac Newton,
    The Principia, A new translation by I.B. Cohen and A. Whitman, University of California press, Berkeley 1999.

  13. ^

    Lewin, Newton’s First, Second, and Third Laws Diarsipkan 2022-02-09 di Wayback Machine., Lecture 6. (6:53–11:06)
  14. ^


    a




    b




    Plastino, Angel R. (1992). “On the use and abuse of Newton’s second law for variable mass problems”.
    Celestial Mechanics and Dynamical Astronomy. Netherlands: Kluwer Academic Publishers.
    53
    (3): 227–232. Bibcode:1992CeMDA..53..227P. doi:10.1007/BF00052611. ISSN 0923-2958.




    “We may conclude emphasizing that Newton’s second law is mustakim for constant mass only. When the mass varies due to accretion or ablation, [an alternate equation explicitly accounting for the changing mass] should be used.”
  15. ^


    a




    b




    Halliday.
    Physics.
    1. hlm. 199. ISBN 0471037109.
    It is important to note that we
    cannot
    derive a general expression for Newton’s second law for variable mass systems by treating the mass in
    F
    = dP/dt = d(Mv) as a
    variable. […] We
    can
    use
    F
    = dP/dt to analyze variable mass systems
    only
    if we apply it to an
    entire system of constant mass
    having parts among which there is an interchange of mass.





    [Emphasis as in the original]
  16. ^


    a




    b




    Kleppner, Daniel (1973).
    An Introduction to Mechanics. McGraw-Hill. hlm. 133–134. ISBN 0070350485.
    Recall that
    F
    = dP/dt was established for a system composed of a certain set of particles[. … I]t is essential to deal with the same set of particles throughout the time jeda[. …] Consequently, the mass of the system can titinada change during the time of interest.






  17. ^

    Hannah, J, Hillier, M J,
    Applied Mechanics, p221, Pitman Paperbacks, 1971

  18. ^


    Raymond A. Serway, Jerry S. Faughn (2006).
    College Physics. Pacific Grove CA: Thompson-Brooks/Cole. hlm. 161. ISBN 0534997244.





  19. ^


    WJ Stronge (2004).
    Impact mechanics. Cambridge UK: Cambridge University Press. hlm. 12 ff. ISBN 0521602890.





  20. ^

    Lewin, Newton’s First, Second, and Third Laws Diarsipkan 2022-02-09 di Wayback Machine., Lecture 6. (14:11–16:00)

  21. ^


    C Hellingman (1992). “Newton’s third law revisited”.
    Phys. Educ.
    27
    (2): 112–115. Bibcode:1992PhyEd..27..112H. doi:10.1088/0031-9120/27/2/011.





  22. ^

    Newton,
    Principia, Corollary III to the laws of motion

Bacaan lanjut

  • Crowell, Benjamin, (2000),
    Newtonian Physics, (2000, Light and Matter), ISBN 0-9704670-1-X, 9780970467010, especially at Section
    4.2, Newton’s First Law, Section
    4.3, Newton’s Second Law, and Section
    5.1, Newton’s Third Law.

  • Feynman, R. P.; Leighton, R. B.; Sands, M. (2005).
    The Feynman Lectures on Physics. Vol. 1 (edisi ke-2nd). Pearson/Addison-Wesley. ISBN 0805390499.





  • Fowles, G. R.; Cassiday, G. L. (1999).
    Analytical Mechanics
    (edisi ke-6th). Saunders College Publishing. ISBN 0030223172.





  • Likins, Peter W. (1973).
    Elements of Engineering Mechanics. McGraw-Hill Book Company. ISBN 0070378525.





  • Marion, Jerry; Thornton, Stephen (1995).
    Classical Dynamics of Particles and Systems. Harcourt College Publishers. ISBN 0030973023.




  • Newton, Isaac, “Mathematical Principles of Natural Philosophy”, 1729 English translation based on 3rd Latin edition (1726), piutang 1, containing Book 1, especially at the section
    Axioms or Laws of Motion
    starting page 19.
  • Newton, Isaac, “Mathematical Principles of Natural Philosophy”, 1729 English translation based on 3rd Latin edition (1726), volume 2, containing Books 2 & 3.
  • Thomson, W (Lord Kelvin), and Tait, P G, (1867),
    Treatise on natural philosophy, tagihan 1, especially at Section 242,
    Newton’s laws of motion.

  • NMJ Woodhouse (2003).
    Special relativity. London/Berlin: Springer. hlm. 6. ISBN 1-85233-426-6.





  • Galili, I. & Tseitlin, M. (2003). “Newton’s first law: text, translations, interpretations, and physics education”.
    Science and Education. 12.
    (1)
    (1): 45–73. Bibcode:2003Sc&Ed..12…45G. doi:10.1023/A:1022632600805.




Pranala asing

  • (Inggris)
    Video ceramah MIT Diarsipkan 2008-04-11 di Wayback Machine. akan halnya tiga syariat Newton
  • (Inggris)
    Newtonian Physics – sentral teks daring
  • (Inggris)
    Motion Mountain – buku teks daring
  • (Inggris)
    Simulasi hukum gerak Newton pertama
  • (Inggris)
    Hukum Newton kedua” maka itu Enrique Zeleny, Wolfram Demonstrations Project.
  • (Inggris)
    Hukum Newton ketiga didemonstrasikan kerumahtanggaan sebuah vakum
  • (Indonesia)
    Syariat Newton 1
  • (Indonesia)
    Syariat Newton 2
  • (Indonesia)
    Syariat Newton 3



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_gerak_Newton

Posted by: gamadelic.com