Apa Yang Dimaksud Dengan Paradoks

Apa sih yang dimaksud dengan Teknologi Siaran Ketidakseragaman atau TI paradoks itu? Denotasi Teknologi Informasi (TI) secara awam adalah suatu usaha untuk membantu manusia internal membentuk, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan/maupun menebarkan informasi dengan menggunakan teknologi, khususnya tuntutan perangkat keras dan radas lunak komputer. Sedangkan ketidaktetapan yaitu pernyataan nan bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, saja kenyataannya mengandung kebenaran.

Untuk bertambah memudahkan pengertian TI Paradoks, dianalogikan seperti berikut: Jika setiap karyawan diperlengkapi dengan laptop, setiap tegel dilengkapi dengan Wi-fi hotspot, dan karyawan yang tugas luar dapat mengakses server organisasi tanpa tersidai lokasi, apakah ada cekram organisasi memperoleh keuntungan? Kenyataannya, TI saja tidak selalu mengakibatkan eskalasi kapasitas.

Isu TI Kontradiksi ini memang tak hal yang baru. Sudah lalu banyak organisasi nan mengandalkan TI ibarat gawai cak bagi mengirimkan kejayaan cak bagi organisasinya, tetapi mendapatkankan hasil nan berbeda setelah implementasi TI di organisasi tersebut. Maka itu karena itu, dirasa perlu bakal mengangkat isu TI Paradoks juga pada kesempatan ini untuk sekedar mengingatkan atau berjaga-jaga agar organisasi kita tidak mengarah ke penerapan TI yang salah, nan tidak sesuai dengan segala apa nan diharapkan di sediakala.

Teknologi Informasi (TI) Paradoks

Robert Solow (1987) memunculkan istilah “ketidaktetapan produktivitas” dimana Teknologi Pengumuman (TI) muncul sreg setiap aspek usia tetapi tidak muncul pada perangkaan kapasitas.

TI yang tidak direncanakan dengan baik mungkin justru “counter-productive”. Sebagai analogi, sreg masa lalu, kertas burung laut “mengganggu” produktivitas. Banyak waktu kita terbuang cak bagi menggapil kertas (surat, dokumen, laporan, dsb.). Solusinya adalah dengan penerapan IT n domestik menggantikan daluang menjadi file seumpama media suatu proses

Pada zaman Teknologi Pengetahuan (TI) ini, kita harus berada melakukan bijak kepada file juga. Banyak file nan kita kelola, dan sonder perencanaan serta manajemen nan baik, file-file tersebut akan justru menggerogoti produktivitas kita.

Cermin tertinggal saja, kita bangga n kepunyaan banyak data dan informasi belaka dikemas dalam USB drive yang berukuran tidak kian osean pecah sebuah pena. Cuma bila file-file tersebut tidak diorganisasikan dengan baik atau dikelompok-kelompokan dengan baik, kapan file tersebut dibutuhkan mungkin malah akan melakukan masa bertambah lama untuk mencari file tersebut daripada keseluruhan proses yang akan dilakukan terhadap file tersebut maupun lebih-lebih tambahan pula kita menjadi stres karena tidak dapat menemukan file tersebut.

Contoh di atas belaka contoh mungil nan terserah disekitar kita sehari-musim. Cak bertanya nan bertambah besar, bagaimana pula ideal di atas terjadi pada organisasi yang lebih besar, dimana di organisasi tersebut punya kompleksitas bisnis proses dan data/informasi nan sangat besar di tempat berkarya.

TI bukan ialah mesin yang secara otomatis bisa memberikan keuntungan. TI namun merupakan
“enabling catalyst”. Sebagaimana halnya katalisator sreg suatu reaksi kimia, keberadaannya dapat mempercepat reaksi kimia, tetapi tidak terkebat dalam reaksi ilmu pisah. Karena itu, klaim adapun kontribusi TI bagi “corporate value” harus dilakukan dengan pendekatan konservatif. TI sebaiknya di”deployed” di tempat-tempat di mana ada peluang terbesar untuk sukses, misalnya sistem billing bakal perusahaan jasa dan bisnis.

Kejayaan Teknologi Informasi Dalam Organisasi

Bilang keadaan yang menjadi faktor pokok tetapi sering tidak diindahkan. Seyogiannya TI dapat sependapat dengan keuntungan atau hasil nan diharapkan, antara lain:

1. POSISI TI DI Satu ORGANISASI

Selincam kita lihat beberapa organisasi besar seperti Wal-Mart yang sukses memilih posisi TI sebagai follower. Mereka berusaha meningkatkan kecepatan, dengan sistem distribusi baru yang mengantarkan dengan kederasan tinggi, sirkulasi barang yang tinggi, dan memperalat label berfrekuensi radio RFID, dinobatkan sebagai persuasi logistik paling efisien di retail Amerika musim 2007. Apple sukses dengan memilih posisi TI sebagai leader – iPod benar-benar telah merevolusi bumi! (Sumber: Richard Wyatt – Haines, Align IT Business Impact Trough IT, 2007).

Dari contoh di atas, menggambarkan bahwa setiap orgasnisasi harus berkecukupan memahami posisi TI yang paling tepat buat dirinya sendiri, apakah sebagai follower, enabler alias leader! Dari kognisi posisi tersebut akan mengangkut konsekuensi lanjutan terhadap dukungan organisasi n domestik pengembangan TI di organisasi tersebut.

Sebagai teoretis, jika organisasi telah menargetkan posisi TI di organisasinnya sebagai enabler, dimana TI sebagai senjata stratejik buat mendapatkan label kompetitif dalam iklim bisnis, maka konsekuensi dukungan dari segala aspek bagi menciptakan pengembangan TI yang baik perlu lewat diperhatikan. Dukungan yang dimaksud bisa kasatmata dukungan anggaran, penyiapan SDM, dan sebagainnya.

2. IT STEEERING COMMITTEE

Dalam banyak organisasi, manajemen puncak ataupun steering committee sangat berperan dalam proses pengembangan sistem. Peran kuat manajemen puncak ini lebih-lebih dibutuhkan ketika TI dirasa terlampau dibutuhkan oleh seluruh episode di suatu organisasi, sehingga jika pengembangan TI tidak dikoordinasikan dengan baik, maka kemungkinan kegagalan implementasi TI secara keseluruhan di organisasi tersebut menjadi osean.

Rang kesepadanan nan dilakukan dapat disinergikan dengan meluluk penunjuk-parameter begitu juga analisis lingkungan eksternal, mileu dalam, lingkungan teknologi dan pengaruhnya terhadap organisasi, serta kajian kebutuhan sumur ki akal lainnya (misalnya kapital, material, dan personil)

IT steering committee
adalah penentu politik TI secara lintas sektoral termasuk menentukan privilese investment TI. Biasanya manajemen puncak terdiri berpunca eksekutif senior perwakilan kelompok menggandar, sistem proklamasi, dan user nan lain. Komite ini yang menambat tujuan menggandar dan sistem siaran bagi mencapai tujuannya. Adapun sejumlah yang dilakukannya adalah :

  • Menyelesaikan konflik teritori dan strategi berpangkal membangun sistem yang baru
  • Menentukan hak istimewa tawaran pembangunan/peluasan sistem
  • Menyetujui perencanaan dan anggaran sistem
  • Mereview kesuksesan pembangunan/pengembangan sistem
  • Menentukan apakah pembangunan/peluasan sistem tertentu dapat dilanjutkan maupun tidak

3. PERENCANAAN TI

Perencanaan sistem adalah proses takhlik sebuah Laporan Perencanaan Sistem yang menggunakan sumber sistem amanat nan bersambung dan membantu pamrih menggandar dan aksi organisasi. Investasi nan segara dalam TI membuat perencanaan TI menjadi komplikasi sosi bagi penyelenggaraan. Keadaan ini menunjukkan bahwa perencanaan TI menjadi keadaan nan terdahulu intern organisasi secara keseluruhan takdirnya kepingin memperoleh keunggulan kompetitif

Tujuan utama perencanaan TI yaitu bakal menyelaraskan perencanaan TI dengan perencanaan bisnis dan menghindari bilang kesialan akibat ketidakselarasan tersebut. Maka itu karena itu keterlibatan dan dukungan penyelenggaraan puncak dan pengguna merupakan fasilitator yang penting n domestik perencanaan TI.

Tiga kelainan utama dalam perencanaan strategis teknologi informasi :

  1. Bagaimana kredibel bahwa teknologi informasi menciptakan keunggulan kompetitif ?
  2. Bagaimana jujur bahwa teknologi keterangan mampu meningkatkan produktifitas Organisasi?
  3. Bagaimana agar teknologi informasi mampu mentransformasi organisasi?

4. DUKUNGAN PASKA IMPLEMENTASI

Implementasi satu sistem merupakan sebuah proses implementasi di bidang TI yang kompleks dan mahal bagi organisasi. Dengan pemodalan moneter yang dahulu besar nan telah dikeluarkan oleh organisasi untuk implementasi suatu sistem, dampak puas daya produksi dan kelangsungan performansi bisnis organisasi masih seringkali dipertanyakan. Fenomena ini kerap disebut dengan
productivity paradox
maupun
Information Technology (IT)  black hole.

Fenomena ini muncul karena organisasi beranggapan bahwa detik pengembangan/pembuatan suatu sistem telah sukses diimplementasikan atau hingga plong fase
going live, maka organisasi akan mendapatkan keseluruhan benefits dari pengembangan tersebut secara seketika.
Going live
bukanlah akhir dari sebuah implementasi suatu sistem akan tetapi yaitu akhir bersumber mulanya perjalanan menuju improvement, inovasi, dan agility. Maka dari itu sebab itu, keseluruhan
business benefits
hanya dapat dicapai organisasi dengan cara ki ajek fokus dan propaganda nan berkesinambungan plong fase sesudah
going live

atau post implementasi suatu sistem.

Fase sesudah going live atau post implementasi suatu sistem merupakan tanggung jawab internal organisasi yang tak dapat didelegasikan kepada pihak ketiga sehingga internal organisasi harus bernas mengelola proses post implementasi buat dapat mengoptimalkan keseluruhan benefits sistem tersebut. Disini pentingnya terwalak pemilik (owner) terhadap suatu sistem yang dikembangkan. Pemilik sistem bukanlah organisasi TI nan mengembangkan sistem, tetapi bertambah mengarah ke business owner.

Penulis: Yan Inderayana, ST, MT.

Referensi:

  • “ANALYSIS INFLUENCE OF IT GOVERNANCE TO EFFECTIVENESS ROUTINE OPERATION & ENHANCEMENT AT PHASE OF POST IMPLEMENTATION ERP. (CASE STUDY : PT. GARUDA MAINTENANCE FACILITY AEROASIA)”, Master Theses I Nyoman Gede Krisna Dwipayana, 2008
  • “PERANAN SISTEM INFORMASI DAN PERENCANAAN SISTEM INFORMASI DALAM ORGANISASI: SUATU Pendalaman EMPIRIS”, gracetpontoh.

Teknologi Pesiaran (TI) Ketidakseragaman – Literasi Umum

Source: https://www.literasipublik.com/teknologi-informasi-ti-paradoks

Posted by: gamadelic.com