Apa Yang Dimaksud Dengan Komik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Komik
merupakan wahana nan digunakan untuk mengekspresikan ide dengan gambar, camar dikombinasikan dengan referensi atau informasi visual lainnya. Komik sering mengambil bentuk belai panel yang disandingkan. Seringkali perangkat tekstual seperti mana balon bacot, keterangan, dan onomatope menunjukkan dialog, narasi, efek suara, alias warta lainnya. Ukuran dan dominasi panel berkontribusi lega kelancaran narasi. Kartun dan bentuk-gambar ilustrasi serupa adalah cara pembuatan rajah yang paling masyarakat dalam komik;
fumetti
merupakan rancangan nan menggunakan gambar fotografi. Rancangan umum komik termuat strip komik, editorial dan lelucon, dan trik komik. Sejak akhir abad ke-20, volume yang terikat seperti mana novel grafik, rekaman komik, dan
tankōbon
telah menjadi semakin umum, temporer webcomic mutakadim berkembang pada abad ke-21.

Ki kenangan komik telah mengimak kolek nan berbeda dalam budaya yang berbeda. Para sarjana telah mengajukan pra-sejarah sejauh lukisan gua Lascaux. Lega pertengahan abad ke-20, komik bertaruk subur khususnya di Amerika Serikat, Eropa Barat (terutama di Prancis dan Belgia), dan Jepang. Sejarah komik Eropa sering ditelusuri ke strip kartun Rodolphe Töpffer pada tahun 1830-an, dan menjadi populer setelah keberhasilan strip tahun 1930-an dan buku-rahasia sama dengan
The Adventures of Tintin. Komik Amerika muncul sebagai ki alat massa di awal abad ke-20 dengan munculnya komik strip; Ki akal komik bergaya majalah mengikuti pada 1930-an, di mana genre pahlawan super menjadi menonjol setelah Superman muncul pada 1938. Sejarah komik dan kartun Jepang (manga) mengusulkan asal-usul pada awal abad ke-12. Strip komik modern muncul di Jepang pada awal abad ke-20, dan output majalah dan buku komik berkembang pesat pada era pasca-Perang Manjapada II dengan reputasi kartunis seperti Osamu Tezuka. Komik sudah memiliki reputasi terbatas untuk sebagian besar sejarahnya, tetapi menjelang intiha abad ke-20 mulai menemukan penataran yang makin samudra dengan masyarakat dan akademisi.

Istilah bahasa Inggris
comics
digunakan sebagai substantif tunggal saat merujuk ke medium jamak dan merujuk pada model-contoh tertentu, seperti strip khalayak ataupun buku komik. Meskipun istilah ini berasal berbunga karya humor (comic) yang mendominasi privat harian komik strip Amerika, ini sudah lalu menjadi standar juga lakukan karya-karya non-humor. Adalah umum dalam bahasa Inggris lakukan merujuk plong komik dari budaya nan berbeda dengan istilah yang digunakan privat bahasa aslinya, sebagaimana
manga
cak bagi komik Jepang, atau
bandes dessinées
untuk komik berbahasa Prancis. Tidak ada konsensus di antara para ahli teori dan sejarawan tentang definisi komik; sejumlah menekankan kombinasi gambar dan pustaka, sejumlah urutan atau perhubungan gambar lain, dan aspek historis lainnya begitu juga reproduksi massal atau penggunaan fiil berulang. Meningkatnya konsep penyerbukan silang dari berbagai budaya dan era komik telah menciptakan menjadikan definisi semakin langka.

Terminologi

[sunting
|
sunting sumber]

Pada tahun 1996, Will Eisner menerbitkan buku
Graphic Storytelling, di mana kamu mendefinisikan komik sebagai “tatanan buram dan balon kata yang berurutan, dalam sebuah buku komik.” Sebelumnya, pada hari 1986, dalam buku
Comics and Sequential Art, Eisner mendefinisikan teknis dan struktur komik umpama
sequential art, “susunan rencana dan kata-kata bakal menceritakan sesuatu ataupun mendramatisasi satu ide”.

Dalam pusat
Understanding Comics
(1993) Scott McCloud mendefinisikan seni sekuensial dan komik seumpama

juxtaposed pictorial and other images in deliberate sequence, intended to convey information and/or to produce an aesthetic response in the viewer.

Para ahli masih belum sependapat akan halnya definisi komik. Sebagian diantaranya berpendapat bahwa bentuk cetaknya terbiasa ditekankan. Nan tak lebih menitikberatkan kesinambungan gambar dan referensi. Sebagian lain makin menekankan kebiasaan kesinambungannya (sequential). Definisi komik koteng habis supel karena itu berkembanglah plural istilah hijau seperti:

  • Picture stories
    – Rodolphe Topffer (1845)
  • Pictorial narratives
    – Frans Masereel dan Lynd Ward (1930-an).
  • Picture novella
    – dengan nama samaran Drake Waller (1950s).
  • Illustories
    – Charles Biro (1950s)
  • Picto-fiction
    – Bill Gaine (1950s)
  • Sequential art
    (graphic novel) – Will Eisner (1978)
  • Nouvelle manga
    – Frederic Boilet (2001)

Bagi lingkup Nusantara, sendiri penyair berpunca semenanjung Melayu (kini Malaysia) Harun Amniurashid (1952) pernah menyapa ‘cerita berlukis’ sebagai Referensi istilah
cartoons
kerumahtanggaan bahasa Inggris. Di Indonesia terdapat sebutan istimewa buat komik begitu juga diungkapkan oleh pengamat budaya Arswendo Atmowiloto (1986) yaitu cerita gambar ataupun disingkat menjadi
cergam
yang dicetuskan maka itu seorang komikus Medan bernama Zam Nuldyn sekeliling tahun 1970. Sementara itu Seno Gumira Ajidarma (2002), jurnalis dan pengamat komik, menampilkan bahwa komikus Konsisten Santosa dalam komik Mat Romeo (1971) pernah mengiklankan karya mereka dengan alas kata-introduksi “disadjikan setjara filmis dan kolosal” nan sangat relevan dengan novel bergambar.

Istilah kisahan bercacah

[sunting
|
sunting sumur]

Abreviasi kisah (ber)rang, menurut Marcell Boneff mengikuti istilah cerpen (cerita pendek) yang sudah sampai-sampai dahulu digunakan, dan konotasinya menjadi lebih bagus, meski tanggal semenjak masalah tepat tidaknya dari segi kebahasaan alias etimologis katanya.

Cuma menilik kembali sreg kelahiran komik, maka adanya teks dan gambar secara bersamaan dinilai oleh Francis Laccasin (1971) umpama kendaraan pengungkapan nan benar-benar orisinal. Kehadiran pustaka bukan lagi satu prasyarat karena ada atom
motion
yang bisa dipertimbangkan sebagai jati diri komik lainnya.

Karena itu di intern istilah komik klasik Indonesia, cerita bergambar, bukan lagi harus bergantung kepada narasi tertulis. Kejadian ini disebut Eisner sebagai
graphic narration
(terutama di privat film dan komik).

Posisi komik di dalam seni rupa

[sunting
|
sunting sumber]

Komik menurut Laccasin (1971) dan koleganya dinobatkan misal seni ke-sembilan. Walaupun senyatanya ini hanya sebuah simbolisasi penerimaan komik ke n domestik pangsa wacana senirupa. Bukanlah situasi yang dianggap berharga mana tahu atau segala apa cuma seni nan kesatu sampai kedelapan.

Menurut sejarahnya selingkung tahun 1920-an, Ricciotto Canudo pendiri
Club DES Amis du Septième Art, pelecok satu klub sinema Paris yang awal, seorang teoritikus komidi gambar dan penyair bermula Italia inilah yang mengemukakan urutan 7 kesenian di salah satu penerbitan klub tersebut masa 1923-an. Kemudian pada waktu 1964 Claude Beylie menambahkan televisi sebagai yang kedelapan, dan komik berada tepat dibawahnya, seni kesembilan.

Thierry Groensteen, teoritikus dan pengamat komik Prancis yang menerbitkan buku analisis komiknya puas tahun 1999 berjudul
“Système de la bande dessinée (Formes sémiotiques)”
yang akan dari tahun 2007 menjadi
“The System of Comics”. Ia merenjeng lidah definisi seni kesembilan dalam pengantar edisi permulaan majalah
“9e Art”
di Prancis. Menurutnya, nan pertama kali membudayakan istilah itu adalah Claude Beylie. Ia menggambar titel artikel, “La bande dessinee est-elle un art?”, dan seni kesembilan itu disebut pada seri kedua dari lima artikel di majalah “Lettres et Medecins”, yang mulai sejak sepanjang Januari sampai September 1964.

Baru kemudian pada masa 1971, F. Laccasin menambat komik bagaikan seni kesembilan di majalah “Pour un neuvieme art”, seperti yang dikutip oleh Marcel Boneff pada 1972 di dalam Komik Indonesia .

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Annabel Teh Gallop, Malay Comic Books from the 1959s and 1960s (unpublished draft article, 1995)
  • Atmowiloto, A. (1982). Komik dan Kebudayaan Nasional. Majalah Analisis Kebudayaan, Tahun ke II, Nomor 1, 1981-82, keadaan. 109-120. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Boneff, M., 1998. Komik Indonesia. Jakarta: KPG
  • http://www.editionsdelan2.com/groensteen/Systemebd/Systemebd.html Diarsipkan 2007-01-02 di Wayback Machine.
  • http://www.engel-cox.org/textvision/comics_is_the_ninth_art.html Diarsipkan 2007-04-29 di Wayback Machine.
  • http://www.fumetti.org/goria/scrivere/002.htm
  • http://www.sequart.com/SequentialCulture19.htm

Lihat pula

[sunting
|
sunting sumber]

  • Komik Indonesia
  • Novel diagram
  • Webtoon
  • komik terbaru

Teks makin lanjut

[sunting
|
sunting sumber]

  • Carrier, David (2002).
    The Aesthetics of Comics. Penn State Press. ISBN 978-0-271-02188-1.



  • Cohn, Neil (2013).
    The Visual Language of Comics: Introduction to the Structure and Cognition of Sequential Images. London: Bloomsbury. ISBN 978-1-4411-8145-9.



  • Dowd, Douglas Bevan; Hignite, Todd (2006).
    Strips, Toons, And Bluesies: Essays in Comics And Culture. Princeton Architectural Press. ISBN 978-1-56898-621-0.



  • Eisner, Will (1995).
    Graphic Storytelling. Poorhouse Press. ISBN 978-0-9614728-3-2.



  • Estren, Mark James (1993).
    A History of Underground Comics. Ronin Publishing. ISBN 978-0-914171-64-5.



  • Groensteen, Thierry (2007) [1999].
    The System of Comics. University Press of Mississippi. ISBN 978-1-57806-925-5.



  • Groensteen, Thierry (2014). “Definitions”. Dalam Miller, Ann; Beaty, Bart.
    The French Comics Theory Reader. Leuven University Press. hlm. 93–114. ISBN 978-90-5867-988-8.



  • Groth, Gary; Fiore, R., ed. (1988).
    The New Comics. Berkley Books. ISBN 978-0-425-11366-0.



  • Heer, Jeet; Worcester, Kent, ed. (2012).
    A Comics Studies Reader. University Press of Mississippi. ISBN 978-1-60473-109-5.



  • Horn, Maurice, ed. (1977).
    The World Encyclopedia of Comics. Avon. ISBN 978-0-87754-323-7.



  • Kunzle, David (1973).
    The Early Comic Strip: Narrative Strips and Picture Stories in the European Broadsheet from c. 1450 to 1825. University of California Press. ISBN 978-0-520-05775-3. OCLC 470776042.



  • Kunzle, David (1990).
    History of the Comic Strip: The Nineteenth Century. University of California Press. ISBN 978-0-520-01865-5.



  • Sabin, Roger (1996).
    Comics, Comix and Graphic Novels: A History of Comic Art. Phaidon. ISBN 978-0-7148-3993-6.



  • Waugh, Coulton (1947).
    The Comics. University Press of Mississippi. ISBN 978-0-87805-499-2.



  • Stein, Daniel; Thon, Jan-Noël, ed. (2015).
    From Comic Strips to Graphic Novels. Contributions to the Theory and History of Graphic Narrative. De Gruyter. ISBN 978-3-11-042656-4.



Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • Komik di Curlie (semenjak DMOZ)

Jurnal akademik

  • The Comics Grid: Journal of Comics Scholarship
  • ImageTexT: Interdisciplinary Comics Studies
  • Image [&] Narrative
  • International
    Journal of Comic Art
    Diarsipkan 2022-01-14 di Wayback Machine.
  • Journal of Graphic Novels and Comics

Arsip

  • Billy Ireland Cartoon Library & Museum
  • Michigan State University Comic Art Collection
  • Comic Art Collection Diarsipkan 2022-07-19 di Wayback Machine. at the University of Missouri
  • Cartoon Art Museum of San Francisco
  • Time
    Archives’ Collection of Comics Diarsipkan 2012-12-16 di Archive.is
  • “Comics in the National Art Library”.
    Prints & Books. Victoria and Albert Museum. Diarsipkan berbunga versi putih tanggal 2009-11-04. Diakses terlepas
    2011-03-15
    .



Basis data

  • Comic Book Database Diarsipkan 2022-12-17 di Wayback Machine.
  • Grand Comics Database



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Komik

Posted by: gamadelic.com