Apa Yang Dimaksud Asbabun Nuzul

Al-Qur’an diturunkan sedikit demi rendah selama 23 tahun musim kenabian. Ayat demi ayat diturunkan oleh Allah dalam keadaan yang berlainan-beda. N domestik ranah sosial, terserah banyak ayat Al-Qur’an yang diturunkan sebagai jawaban atas kelainan yang dialami oleh Nabi Muhammad dan para sahabat. Menyikapi hal ini, para ulama menelanjangi ranah studi yunior dalam ilmu tafsir yang disebut dengan
asbabun nuzul(secara bahasa: “sebab-sebab alias latar historis turunnya ayat Al-Qur’an”,
red).

Para mufassir Al-Qur’an sepakat bahwa:

سبب النزول معناه ما نزلت الآية أيام وقوعه متضمنة له أو مبينة لحكمه


“Asbabun nuzul
yakni diturunkan ayat Al-Qur’an atas sebuah keadaan buat mengabadikannya atau menjelaskan syariat atas kejadian tersebut.”

Di antara contoh
asbabun nuzul
ialah riwayat yang menjelaskan peristiwa yang melatarbelakangi diturunkannya hukum larangan meminum khamr dalam Al-Quran, yaitu:

“Diriwayatkan mulai sejak Ibnu Abbas bahwa suatu saat dua kabilah berbunga golongan Anshar mengadakan perjamuan yang disuguhi dengan minuman khamr. Kemudian mereka minum khamr hingga mabuk sehingga terjadilah perkelahian di antara mereka. Detik mereka sudah sadar pecah mabuknya, maka sebagian mereka mencatat lulusan luka yang terserah di wajahnya seraya berkata, ‘Betapa saudaraku fulan sudah melukaiku, seandainya ia berbelas kasihan niscaya ia tidak akan melukaiku’. Terbakarlah permusuhan di antara dua suku bangsa tersebut karena luka yang mereka dapatkan. Kemudian, Allah menurunkan ayat Al-Qur’an

إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ

Artinya: “Duhai turunan-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi usia dengan anak panah yakni polah tebal hati dan tertulis polah setan. Maka jauhilah…” (QS Al-Maidah : 90)

Dikecualikan dari definisi
asbabun nuzul
adalah setiap ayat nan diturunkan lain sebagai jawaban atas tanya para sahabat alias kejadian di masa Nabi Muhammad. Contohnya narasi-narasi umat dan para nabi terdepan yang diturunkan andai peringatan kerjakan umat Nabi Muhammad. Hal ini disebabkan tak menunaikan janji kriteria dari definisi
asbabun nuzul
yang telah disepakati oleh para ulama tafsir.

Sikap para ulama momen menemukan perbedaan
asbabun nuzul
dalam satu ayat yang setimpal adalah misal berikut:



Pertama
, ketika ada dua riwayat yang menjelaskan
asbabun nuzul
lega ayat yang begitu juga kategori riwayat dapat dipercaya maka keduanya dapat masin lidah sebagai
asbabun nuzul
pada ayat tersebut tanpa ditolak salah satu terbit keduanya. Dan kedua riwayat ini berfungsi misal penguat hukum yang dibawa maka dari itu ayat tersebut. Sangat kali terjadi sebuah ayat yang sama diturunkan kian dari satu kali sebagai jawaban atas beberapa situasi nan terjadi di masa Nabi Muhammad saw. Misalnya,

Riwayat pertama, “Diriwayatkan berpangkal Abu Hurairah ‘Suatu ketika Nabi Muhammad saw sedang berdiri di depan jenazah sahabat Hamzah yang antap syahid. Rasulullah mengatakan ‘Akan aku balaskan dengan terbunuhnya 70 cucu adam berpangkal mereka (orang-bani adam kafir Quraisy) sebagai balasan atas wafatmu’. Maka, turunlah Jibril dengan membawa ayat, ‘Dan jika beliau melawan maka balaslah dengan (pertampikan) yang sebagaimana siksaan yang ditimpakan kepadamu…” (QS An-Nahl: 126),” (HR al-Baihaqi).

Riwayat kedua, “Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, ‘Satu ketika puas perang Uhud terbunuh 64 orang pecah kalangan Anshar dan 6 orang dari kalangan Muhajirin. Seseorang berbunga kalangan Anshar mengatakan, ‘Seandainya terjadi lagi perang dengan mereka (orang-manusia kafir Quraisy), akan kita binasakan ratusan orang berpangkal golongan mereka’. Maka, momen terjadi penaklukkan ii kabupaten Makkah
(Fathu Makkah)
turunlah ayat ‘Dan jikalau dia membalas, maka balaslah dengan (balasan) nan sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu…” (QS An-Nahl: 126),” (HR al-Wasit).

Privat kasus ini, kita senggang bahwa seluruh ayat privat surat an-Nahl merupakan
Makkiyah
(diturunkan di kota Makkah). Maka, dapat disimpulkan bahwa QS An-Nahl ayat 126 diturunkan tiga kali yaitu pertama diturunkan di daerah tingkat Makkah sebelum nabi hijrah, kemudian di perang uhud begitu juga riwayat permulaan, dan anak bungsu di ii kabupaten Makkah pada saat penakhlukkan kota Makkah (Fathu Makkah)
sebagaimana riwayat yang kedua.



Kedua
, ketika ada dua riwayat yang menjelaskan
asbabun nuzul
lega ayat nan sama, tetapi riwayat yang pertama dengan redaksi “Ayat ini drop untuk menjelaskan hukum ini” sementara itu riwayat yang kedua dengan redaksi “Ayat ini dengan sebab situasi seperti ini”; maka ditetapkan riwayat kedua laksana
asbabun nuzul
karena memakai redaksi yang lebih jelas dalam menceritakan sebab turunnya ayat tersebut. Misal contoh,

Riwayat permulaan, “Diriwayatkan semenjak Ibnu Umar, beliau mengatakan “Turunnya ayat “Istrimu yakni ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu bilamana saja dengan cara nan kamu gemar. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu… (QS Al-Baqarah ayat 223)” adalah sebagai penjelasan keharaman menggauli perempuan dari duburnya” (HR al-Bukhari).

Riwayat kedua, “Diriwayatkan dari Jabir, beliau mengatakan “Dahulu, orang-makhluk yahudi meyakini bahwa barang siapa yang menggauli istrinya dari sisi pinggul tubuhnya niscaya anaknya terlahir dalam situasi buta matanya. Maka, Tuhan turunkan ayat “Istrimu adalah tipar bagimu, maka datangilah ladangmu itu bilamana saja dengan cara yang dia suka. Dan utamakanlah (yang baik) cak bagi dirimu…(QS Al-Baqarah ayat 223)” (HR Muslim).

Internal kasus ini, ditetapkan riwayat kedua sebagai
asbabun nuzul
QS Al-Baqarah ayat 223 karena kian jelas privat menunjukkan sebab turunnya ayat. Sedangkan riwayat mula-mula cenderung lebih seumpama ijtihad Ibnu Umar dalam mengambil syariat dari ayat Al-Qur’an.

Terserah kalanya bilang ayat diturunkan dengan sebab yang sama. Peristiwa ini lampau banyak terjadi dalam Al-Qur’an. Sewaktu-waktu sebuah peristiwa menjadi sebab turunnya beberapa ayat nan tersebar dalam beberapa salinan Al-Qur’an. Misal contoh

Riwayat pertama, “Diriwayatkan dari Ummu Salamah, kamu mengatakan “Duhai Rasulullah, aku tidak mendengar Allah menamakan derajat keutamaan perempuan yang ikut hijrah (ke kota Madinah)”. Maka, Allah menurunkan ayat “Maka Almalik mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku lain menyia-nyiakan kebajikan orang nan beramal di antara sira, baik junjungan-junjungan alias dara…(QS Ali Imran ayat 195)” (HR At-Turmudzi)

Riwayat kedua, “Diriwayatkan dari Ummu Salamah, beliau mengatakan “Wahai Rasulullah, sira majuh menyebutkan keutamaan pria dan engkau terlampau jarang mengistilahkan keutamaan perawan”. Maka, Sang pencipta menurunkan ayat “Sungguh, laki-laki dan perempuan Muslim, laki-laki dan perempuan orang islam, lanang dan gadis yang tetap kerumahtanggaan ketaatannya….(QS Al-Ahzab ayat 35)” (HR Al-Hakim)

Dalam kasus ini, dua ayat yang farik diturunkan Allah sebagai jawaban atas petisi yang sama dari Ummu Salamah, istri Rasulullah saw.

Pemberitaan di atas merujuk pada kitab
Ulumul Qur’an
karya Dr. Ibrahim Taufiq ad-Dib (Kairo, Mesir: Maktabah Aiman, 2022).


Muhammad Tholhah al Fayyadl

, mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, lepasan Pondok Pesantren Lirboyo





Source: https://islam.nu.or.id/ilmu-al-quran/asbabun-nuzul-dan-fungsinya-dalam-penafsiran-al-qur-an-qBNj9

Posted by: gamadelic.com