Apa Arti Dari Al Fatihah

Berpunca Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Surah ke-1
الفاتحة

al-Fatihah

Pembukaan
  • Teks Arab
  • Terjemahan Kemenag
Klasifikasi Makkiyah
Logo enggak Fatihatul Kitab,[1]
Ummul Qur’an,
Ummul Kitab,
as-Sab’ul Masani,[2]
al-Kanz,[1]
al-Wafiyah,[1]
al-Kafiyah,[1]
al-Asas,[1]
asy-Syafiyah,[3]
al-Hamd,[1]
as-Shalah,[1]
al-Ruqyah,[1]
asy-Syukru,[1]
ad-Du’au,[1]
asy-Syifa,[1]
al-Waqiyah,[1]
Juz Juz 1, Hizb 1
Besaran ruku 1
Jumlah ayat 7
Jumlah kata 25
Jumlah huruf 139

al-Baqarah →

Surah Al-Fatihah
(bahasa Arab:
الفاتحة,

translit.



al-fātiḥah

,
har.‘pengenalan’‎
IPA:
[ʔal faːtiħah]) adalah surah mula-mula dalam al-Qur’an. Surah ini diturunkan di Makkah sehingga tergolong surah makiyah dan terdiri berbunga sapta ayat. Al-Fatihah yaitu surah yang permulaan-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang suka-suka dalam Al-Qur’an. Surah ini memuat doa untuk memohon petunjuk dan kasih camar kepada Allah.[4]

Surah ini disebut Al-Fatihah (Alas kata) karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran, serta dinamakan
Ummul Qur’an
(أمّ القرءان; induk al-Quran) alias
Ummul Kitab
(أمّ الكتاب; emak Al-Kitab) karena merupakan induk dari semua isi Al-Quran. Selain itu, surah ini dinamakan pula
As Sab’ul matsaany
(السبع المثاني; tujuh yang berulang-ulang) karena kuantitas ayatnya nan tujuh dan dibaca tautologis-ulang internal salat.

Pokok pikiran

[sunting
|
sunting mata air]

Diriwayatkan berpunca hadis, Surah Al-Fatihah terbagi menjadi dua, yakni separuh penggalan mula-mula kerjakan Tuhan dan separuh putaran kedua cak bagi hamba-hamba-Nya.[5]
Terdapat perbedaan pendapat apakah
Bismillah
adalah ayat pertama Surah al-Fatihah, atau ayat tidak bernomor.[6]
Surah ini diawali dengan memuji Halikuljabbar (Alhamdulillah) dan menyatakan bahwa Sang pencipta adalah Yang mahakuasa seru spontan liwa (ayat 1/2),[7]
Yang Maha Pengasih juga Maha Penyayang (ayat 2/3),[8]
dan Kamu-lah nan menguasai Yaumul (ayat 3/4).[9]

Pada karenanya, imam empat mazhab Sunni terbagi menjadi beberapa pendapat:

  • Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa salat tidak sah bila tak membaca basmalah karena basmalah adalah kalimat suci yang diucapkan oleh Allah sendiri intern surah Al-Fatihah.
  • Mazhab Maliki berpendapat bahwa basmalah bukan gayutan diucapkan oleh Allah dalam surah Al-Fatihah. Hal ini dianggap bersifat makruh; tak kena dosa tetapi lagi tidak dapat pahala.
  • Mazhab Hanafi dan Hanbali menyetujui mazhab Maliki bahwa basmalah enggak asosiasi diucapkan Allah n domestik surah Al-Fatihah, namun mereka mencekit posisi tengah (tepatnya ambigu) dengan cara menyabdakan Bismillah secara alun-alun saja.[10]

Tiga ayat terakhir merupakan seketul putaran hamba, dimulai dengan “Namun kepada Kamu-lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu-lah, kami memohon pertolongan” (ayat 4/5), kemudian memohon untuk menunjukkan siratalmustakim (jalan yang lurus), yakni perkembangan yang diberikan mutakadim diberikan nikmat (ayat 5-6/6-7).[11]

Beberapa pemikir Muslim meyakini bahwa anak adam Yahudi dan Nasrani ialah komplet pecah orang-orang nan dimurkai dan bani adam-orang tersesat, berturut-turut.[12]
[13]
[14]
[15]
[16]
[17]
[18]
[19]

:45

Nan tidak memandang ini sebagai kecaman terhadap semua khalayak Yahudi dan Nasrani dari waktu ke masa.[20]
[21]
[22]
Padahal, nan lain berpendapat bahwa ayat ini merujuk pada semua hamba allah secara umum minus memandang kelompok tertentu.[23]
[24]
[25]
[26]
[27]
[28]
[29]

Bacaan

[sunting
|
sunting perigi]


Surah Al-Fatihah
(1) Dengan merek Allah Nan Maha Pengasih, Maha Penyayang
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِAya-1.png
(2) Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَAya-2.png
(3) Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِAya-3.png
(4) Pemilik yaumul akhir.
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِAya-4.png
(5) Cuma kepada Engkaulah kami menyembah dan semata-mata kepada Engkaulah kami mohon bantuan.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُAya-5.png
(6) Tunjukilah kami perkembangan yang lurus
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَAya-6.png
(7) (adalah) jalan individu-orang yang telah Engkau beri gurih kepadanya; bukan (perkembangan) mereka yang dimurkai, dan lain (kembali jalan) mereka yang sesat.
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَAya-7.png
—Qur’an Al-Fatihah:1-7

N domestik salat

[sunting
|
sunting sumber]

Al-Fatihah merupakan suatu-satunya surah yang dipandang bermakna dalam salat. Salat dianggap tidak sah apabila pembacanya tidak membaca surah ini.[30]
Internal hadis dinyatakan bahwa salat yang tidak disertai al-Fatihah adalah salat yang “teriris” dan “tidak sempurna”.[31]
Walau sedemikian itu, peristiwa tersebut tidak berperan cak bagi orang yang tidak hafal Al-Fatihah. Privat hadis lain disebutkan bahwa orang yang tidak hafal Al-Fatihah diperintahkan membaca:

Maha Masif Yang mahakuasa, segala puji hak Allah, tidak ada almalik kecuali Allah, Allah Maha Besar, tak terserah trik dan kelebihan kecuali karena pertolongan Allah.[32]

Kerumahtanggaan pelaksanaan salat, Al-Fatihah dibaca sehabis pembacaan Tahlil Iftitah dan dilanjutkan dengan “Amin” dan kemudian membaca ayat atau surah al-Qur’an (lega rakaa’at tertentu). Al-Fatihah nan dibaca puas rakaat pertama dan kedua dalam salat, harus diiringi dengan ayat atau surah lain al-Qur’an. Sedangkan pada rakaat ketiga hingga keempat, belaka Al-Fatihah hanya yang dibaca.[33]

Disebutkan bahwa pembacaan Al-Fatihah sama dengan yang dicontohkan Utusan tuhan Muhammad adalah dengan memberi jeda pada setiap ayat hingga radu membacanya,[34]
bagaikan:

Bismillāhir rahmānir rahīm
(selang antara)
Alhamdu lillāhi rabbil ʿālamīn
(pause)
Arrahmānir rahīm
(jeda)
Māliki yaumiddīn
(jeda) dan lebih lanjut.

Selain itu, kadang wacana Nabi Muhammad sreg ayat
Maliki yaumiddīn
dengan
ma
singkat dibaca
Māliki yaumiddīn
dengan
ma
tataran.[35]

Kerumahtanggaan salat, Al-Fatihah biasanya diakhiri dengan kata “Aamiin”. “Aamiin” dalam salat Jahr biasanya didahului oleh pater dan kemudian diikuti makanya makmum. Pembacaan “Aamiin” diharuskan dengan suara keras dan panjang.[36]
Dalam hadits disebutkan bahwa makmum harus menitahkan “aamiin” karena malaikat juga mengucapkannya, sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa “aamiin” diucapkan apabila pater mengucapkannya.[37]

Pembacaan Al-Fatihah dan surah-surah bukan n domestik salat ada nan membacanya keras dan ada yang lirih. Hal itu terampai penyiar salat yang semenjana dijalankan dan urutan rakaat internal salat. Salat yang melirihkan seluruh bacaannya (termuat Al-Fatihah dan surah-surah lain) semenjak awal hingga akhir salat, disebut Salat Sir (membaca sonder suara). Salat Sir contohnya ialah Salat Zuhur dan Salat Ashar di mana seluruh bacaan salat dalam salat itu dilirihkan. Selain salat Sir, terwalak pula salat Jahr, merupakan salat nan membaca dengan suara minor gentur. Salat Jahr contohnya adalah salat Subuh, salat Maghrib, dan salat Isya’. Dalam salat Jahr yang berjamaah, Al-Fatihah dan surah-surah lain dibaca dengan keras oleh imam salat. Sedangkan pron bila itu, makmum tak diperbolehkan mengimak referensi Imam karena dapat mengganggu referensi Imam dan hanya untuk mendengarkan. Makmum diperbolehkan membaca (dengan lirih) apabila pater tidak mengencangkan suaranya.[37]
Sementara dalam Salat Lail, teks Al-Fatihah diperbolehkan mengaji keras dan diperbolehkan lirih, hal ini seperti nan tertera dalam hadits:

“Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, saya telah lewat di depan rumahmu ketika beliau salat Lail dengan bacaan lirih.” Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, Dzat yang aku bisiki sudah mendengar.” Engkau berkata kepada Umar, “Aku mutakadim lewat di depan rumahmu ketika engkau salat Lail dengan bacaan yang keras.” Jawabnya, “Duhai Rasulullah, aku membangunkan orang nan terlelap dan mengusir setan.” Nabi Muhammad bersabda, “Duhai Serdak Bakar, keraskan tekor suaramu.” Kepada Umar dia bersabda, “Lirihkan sedikit suaramu.”
[38]

Dalam Salat, pembacaan Surah Al-Fatihah sifatnya terlazim bagi imam, makmum ataupun orang yang salat sendirian. Pembacaan Surah Al-Fatihah merupakan salah suatu syarat halal dalam salat. Pengecualian pembacaan Surah Al-Fatihah dengan salat yang dianggap stereotip dolan untuk makmum masbuk yang hanya mendapati imam ketika rukuk.[39]
Pembacaan Surah Al-Fatihah di dalam salat harus tepat pada posisi berdiri. Salat dianggap tidak stereotip ketika Surah Al-Fatihah menginjak dibaca ketika sedang condong berdiri lega rakaat baru. Pembacaan Surah Al-Fatihah secara keliru hingga mengubah makna juga membuat salat menjadi lain sah. Kejadian ini kembali berlaku ketika pembacaannya melupakan keseleo satu leter atau tasydid.[40]

Sumber akar usul

[sunting
|
sunting sumber]

Pandangan nan memadai umum tentang sumber akar usul surah ini dari berpokok riwayat Abdullah kacang Abbas (raḍiyallāhu ‘anhu) bahwa surah ini termasuk n domestik kelompok Makiyah, meski ada yang meyakini apakah surah itu Madaniyah, maupun bahkan diturunkan di kedua ii kabupaten.[41]
Para ulama sepakat bahwa surah ini merupakan surah permulaan yang diturunkan secara sempurna kepada Nabi Muhammad.[4]

Pencalonan

[sunting
|
sunting sumber]

Nama surah ini, yang berharga “Pengenalan”, maksudnya adalah surah pertama yang muncul dalam Mus’haf, dibacakan setiap rakaat
salat. Akar tunggang kata etiket surah ini adalah F-T-Ḥ (‏ف ت ح‎), yang berarti “mengungkapkan” atau “menaklukkan”.[4]
[42]
Selain dinamai Al-Fatihah (Pembukaan), surah ini gelojoh lagi disebut
Fātiḥatul Kitāb
(Pembukaan Kitab),
Al-Ḥamd
(Segala Puji),
Aṣ-Ṣalah
(Salat),
Ummul-Kitāb
(Indung Kitab),
Ummul Qur’ān
(Induk Al-Qur’an),[43]
As-Sab’ul Maṡani
(Tujuh yang Diulang berpokok Surah 15:87),[44]
asy-Syifa’
(Penawar),[45]
[46]
Al-Wafiyah
(Nan Kamil),
al-Kanz
(Simpanan Yang Tebal),
asy-Syafiyah
(Nan Memulihkan),
al-Kafiyah
(Nan Mencukupi),
al-Asas
(Siasat),
ar-Ruqyah
(Mantra),
asy-Syukru
(Syukur),
ad-Du’au
(Do’a), dan
al-Waqiyah
(Nan Mereservasi dari Kesesatan).[1]

Tatap juga

[sunting
|
sunting sendang]

  • Al-Fatihah internal bermacam-macam bahasa

Referensi

[sunting
|
sunting sendang]

Catatan tungkai

[sunting
|
sunting mata air]

  1. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m



    “Banyak nama untuk sebutan Surah al-Fatihah”,
    Hidayah, Februari 2009

  2. ^

    Departemen Agama RI (1987). kejadian 3

  3. ^

    Hamzah (2003). hal 47
  4. ^


    a




    b




    c




    Maududi, Sayyid Abul Ala.
    Tafhim Al Alquran. Diarsipkan dari versi tahir tanggal 2022-07-28. Diakses tanggal
    2013-06-17
    .





  5. ^


    Ibn al-Hajjaj, Abul Hussain Muslim (2007).
    Legal Mukminat – 7 Volumes.
    1. Darussalam. hlm. 501–503. ISBN 978-9960991900.





  6. ^


    Mubarakpuri, Safiur Rahman (2000).
    Tafsir Ibn Kathir (10 Volumes; Abridged). Darussalam. hlm. 25. ISBN 9781591440208.
    [The scholars] disagree over whether [Bismillah] is a separate Ayah before every Surah, or if it is an Ayah, or a part of an Ayah, included in every Surah where the Bismillah appears in its beginning. […] The opinion that Bismillah is an Ayah of every Surah, except [At-Tawbah], was attributed to (the Companions) Ibn ‘Abbas, Ibn ‘Umar, Ibn Az-Zubayr, Tepung Hurayrah and ‘Ali. This opinion was also attributed to the Tabi’in ‘Ata’, Tawus, Sa’id polong Jubayr, Makhul and Az-Zuhri. This is also the view of ‘Abdullah kedelai Al-Mubarak, Ash-Shaf i’i, Ahmad bin Hanbal, (in one report from him) Ishaq bin Rahwayh, and Abu ‘Ubayd Al-Qasim bin Salam. On the other hand, Malik, Duli Hanifah and their followers said that Bismillah is not an Ayah in Al-Fatihah or any other Surah. Dawud said that it is a separate Ayah in the beginning of every Surah, not part of the Surah itself, and this opinion was also attributed to Ahmad bin Hanbal. Malik, Abu Hanifah and their followers said that Bismillah is titinada an Ayah in Al-Fatihah or any other Surah. Dawud said that it is a separate Ayah in the beginning of every Surah, not part of the Surah itself, and this opinion was also attributed to Ahmad bin Hanbal.





  7. ^


    Mubarakpuri, Safiur Rahman (2000).
    Tafsir Ibn Kathir (10 Volumes; Abridged). Darussalam. hlm. 33–37. ISBN 9781591440208.





  8. ^


    Mubarakpuri, Safiur Rahman (2000).
    Tafsir Ibn Kathir (10 Volumes; Abridged). Darussalam. hlm. 30–33, 37. ISBN 9781591440208.





  9. ^


    Mubarakpuri, Safiur Rahman (2000).
    Adverbia Ibn Kathir (10 Volumes; Abridged). Darussalam. hlm. 39–42. ISBN 9781591440208.





  10. ^

    Video youtube mulai sejak Imam masjid di Jeddah yang menyatakan bahwa basmalah tidak ada di tembusan Al Faatihah.

  11. ^


    Mubarakpuri, Safiur Rahman (2000).
    Kata keterangan Ibn Kathir (10 Volumes; Abridged). Darussalam. hlm. 42–55. ISBN 9781591440208.





  12. ^


    Leaman, Oliver (2006). Leaman, Oliver, ed.
    The Qur’an: an Encyclopedia. Routledge. hlm. 614. ISBN 0-415-32639-7. Diarsipkan dari versi tulus tanggal 2022-03-28. Diakses rontok
    2020-11-05
    .
    The Prophet interpreted those who incurred God’s wrath as the Jews and the misguided as the Christians.





  13. ^


    Ayoub, Mahmoud M. (January 1984).
    The Qur’an and Its Interpreters: v.1: Vol 1. State University of New York Press. hlm. 49. ISBN 978-0873957274. Diarsipkan dari versi polos sungkap 2022-03-28. Diakses tanggal
    2020-11-05
    .
    Most commentators have included the Jews among those who have “incurred” divine wrath and the Christians among those who have “gone astray”.(Tabari, I, pp. 185-195; Zamakhshari, I, p. 71)





  14. ^


    Ibn Kathir. “The Alquran Commentaries for 1.7 Al Fatiha (The opening)”.
    QuranX. Diarsipkan berbunga varian bersih terlepas 29 May 2022. Diakses tanggal
    24 January
    2022
    .





  15. ^


    Al-Amin Ash-Shanqit, Muhammad (10 October 2012). “Tafsir of Chapter 001: Surah al-Fatihah (The Opening)”.
    Sunnah Online. Diarsipkan berasal versi asli tanggal 31 May 2022. Diakses tanggal
    24 January
    2022
    .





  16. ^


    Al Kindari, Fahad (6 June 2007).
    The greatest recitation of Surat al-Fatiha. Sweden Dawah Sarana Production (on behalf of High Quality & I-Media); LatinAutor – Warner Chappell. Diarsipkan dari varian asli tanggal 2022-11-17. Diakses tanggal
    20 December
    2022
    .
    The saying of the Exalted, ‘titinada the Path of those who have earned Your Anger, nor of those that went astray’: the majority of the scholars of tafseer said that ‘those who have earned Your Anger’ are the Jews, and ‘those that went astray’ are the Christians, and there is the hadeeth of the Messenger of Allaah (SAW) reported from Adee kacang Haatim (RA) concerning this. And the Jews and the Christians even though both of them are misguided and both of them have Allaah’s Anger on them – the Anger is specified to the Jews, even though the Christians share this with them because the Jews knew the truth and rejected it and deliberately came with falsehood, so the Anger (of Halikuljabbar being upon them) was the description most befitting them. And the Christians were ignorant, not knowing the truth, so misguidance was the description most befitting them. So with this the saying of Allaah, ‘so they have drawn on themselves anger upon anger’ (2:90) clarifies that the Jews are those that ‘have earned your Anger’. And likewise His sayings, ‘Say: shall I inform you of something worse than that, regarding the recompense from Allaah: those (Jews) who incurred the Curse of Allaah and His Anger’ (5:60)





  17. ^


    “Surah Al-Fatihah, Chapter 1”.
    al-islam.org. 23 January 2022. Diarsipkan dari varian zakiah tanggal 8 December 2022. Diakses tanggal
    11 December
    2022
    .
    Some of the commentators believe that / dallin / ‘those gone astray’ refers to the misguided of the Christians; and / maqdubi ‘alayhim / ‘those inflicted with His Wrath’ refers to the misguided of the Jews.





  18. ^


    al-Jalalayn. “The Tasfirs”.
    altafsir.com. Diarsipkan dari versi nirmala tanggal 4 September 2022. Diakses tanggal
    7 February
    2022
    .





  19. ^


    Abdul-Rahman, Muhammad Saed (2009).
    The meaning and explanation of the glorious Qur’an, 2nd Edition, Volume 1. MSA Publication Limited. ISBN 978-1-86179-643-1.





  20. ^


    Bostom, Andrew (29 May 2022). “Bulan ampunan Buletin lesson: Curse Jews and Christians 17-times daily: Part 1”.
    Israel National News. Diarsipkan berusul versi jati tanggal 30 November 2022. Diakses tanggal
    9 December
    2022
    .





  21. ^


    Bostom, Andrew (29 May 2022). “Bulan pahala Harian lesson: Curse Jews and Christians 17-times daily: Part 2”.
    Israel National News. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 December 2022. Diakses tanggal
    9 December
    2022
    .





  22. ^


    Shrenzel, Israel (4 September 2022). “Verses and Reality: What the Surat kabar Really Says about Jews”.
    Jerusalem Center for Public Affairs. Diarsipkan berpunca versi asli tanggal 9 December 2022. Diakses terlepas
    8 December
    2022
    .





  23. ^


    Asad, Muhammad.
    The Message of the Quran, Commentary on Surah Fatiha
    (PDF). hlm. 23–24. Diarsipkan dari versi nirmala
    (PDF)
    tanggal 2022-11-26. Diakses tanggal
    2019-12-13
    .
    According to almost all the commentators, God’s “condemnation” (ghadab, lit., “wrath”) is synonymous with the evil consequences which man brings upon himself by wilfully rejecting God’s guidance and acting contrary to His injunctions. … As regards the two categories of people following a wrong course, some of the greatest Islamic thinkers (e.g. Al-Ghazali or, in recent times, Muhammad ‘Abduh) held the view that the people described as having incurred “God’s condemnation” – that is, having deprived themselves of His grace – are those who have become fully cognizant of God’s message and, having understood it, have rejected it; while by “those who go astray” are meant people whom the truth has either not reached at all, or to whom it has come in so garbled and corrupted a form as to make it difficult for them to recognize it as the truth (see ‘Abduh in Manar I, 68 ff.).





  24. ^


    Ali, Abdullah Yusuf (2006).
    The Meaning of The Noble Qur’an, Commentary on al-Fatiha
    (PDF). hlm. 7. Diarsipkan bersumber versi asli
    (PDF)
    rontok 2022-03-12.
    …those who are in the darkness of Wrath and those who stray? The first are those who deliberately break God’s law; the second those who stray out of carelessness or negligence. Both are responsible for their own acts or omissions. In opposition to both are the people who are in the light of God’s Grace: for His Grace not only protects them from active wrong … but also from straying into paths of temptation or carelessness. The negative gair should be construed as applying not to the way, but as describing men protected from two dangers by God’s Grace.





  25. ^


    Shafi, Muhammad.
    Ma’ariful Qur’an. hlm. 78–79. Diarsipkan dari versi steril tanggal 2022-07-18. Diakses tanggal
    2019-12-13
    .





  26. ^



    Tafsir al-Kabir, al-Razi, التفسير الكبير, Tafsir Surah al-Fatiha.





  27. ^



    Al-Kashshaaf, Al-Zamakhshari, الكشاف, Commentary on surah al-Fatiha.





  28. ^


    Maududi, Pastor Sayyid Abul Ala.
    Tafhim Al Alquran. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-07-28. Diakses terlepas
    2013-06-17
    .





  29. ^


    “Corpus Coranicum: Commentary on the Quran. Chronologisch-literaturwissenschaftlicher Kommentar zum Surat kabar, hg. von der Berlin-Brandenburgischen Akademie der Wissenschaften durch Angelika Neuwirth unter Mitarbeit von Ali Aghaei und Tolou Khademalsharieh, unter Heranziehung von Übersetzungen von Nicolai Sinai”. 15 November 2022.
    Das anaphorische ʾiyyāka (V. 6) betont die Exklusivität des Angerufenen, der anders als im Fall der paganen mušrikūn, die Gott zwar in extremen Situationen um Hilfe rufen, ihm aber nicht dienen, vgl. Q 17:67, Adressat sowohl von Hilferufen als auch von Gottesdienst ist. An diese im Zentrum stehende Affirmation der Alleinverehrung Gottes schließt die Bitte um Rechtleitung an (V. 7). Der hier erhoffte ‚gerade Weg‘ soll demjenigen der bereits von Gott mit Huld bedachten Vorläufern folgen. Sie werden nicht explizit gemacht und dürften zur Zeit der Entstehung der fātiḥa auch unbestimmt intendiert sein. Erst später–mit der Herausbildung von Kollektivbildern – ließen sich die Zielgruppen ex silentio erschließen





  30. ^

    “Tidak sah salat seseorang jika tidak membaca Al-Fatihah”. HR. Bukhari, Muslim, Serdak Awanah, dan Baihaqi. Baca
    Irwa’

    Hadits no. 302

  31. ^

    HR. Muslim dan Debu ‘Awanah

  32. ^

    HR. Duli Dawud, Ibni Khuzaimah, Wasit, Thabarani, dan Bani Hibban. Disahkan maka dari itu Penengah dan disetujui Dzahabi. Baca
    Al-Irwa’

    Hadits no. 303

  33. ^

    HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih. Baca
    Al-Irwa’

    Hadits no.506

  34. ^

    HR. Abu Dawud dan Sahmi, disahkan oleh Hakim dan disetujui oleh Dzahabi. Baca
    Al-Irwa’

    Hadits no. 343. Diriwayatkan pun oleh ‘Amr ad-Dani privat Kitab
    Muktafa
    5/2.

  35. ^

    HR. Tamam ar-Razi intern
    Al-Fawaaid, Ibnu Abu Dawud privat
    Al-Mushahif
    7/2, Abu Nu’aim intern
    Akhbaari Asbahan
    1/104, dan Hakim, disahkan oleh Wasit dan disetujui Dzahabi.

  36. ^

    HR. Bukhari dan Abu Dawud dengan sanad sahih.
  37. ^


    a




    b



    Muhammad Nashrudin Al-Albani.
    Sifat Salat Nabi. 2000. Yogyakarta: Media Hidayah

  38. ^

    HR. Abu Dawud dan Juri, disahkan oleh Hakim dan disetujui Dzahabi.

  39. ^

    Adil 2022, hlm. 225-226.

  40. ^

    Adil 2022, hlm. 226.

  41. ^


    Ahmad, Mirza Bahir Ud-Din (1988).
    The Quran with English Translation and Commentary. Selam International Publications Ltd. hlm. 1. ISBN 1-85372-045-3.





  42. ^

    Joseph E. B. Lumbard “Commentary on Sūrat al-Fātiḥah,”
    The Study of the Alquran. ed. Seyyed Hossein Nasr, Caner Dagli, Maria Dakake, Joseph Lumbard, Muhammad Rustom (San Francisco: Harper One, 2022), p. 3.

  43. ^


    “Hadith – The Book of the Commencement of the Prayer – Paduka tuan an-Nasa’i – Sunnah.com – Sayings and Teachings of Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم)”.
    sunnah.com. Diarsipkan berbunga versi salih tanggal 2022-08-13. Diakses tanggal
    2020-11-30
    .





  44. ^


    Serbuk al-Qasim al-Khoei.
    Al-Bayan Fi Tafsir al-Quran. hlm. 446.





  45. ^

    Joseph E. B. Lumbard, “Introduction to Sūrat al-Fātiḥah”,
    The Study Quran. ed. Seyyed Hossein Nasr, Caner Dagli, Maria Dakake, Joseph Lumbard, Muhammad Rustom (San Francisco: Harper One, 2022), p. 3.

  46. ^


    Mubarakpuri, Safiur Rahman (2000).
    Kata tambahan Ibn Kathir (10 Volumes; Abridged). Darussalam. hlm. 7–8. ISBN 9781591440208.




Daftar pustaka

[sunting
|
sunting sumber]

  • Adil, Debu Abdirrahman (2018). Mujtahid, Umar, ed.
    Ensiklopedi Salat. Jakarta: Ummul Qura. ISBN 978-602-7637-03-0.



  • Al-Qur’an dan Terjemahannya
    (1978). Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia
  • Hamzah, Muchotob (2003).
    Studi Al-Qur’an Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media ISBN 979-95526-1-3

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Inggris)
    Surah Al-Fatihah MP3




Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Fatihah

Posted by: gamadelic.com