Amal Orang Yang Sudah Meninggal

Pendahuluan

Banyak aktivitas (‘amal) manusia yang bernilai ibadah seperti rukun hati kepada sesama, memuliakan petandang dan tetangga, menyantuni anak yatim, memberikan makan puas orang enggak saat berbuka, menjawab salam, ki beralih khalayak sakit dan mendo’akannya, berdo’a menjelang tidur dan saat sadar tidur, berbakti kepada kedua orangtua, menolong sosok lain, dan lainnya. Apalagi semua bentuk ibadah legal (mahdlah) seperti shalat, puasa, zakat, dan haji ataupun ibadah adendum (cakrawalaafilah) nan tak formal (ghair mahdlah) sebagai halnya shalat tarawih dan shalat lilin batik lainnya, shalat dluha, mendaras al-Qur`an, bertasbih, bershalawat, dan berdzikir (tahlil), dan lainnya jelas yaitu ‘amal yang diberikan pahala takdirnya didasarkan pada karsa yang sopan dan
lillahi ta’ala
.

Pahala bagi semua ‘dedikasi sebagaimana tersebut hanya berlaku bakal para pelakunya ketika masih hidup diberikan sekali ibarat investasi akherat, dan akan terputus manakala pelakunya meninggal dunia. Sementara pahala berbunga manapun sumbernya terlampau dibutuhkan buat setiap hamba allah meskipun telah meninggal.

Amalan (‘darmabakti) apakah nan masih tetap dipedulikan oleh seseorang saat telah meninggal dunia?
Hadits tentang Tiga ‘Amal

Terserah tiga amalan (‘amal) yang masih dapat dipedulikan oleh seseorang walaupun ia telah memelopori kita. Berikut ini merupakan hadits nan menjelaskan tiga aktivitas (‘darmabakti) manusia yang tidak terputus pahalanya:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
 – رواه مسلم والترمذيّ وأبو داود والنسائيّ وابن حبّان عن أبي هريرة

(Saat seorang manusia meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga hal, ialah: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at, dan momongan shaleh yang mau mendo’akannya). Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, Pastor at-Tirmidzi, Pendeta Abu Dawud, Rohaniwan an-Nasa`i, dan Imam Anak lelaki Hibban terbit dari Sayyidina Abu Hurairah ra.

Hadits serupa diriwayatkan oleh Pater al-Bukhari dengan redaksi seumpama berikut:

إِذَا مَاتَ العبدُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُه إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ –
رواه البخاريّ في الأدب المفرد

(Jika seseorang meninggal dunia, maka (pahala) amalannya potol kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, aji-aji yang bermanfa’at, atau anak shaleh nan cak hendak mendo’akannya). Hadits diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari intern kitab
al-Adab al-Mufrad

Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, semua amal manusia pasti abtar manakala anda meninggal dunia. Padahal tiga hal yang disebutkan dalam hadits tersebut akan tetap mengalir pahalanya karena pelakunya yakni penyebab terjadinya ketiga keadaan itu. Ketiga hal yang dimaksud yaitu amalan (aktivitas) yang telah diolah maka itu sang layon detik masih hidup namun manfa’atnya masih dirasakan maka dari itu anak adam-orang yang hidup setelahnya, sehingga ia pun patut menerima pahala kebaikan atas amalnya itu.

Hadits tersebut beriisi mualamat bahwa semua aktivitas, perjuangan, dan berbagai amalan (‘kebajikan) akan terhenti bersamaan dengan terhentinya nasib kecuali tiga amalan (aktivitas) yang pernah dilakukan (dimiliki), yaitu:

1.
Sedekah Jariyah (shadaqah jariyah); merupakan sesuatu yang diberikan dalam rancangan apapun yang menjatah manfa’at yang panjang tiada kudung bagi orang lain. Contohnya ialah wakaf persil, biaya (infaq) pembangunan masjid, wakaf anak kunci bikin perpustakaan, pembangunan kerangka pendidikan, menggali perigi kerjakan masyarakat, mencetak buku yang bermanfa’at untuk makhluk banyak, dan lain-lain.

Sedekah jariyah merupakan kegiatan berbagi untuk memberikan banyak manfa’at bagi orang tak, sehingga pahalanya pun akan senantiasa mengalir kepada sosok nan melakukannya meskipun orang yang menderma sudah lalu meninggal dunia. Tentu saja, inti bermula sekedah ini adalah niat nan tulus serta zakiah, bukan karena mengharap pujian (riya`) pecah pihak lain dan lain untuk kebanggaan semenjak rukyah basyar belaka.

Contoh amal (sedekah) jariyah pada zaman Nabi Allâh saw.:

a. Kebun kurma nan disedekahkan oleh Sayyiduna Tepung Thalhah ra. detik ambruk firman Allâh, salinan Ali ‘Imran ayat 92:

…لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ

(Beliau sewaktu-waktu tidak akan memperoleh darmabakti (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta nan kamu cintai …)

b. Ladang yang disedeqahkan oleh Bani An-Najjar kepada Rasul Muhammad saw. untuk pembangunan masjid ketika Nabi datang di kota Madinah;

Sumur “Raumah” yang terletak di jihat Masjid Qiblatain dibeli oleh sayyiduna Utsman bin ‘Affan ra. dari orang Ibrani seharga 12.000 dirham dengan eigendom arti kemudian disedeqahkan kepada kabilah muslimin di saat kekurangan air; Sikap positif engkau perumpamaan respon atas pertanyaan Rasul Allâh saw. ketika menyaksikan ummat Selam kehabisan air:

مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَكُونُ دَلْوُهُ فِيهَا كَدِلاءِ المُسْلِمِينَ؟

(Siapa yang mau membeli sumber Raumah lalu disediakan untuk kepentingan Islam?)

Sumur Raumah, waqaf Sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan ra.

c. Kebun yang disedeqahkan oleh sayyiduna Umar polong al-Khatthab ra., dengan syarat enggak boleh dijual, diberikan ataupun diwariskan, akan tetapi buahnya (kebun/tanah itu) diperuntukkan budak, orang-duafa, tamu, anak lelaki sabil (perantau yang kehabisan bekal), dan kerabat Nabi Allâh.

Di antara hadits-hadits nan mengistilahkan shadaqah jariyyah, yaitu hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim bersumber dari Utsman bin ‘Affan ra., dia bersabda: Sesungguhnya aku mendangar Rasul Sang pencipta saw. bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِّ بَنَى اللُه لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

رواه البخاريّ

(Barangsiapa yang membangun masjid cak bagi mencari paras (ridla) Allâh, niscaya Allâh akan menyadarkan untuknya sebuah rumah di surga). HR. Al-Bukhari

Di dalam riwayat lain yang bersumber berusul sayyiduna Jabir ra., Nabi saw. bersabda:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا وَلَوْ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

(Barangsiapa yang membangun masjid karena Sang pencipta walaupun sebesar sarang penis atau kian kecil darinya, niscaya Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam suraloka).

2.
llmu yang bermanfa’at; sama dengan mengajarkan ilmu atau keterampilan kepada orang lain (siswa), menulis buku atau kata sandang dalam jurnal, dan bukan sebagainya.

Ilmu yang berarti ini adalah ilmu yang penting bagi orang tak dalam hal kelebihan. Selama ilmu yang diajarkan tersebut masih digunakan dan dimanfa’atkan makanya orang lain setelahnya maka selama itu pula pahalanya tiada henti mengalir kepadanya meski telah meninggal manjapada.

Ilmu yang bermanfa’at bisa kasatmata usaha menunjukkan seseorang ke jalan yang baik seperti beribadah, memaui ilmu, menciantai al-Qur`an, menganakemaskan Rasul, dan sebagainya. Intern konteks ini sabda Nabi riwayat Rohaniwan Muslim yang bersumber berasal Sayyiduna Duli Hurairah ra. berikut ini patut disimak:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
– رواه مسلم

(Sepatutnya ada Utusan tuhan Allah saw. bertutur: “Barangsiapa yang menyeru kepada tajali (kebajikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala basyar nan mengikutinya, kejadian itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagai halnya dosa-dosa orang yang mengikutinya, situasi itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”). Hadits diriwayatkan maka dari itu Imam Muslim

Hadits lainnya menegaskan:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِه –
رواه مسلم

(Siapapun yang memberi petunjuk (dedikasi), maka beliau mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengerjakannya). Hadits diriwayatkan maka itu Padri Muslim

3.
Momongan shaleh nan mau mendo’akannya;

Anak yang shaleh adalah momongan nan dididik dengan sangat baik oleh orangtuanya sehingga anak asuh tersebut menjadi anak yang tunak kepada Allâh SWT., mampu dan mau mendo’akan kedua orangtuanya, taat dan berarti bagi orang tuanya, agama, nusa, dan bangasa.

Hadits Ini sekaligus mengajarkan kepada sosok betapa pentingnya ki melatih anak secara islami, ki memasukkan aqidah sejak dini kepada anak, dan membimbing anak asuh menjadi generasi Qur`ani. Karena di balik kebanggaan mempunyai momongan yang taat, bertaqwa, dan shaleh/shalehah, ada amal ibadah dan kebaikan dari anak shaleh yang akan senantiasa mengalir kepada kedua orangtuanya. Do’a anak shaleh yang kudus, sejati, dan selalu dipanjatkan untuk kedua orangtuanya merupakan suatu kemangkakan luar biasa kerjakan orangtua. Sahaja demikian keshalihan orangtua yaitu sarana pendidikan bagi terciptanya keshalihan anaknya.

Do’a seorang anak kepada orangtua itu sangat utama, bukan berarti do’a dari selain anak asuh tidak dipedulikan, akan tetapi sama kedudukannya ketika seorang jama’ah berdo’a untuk seseorang nan lebih tua alias orang lain siapapun. Oleh karena itu, buat saudaraku yang enggak mempunyai anak hendaklah tak perlu berkecil hati, tetaplah bersemangat dan mengamalkan baik kepada sesama seyogiannya individu lain kepingin mendo’akan dirimu dengan sebaik-baiknya.

Setiap ada cucu adam meninggal dunia tentu cak semau do’a dan shalat kunarpa, ini yaitu dalil empirik yang membuktikan bahwa setiap kita membutuhkan do’a dari orang bukan, dan do’a  khalayak tidak –termasuk anaknya– itu setakat lega orang yang dido’akan.

Tentang pendirian mendo’akan orangtua adalah memohonkan ampunan minimal setiap usai shalat lima masa dengan referensi sebagai berikut:

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

(Ya Allah, Illah! Sayangilah kedua orangtuaku sebagaimana mereka mendidikku di masa kecil).

Oleh karena itu, ayo kita memanfa’atkan kesempatan lakukan beramal mulia terutama di rembulan kudus Ramadlan ini, baik dengan sedeqah jariyah (waqaf), menyampaikan ilmu, alias mendidik anak agar menjadi anak yang shalih dan kepingin medo’akan kedua orangtuanya.

Wa- Allah a’lam bis-shawab

—–***********—-

Dabir: H. Mahlail Syakur Sf.


(Dosen FAI Unwahas, Bos Rencana Ta`lif wa-Nasyr (LTN) PWNU Jawa Tengah)

Source: https://aswajacentre.unwahas.ac.id/artikel/tiga-amal-tidak-terputus-karena-kematian/

Posted by: gamadelic.com