Alamat 6 Balai Penelitian Tanaman Jeruk Dan Buah Subtropika Batu

Kerja sama Puslitbangnak dalam Pameran di Balai Riset Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika

Kategori: Informasi Riil Diunggah Lega: 20 Oktober 2022.

Dr. Andi Saenab selaku Organisator Kerjasama dan Pendayaguaan Hasil Penelitian (KSPHP) dan Rahmawati, Pranata Humas Pusat Pengkajian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) hadir dalam acara Anjangsana Kerja (Kunker) Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Instalasi Riset dan Eksplorasi Teknologi Pertanian (IP2TP) Punten, Balairung Eksplorasi Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) pada tanggal 19 Oktober 2022. Kunker dihadiri maka itu, Kepala Badan Penelitian dan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si , Walikota Bencana Dra. Dewanti Rumpoko, M.Si., penasihat Eselon II lingkup Balitbangtan dan orang tani.

Kegiatan kunjungan kerja dilaksanakan dalam rangka Gelar Teknologi Inovatif Perbenihan Jeruk Objektif Penyakit Mendukung Pengembangan Kawasan. Dalam sambutannya Nayaka Perladangan menyampaikan “Satu-satunya jalan untuk perbaiki negara adalah dengan perbaiki makanan. Perbaiki nutrisi dan nutrisi cak bagi rakyatnya. Merupakan rangkaian kegiatan dilaksanakan pula pameran inovasi teknologi. Puslitbangnak melintasi Lolit Sapi Tikam nan merupakan salah satu UPT Puslitbangnak turut serta memeriahkan pameran.

Beberapa teknologi yang ditampilkan pada pameran ini diantaranya pengolahan limbah sapi potong kerumahtanggaan rajah cendawan hancuran adalah bio-urine dan soren berak sapi nan siap digunakan. Teknologi manajemen pemeliharaan sapi hunjam sama dengan kandang keramaian model Litbangtan, pemilihan ransum pakan murah, aplikasi android untuk manajemen recording (SIDIK Peternakan), pendugaan bobot awak sapi (SIboba), cek kebuntingan sapi (Sicebun), dan sapi potong domestik memenangi Pogasi Agrinak.

Limbah sapi potong adalah feces dan urin. Feces bisa diselesaikan menjadi menjadi kawul. Begitupun urin dapat diolah menjadi pupuk cairan. Proses penggarapan urin menjadi rabuk larutan dimulai dengan menimbuk urin internal bak penghimpunan. Hasil tampungan didiamkan 3-4 periode. Tujuannya yakni kerjakan mengendapkan feces dan berak. Setelah 4 periode dipindahkan ke bak penampungan kedua. Silam didiamkan selama 14 musim. Tujuannya dari pendiaman 14 hari adalah untuk mengurangi bau pesing dan kadar ammonia. Setelah 14 hari dimasukkan dalam bumbung fermentor. Internal bumbung fermentor ditambah fermentor ( dapat pakai EM4 peternakan atau empon-empon ) dan tetes tebu. Kemudian diamkan selama 25 waktu. Setelah didiamkan 25 tahun bio urin sudah kaprikornus dan dapat dimanfaatkan misal pupuk enceran bagi pupuk tanaman. Untuk aplikasinya larutkan bio-air kencing dengan takaran 5 tutup vas dengan 1 liter air sejati. Aduk hingga larut dan siramkan ke bagian tanah tanaman. (REP)

Bagikan Berita ini

Source: http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/blog/post/partisipasi-puslitbangnak-dalam-pameran-di-balai-penelitian-tanaman-jeruk-dan-buah-subtropika