Air Mani Madzi Dan Wadi

Pahami Perbedaan Air Mani, Air Madzi, Air Wadi Dan Air Kencing

image via freepik

Intern kursus bab taharah seringkali kita mendengar adanya air Air M*ni, Air Madzi, Air Wadi Dan Air Berkemih. Biarpun keempat varietas air tersebut keluar berpokok kancah nan sama, yaitu kem*luan kita akan cuma punya perbedaan hukum masing – masing.

Tahukan Kamu apakah perbedaan diantara keempat jenis air di atas? Untuk mengetahuinya, maka silahkan Beliau membaca artikel berikut ini sepatutnya  mendapatkan pemahaman yang kian dalam adapun perbedaan syariat diantara keempat jenis air tersebut.

Mengetahui perbedaan hukum keempat varietas air tersebut adalah hal yang lalu utama, khususnya dalam memahami perbedaan antara air m*ni dan air madzi, karena masih banyak di antara kita yang belum bisa mengeluarkan diantara keduanya.

Akibat dari ketidaktahuan tersebut pada akhirnya menciptakan menjadikan Anda merasa was – was apakah ini berdosa ataupun kah bukan, apakah ini harus mandi terbiasa ataupun tidak dan soal – pertanyaan kecemasan lainnya.

Pada prinsipnya tidak ada air atau cairan yang keluar dari kem*luan kita (kecuali air pipis dan air wadi) yang membuat kita merasa ragu-ragu apakah teradat mandi besar ataukah tidak.

Sekiranya yang keluar dari kemaluan kita adalah cairan m*ni maka sudah tentu hukumnya wajib untuk mandi junub bikin menyejukkan hadats besar, akan tetapi takdirnya yang keluar adalah air madzi maka cukup dengan cara dicuci kemaluan kita kemudian berwudhu dan tak perlu mandi junub untuk menyejukkan hadatsnya.

Sebagai cerminan dan penjelasan agar menjadi kian jelas, berikut ini adalah definisi dari keempat perkara di atas, antara tak perumpamaan berikut :

1. Air Madzi

Definisi dari air Madhi yaitu cairan tipis dan lengket, nan keluar berpunca alat kel*min kita ketika munculnya dorongan syahwat, baik saat bermesraan dengan seorang wanita, ketika melakukan pendahuluan sebelum berhubungan, atau karena melihat dan mengkhayalkan tentang sesuatu yang mengarah kepada hal tersebut.

Keluarnya air madhi ini tidak dengan kaidah terpancar dan raga kita tidak menjadi capek sehabis memperlainkan air tersebut, malah terkadang keluarnya malah tidak kita rasakan.

Berdasarkan kesepakatan para cerdik pandai, air madhi ini termasuk dalam kategori air najis. Adapun cara menyucikannya adalah sepan dengan mencuci kem*luan kita dengan air bersih.

2. Air M*ni

Definisi air M*ni adalah cairan kental yang baunya khas seperti halnya bau adonan debu, dan mandu keluarnya air m*ni ini dengan pendirian terpancar (muncrat) sehingga pasti akan terasa ketika keluar dari tubuh kita.

Air m*ni akan keluar dan terpancar ketika kita  berhubungan alias ihtilam atau karena mengerjakan on*ni (bagi laki – suami) dan m*nsturbasi (bagi sendiri wanita). Dengan keluarnya air m*ni tersebut maka tubuh kita akan terasa penat.

3. Air Wadi

Definisi dari air wadi yakni cairan kental nan bercat kudrati nan keluar melalui lubang kem*luan kita setelah kencing alias sesudah mengamalkan pekerjaan nan melelahkan, sebagaimana olahraga berat dan sebagainya.

Air Wadi termuat kategori air najis bersendikan dari kesepakatan para ulama sehingga cara menyucikannya adalah wajib bikin dicuci dengan air bersih. Keluarnya air wadi ini bisa membatalkan wudhu seperti mana halnya air kencing dan air madzi.

4. Air Kencing

Definisi terbit air berkemih adalah cairan yang merupakan cairan limbah metabolisme fisik yang di keluarkan dari dalam tubuh melalui lubang kem*luan kita. Air kencing termasuk kategori air najis najis berdasarkan ayat – ayat yang terwalak n domestik Al-Qur`an, hadits Nabi SAW, dan ijma para ulama.

Secara umum air kencing dan air wadi sangat mudah bikin di kenali sehingga bukan perlu bagi dijelaskan lagi secara strata gempal. Darurat untuk air m*ni dan air madzi mesti di jelaskan bertambah detail karena keduanya memang agak mirip.

Berikut ini adalah perbedaan diantara keduanya, antara lain:

  • Air Madzi adalah termasuk privat kategori air najis bersendikan plong hasil ijma’ para jamhur, sedangkan air mani adalah suci (lain najis) menurut pendapat yang paling langgeng.
  • Air Madzi tercatat hadats ashghar (hadats kerdil) nan cara menyucikannya layak dengan dihilangkan dengan cara di cuci dan kemudian berwudhu, padahal air m*ni adalah termasuk dalam kategori hadats akbar (hadats ki akbar) yang hanya bisa dihilangkan dengan kaidah bersiram junub.
  • Cairan air Madzi kian tipis (encer) jika dibandingkan dengan air m*ni.
  • Air M*ni memiliki bau yang sangat khas, sedangkan air madzi bukan memilikinya (baunya normal – seremonial sahaja).
  • Air M*ni keluarnya dengan cara terpancar (mencerat), sedangkan air madzi tidak. Allah Subhanahu Wata’ala telah berujar n domestik Al-Qur’an surah Ath-Thariq ayat 6, seumpama berikut:

خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ

Artinya:
“Dia diciptakan berpokok air yang tersiar.” (QS. Ath-Thariq: 6)

  • Air M*ni akan terasa ketika keluar dari kerumahtanggaan tubuh, sementara itu keluarnya air madzi kadang enggak terasa.
  • Tubuh kita akan terasa lemah atau lelah sesudah keluarnya air m*ni tersebut, sedangkan keluarnya air madzi tidak menyebabkan tubuh merasa lelah.

Berikut ini merupakan hadits dari Sayidina Ali radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah SAW telah berfirman:

اِغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ

Artinya:

“Cucilah kem*luanmu dan berwudhulah kamu.” (HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)

Kemudian dalam hadits yang diriwayatkan makanya sahabat Anas bin Malik -radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ حَدَّثَتْ أَنَّهَا سَأَلَتْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمَرْأَةِ تَرَى فِي مَنَامِهَا مَا يَرَى الرَّجُلُ, فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا رَأَتْ ذَلِكِ الْمَرْأَةُ فَلْتَغْتَسِلْ. فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ: وَاسْتَحْيَيْتُ مِنْ ذَلِكَ. قَالَتْ: وَهَلْ يَكُونُ هَذَا؟ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ, فَمِنْ أَيْنَ يَكُونُ الشَّبَهُ؟! إِنَّ مَاءَ الرَّجُلِ غَلِيظٌ أَبْيَضُ وَمَاءَ الْمَرْأَةِ رَقِيقٌ أَصْفَرُ فَمِنْ أَيِّهِمَا عَلَا أَوْ سَبَقَ يَكُونُ مِنْهُ الشَّبَهُ

Artinya:


“Bahwa Ummu Sulaim koneksi berkisah bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam tentang wanita yang bermimpi (bers*nggama) sama dengan yang terjadi pada seorang lelaki. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Apabila pemudi tersebut bermimpi keluar m*ni, maka dia wajib bersiram.” Ummu Sulaim berujar, “Maka aku menjadi malu karenanya”. Ummu Sulaim kembali menanya, “Apakah keluarnya m*ni memungkinkan plong perempuan?” Utusan tuhan Shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Ya (wanita juga keluar m*ni, kalau dia bukan keluar) maka dari mana terjadi kemiripan (anak dengan ibunya)? Ketahuilah bahwa m*ni lelaki itu kental dan berwarna suci, sedangkan m*ni perempuan itu luluh dan berwarna kuning. Manapun m*ni dari salah sendiri mereka yang kian mendominasi atau berjaya, niscaya kemiripan terjadi balasannya.”

(HR. Mukmin no. 469)

Menurut pendapat berpunca Pastor An-Nawawi , mengatakan dalam Syarh Muslim (3/222), “Hadits ini ialah cara yang sangat agung kerumahtanggaan menguraikan lembaga dan aturan m*ni, dan segala yang tersebut di sini itulah sifatnya di dalam kejadian protokoler dan stereotip.

Kemudian sebagian besar ulama juga menyatakan,
“Dalam hal sehat, m*ni adam itu bercat bersih pekat dan memancar sedikit demi sedikit di momen keluar. Biasa keluar bila dikuasai dengan sy*hwat dan adv amat legit saat keluarnya. Pasca- keluar dia akan merasakan lenyai dan akan mencium bau seperti bau mayang kurma, yaitu seperti bau turap tepung.”

Sementara itu corak air m*ni juga dapat berubah karena disebabkan oleh beberapa peristiwa di antaranya:

  • Ketika sedang ngilu, maka air m*ninya akan berubah cairan dan bercelup kuning
  • Karena kantung testis melemah sehingga m*ni keluar tanpa dipacu oleh galakan erotisme, atau karena terlalu sering berhubungan maka dandan air m*ni bisa berubah menjadi sirah seperti air perahan daging dan kadang yang keluar adalah pembawaan.

Berikut ini adalah sejumlah peristiwa yang seringkali di tanyakan, berkenaan dengan air semen dan air madzi, diantaranya :

1. Mandi hadas sahaja diwajibkan ketika kita ihtilam dan suka-suka cair yang keluar dari korok kem*luan kita.

Adapun jika kita berhalusinasi, akan tetapi tidak cak semau cair nan keluar pecah korok kem*luan kita maka tidak wajib hukumnya lakukan mandi junub.

Beralaskan plong sebuah hadits berusul Bubuk Said, Al-Khudri secara marfu’, adalah :

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاء

“Sememangnya air itu doang ada dari air.” (HR. Muslim no. 343)

2. Mayoritas para ulama mempersyaratkan wajibnya mandi luas apabila adanya dorongan syahwat ketika keluarnya air m*ni tersebut kita internal kejadian terjaga.

Artinya kalau m*ni keluar tanpa disertai dengan dorongan syahwat, melainkan makanya sebab enggak seperti karena sakit atau karena cuaca yang dahulu dingin dan sebagainya,  maka mayoritas para ulama berpendapat bahwa tidak wajib hukumnya bakal mandi besar.

Keadaan ini berbeda dengan pendapat Imam Asy-Syafi’i dan Ibnu Hazm, dimana keduanya mensyariatkan lakukan mandi junub secara mutlak bagi boleh jadi sekadar yang keluar air m*ninya, apakah itu disertai dengan dorongan sy*hwat ataupun tidak.

3. Apakah keluarnya air madzi mengharuskan kita bikin mandi wajib?

Keluarnya air madzi hukumnya enggak menyebabkan mandi wajib. Akan doang, diwajibkan untuk berwudhu setelah kumbah kem*luan kita jika kita cak hendak mengerjakan shalat, tawaf ataupun menjejak mushaf Al Qur’an.

Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam gegares ditanya tentang air madzi ini, maka Rasulullah SAW bercakap, “
Jika keluar, maka harus berwudhu
”. Rasulullah SAW sekali lagi memerintahkan kepada orang nan kejangkitan air madzi untuk mencuci kem*luannya.

Adapun yang menyebabkan hukumnya teradat kerjakan mandi hadas ialah jika keluarnya air m*ni tersebut dengan pendirian mengiprat dan terasa nikmat, atau detik seseorang mematamatai jebolan air m*ni setelah sadar tidur baik malam hari maupun siang perian. (dikutip dari Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah jilid ke-10).

Demikianlah jabaran artikel tentang Perbedaan Air M*ni, Air Madzi, Air Wadi Dan Urine. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa menambah ilmu keterangan kita semua.

Source: https://www.santrikampung.com/2020/06/pahami-perbedaan-air-mani-air-madzi-air.html

Posted by: gamadelic.com