Agar Tanaman Coklat Berbuah Lebat

TABLOIDSINARTANI.COM, Konawe Daksina — Pembajak Konawe Daksina tengah sukacita dengan hasil produksi kakao yang melesat dua kali bekuk. Sama dengan apa selayaknya teknologi yang diadopsi petani tersebut?

Berdasarkan wawansabda via telepon dengan Prof. Rubiyo, ahli Kakao Balitbangtan yang sejak awal persiapan Musim Jenggala Sedunia (HPS) yang telah mendampingi petambak Puudambu, Kecamatan Angata, Kab Konawe Daksina, banyak yang teristiadat diperhatikan petani untuk menumbuhkan hasil kakao.

Berangkat berbunga pemupukan, pencegahan hama dan penyakit, pemangkasan, pengairan, pembuatan rorak, penataan tumbuhan naungan, pemasakan buah serempak, dan penyerbukan imitasi tanaman kakao. Selain itu, satu inovasi nan pun dikembangkan adalah sambung samping.

Pemangkasan produksi dan pelestarian dianggap terdepan lakukan perkembangan fisiologi tanaman kakao. Pemangkasan ringan harus dilakukan secara rutin agar biji pelir kakao dapat rimbun.

Sejauh pendampingan, orang tani diajarkan secara detail, pada saat pemangkasan dilaksanakan, cagak mana yang harus dipangkas (diantaranya cabang balik, mati, sakit, dan overlapping), perkakas apa yang dipergunakan, dan cara pemangkasan yang benar.

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan untuk menanam biji kemaluan kakao. Pengendalian ini tak bosor makan menggunakan penyemprotan obat-obatan kimiawi. “Beberapa hama wajib ditangani dengan otoritas kelembaban. Sedangkan kerjakan buah nan masih kecil, dilakukan dengan teknologi sarungisasi,” bebernya

Pupuk berimbang (organik dan anorganik) juga lalu berjasa. Selain pupuk kimia, pula direkomendasikan pemupukan dari korban organik yang sebelumnya tidak dimanfaatkan di kebun coklat. Begitu juga cangkang buah, bekas pangkas, patera seraseh sangar, dan bukan-lain. Bahan organik ini dimasukkan kedalam lubang roar sehingga boleh menutrisi kapling dan merintih air agar pembuangan bertambah baik.

Inovasi sambung samping dianggap lebih mudah dan cepat, karena bisa meningkatkan produksi kakao minus melakukan penghijauan lagi (replanting). Inovasi ini dilakukan dengan cara menyambungkan batang atas (entres) yang diperoleh dari tanaman emak unggul ke bangkai tanaman kakao yang mempunyai produktivitas rendah.

Entres yang digunakan adalah tanaman muda, berusia sekitar 3 bulan bercelup mentah kecoklatan. Seandainya entres diperoleh dari bekas nan jauh dari pohon batang pangkal, maka perlu dilakukan penyediaan khusus agar entres tetap segar saat dilakukan pemanjangan. Selain entres, wajib diperhatikan bahwa layon bawah yang akan disambung samping harus sehat.

Selain budidaya, penanganan panen dan pasca pengetaman juga berguna. Cara panen yang tepat dan alat nan digunakan kembali diajarkan kepada pembajak. Setelah pendampingan yang dilakukan Balitbangtan, kualitas nilai kakao yang dihasilkan makin baik sampai-sampai menyentuh 95 persen bernas.

Aspek kelembagaan kembali terdahulu lakukan disentuh ketika pendampingan. “Selama ini orang tani bekerja sendiri-sendiri. Sedangkan privat penanganan wereng, perlu dilakukan pengendalian berbarengan sehingga aktivitas pengendalian efektif. Selain itu, dengan penguatan kelembagaan petani, akan membuat bargaining position pembajak lebih awet,” jelasnya.

Pendampingan yang dilakukan Balitbangtan mengutamakan konseptual partisipatif, dimana solusi yang ditawarkan nantinya sesuai dengan masalah yang dihadapi petani. Sesuai juga dengan harapan yang diingikan petani.

Dengan adanya pendampingan nan dilakukan baik saat budidaya, panen, pasca panen, maupun puas aspek kelembagaan, diharapkan lagi akan mendorong kepadatan orang tani untuk menanam kakao.

Hasil Memuaskan

Peningkatan produktivitas dengan pendekatan teknologi  pada akhirnya diharapkan akan berpengaruh pula puas kenaikan kesejahteraan pembajak. Break Event Point (BEP) budidaya kakao saat ini sebesar Rp 15 ribu/Kg, sedangkan harga biji kakao sampai ke Rp 21-22 ribu/Kg. Berpunca segi harga jual, mujarab agribisnis kakao memadai cak bagi diusahakan.

Rubiyo juga mendedahkan lalu bersyukur atas kerja keras Tim Balitbangtan, penatar, dan petani sehingga membuahkan hasil yang maksimal.  “Pembajak itu bukan mudah ki mawas. Mereka karuan cak hendak menerapkan teknologi kalau ada buktinya, takdirnya dirasakan manfaatnya seperti nan dialami peladang kakao,” ungkapnya.

Rontok dari segala apa kendala yang ada, Indonesia lampau berkesempatan buat menjadi pelaksana kakao terbesar manjapada. Karuan perjuangan masih panjang, tetapi damba tersebut bukan tidak mungkin terulur. “Marilah penanam kakao Indonesia, modern dan terus umur kiranya kakao Indonesia menjadi nomor satu di dunia!” tutur Rubiyo.

Reporter
: EPA

Sumber
: BPTP Sulteng

Source: https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/kebun/12553-Bertani-KakaoIni-Tips-Agar-Kakao-Berbuah-Lebat-dan-Produksi-Sepanjang-Tahun