Absisi Pada Tanaman Pohon Buah

1
21 HASIL DAN PEMBAHASAN Kerontokan Bunga dan Biji zakar Kedogolan bunga dan buah sejak terbentuknya anak uang setakat perkembangan buah sangat mengurangi produksi buah belimbing. Absisi maupun kerontokan bunga dan biji pelir adalah proses lepasnya anak uang dan biji pelir dari tumbuhan. Absisi terjadi pada zona absisi yang terletak pada gandar cangkul bunga dan buah. Proses tersebut galibnya didahului maka itu diferensiasi suatu lapisan absisi puas zona absisi (Taiz & Zeiger 22). Hasil pengkhususan menunjukkan bahwa persentase kerontokan bunga dan buah belimbing suntuk tinggi sreg tumbuhan kontrol. Menurut Samson (1992) pokok kayu belimbing dari dan berbuah sepanjang hari. Bunga belimbing dahulu banyak, tetapi yang bisa berkembang menjadi biji pelir nan optimum sahaja abnormal. Rendahnya produkasi biji pelir belimbing disebabkan tingginya alopesia bunga dan biji kemaluan. Rang 2 Bunga belimbing nan sedang berkembang menjadi buah Kerontokan bunga dan buah dipengaruhi oleh berbagai rangsangan baik itu rangsangan pecah luar dan dari dalam tumbuhan itu sendiri. Rangsangan dari asing bisa positif defisiensi unsur hara, kekurangan air, kurangnya penerangan, serangan wereng dan penyakit (Samson 1986, Marschner 1986). Faktor berpunca kerumahtanggaan tumbuhan itu sendiri antara lain suplai asimilat yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan biji kemaluan (Archbold 1999). Kerontokan bunga dan buah pun dipengaruhi oleh makanan hormon endogen pada organ itu koteng,

2
22 biasanya disebabkan karena tingginya konsentrasi etilen dan rendahnya konsentrasi IAA serta rendahnya GA. Auksin dan etilen merupakan hormon nan terkait langsung dengan proses kerontokan bunga dan biji kemaluan (Bangerth 2). Auksin merupakan hormon yang berlaku dalam mencegah absisi, etilen berperan menginduksi proses absisi. Bakal mengurangi kegundulan rente dan biji pelir dalam percobaan ini menggunakan 2,4-D dan GA3. 2,4-D lega konsentrasi nan setinggi dengan sentralisasi fisiologis IAA bertindak misal auksin, pada sentralisasi tangga berfungsi perumpamaan herbisida. Salah satu peran auksin merupakan menghambat terjadinya proses absisi, aliran auksin ke zona absisi yang sepan akan mencegah kepekaan zona absisi terhadap etilen (Salisbury & Ross 1995). 2,4-D dengan konsentrasi rendah dapat mendorong pertumbuhan tanaman dan membancang proses absisi. Giberelin refleks auksin berlaku privat perkembangan bunga dan buah. Peran ilmu faal GA antara enggak mendorong pemanjangan kurungan dan organ, pembentukan buah partenokarpi menyorong perkecambahan biji dan tunas, menahan pembentukan umbi, mengubah penampilan seks tanaman serta mendorong pemasakan biji pelir. Giberelin yang kebanyakan tersaji dipasaran dalam bentuk GA 3 dan tipe ini banyak digunakan dalam pengkajian-penelitian fisiologi tanaman (Wattimena 1988). Perlakuan GA 3 dan 2,4-D terhadap kerontokan anak uang dan buah menunjukkan bahwa GA 3 dan 2,4-D baik secara tunggal maupun afiliasi berkarisma maujud terhadap persentase kerontokan bunga dan biji pelir. Terwalak supremsi interaksi yang nyata antara konsentrasi GA 3 dengan pemfokusan 2,4-D terhadap persentase kerontokan bunga dan buah belimbing (Tabel sidik ragam plong Pelengkap 4). Pengaruh pemusatan GA 3 terhadap persentase kerontokan anak uang dan buah dapat dilihat pada Rencana 3 dan 4. Perlakuan GA 3 secara spesial menyebabkan persentase kerontokan rente dan buah melandai secara linier nyata pada setiap penambahan pemusatan GA 3 dari sampai 6 ppm. Hadiah GA 3 dengan konsentrasi 6 ppm menghasilkan persentase kerontokan rente terendah sebesar 35,6% dan persentase kerontokan biji kemaluan terendah sebesar 44,6%, sedangkan pada konsentrasi ppm persentase kerontokan bunga (85.8%) dan persentase kedogolan biji kemaluan (81.9%).

3
23 %Kerontokan Bunga y = -.865x R 2 = Konsentrasi GA3 (ppm) 6 Gambar 3 Kontrol konsentrasi GA 3 terhadap persentase kedogolan rente %Kerontokan Buah y = -.714x R 2 = Konsentrasi 2,4-D (ppm) 6 Gambar 4 Pengaruh konsentrasi GA 3 terhadap persentase kerontokan biji zakar Terdapat dominasi kuadratik yang nyata antara persentase kerontokan rente dan buah dengan konsentrasi 2,4-D, dengan minimum persentase alopesia bunga (37.58%) puas konsentrasi 2,4-D 8.9 dan biji kemaluan (48.4%) lega pemfokusan 2,4-D 9.2 ppm. Perlakuan 2,4-D tunggal pada pemfokusan kian rendah dari noktah optimum menyebabkan persentase alopesia bunga dan biji zakar jenjang. Peningkatan pemusatan 2,4-D melebihi titik optimum menyebabkan persentase kerontokan bunga dan buah mengalami eskalasi sekali lagi (Gambar 5 & 6 ). Konsentrasi 2,4-D efektif untuk mengurangi kerotokan bunga dan buah berkisar antara 8-1 ppm.

4
24 9 %Kedogolan Anak uang 6 y =.621x x R 2 = Konsentrasi 2,4-D (ppm) Gambar 5 Pengaruh pemfokusan 2,4-D terhadap persentase kerontokan bunga 9 %Kerontokan Biji pelir 6 y =.425x x R 2 = Konsentrasi 2,4-D Tulang beragangan 6 Yuridiksi konsentrasi 2,4-D terhadap persentase kerontokan biji pelir Karunia GA 3 dan 2,4-D secara sangkut-paut memberikan dominasi nyata pada persentase kerontokan anakan dan biji zakar. Persentase kebotakan bunga terendah sebesar 37.1% (Gambar 7) dan persentase kerontokan biji pelir terendah sebesar 48% (Gambar 8) diperoleh semenjak kombinasi 2,4-D 5 ppm dan GA 3 6 ppm. Terjadi pengaruh interaksi nan substansial antara konsentrasi GA 3 dengan konsentrasi 2,4-D terhadap persentase kerontokan rente. Pada perlakuan 2,4-D dan 5 ppm terjadi penurunan persentase kerontokan bunga setiap penyisipan konsentrasi GA 3, sedangkan pada perlakuan 2,4-D 1 dan 15 ppm terjadi peningkatan persentase kedogolan bunga dan buah setiap penambahan konsentrasi GA 3.

5
25 %Kegundulan Biji kemaluan Sentralisasi GA3 (ppm) 2,4-D 2,4-D 5 2,4-D 1 2,4-D 15 Bagan 7 Interaksi antara supremsi konsentrasi GA 3 dan 2,4-D terhadap persentase kedogolan anak uang %Kerontokan Bunga Konsentrasi GA3 (ppm) 2,4-D 2,4-D 5 2,4-D 1 2,4-D 15 Gambar 8 Interaksi antara supremsi sentralisasi GA 3 dan 2,4-D terhadap persentase kerontokan biji zakar Hasil di atas dapat diartikan bahwa perlakuan dengan 2,4-D atau GA 3 semata-mata dapat mengurangi persentase kerontokan bunga dan buah belimbing. Menurut Hooley (1994) hadiah GA 3 eksogen akan merangsang peningkatan kandungan GA 3 endogen, dengan demikian akan meningkatkan aktivitas GA 3 endogen. Penerjunan konsentrasi giberelin berkorelasi dengan adanya pengguguran bunga, dan hidayah giberelin eksogen boleh mencegah gugur rente akibat kondisi mileu yang adv minim sesuai (Kinet et al. 1985). Taiz dan Zeiger (22) menyatakan bahwa auksin dan giberelin berperan penting dalam meningkatkan pembelahan dan basal sel. Pembesaran dan pembelahan sel mengakibatkan

6
26 bunga dan biji kemaluan mempunyai sink strength yang tahapan. Semakin janjang sink strength maka semakin tinggi kemampuan biji pelir untuk memobilisasi asimilat ke buah tersebut. Dengan demikian buah akan bersemi dan berkembang mencapai matra yang optimum dan tidak mudah mengalami kerontokan. Menurut Ben- Arie et al. (1996) giberelin main-main dalam pertumbuhan dan perkembangan bunga dan biji pelir, giberelin dapat menunda penuaan bunga dan biji zakar. Hidayah bersut 2,4-diklorofenoksiasetat (2,4-D) dengan pemfokusan abnormal bisa menunda pertumbuhan tumbuhan, sahaja sebaliknya dengan pemfokusan panjang berfungsi perumpamaan herbisida. 2,4-D pada konsentrasi yang sebanding dengan sentralisasi fisiologi IAA, akan bertindak sebagai auksin. 2,4-D lebih resistan terhadap sistem IAA-oksidase dibanding dengan IAA dan lebih tahan terhadap perubahan bentuk menjadi bentuk auksin terikat dengan senyawa enggak (Salisbury & Ross 1995). Kejadian tersebut sesuai dengan hasil penelitian ini yang menunjukkan bahawa petisi 2,4-D 5 ppm atau 1 ppm bisa mencegah kerontokan bunga dan biji pelir, padahal tuntutan 2,4-D 15 ppm menyebabkan persentase kerontokan bunga dan biji pelir mengalami peningkatan kembali. Menurut Campbell et al. (23) plong konsentrasi auksin yang berlebih bisa menghambat pertumbuhan lokap, pembelahan dan perkembangan sel. Perlakuan GA 3 dan 2,4-D secara kombinasi lagi dapat mengurangi persentase kerontokan anakan dan buah. Menurut Nakasone dan Paul (1998) perlakuan dengan GA 3 dan auksin imitasi boleh meningkatkan kuantitas buah, karena perlakuan tersebut dapat mengurangi kerontokan rente dan biji pelir. Untuk mengurangi tingkat kerontokan dan buah plong apel dapat dilakukan dengan aplikasi GA 3 dan auksin sintetis (Curry & Greene 1993). Aplikasi auksin artifisial dengan pemfokusan rendah bersama-sama giberelin dibutuhkan kelebihan meningkatkan nafkah hormon tersebut di n domestik ovari nan diperlukan lakukan menolak pertumbuhan biji kemaluan. Auksin dan giberelin main-main berfaedah n domestik pembelahan dan pembesaran sel dan bekerja sewaktu dalam mengontrol urut-urutan biji zakar (Campbell et al. 23). Pada konsentrasi yang berlebih auksin boleh menghambat pertumbuhan rumah pasung. Aktivitas auksin yang sudah berlebih sreg pohon akan meningkat dengan adanya giberelin. Peristiwa ini kemungkinan disebabkan oleh tingginya level auksin yang menginduksi sintesis

7
27 hormon etilen yang lazimnya berperan sebagai inhibitor pemanjangan sel dan memperkerap proses kerontokan. Mc Keon et al. (1995) menyatakan bahwa auksin menginduksi etilen dengan mendahulukan mrna untuk mensintesis ACC. Proses tersebut sekadar terjadi pada detik pemusatan auksin endogen melebihi pemusatan optimum bagi tanaman. Hal tersebut dibuktikan dengan terjadinya penurunan persentase kedogolan rente dan biji kemaluan lega perlakuan 2,4-D pemfokusan ppm dan 5 ppm setiap penyisipan pemusatan GA 3, sedangkan pada perlakuan 2,4-D 1 ppm dan 15 ppm setiap penambahan konsentrasi GA 3 terjadinya peningkatan persentase kerontokan rente dan biji pelir. Plong perlakuan secara tunggal 2,4-D 8-1 ppm dan GA 3 6 ppm atau secara rangkaian antara 2,4-D 5 ppm dengan GA 3 6 ppm menghasilkan persentase kerontokan anakan dan biji kemaluan terendah yang tidak berlainan. Hal tersebut menunjukkan bahwa persentase kerontokan anakan dan biji kemaluan boleh dicegah dengan perlakuan 2,4-D 8-1 ppm, GA 3 6 ppm secara khusus ataupun kombinasi antara GA 3 6 ppm dengan 2,4-D 5 ppm. Perlakuan secara tunggal kian efektif dibandingkan secara kombinasi. Ditinjau dari segi ekonomi harga 2,4-D jauh lebih murah dibandingkan dengan GA 3, sehingga dari 3 konsentrasi perlakuan tersebut yang makin efektif lakukan mengurangi persentase kebotakan anak uang dan buah lega tanaman belimbing adalah 2,4-D 8-1 ppm. Jumlah Biji pelir Retensi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase buah retensi dapat ditingkatkan dengan permohonan 2,4-D dan GA 3 secara spesial alias pertalian. Pertambahan persentase buah retensi nan disebabkan aplikasi GA 3 dan 2,4-D secara tunggal alias kombinasi menyebabkan kenaikan jumlah biji zakar sendirisendiri tandan yang bisa dipanen (Gambar 9, 1, 11). Peningkatan jumlah buah sendirisendiri tandan akan meningkatkan jumlah biji zakar masing-masing pohon dan produksi total buah tersebut. Quintana et al. (1984) melaporkan pemberian auksin buatan dan GA 3 dapat meningkatkan produksi pauh Carabao, karena perlakuan tersebut boleh meningkatkan retensi buah. Peningkatan kandungan IAA endogen menyebabkan eskalasi retensi biji zakar dan meningkatkan kuantitas biji kemaluan yang dapat dipanen.

8
28 Menurut Rajput dan Singh (1983) pemberian GA 3 pada pohon mangga dapat meningkatkan jumlah bunga tiap-tiap malai, total buah yang terbentuk per malai, retensi buah sendirisendiri malai. Rayapan asimilat semakin cepat apabila kandungan hormon bertaruk sebagai halnya auksin pada biji zakar semakin tangga. Kandungan auksin yang tinggi meningkatkan sink strength buah. Semakin jenjang sink strength maka semakin tingkatan kemampuan buah tersebut untuk memobilisasi asimilat ke biji kemaluan tersebut (Brenner & Cheikh 1995). Dalam pertumbuhan dan kronologi buah memerlukan asimilat dalam jumlah nan cukup. Peningkatan sediaan asimilat yang menuju ke buah menyebabkan buah akan bertunas dan berkembang dengan baik (Bangerth 2). Secara fisiologis gugur biji pelir berkorelasi dengan terbatasnya suplai fotosintat, rendahnya asimilat yang diterima buah dapat menginduksi terjadinya proses kerontokan buah (Marschner 1986, Stopar et al. 21). Lega perlakuan GA 3 dan 2,4-D secara eksklusif berpengaruh nyata terhadap jumlah buah sendirisendiri tandan (Tabel lega Tambahan 5). Perlakuan GA 3 secara tunggal mengasihkan pengaruh linier nyata yang habis konkret terhadap jumlah buah masing-masing tandan. Hal ini terkait dengan persentae kebotakan bunga dan buah yang cenderung melandai dengan pemberian GA 3. Seandainya dilihat pecah jumlah biji zakar yang boleh dipanen sendirisendiri tandan maka anugerah GA 3 6 ppm memberikan hasil yang teratas sebesar 2.99, mengalami peningkatan % dibandingkan otoritas (Gambar 9). Tulang beragangan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan konsentrasi GA 3 masih dapat meningkatkan besaran buah nan boleh dipanen per tandan Jumlah buah per tandan Y =.687 X R 2 = Pemfokusan GA3 (ppm) Kerangka 9 Yuridiksi perlakuan GA 3 secara tunggal terhadap rata-rata jumlah buah dipanen per tandan

9
29 Kontrol konsentrasi 2,4-D terhadap jumlah buah nan bisa dipanen per tandan dapat dilihat pada Rang 1. Terdapat korelasi yang berkepribadian kuadratik antara pemusatan 2,4-D dengan jumlah buah yang dapat dipanen per tandan. Maksimum jumlah biji kemaluan per tandan (2.97) diperoleh plong pemfokusan 2,4-D 9.2 ppm, mengalami peningkatan 177.6% dibandingkan kontrol (1.7). Besaran biji zakar masing-masing tandan y = -.225x x R 2 = ,4-D 2,4-D 5 2,4-D 1 2,4-D 15 Pemusatan 2,4-D (ppm) Rancangan 1 Pengaruh perlakuan 2,4-D secara tunggal terhadap galibnya total biji zakar dipanen per tandan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian GA 3 dan 2,4-D secara kombinasi berpengaruh nyata lega jumlah buah yang boleh dipanen tiap-tiap tandan (Tabulasi pada Lampiran 5). Perlakuan koalisi GA 3 dan 2,4-D menyebabkan peningkatan total biji kemaluan dipanen sendirisendiri tandan dibandingkan dengan kuantitas buah dipanen per tandan yang diperoleh pada perlakuan ppm. Terjadi yuridiksi interaksi yang substansial antara GA 3 dan 2,4-D terhadap total buah masing-masing tandan. Perlakuan 2,4-D plong konsentrasi dan 5 ppm meningkatkan galibnya jumlah buah per tandan setiap penambahan pemfokusan GA 3. Sementara itu perlakuan 2,4-D 1 dan 15 ppm menyebabkan penurunan rata-rata kuantitas biji kemaluan tiap-tiap tandan setiap penambahan konsentrasi GA 3 (Gambar 11). Perlakuan korespondensi GA 3 6 ppm dengan 2,4-D 5 ppm memberikan pengaruh terbaik. Galibnya kuantitas biji pelir per tandan yang dapat dipanen per tandan pada perlakuan tersebut sebesar 2.87 (mengalami peningkatan 168%).

10
3 Jumlah Buah Per-tandan Konsentrasi GA3 (ppm) 2,4-D 2,4-D 5 2,4-D 1 2,4-D 15 Gambar 11 Yuridiksi perlakuan GA 3 dan 2,4-D secara gayutan terhadap ratarata besaran buah dipanen per tandan Nafkah IAA pada Buah Belimbing Hasil amatan sidik ragam menunjukkan bahwa GA 3 maupun 2,4-D berkarisma substansial pada kenaikan makanan IAA buah belimbing (Grafik puas Suplemen 6). Pemberian GA 3 pemfokusan setakat 6 ppm menunjukkan pengaruh linier positif nyata terhadap perut IAA buah. Pendalaman ini menunjukkan bahwa pemberian GA 3 6 ppm menyebabkan peningkatan lambung IAA buah sebesar ppm, mengalami eskalasi 84.85% dibandingkan dengan kontrol (Rajah 12). Kandungan Auksin (ppm) y = X R 2 = Konsentrasi GA3 (ppm) Gambar 12 Pengaruh perlakuan GA 3 secara khas terhadap galibnya makanan auksin pada buah Rahim IAA biji zakar dapat sekali lagi ditingkatkan dengan pemberian 2,4-D secara idiosinkratis. Setiap penambahan pemusatan 2,4-D dari sampai 15 ppm menyebabkan peningkatan kandungan IAA buah. Pemberian konsentrasi 2,4-D 15 ppm menyebabkan peningkatan makanan IAA biji zakar tertinggi sebesar

11
ppm, mengalami peniingkatan 12.3% dibandingkan sreg konsentrasi ppm Gambar 13). Lambung Auksin (ppm) y = X R 2 = ,4-D 2,4-D 5 2,4-D 1 2,4-D 15 Konsentrasi 2,4-D (ppm) Rajah 13 Kontrol perlakuan 2,4-D secara spesifik terhadap rata-rata ki gua garba auksin puas biji kemaluan Aplikasi GA 3 dan 2,4-D secara kontak berwibawa substansial terhadap peningkatan rahim IAA biji kemaluan. Perlakuan relasi GA 3-6 ppm dengan 2,4-D -15 ppm menyebabkan eskalasi kandungan IAA buah setiap penambahan konsentrasi. Rata-rata lambung IAA tertinggi dihasilkan oleh perlakuan kombinasi 2,4-D 15 ppm dengan GA 3 6 ppm sebesar ppm, mengalami eskalasi 28.4% dibandingkan kas dapur IAA biji zakar lega pemfokusan ppm (Rang 14). Terjadi pertambahan biasanya ki gua garba IAA pada biji pelir sebesar % karena pengaturan aplikasi GA 3 dan 2,4-D baik secara tunggal maupun relasi. Kandungan Auksin (ppm) Konsentrasi GA3 2,4-D 2,4-D 5 2,4-D 1 2,4-D 15 Bentuk 14 Pengaruh perlakuan GA 3 dan 2,4-D secara nikah terhadap ratarata lambung IAA plong biji zakar

12
32 Peningkatan peranakan IAA endogen dapat dilakukan dengan permohonan 2,4-D dan GA 3 baik secara khas maupun pertautan. Peningkatan perut IAA endogen akan meningkatkan aktivitas auksin di dalam jaringan. Salah suatu peranan auksin internal perkembangan buah adalah menghambat gugur bunga dan buah (Bangerth 2). Hasil penggalian ini menunjukkan bahwa kenaikan kandungan IAA dapat ditingkatkan dengan dengan kasih 2,4-D maupun GA 3. Kasih GA 3 eksogen puas heterogen konsentrasi menyebabkan kenaikan kandungan IAA buah, dimungkinkan akan sensual pertambahan aktivitas GA 3 endogen. Gardner et al. (1991) menyatakan giberelin berlaku menstimulasi paduan enzim hidrolitik seperti amilase dan protease nan mampu mencerna zat tepung dan protein dengan demikian meningkatkan kandungan sakarosa dan cemberut amino bikin pertumbuhan sel. Senderut amino nan tersedia akibat aktivitas enzim protease merupakan prekursor terbentuknya jenis hormon tanaman yang lain, seperti triptopan yang merupakan bentuk awal dari auksin. Buat perkembangan rente dan biji kemaluan memerlukan stok asimilat. Proses mendapatkan asimilat dalam jumlah yang cukup adalah proses persaingan baik dengan buah lain alias dengan perkakas-organ vegetatif. Kemampuan biji kemaluan kerjakan mendapatkan asimilat ditentukan maka dari itu sink strength buah tersebut. Buah yang akan sungkap mempunyai sink strength nan kian terbatas dibandingkan buah retensi. Kandungan auksin nan kian tataran pada biji biji pelir retensi menyebabkan buah retensi mempunyai sink strength yang lebih kuat dibandingkan buah akan rontok (Taiz & Zeiger 22). Rayapan asimilat semakin cepat apabila nafkah hormon bersemi sebagai halnya auksin pada biji pelir semakin tinggi. Rahim auksin yang tataran meningkatkan sink strength biji zakar. Semakin tinggi sink strength maka semakin strata kemampuan biji kemaluan tersebut untuk memobilisasi asimilat ke biji zakar tersebut (Brenner & Cheikh 1995). Rendahnya kandungan auksin sreg biji kemaluan akan menyebabkan zona absisi peka terhadap etilen sehingga buah mengalami kerontokan. Peningkatan kandungan etilen yang distimulasi penurunan auksin menyebabkan metabolisme tidak berjalan dengan baik dan perkembangan buah tidak optimum (Sexton 1995).

13
33 Kandungan Sakarosa Total Hasil riset menunjukkan bahwa aplikasi 2,4-D dan GA 3 secra tunggal atau kombinasi berpengaruh nyata pada kandungan gula jumlah daun (Tabulasi lega Tambahan 7). Pengaturan konsentrasi GA 3 terhadap kandungan sukrosa total daun bisa dilihat pada Gambar 15. Perlakuan GA 3 secara solo dari sampai 6 ppm menyebabkan kandungan gula kuantitas daun meningkat secara berupa. Anugerah GA 3 dengan konsentrasi 6 ppm menghasilkan lambung gula besaran daun tertinggi (15.8 mg/g bobot kersang sampel), sedangkan makanan gula besaran daun pada konsentrasi ppm (7.78 mg/g bobot kering percontoh). Kandungan Gula Tota l (mg)/g bobot sangar sam pel y = 2.794x R 2 = Konsentras GA3 (ppm) Rangka 15 Pengaruh pemfokusan GA 3 terhadap rerata tembolok gula total daun Perlakuan GA 3 eksogen menyebabkan peningkatan kandungan gula jumlah patera. Giberelin berperan menstimulasi sintesis bilang enzim hidrolitik sebagai halnya amilase. Enzim tersebut berperan bikin merombak amilum (molekul komplek) menjadi glukosa dan fruktosa (molekul sederhana), sehingga meningkatkan tembolok gula total intern jaringan nan digunakan oleh sel lakukan tumbuh dan berkembang (Sandovald et al. 1995). Kandungan Gula Kuantitas (mg)/g bobot kering sampel y = -.769x x R 2 = Sentralisasi 2,4-D (ppm) Rancangan 16 Pengaruh pemfokusan 2,4-D terhadap rerata kandungan gula total daun

14
34 Rangka 16 menunjukkan bahwa korelasi antara kandungan gula total daun dengan persentase kegundulan bunga dan biji pelir bersifat kuadratik, dengan maksimum kandungan sukrosa total daun (13.5 mg/g bobot gersang sampel) pada pemusatan 2,4-D 8.9 ppm,sedangkan kandungan gula kuantitas daun pada kontrol (7.78 mg/g bobot sangar spesimen). Rezeki Guala Jumlah (mg) Pemfokusan GA3 2,4-D 2,4-D 5 2,4-D 1 2,4-D 15 Buram 17 Pengaruh perlakuan GA 3 dan 2,4-D secara pertalian terhadap ratarata kas dapur gula jumlah patera setelah permintaan I Peranakan Sukrosa Besaran (mg) Pemusatan GA3 2,4-D 2,4-D 5 2,4-D 1 2,4-D 15 Rajah 18 Pengaruh perlakuan GA 3 dan 2,4-D secara kombinasi terhadap ratarata kandungan sakarosa kuantitas daun setelah permintaan II Perlakuan kombinsi GA 3 dan 2,4-D berpengaruh berupa terhadap kandungan sakarosa total patera. Perlakuan 2,4-D dan 5 ppm terjadi eskalasi alat pencernaan sukrosa total patera setiap penambahan pemfokusan GA 3-6 ppm. Sedangkan perlakuan 2,4-D 1 dan 15 ppm menyebabkan penurunan makanan

15
35 gula total daun setiap penyisipan pemusatan GA 3-6 ppm. Kandungan sukrosa total termulia diperoleh dari permohonan aliansi antara GA 3 6 ppm dengan 2,4-D 5 ppm. Terjadi pengaruh interaksi nyata antara konsentrasi 2,4-D dengan GA 3 terhadap makanan sakarosa total daun. Rata-rata terjadi peningkatan kandungan sukrosa total daun sebesar % (Tulangtulangan 17 dan 18). Hasil di atas menunjukkan bahwa perlakuan GA3 dan 2,4-D secara partikular maupun pertalian berwibawa pada kas dapur gula jumlah daun. Giberelin berkarya secara sinergis dengan auksin untuk mempengaruhi kenaikan fruitset, mencegah terjadinya absisi, pembebasan α-amilase cak bagi menghidrolisis serdak menjadi gula yang dibutuhkan bakal pertumbuhan dan perkembangan buah (Gardner et al. 1991). Perlakuan GA 3 eksogen menyebabkan peningkatan rahim sakarosa total daun. Giberelin berperan menstimulasi sintesis sejumlah enzim hidrolitik seperti amilase. Enzim tersebut berperan kerjakan merombak amilum (anasir komplek) menjadi glukosa dan karbohidrat (partikel primitif), sehingga meningkatkan lambung sakarosa total dalam jaringan nan digunakan oleh sel untuk tumbuh dan berkembang (Sandovald et al. 1995). Buah memerlukan asimilat yang memadai selama perkembangannya. Tandon asimilat dipengaruhi oleh tingkat kematangan daun sebagai source. Sreg lazimnya daun yang sudah 3-6% membuka yakni source. Luas dan jumlah daun berpengaruh terhadap jumlah asimilat yang dapat ditransportasikan ke buah (Marschner 1995). Peningkatan rahim sukrosa jumlah dapat menyebabkan biji zakar tumbuh dan berkembang mencapai matra optimum dan tidak mudah ranggas. Stopar et al. (21) menyatakan bahwa buah apel yang akan rontok mempunyai lambung pati yang makin tingkatan (.33 mg/gr sampel cengkar) dan kandungan glukosa yang lebih rendah (33.2 mg/gr sampel kering) dibandingkan dengan buah retensi nan mempunyai kandungan ekstrak sebesar.15 mg/gr sampel sangar dan rezeki glukosa sebesar 36.4 mg/gr spesimen cengkar. Biji pelir yang akan rontok memiliki aktivitas metabolisme yang abnormal, sehingga perut gulanya juga invalid (Yuan & Greene 2).

16
36 Kandungan gula kuantitas daun pendukung bunga dan biji pelir nan panjang menunjukkan kemampuan patera tersebut cak bagi menyokong perkembangan bunga dan biji zakar sehingga menyebabkan bunga dan buah tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga tidak mudah gugur. Bangerth (2) melaporkan bahwa ketidak cukupan suplai asimilat menyebabkan buah gugur, hal itu disebabkan terbatasnya produksi asimilat dan/atau alokasi asimilat ke buah kurang. Biji pelir mendapatkan asimilat dari patera yang terletak paling dempet dengan buah tersebut. Yuan dan Greene (2) menyatakan seharusnya satu biji kemaluan apel boleh berkembang resmi sebatas masak diperlukan minimal dua patera. Ki pemotongan jumlah daun mengurangi pertumbuhan buah memanjatkan perkara. Daun mangga nan berumur 2-3 bulan merupakan daun matang dan telah mencapai ukuran munjung. Luas daun atau jumlah daun berwibawa terhadap jumlah asimilat yang ditransportasikan ke biji zakar (Maschner 1995). Peningkatan perut IAA buah menyebabkan biji kemaluan memiliki sink strength yang hierarki. Semakin panjang sink strength maka semakin janjang kemampuan buah tersebut untuk memobilisasi asimilat. Kenaikan peranakan auksin diduga bisa panas fotosintesis sehingga meningkatkan lambung asimilat daun. Peningkatan sink strength nan disertai kenaikan kandungan gula kuantitas daun menyebabkan buah merecup dan berkembang secara optimum. Bobot Buah Dipanen Bobot Per Buah Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan GA 3 dan 2,4-D berkarisma nyata terhadap bobot saban biji pelir (Diagram pada lampiran 8). Perbedaan konsentrasi GA 3 bukan nyata pengaruhnya terhadap bobot sendirisendiri biji kemaluan. Terdapat kombinasi linier riil yang tidak nyata antara konsentrasi GA 3 dengan bobot per biji pelir. Perlakuan GA 3-6 ppm menyebabkan peningkatan bobot biji pelir, pertambahan bobot buah yang tertinggi diperoleh pecah perlakuan GA 3 6 ppm sebesar meningkat 4.57% dari kontrol (Kerangka 19).

17
37 Rata-rata bobot saban buah (g) y = 2.85x R 2 = Konsentrasi GA3 (ppm) Gambar 19 Pengaruh konsentrasi GA 3 terhadap lazimnya bobot buah per buah Perlakuan 2,4-D secara khas berkarisma nyata terhadap bobot biji zakar. Pemberian 2,4-D dengan berbagai pemusatan memberikan pengaruh yang berwujud terhadap bobot biji pelir. Terletak dominasi kuadratik antara bobot biji pelir dengan konsentrasi 2,4-D (Gambar 2). Bobot buah maksimum ( g) diperoleh pada konsentrasi 2,4-D 9.1 ppm, mengalami peningkatan 17.1% pecah supremsi. Rata-rata bobot tiap-tiap buah (g) y = -.286x x R 2 = Pemfokusan 2,4-D (ppm) Rencana 2 Pengaruh sentralisasi 2,4-D terhadap rata-rata bobot buah masing-masing biji kemaluan Perlakuan kombinasi 2,4-D dan GA 3 menyebabkan peningkatan bobot per biji pelir yang tidak berbeda kasatmata antar perlakuan. Rata-rata peningkatan bobot per buah teratas (159.8%) diperoleh dari perlakuan kombinasi 2,4-D 1 ppm dengan GA 3 6 ppm (Tulang beragangan 21). Tidak terjadi pengaruh interaksi antara konsentrasi GA 3 dengan sentralisasi 2,4-D terhadap bobot per buah. Yuridiksi 2,4-D n domestik meningkatkan bobot buah tidak tergantung pada GA 3, GA 3 bukan tergantung pada 2,4-D dalam mempengarui bobot buah. sedemikian itu pula

18
38 Rataan Bobot Buah Per Buah (gr) Pemfokusan GA3 2,4-D 2,4-D 5 2,4-D1 2,4-D 15 Rajah 21 Otoritas konsentrasi GA 3 dan 2,4-D terhadap umumnya bobot biji kemaluan per biji kemaluan Bobot Biji kemaluan Per Tandan Rahmat pemfokusan GA 3 dan 2,4-D baik secara tunggal ataupun rangkaian berpengaruh nyata terhadap bobot buah saban tandan (Diagram pada lampiran 8). Perbedaan pemfokusan GA 3 berpengaruh berupa terhadap eskalasi bobot buah pertandan. Perlakuan GA 3-6 ppm menyebabkan eskalasi bobot buah per tandan. Hal ini tercalit dengan peningkatan jumlah buah masing-masing tanda yang dipanen karena otoritas konsentrasi GA 3. Peningkatan pemusatan GA 3 menyebabkan jumlah biji pelir dan bobot biji zakar mengalami peningkatan. Anugerah GA 3 6 ppm menghasilkan jumlah buah teratas sehingga meningkatkan bobot buah per tandan (192.9%) dibandingkan sreg pemfokusan ppm (Gambar 22). Bobot buah tiap-tiap tandan (g) y = x R 2 = Konsentrasi GA3 Gambar 22 Kekuasaan perlakuan GA 3 secara idiosinkratis terhadap rata-rata bobot buah per tandan

19
39 Bobot biji kemaluan tiap-tiap tandan (g) y = x x R 2 = Konsentrasi 2,4-D Tulangtulangan 23 Pengaruh perlakuan 2,4-D secara tunggal terhadap rata-rata bobot buah per tandan Pemberian 2,4-D dengan berbagai pemusatan memberikan pengaruh yang aktual terhadap bobot biji pelir per tandan. Terdapat dominasi kuadratik antara bobot buah dengan sentralisasi 2,4-D (Gambar 23). Bobot biji kemaluan dipanen tertinggi sebesar 72.1 g diperoleh pada konsentrasi 2,4-D 9.1 ppm (meningkat 27.16% dibandingkan kontrol). Pada konsentrasi 2,4-D di bawah titik optimum menunjukkan bobot buah lebih cacat, peningkatan konsentrasi menjadi kian tataran berasal tutul optimum menyebabkan bobot biji kemaluan mengalami penjatuhan kembali. Sangkutan 2,4-D dan GA 3 menyebabkan peningkatan bobot biji zakar per tandan yang berlainan nyata antar perlakuan. Perlakuan 2,4-D ppm dan 5 ppm terjadi peningkatan bobot buah masing-masing tandan setiap penambahan konsentrasi GA 3. Perlakuan 2,4-D 1 ppm dan 15 ppm terjadi penghamburan bobot buah per tandan setiap penambahan konsentrasi GA 3 (Bentuk 24). Gayutan antara GA 3 6 ppm dengan 2,4-D 5 ppm menghasilkan bobot buah per tandan teratas sebesar g (meningkat 22.23%). Terjadi pengaruh interaksi nan faktual antara sentralisasi 2,-D dengan GA 3 terhadap perubahan bobot buah tiap-tiap tandan. Hal ini berkaitan dengan persentase kerontokan buah dan persentase buah retensi. Peningkatan kuantitas biji pelir sendirisendiri tadan akan menyebabkan peningkatan bobot buah yang dapat dipanen tiap-tiap tandan dan kembali menyebabkan meningkatnya bobot biji zakar yang bisa dipanen secara keseluruhan.

20
4 Bobot Biji pelir PerTandan (gr) Konsentrasi GA3 (ppm) 2,4-D 2,4 -D 5 2,4-D 1 2,4-D 15 Gambar 24 Yuridiksi konsentrasi GA 3 dan 2,4-D terhadap kebanyakan bobot biji pelir per tandan Menurut Sing dan Sing (1995) peningkatan total biji zakar karena aplikasi zat pengatur tumbuh sonder mengurangi bobot biji kemaluan disebabkan karena asimilat nan digunakan untuk perkembangan buah tidak namun berasal semenjak hasil fotosintesis yang sedang berlantas tetapi juga bersumber berpokok cadangan asimilat nan tersimpan. Situasi tersebut dibuktikan dalam penggalian ini bahwa eskalasi kuantitas buah yang bisa dipanen karena perlakuan GA 3 dan 2,4-D tidak disertai penerjunan bobot buah. Suatu hasil yang menggembirakan ditinjau bersumber segi produksi, karena usaha peningkatan jumlah buah tidak disertai penurunan bobot buah. Brenner dan Cheikh (1995) menyatakan bahwa aplikasi GA dan auksin tiruan dapat meningkatkan fotosintesis. Auksin panas aktivitas fotosintesis melalui peningkatan pengenalan stomata, fosforilasi dan fiksasi CO 2. Dengan meningkatnya aktivitas fotosintesis akan meningkatkan simpanan asimilat, sehingga buah akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (Bangerth 2). Auksin dan giberelin berlaku penting privat meningkatkan pembelahan dan pembesaran sel. Pembelahan dan pembesaran sel mengakibatkan biji pelir aktif tumbuh dan mengembung, akibatnya buah mempunyai sink strength yang tinggi. Semakin tataran sink strength maka semakin panjang kemampuan buah cak bagi memobilisasi asimilat ke buah tersebut sehingga buah akan tumbuh dan berkembang dengan baik (Kumar et al. 1997).

21
41 Eskalasi kandungan IAA buah dan sukrosa total pada daun belimbing sebagai respon terhadap perlakuan GA 3 dan 2,4-D menyebabkan pertumbuhhan serta perkembangan rente dan biji zakar menjadi lebih optimum. Peristiwa ini terbukti dengan peningkatan rahim gula total dan rezeki IAA biji kemaluan hingga bintik optimum pada tanaman yang mendapat perlakuan dapat mengurangi kerotokan bunga dan buah, meningkatkan bobot dan jumlah buah. Sementara itu pada tanaman otoritas persentase kerontokan anak uang dan biji zakar sangat panjang, pertumbuhan dan perkembangannya kurang optimum. Susuk 25 Buah belimbing lega tanaman pengaruh Susuk 26 Buah belimbing yang mendapat perlakuan G4-D5 Buram 25 & 26 menunjukkan bahwa pertumbuhan dan jalan buah pada tanaman nan mendapat perlakuan lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan dan perkembangan biji pelir pada tanaman kontrol. Peristiwa ini disebabkan adanya peningkatan kandungan IAA buah dan gula total daun pada tanaman nan mendapatkan perlakuan GA 3 dan 2,4-D, sehingga meningkatkan sink strength buah dan suplai asimilat. Kebaikan sink strength yang tinggi plong biji zakar serta meningkatnya suplai asimilat menyebabkan buah tumbuh dan berkembang mencapai optimum dan tidak mudah terlepas.

22
42 Pola Kedogolan Anak uang dan Biji zakar Transendental Kerontokan Bunga Hasil pengkhususan kedogolan bunga belimbing menunjukkan adanya pola kerontokan bunga pada tanaman belimbing. Pola kedogolan bunga menunjukkan bahwa tingkat alopesia rente jenjang terjadi pada musim ke-4 sampai hari ke-8 sehabis bunga mekar kemudian mengalami penghamburan alopesia sebatas terbimbing buah (Rancangan 27). Tingkat kerontokan bunga belimbing pada tanaman kontrol sangat hierarki mencapai 85.8%. Menurut (Stern et al. 1995) kerontokan bunga leci mengaras 9-95% dari rente betina..3 Alopesia rente Hari pengamatan Rencana 27 Persentase kerontokan bunga belimbing Haur Pola Kerontokan Buah Wara-wara adapun teladan kedogolan buah diperlukan dalam usaha mengurangi kerontokan buah menerobos pemberian zat pengatur bersemi. Teladan kerontokan buah berhuungan dengan perubahan rahim hormon endogen. Hasil riset ini menunjukkan bahwa rata-rata persentase kerontokan biji pelir lega tanaman kontrol sebesar 82%. Persentase kedogolan buah belimbing puas semua perlakuan, yang diamati setiap 4 hari sekali sejak semula terlatih biji pelir sampai biji zakar siap dipanen dapat menunjukkan pola kedogolan buah tanaman belimbing Bidadari (Rancangan 28).

23
43 Kegundulan Buah Hari Pengamatan Kerangka 28 Persentase kebotakan buah belimbing Bidadari Hipotetis alopesia biji pelir belimbing menunjukkan bahwa puncak alopesia biji zakar maksimum terjadi puas hari ke-4 sesudah biji zakar terbentuk. Selepas itu persentase kerontokan menurun. Penurunan terus berlanjut sampai hari ke-24, kebotakan hingga ke nol pada waktu ke-28 dan hal ini terus berlanjut setakat buah siap dipanen. Tingginya tingkat kegundulan buah lega minggu permulaan setelah fruitset dimungkinkan karena biji zakar belum memadai mensintesis auksin yang dibutuhkan oleh buah itu sendiri bakal menjaga mudahmudahan zona absisi tidak peka terhadap etilen. Kepekaan zona absisi terhadap etilen menginduksi gen nan mengkode enzim hidrolitik yang menyebabkan kebinasaan pada dinding pengasingan zona absisi. Proses tersebut akan menyebabkan kerontokan (Taiz & Zeiger 22). Keadaan ini terbukti dengan rahmat GA 3 dan 2,4-D eksogen lega semula buah terbentuk dapat mengurangi kerontokan biji pelir. Auksin berperan membantu pertumbuhan dan perkembangan buah, sendang auksin plong tahap awal perkembangan biji kemaluan adalah endosperm dan lega tahap lebih lanjut sumber auksin buah adalah janin. Kerontokan anak uang dan buah biasanya disebabkan karena tingginya konsentrasi etilen dan rendahnya konsentrasi IAA dan GA lega bunga dan buah itu sendiri (Aneja & Gianfagna 1999). Tingkat kerontokan buah yang tinggi merupakan salah satu kendala peningkatan produksi nan umum terjadi puas pokok kayu biji zakar-buahan. Quintana et al. (1984) menyatakan bahwa tingkat kerontokan biji zakar mempelam yang tinggi terjadi sreg minggu permulaan setelah fruitset. Kerontokan terus berlangsung sampai

24
44 minggu ke tujuh, meskipun tingkat kerontokannya rendah. Total biji kemaluan nan rontok mencapai 9% terbit kuantitas biji pelir terpelajar. Tingkat kerontokan biji kemaluan lecy mengaras 9-95% dari bunga betina nan berkembang menjadi buah muda (Stern et al. 1995). Informasi mengenai kamil kegundulan buah diperlukan bakal menentukan saat paling kecil tepat bagi memberikan perlakuan tertentu, sehingga total biji kemaluan yang tanggal bisa dikurangi. Pola kerontokan biji kemaluan dikaitkan dengan perubahan kas dapur hormon endogen diperlukan privat usaha mengurangi kerontokan buah melalui anugerah zat pengatur tumbuh. Peningkatan produksi buah-buahan dengan cara mengurangi kedogolan bunga dan biji zakar dengan aplikasi zat pengatur tumbuh perlu mengaibkan jenis ZPT, pemusatan dan hari pemancaran. Keberagaman zat pengatur tumbuh, pemfokusan dan waktu pemberiannya menentukan efektifitas intern mengurangi kerontokan buah. Penyemprotan auksin sintetis pada bunga mempelam Carabao saat bunga mekar dan diulangi selepas tiga minggu dan heksa- ahad dapat mencegah kerontokan biji kemaluan (Quintana et al. 1984). Korelasi antara Makanan Sukrosa Jumlah Daun dan IAA Biji zakar dengan Kerontokan Anak uang dan Biji pelir Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kebotakan bunga dan buah pada tanaman yuridiksi sangat tinggi (85.8% dan 81.9%). Tingginya tingkat alopesia plong yuridiksi kemungkinan disebabkan rendahnya kandungan IAA dan GA pada tanaman. Situasi ini terbukti dengan pemberian 2,4-D dan GA 3 secara tunggal maupun gabungan boleh mengurangi kerontokan anakan dan buah (Rencana 3, 4, 5, dan 6). Kerontokan anak uang dan buah dipengaruhi makanya perubahan kandungan hormon endogen. Sexton (1995) menyatakan bahwa kandungan auksin yang cacat dan etilen yang tataran meningkatkan kepekaan zona absisi pada etilen. Proses kerontokan bunga dan buah disebabkan oleh rendahnya auksin dan tingginya etilen pada bunga dan biji pelir itu sendiri. Doang pada penelitian ini hormon etilen yang terkait sewaktu dalam proses kerontokan tidak diamati. Perlakuan secara susunan GA 3 dan 2,4-D menyebabkan adanya respon ilmu faal sreg tumbuhan. Pada penelitian ini respon fisiologi yang diamati ialah kas dapur gula total daun dan IAA biji zakar. Pertukaran kandungan sukrosa total daun

25
45 sebagai respon terhadap aplikasi GA 3 dan 2,4-D berkarisma nyata terhadap persentase kebotakan bunga dan buah (Tabel Lampiran 9). Hasil analisis korelasi menunjukkan adanya korelasi destruktif nyata antara kandungan sukrosa besaran patera dengan persentase kerontokan bunga (r = -.957) dan persentase kerontokan biji kemaluan (r = -.952). Peningkatan kas dapur gula besaran lega patera menyebabkan penjatuhan persentase kerontokan anak uang dan biji pelir (Rencana 29 dan 3). Akibatnya terjadi kenaikan jumlah dan bobot biji kemaluan seiring dengan peningkatan kandungan gula total daun. %Kerontokan Bunga y = x R 2 = Makanan gula total daun (mg/g spesimen kering) Rang 29 Hubungan antara peranakan sakarosa total daun dengan persentase kebotakan rente %Kerontokan buah y = x R 2 = Kandungan gula total daun (mg/g sampel tandus) Rangka 3 Perpautan antara tembolok sukrosa total daun dengan persentase kerontokan biji kemaluan

26
46 Selain tembolok sukrosa total patera, alat pencernaan IAA buah lagi mempunyai korelasi dengan kerontokan bunga dan buah. Yang membedakan kedua korelasi tersebut adalah bentuk korelasinya. Pergaulan rezeki IAA buah dengan persentase kerontokan biji kemaluan berkepribadian kuadratik dengan minimum persentase kedogolan biji kemaluan (52%) pada kandungan IAA buah 17 ppm (Gambar 31). %Kebotakan Biji pelir y =.42x x R 2 = Kandungan IAA Buah (ppm) Rencana 31 Hubungan antara makanan IAA buah dengan persentase kerontokan buah Kandungan IAA biji pelir nan abnormal menyebabkan persentase kerontokan biji pelir meningkat. Hal ini disebabkan rendahnya auksin yang menyebabkan zona absisi peka terhadap etilen dan akhirnya akan menimbulkan alopesia biji kemaluan. Sreg pemfokusan auksin yang lebih tataran bermula titik optimum juga menyebabkan meningkatnya persentase kedogolan buah. Kejadian ini diduga pemusatan auksin yang bersisa menginduksi sintesis etilen. Etilen merupakan hormon yang merangsang proses kerontokan (Mc Keon et al. 1995).

Source: https://docplayer.info/46257718-Hasil-dan-pembahasan-kerontokan-bunga-dan-buah.html