1 Hari Di Alam Kubur Sama Dengan


Pertanyaan Di Alam barzakh Beserta Penjelasannya

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, minus ada pengecualian. Hanya Allah Yang Maha Hidup tidak akan mati, semua makhluk hidup di pataka semesta ini, jika Halikuljabbar Yang Maha Kuasa memaksudkan hilangnya nafas kehidupan mereka, maka tak ada satupun yang bisa ki beralih dan bahtera diri.

Allah
Ta’ala
berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan senyap. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia sudah lalu beruntung. Kehidupan dunia itu bukan enggak hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

(QS. Ali Imran/3: 185).

Salah satu berbaik iman yang enam yakni beriman tentang adanya hari akhir. Iman kepada masa penghabisan maknanya adalah beriman terhadap segala keadaan yang terjadi setelah mortalitas yang telah dijelaskan secara masyarakat dalam Al Qur’an atau lagi yang telah disampaikan secara rinci oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam
melalui lisan beliau. Dengan demikian, iman kepada hari akhir mencakup juga iman terhadap berbagai situasi yang terjadi di alam barzakh, diantaranya adalah soal dua malaikat, pula iman terhadap lemak dan siksa kubur. Inilah akidah
Ahlus sunnah wal jama’ah.


1. Kengerian Alam samar

Gelapnya pan-ji-panji kubur, himpitannya yang suntuk mengerikan menjadi kekaguman tersendiri bagi para penghuni kubur. Dalam sebuah riwayat yaitu Hani
radhiallahu ‘anhu, lulusan budak sahabat mulia ‘Utsman bin ‘Affan
radhiallahu ‘anhu
pernah berkisah, beliau mengobrolkan keadaan tuannya puas waktu itu,

“Kebiasaan ‘Utsman
radhiyallahu ‘anhu
jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis setakat membasahi janggutnya. Lampau beliau
radhiallahu ‘anhu

ditanya, ‘Disebutkan akan halnya keindraan dan neraka tetapi engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini meluluk kuburan, cak kenapa demikian?’
Beliau menjawab, ‘Sepatutnya ada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda;

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

“Senyatanya peristirahatan terakhir ialah fase mula-mula alam alam baka. Seandainya seseorang selamat di fase mula-mula ini, selanjutnya akan makin mudah. Tetapi jika gagal di fase pertama ini, fase setelahnya akan semakin jarang.”

Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam
juga berucap;

مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

“Aku tak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan tinimbang kubur.”

(HR. At-Tirmidzi, no. 2308, Ibnu Majah, no. 3461, dan lainnya; dinilai hasan oleh Al hafizh Anak laki-laki Hajar dalam Al futuhat Rabbaniyyah, 4/192)


2. Fitnah Kubur, Ujian Mula-mula Di Akhirat

Kebanyakan makhluk lain mau senggang bahwa kelak di dalam kubur setiap layon untuk mengalami fitnah (eksamen) selit belit. Sedemikian beratnya fitnah itu sehingga Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam
menggambarkannya misal caci yang menyerupai cerca Dajjal. Inilah situasi samudra pertama di alam akhirat yang akan dilalui oleh orang. Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam

bersabda;

قَدْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي الْقُبُورِ قَرِيبًا مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

“Bukan main sudah lalu diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji di kubur kalian setinggi atau erat sebagaimana fitnah Dajjal”

(HR. Bukhari, no. 1373 secara pendek, dan An Nasai, no. 2062).


3. Apa Itu Fitnah Kubur?

Fitnah kubur merupakan eksamen untuk ruh maujud pertanyaan dua orang malaikat, Munkar dan Nakir.
Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihiy
rahimahullah
menguraikan

ﻭﺍﻟﻔﺘﻨﺔ : ﺍﻻﺧﺘﺒﺎﺭ ﻭﺍﻻﻣﺘﺤﺎﻥ ، ﻓﻴﺄﺗﻲ ﻧﻜﻴﺮ ﻭﻣﻨﻜﺮ ﻳﺒﺘﻠﻴﺎﻧﻪ ﻭﻳﺨﺘﺒﺮﺍﻧﻪ ﺑﺎﻟﺴﺆﺍﻝ : ﻣﻦ ﺭﺑﻚ؟ ﻣﺎ ﺩﻳﻨﻚ؟ ﻭﻣﻦ ﻧﺒﻴﻚ؟ ﺛﻢ ﺗﺄﺗﻲ ﺍﻟﻌﻘﻮﺑﺔ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ، ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺑﺎﻟﺴﺆﺍﻝ ﺛﻢ ﻳﻌﺬﺏ ، ﻓﺎﻟﻌﺬﺍﺏ ﺷﻲﺀ ﻭﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﺷﻲﺀ


Fitnah kubur adalah ujian, di mana malaikat Nakir dan Mungkir menguji dengan memberikan pertanyaan: ‘Bisa jadi Rabb-mu, Apa agama-mu dan siapa Nabi-mu’, adv amat memasrahkan hukuman setela
hn


ya (apabila enggak bisa menjawab).
Adzab kubur dan fitnah kubur adalah suatu hal yang berbeda.


(lihat Syarh Sunnah Al-Barbahary, sumur link: (http://majles.alukah.serok/t89962/)

Hadits-hadits Nabi
Shallallahu ‘alaihi wasallam
yang menunjukkan adanya cerca kubur mengaras derajat mutawatir dari segi makna, diriwayatkan dari sejumlah sahabat semisal Al Baraa kacang ‘Azib, Anas bin Malik, Abu Hurairah, dan selain mereka
radhiallahu ‘anhum ajma’in.


4. Uluran tangan Menjawab Pertanyaan Di Liwa Kubur

Suku bangsa muslimin nan moga dirahmati Allah
Ta’ala, cerca kubur yaitu ujian nan tidak lazim. Sebab, lain semata lisan dan pengetahuan yang akan menjawabnya. Saja, keimanan seseorang kepada Almalik dan Rasul-Nya yang akan menjadi penentunya. Orang yang berketentuan akan ditolong untuk bisa menjawab soal dengan “qaulus tsabit”, sedangkan orang kafir dan munafik tidak bisa menjawab dan diadzab. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah
Ta’ala;

ﻳُﺜَﺒِّﺖُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺑِﺎﻟْﻘَﻮْﻝِ ﺍﻟﺜَّﺎﺑِﺖِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻓِﻲ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﻭَﻳُﻀِﻞُّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻭَﻳَﻔْﻌَﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَﺎﺀُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan nan taat itu dalam kehidupan di dunia dan di Darul baka. Dan Allah mengkhianati makhluk-individu yang zalim dan memperbuat apa nan Sira kehendaki”

(QS. Ibrahim: 27).

Jangan pernah menyamakan antara menjawab pertanyaan fitnah kubur dengan menjawab pertanyaan biasa, sungguhpun kita hapal jawabannya, belum tentu kita mewah menjawab. Karena perkara dunia berbeda dengan perkara di alam akhirat.


5. Apakah Mayat Nan Tidak Dikubur Juga Ditanya?

Seseorang nan meninggal karena dimangsa hewan buas, ataupun terbenam di lautan dan mayatnya lain ditemukan, ia akan tunak mendapatkan pertanyaan kubur beserta siksa ataupun nikmat kubur. Akan semata-mata, bagaimana caranya dan dimana sira ditanya,
wallaahu a’lam, kita tidak tahu. Beriktikad terhadap peristiwa ini termaktub beriman terhadap hal yang ghaib sehingga tidak suka-suka pangsa bagi akal lakukan menerka-nerka.


6. Avontur Tinggi Ruh Di Akhirat

Privat sebuah hadits yang hierarki bermula sahabat Al Baraa bin ‘Azib
radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam
menyampaikan avontur pertama ruh di alam barzakh, “Sesungguhnya hamba yang beriman bila bersiap menghadapi umbul-umbul alam baka dan meninggalkan dunia, malaikat-malaikat akan turun kepadanya seakan-akan wajah mereka sebagai halnya matahari. Mereka mengapalkan kain kafan dan aroma dari suraloka.

Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk di sebelah kepalanya lantas berujar, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan ridha Allah!”. Keluarlah ruhnya mengalir (dari jasadnya) seperti mengalirnya air dari medan.
Kemudian rombongan malaikat (yang membawa kafan dan wewangian dari surga) serempak mengambil ruh tersebut dan tidak membiarkannya tetap di tangan malaikat maut walau sekejap mata. Kemudian mereka memakaikan ruh tersebut kafan dan wewangian dari surga. Terciumlah bau kasturi yang paling wangi yang pernah suka-suka di atas muka bumi dari ruh tersebut.

Para malaikat lalu mendaki mengapalkan ruh tersebut. Tibalah rombongan malaikat tersebut ke langit. Mereka meminta izin meski ki langit dibukakan untuk mereka. Kemudian dibukalah pintu langit. Maka seluruh malaikat yang cak semau di langit itu masuk mengantarkannya menuju langit berikutnya.

Hingga tibalah para malaikat ke langit yang di atasnya ada Allah. Halikuljabbar
‘Azza wa Jalla
lalu bersabda, “Tulislah nama hamba-Ku ini di
‘illiyyin. Kemudian kembalikanlah beliau ke mayapada. Karena darinyalah Aku menciptakan mereka, kepadanya Aku melawan mereka, dan darinya pula Aku membangkitkan mereka di kesempatan yang lain” Lalu ruh tersebut pun dikembalikan ke jasadnya.

ﻓَﻴَﺄْﺗِﻴﻪِ ﻣَﻠَﻜَﺎﻥِ ﻓَﻴُﺠْﻠِﺴَﺎﻧِﻪِ : ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ : ﻣَﻦْ ﺭَﺑُّﻚَ ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﺭَﺑِّﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ : ﻣَﺎ ﺩِﻳﻨُﻚَ ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﺩِﻳﻨِﻲَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ : ﻣَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑُﻌِﺚَ ﻓِﻴﻜُﻢْ ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻫُﻮَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ : ﻭَﻣَﺎ ﻳُﺪْﺭِﻳْﻚَ ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻗَﺮَﺃْﺕُ ﻛِﺘَﺎﺏَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺂﻣَﻨْﺖُ ﺑِﻪِ ﻭَﺻَﺪَّﻗْﺖُ ﻓَﻴُﻨَﺎﺩِﻱ ﻣُﻨَﺎﺩٍﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ : ﺃَﻥْ ﻗَﺪْ ﺻَﺪَﻕَ ﻋَﺒْﺪِﻳﻔَﺄَﻓْﺮِﺷُﻮﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ‏( ﻭَﺃَﻟْﺒِﺴُﻮﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ‏) ﻭَﺍﻓْﺘَﺤُﻮﺍ ﻟَﻪُ ﺑَﺎﺑًﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ , ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴَﺄْﺗِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺭَﻭْﺣِﻬَﺎ ﻭَﻃِﻴﺒِﻬَﺎ ﻭَﻳُﻔْﺴَﺢُ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﻗَﺒْﺮِﻩِ ﻣَﺪَّ ﺑَﺼَﺮِﻩِ ﻗَﺎﻝَ ﻭَﻳَﺄْﺗِﻴﻪِ ﺭَﺟُﻞٌ ﺣَﺴَﻦُ ﺍﻟْﻮَﺟْﻪِ ﺣَﺴَﻦُ ﺍﻟﺜِّﻴَﺎﺏِ ﻃَﻴِّﺐُ ﺍﻟﺮِّﻳﺢِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﺃَﺑْﺸِﺮْ ﺑِﺎﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺴُﺮُّﻙَ ﻫَﺬَﺍ ﻳَﻮْﻣُﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻛُﻨْﺖَ ﺗُﻮﻋَﺪُ , ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻟَﻪُ : ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﺖَ , ﻓَﻮَﺟْﻬُﻚَ ﺍﻟْﻮَﺟْﻪُ ﻳَﺠِﻲﺀُ ﺑِﺎﻟْﺨَﻴْﺮِ , ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﺃَﻧَﺎ ﻋَﻤَﻠُﻚَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢُ , ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﺭَﺏِّ ﺃَﻗِﻢِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔَ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﺭْﺟِﻊَ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻲ ﻭَﻣَﺎﻟِﻲ

Artinya :
Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya, lalu keduanya bertanya, “Siapakah Rabbmu?” Dia (si mayyit) menjawab, “Rabbku adalah Allâh”. Kedua malaikat itu menanya, “Apa agamamu? “Ia menjawab: “Agamaku yaitu al-Islam”.
Kedua malaikat itu menanya, “Siapakah pria yang mutakadim diutus kepada kamu ini?” Kamu menjawab, “Kamu utusan Allâh”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allâh, aku mengimaninya dan membenarkannya”.
Lalu koteng penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (mengomong) bermartabat, berilah dia hamparan dari surga, (dan berilah kamu pakaian dari surga), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke kedewaan.

Maka datanglah kepadanya bau dan wangi suwargaloka. Dan diluaskan baginya di n domestik kuburnya sejauh ain memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, berbau wangi, terlampau mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”.
Maka ruh orang Muslim itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kekuatan?”
Kamu menjawab, “Aku adalah amalmu yang shalih”.
Maka ruh itu berfirman, “Rabbku, tegakkanlah periode kiamat, sehingga aku akan kembali kepada istriku dan hartaku”.

Tanya ini juga dilontarkan kepada turunan kafir, sama dengan nan dijelaskan oleh Nabi
Shallallahu ‘alaihi wasallam
(yang artinya):

“Sesungguhnya hamba yang kufur jika akan berparak dengan manjapada dan menghadapi akhirat, turunlah rombongan malaikat berwajah hitam kepadanya sekaligus membawa tiras wol kasar.

Datanglah malaikat maut dan duduk di karib kepalanya, lantas bersuara, “Duhai hayat nan buruk, keluarlah menumpu murka dan amarah Almalik!”. Maka ruhnya terpencar-pencar di privat jasadnya. Malaikat maut kemudian mencabut nyawanya seperti individu yang menarik besi beruji yang menempel di kapas basah. Sehabis malaikat mau mencabutnya, rombongan malaikat berwajah hitam serta merta mencekit ruh tersebut intern sekeceng dan membungkusnya dengan perca wol kasar. Keluarlah bau paling kemungkus yang pernah tercium di atas muka manjapada.

Lalu ruh tadi di bawa ke langit. Setakat sampailah mereka ke langit marcapada, lalu meminta abolisi agar dibukakan bab langit, namun tidak diizinkan.

Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
kemudian membaca ayat (yang artinya), “Lain akan dibukakan untuk mereka (orang-orang dahriah) pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk suwargaloka hingga gamal bisa memasuki liang jarum” (QS. Al A’raaf: 40)

Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berbicara, “Tulislah namanya di Sijjin di manjapada paling dasar”. Dicampakkanlah ruh tersebut.

Lantas Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam
membaca ayat (yang artinya), “Dagangan siapa mempersekutukan Halikuljabbar (dengan sesuatu), seolah-olah anda jatuh berpunca langit adv amat disambar maka dari itu burung, atau diterbangkan kilangangin kincir ke tempat yang jauh.” (QS. Al Hajj: 31)

ﻭَﻳَﺄْﺗِﻴﻪِ ﻣَﻠَﻜَﺎﻥِ ﻓَﻴُﺠْﻠِﺴَﺎﻧِﻪِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ : ﻣَﻦْ ﺭَﺑُّﻚَ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻫَﺎﻩْ ﻫَﺎﻩْ ﻟَﺎ ﺃَﺩْﺭِﻱ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ : ﻣَﺎ ﺩِﻳﻨُﻚَ ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻫَﺎﻩْ ﻫَﺎﻩْ ﻟَﺎ ﺃَﺩْﺭِﻱ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ ﻣَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑُﻌِﺚَ ﻓِﻴﻜُﻢْ ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻫَﺎﻩْ ﻫَﺎﻩْ ﻟَﺎ ﺃَﺩْﺭِﻱ ﻓَﻴُﻨَﺎﺩِﻱ ﻣُﻨَﺎﺩٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﺃَﻥْ ﻛَﺬَﺏَ ﻓَﺎﻓْﺮِﺷُﻮﺍ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﺍﻓْﺘَﺤُﻮﺍ ﻟَﻪُ ﺑَﺎﺑًﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻓَﻴَﺄْﺗِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺣَﺮِّﻫَﺎ ﻭَﺳَﻤُﻮﻣِﻬَﺎ ﻭَﻳُﻀَﻴَّﻖُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻗَﺒْﺮُﻩُ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺨْﺘَﻠِﻒَ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺿْﻠَﺎﻋُﻪُ ﻭَﻳَﺄْﺗِﻴﻪِ ﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺒِﻴﺢُ ﺍﻟْﻮَﺟْﻪِ ﻗَﺒِﻴﺢُ ﺍﻟﺜِّﻴَﺎﺏِ ﻣُﻨْﺘِﻦُ ﺍﻟﺮِّﻳﺢِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﺃَﺑْﺸِﺮْ ﺑِﺎﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺴُﻮﺀُﻙَ ﻫَﺬَﺍ ﻳَﻮْﻣُﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻛُﻨْﺖَ ﺗُﻮﻋَﺪُ , ﻓَﻴَﻘُﻮ
ﻝُ : ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﺖَ ﻓَﻮَﺟْﻬُﻚَ ﺍﻟْﻮَﺟْﻪُ ﻳَﺠِﻲﺀُ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﺃَﻧَﺎ ﻋَﻤَﻠُﻚَ ﺍﻟْﺨَﺒِﻴﺚُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺭَﺏِّ ﻟَﺎ ﺗُﻘِﻢِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔَ

Artinya :
Lalu ruh tadi dikembalikan ke jasadnya. Datanglah dua malaikat dan memerintahkannya untuk duduk. Keduanya bertanya, “Siapa Rabb-mu?”. Kamu menjawab, “Hah…hah… Tidak tahu”
Malaikat bertanya sekali lagi, “Apa agamamu?”. Kamu menjawab, “Hah … hah … Tidak tahu”
Malaikat menanya juga, “Siapa bani adam yang telah diutus kepada kalian?”. Kamu kembali menjawab, “Hah…hah… Enggak tahu”

Kemudian terdengar suara dari langit, “Hamba-ku berdusta. Hamparkanlah neraka untuknya dan bukakanlah pintu memfokus neraka”. Maka hawa panas dan bau tembelang neraka menimpa individu tersebut. Kemudian kuburnya disempitkan sampai tulang rusuknya patah dan bersilangan.”

Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah pemberitahuan nan menyusahkanmu ! Inilah harimu nan telah dijanjikan (kelainan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebobrokan?”
Dia menjawab, “Aku merupakan amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan perian kiamat”
(HR. Ahmad, no. 18557, Abu Daud, no. 4753 dan lainnya secara ringkas; dinilai shahih oleh pandai hadits syaikh Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1672).


7. Berlindung Dari Fitnah Kubur

Diantara cara untuk berlindung mulai sejak fitnah kubur merupakan dengan mengucapkan doa berikut di penghujung shalat, selepas tasyahhud akhir sebelum salam,

وعن أَبي هريرة رضي الله عنه : أنَّ رسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ : إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أرْبَعٍ ، يقول : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ

Dari sahabat Bubuk Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, hendaklah ia meminang perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan mengucapkan,


‘ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAM, WA MIN ‘ADZABIL QOBRI, WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT, WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAAL’


(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ikab neraka Jahannam, dari aniaya kubur, dari fitnah nyawa dan kematian, dan dari ki kebusukan umpat Al-Masih Ad-Dajjal).”
(HR. Muslim, no. 588).

Dan setelah caci kubur, seseorang akan mendapatkan nikmat atau adzab kubur sesuai dengan kemampuannya menjawab cak bertanya dua malaikat; Munkar dan Nakir, cak sambil menunggu keputusan Halikuljabbar
‘Azza Wa Jalla
akan datangnya hari kebangkitan. Semoga Almalik Yang Maha Pemurah meneguhkan hati kita semua baik detik di dunia maupun di akhirat. Wallaahul muwaffiq.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Disusun makanya:

Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa, 11 Rabiul Awal 1442 H / 27 oktober 2022 M




Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله

Anda merupakan Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan wawansabda Arahan Islam



Bakal melihat artikel transendental dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Source: https://bimbinganislam.com/pertanyaan-di-alam-kubur-beserta-penjelasannya/